NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN-JALAN PASCA LEBARAN,TERSESAT DI GANG KECIL

Sudah lewat dua hari lebaran. Suasana desa masih terasa santai, orang-orang masih saling berkunjung, dan belum banyak yang sibuk kerja lagi. Biasanya hari begini paling enak buat jalan-jalan santai, sambil lihat suasana dan sekalian main ke rumah tetangga yang belum sempat dikunjungi.

Pagi itu, Bima, Ojak, Sari, dan Rara sepakat buat jalan-jalan keliling desa. Nggak bawa tujuan khusus, cuma mau menghirup udara segar dan lihat-lihat keadaan.

“Kita jalan kaki saja ya, biar bebas berhenti kapan saja dan lihat-lihat apa saja yang ada di pinggir jalan,” usul Rara sambil sudah siap melangkah.

“Setuju! Lagian perut masih kenyang terus tiap hari lebaran, jalan kaki juga sekalian olahraga biar nggak melar terus badannya,” tambah Ojak sambil menepuk perutnya yang terasa makin buncit karena sering makan kue dan lauk enak.

Mereka berangkat sambil ngobrol ngalor-ngidul, kadang berhenti sebentar buat menyapa warga yang duduk-duduk di teras rumah. Suasana enak banget, matahari belum terlalu terik, dan anginnya berhembus sepoi-sepoi.

Setelah jalan lumayan jauh, mereka sampai di bagian desa yang agak jarang dilewati. Jalanannya makin sempit, di kiri kanan dipagari pohon pisang dan semak-semak yang rindang.

“Wah, daerah ini kok kayaknya jarang saya lewati ya?” tanya Bima sambil memandang sekeliling.

“Biasa saja, banyak gang kecil di sini yang bercabang-cabang. Asal nggak salah belok nggak apa-apa,” jawab Sari santai.

Mereka terus melangkah. Karena asyik ngobrol dan melihat-lihat pemandangan, tanpa sadar mereka sudah masuk ke dalam gang yang makin ke dalam makin sempit. Awalnya masih terasa jalannya lurus, tapi lama-lama mulai ada belokan ke kiri dan ke kanan yang terlihat mirip satu sama lain.

Sampai akhirnya, mereka berhenti sejenak.

“Eh… sebentar, tadi kita belok ke mana ya?” tanya Ojak sambil menggaruk kepalanya yang nggak gatal.

“Kalau nggak salah, tadi belok kanan, terus belok kiri lagi,” jawab Rara sambil memicingkan mata berusaha mengingat.

“Tapi lihat ini, jalannya ketemu lagi sama persis seperti yang tadi kita lewati. Pohonnya sama, pagar bambunya juga sama,” kata Bima sambil menunjuk ke depan.

Mereka mencoba jalan lagi, berharap bisa ketemu jalan besar. Tapi setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka malah kembali lagi ke tempat yang sama persis.

“Waduh… kita tersesat nih!” seru Ojak sambil tertawa sendiri.

“Jangan ketawa dulu, nanti makin bingung. Mana tahu sebentar lagi ketemu jalan keluar,” kata Sari meski mukanya juga mulai kelihatan bingung.

Sekarang suasana jadi agak kacau tapi tetap lucu. Mereka mencoba berbagai cara buat cari jalan pulang.

Pertama, mereka ikuti arah matahari. “Kalau matahari di sebelah kanan, berarti kita jalan ke arah timur. Nanti ketemu jalan besarnya pasti,” kata Bima yakin.

Mereka jalan mengikuti arah itu, tapi malah masuk ke ujung gang yang buntu, cuma ada kebun singkong dan pagar tinggi.

“Wah, salah arah juga! Kayaknya matahari tadi cuma numpang lewat saja,” keluh Ojak sambil memutar badan.

Kedua, mereka coba cari tanda-tanda. “Lihat ada bekas sepatu atau roda sepeda, biasanya itu jalan yang sering dipakai orang,” usul Rara.

Benar saja, ada bekas jejak yang terlihat agak sering dilalui. Mereka ikuti jejak itu dengan harapan besar. Eh, ternyata malah ketemu lagi di tempat yang sama persis seperti tadi.

“Wkwkwk! Kita kayak kucing yang muter-muter di ember saja nih!” kata Bima sambil geleng-geleng kepala.

Mereka mulai duduk sebentar di bawah pohon besar buat istirahat dan minum air. Jalan-jalan santai tadi malah bikin capek karena muter-muter nggak jelas arahnya.

“Kalau begini terus, nanti sore kita baru sampai rumah ya?” kata Sari sambil tersenyum tipis.

Belum sempat mereka merencanakan cara lain, tiba-tiba dari balik pagar bambu terdengar suara orang memanggil.

“Wah, ada tamu yang muter-muter di depan rumah saya ya? Sedang cari siapa atau tersesat?”

Mereka menoleh kaget. Ternyata ada seorang kakek yang sudah agak tua, berdiri sambil memegang cangkul kecil, menatap mereka dengan wajah heran tapi ramah.

“Wah, benar saja Kek! Kami memang tersesat, jalan-jalan terus masuk ke dalam gang ini, nggak tahu lagi arah pulangnya,” jawab Ojak sambil berdiri dan menyalami kakek itu.

Kakek itu malah tertawa terbahak-bahak. “Wajar saja! Gang di sini emang terkenal kayak labirin. Orang asing yang masuk sering muter-muter nggak ketemu jalan keluar, apalagi kalau asyik ngobrol sampai nggak perhatikan belokannya.”

Kakek itu kemudian menjelaskan jalannya dengan gaya yang mudah dimengerti: “Dari sini lurus saja sampai ketemu pohon mangga besar, terus belok kiri, nanti langsung ketemu jalan aspal yang lebar. Jangan ikuti cabang gang yang kecil-kecil lagi ya, nanti nyasar lagi.”

Mereka mengangguk paham sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.

“Terima kasih banyak Kek! Kalau nggak ketemu Bapak, bisa-bisa kita sampai malam baru keluar dari sini,” kata Bima dengan lega.

“Ya sudah, hati-hati jalannya. Lain kali jalan-jalan bawa penunjuk arah atau tanya orang kalau sudah mulai bingung, jangan paksakan terus,” pesan kakek itu sambil melambaikan tangan.

Dengan petunjuk yang jelas, akhirnya mereka bisa keluar dari labirin gang itu dengan selamat. Begitu sampai di jalan besar yang biasa dilewati, mereka sama-sama menghela napas panjang sambil tertawa.

“Wah, jalan-jalan santai tadi berubah jadi petualangan cari jalan keluar ya?” kata Rara sambil menyeka keringat di dahi.

“Untung saja ketemu kakek itu, kalau nggak bisa-bisa kita jadi bahan ledekan seumur hidup karena tersesat di gang desa sendiri,” tambah Sari sambil ketawa.

Ojak masih saja mengeluh sambil tersenyum. “Padahal cuma mau jalan-jalan santai, eh malah dapat pengalaman muter-muter kayak orang hilang. Besok kalau keluar lagi, saya bawa tali biar nggak lepas jalannya!”

Bima cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa. “Sudah, sudah. Yang penting selamat dan sampai tujuan. Ini jadi cerita baru lagi, nanti kalau ketemu teman-teman lain bisa diceritakan: ‘Dulu kami pernah tersesat sampai hampir sejam di gang sempit’.”

Begitulah akhir perjalanan hari itu. Nggak ada yang rusak, nggak ada yang terluka, cuma ada rasa capek sebentar dan cerita lucu yang bakal diingat terus.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!