NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Kita

Pagi yang cerah.

Suasana Cluster Emerald lengang