Aditya permana, dokter muda yang terpaksa harus kehilangan cintanya, lantaran kekasihnya yang bernama Nadia mahardika, menikah dengan ayahnya sendiri, tanpa sepengetahuannya. Hubungan yang tidak harmonis antara Adit dan ayahnya, semakin memanas ketika mengetahui kekasihnya menjadi ibu tirinya. Sejak kematian ibunya, hanya Nadia lah tempatnya mengadu.
Suatu ketika, pertemuan tidak sengaja Aditya dan Alexa terjadi, Alexa bekerja di bawah tanggung jawab Aditya, Aditya yang selalu bersikap dingin, suatu saat menjadi luluh dan mulai mencintai Alexa.
Tapi sebuah teror melanda, Aditya harus bekerja keras bersama Rangga, sahabatnya untuk dapat mengungkap sang peneror.
Hingga sebuah insiden terjadi, membuat Aditya harus kembali hancur untuk kedua kalinya, tapi sebagai seorang dokter, Aditya harus profesional dalam pekerjaannya, di tengah kesibukannya, Aditya tetap menjalankan misinya untuk mengungkap pelaku kejahatan itu.
Lalu bagaimana setelah itu?
Siapakah sang peneror sebenarnya?
Dan ada motif apa dibaliknya?
yuk baca kelanjutan ceritanya.
beri dukungan untuk author ya, terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Dini Thamara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari minggu.
Kediaman permana.
"Tuan, sarapan sudah siap" Nadia memanggil Brata di kamarnya.
"Iya, terima kasih" Brata tetap fokus pada laptopnya.
"Tuan, apakah hari minggu seperti ini kau masih harus bekerja?" tanya Nadia.
"Iya, ada sedikit pekerjaan"
"Hmm.. baiklah, aku menunggu di bawah"
Brata hanya mengangguk pelan.
Tring..
Suara lift berhenti di lantai utama, Adit keluar dari dalam lift, dia sudah sangat rapi dengan membawa sebuah ransel yang cukup besar.
Nadia yang sudah berada di ruang makan melihatnya dan tersenyum.
"Kau kelihatannya akan mendaki hari ini?" tanya Nadia saat Adit sudah duduk di kursinya.
Adit tidak menghiraukan ucapan Nadia, dia mengambil makanan yang sudah siap di atas meja, saat Adit akan mengambil lauk pauk, Nadia lebih dulu mengambil sendoknya dan menaruh makanan di piring Adit.
"Terima kasih" ucap Adit datar dan langsung menyantap sarapannya.
"Boleh aku tahu kau akan pergi bersama siapa?" Nadia kembali bertanya.
"Apakah penting?" Adit balik bertanya dan masih menyantap sarapannya.
"Hmm.. iya sebenarnya tidak terlalu penting, aku tidak harus tahu kau pergi bersama siapa"
Adit masih mengacuhkan Nadia, tidak lama kemudian Brata turun dari kamarnya dan duduk di kursi utama ruang makan. Nadia tersenyum dan meletakkan makanan di piring Brata.
"Aku sudah selesai, aku pergi dulu" Adit beranjak dari kursinya.
"Kau tidak mau menemaniku sarapan?" tanya Brata.
Adit menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Brata.
"Apakah harus?" tanya Adit.
"Sudah lama sejak kejadian itu, kita tidak pernah bicara apalagi sarapan bersama" ucap Brata lirih.
Adit kembali duduk di kursinya.
"Bukankah semua ini kau sendiri yang jadi penyebabnya? kalau hari itu kau tidak terciduk bersama wanita lain, aku pasti masih sangat menghormatimu" ucap Adit sedikit geram.
Brata berhenti mengunyah makanannya dan seketika mengingat kejadian setahun yang lalu.
**flashback on**
Di sebuah hotel, kejadian sebelum Brata terjebak dengan Nadia.
"Pah, kenapa kau tidak pulang semalam?" Alina membuka pintu kamar hotel yang biasa dia tempati bersama Brata saat mereka bepergian jauh.
Dia sangat terkejut melihat Brata sedang memeluk seorang wanita yang lebih muda darinya. Dia segera keluar dari kamar itu dan pergi meninggalkan Brata.
Brata mengejarnya hingga sampai di rumah, tapi Alina mengurung dirinya di kamar, Adit yang saat itu baru pulang dari rumah sakit melihat kejadian itu.
Alina menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, membuat Adit ikut merasakan sakitnya.
"Pah, apa yang papa lakukan kepada mama?" tanya Adit.
"Ini hanya salah paham Dit, papa minta tolong, bicaralah dengan mamamu"
Alina mengurung dirinya di kamar selama seharian, sore hari Alina membuka pintu itu dan Adit sudah berdiri di hadapannya, Adit segera masuk dan bicara kepada mamanya, Alina menceritakan semua kejadian itu kepada Adit, hingga membuat Adit sangat geram.
**flashback off**
"Bagaimana? kau sudah ingat kan? betapa sakitnya hati mama ku saat itu" ucap Adit, membuat Brata tersadar dari lamunannya.
"Dit, biar papa jelaskan semuanya, dengarkan papa dulu"
Adit tidak menghiraukan permintaan Brata, dia beranjak dari kursinya keluar rumah dan menyalakan mesin mobilnya.
Brata hanya melihatnya hingga hilang dari pandangan, Nadia yang menyaksikan perdebatan itu hanya diam dan mencoba menenangkan Brata.
*****
Dalam perjalanan menuju rumah Alexa, hati Adit masih sangat kesal, dia terus menambah kecepatan mobilnya tanpa memikirkan jalan di sekitarnya, hingga membuatnya hampir menabrak pengendara lain.
"Heii... kau tidak waras ya?" teriak pengemudi itu.
Adit masih tidak peduli dan tetap menambah kecepatan mobilnya hingga sampai di depan rumah Alexa.
Alexa yang berada di dalam rumahnya, segera keluar ketika mendengar suara mobil yang berhenti di halaman bahkan terdengar menabrak pot bunga miliknya.
"Ya ampun, bungaku!!" Alexa memegang kedua pipinya.
Sementara Adit belum keluar dari mobilnya, membuat Alexa harus mendekatinya.
"Heii tuan, apa kau tidak waras? waktu itu kau menabrak motorku, sekarang bunga kesayanganku, apa besok kau akan menabrak rumahku?" tanya Nadia dengan nada kesal yang kini berada di samping mobil Adit.
Adit masih tidak menggubris ucapan Alexa.
Tokk... tokk...
Alexa mengetuk kaca mobil Adit.
"Tuan, apa kau tidak dengar?"
"Maaf" ucap Adit sambil membuka kaca mobilnya.
Alexa merasa heran dan bertanya-tanya saat melihat wajah Adit yang terlihat murung sekaligus kesal, wajahnya merah seakan akan meledak.
"Tuan, kau baik-baik saja?" ucap Alexa pelan.
Adit membuka pintu mobilnya dan keluar, dia menatap lekat pada Alexa, seketika Adit memeluknya erat.
"Hei tuan, apa yang terjadi?"
Adit melepaskan pelukannya dan menuntun tangan Alexa masuk kedalam rumahnya.
"Duduklah" ucap Adit.
"Hmm, ini rumahku, seharusnya aku yang berkata begitu" ucap Alexa, Adit hanya tersenyum simpul.
"Aku akan mengambil minum, kau tunggu disini" Alexa pergi ke dapur.
Sementara Adit menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya, mencoba membuat hatinya tenang.
"Tuan, minumlah" Alexa kembali dari dapur.
Adit membuka matanya dan mengambil minuman itu.
"Apa kau baik-baik saja tuan?"
Adit menepuk sofa yang dia duduki, meminta Alexa duduk di sampingnya.
"Apa kau pernah merasakan sakit yang sangat dalam?" tanya Alexa.
"Hmm.. aku pernah merasakannya" jawab Alexa.
"Kapan?"
"Saat kedua orang tuaku meninggal akibat kecelakaan" Alexa termenung.
"Oh, maaf, aku telah membuatmu sedih" Adit memeluk bahu Alexa.
"Tidak apa-apa tuan, itu masa lalu, oh iya kau sendiri kenapa?"
"Tidak, aku hanya sedikit kesal, sudahlah cepat bersiap, apa kau akan pergi denganku dengan penampilan seperti ini?" Adit menatap Alexa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Alexa yang baru saja selesai membereskan rumah, masih mengenakan celana pendek dan baju kaos dengan rambut terikat tinggi ke atas.
"Memangnya kita akan kemana?" tanya Alexa.
"Sudahlah, kau tidak perlu tahu, cepat mandi"
"Hmm.. baiklah"
Alexa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara menunggu Alexa, Adit keluar dan mengambil sesuatu di dalam mobilnya.
Tiga puluh menit kemudian, Alexa keluar dari kamar mandi, dia masuk ke dalam kamarnya dan sangat terkejut melihat Adit sedang duduk di tempat tidurnya.
"Waa... tuan sedang apa kau didalam kamarku, cepat keluar!" Alexa menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.
"Hah, siapa juga yang ingin melihatmu, ini pakailah baju ini" Adit menyerahkan sebuah papper bag.
"Apa ini?" Alexa membuka papper bag itu.
"Sudah aku bilang kan, itu baju, apa kau tuli?! cepat pakai!" Adit keluar dari kamar Alexa dan menutup pintunya.
Tidak lama...
Alexa keluar dari kamarnya, dia mengenakan pakaian yang di berikan Adit.
"Tuan, baju apa ini? apa kita akan ke kutub utara?" tanya Alexa yang menunjukkan pakaian yang di pakainya.
"Hmm.. syukurlah, baju itu pas di badanmu, ayo kita berangkat!" Adit memegang tangan Alexa.
"Tunggu! aku belum sarapan"
"Hah.. payah sekali, kita akan sarapan di jalan" Adit menarik tangan Alexa.
"Apa? apa kau mau mati, kita sarapan di jalan?" Alexa tersenyum.
"Iya, kita akan makan di tengah jalan tol, kau tahu apa yang akan kita makan, kita akan makan batu" ucap Adit.
"Wahh benarkah, apa rasanya makan batu tuan?"
"Enak dam renyah, kau mau?"
"Apa kau pernah tuan?"
Mereka sudah berangkat menuju tempat yang di maksud Adit, obrolan tidak penting itu yang selalu mereka bahas selama dalam perjalanan, membuat Adit melupakan kesedihannya.
feedback nya ya kk
SIMPANAN OM AROGAN
jangan lupa mampir semua
CUKUP! Aku Dan Anakku
Semangat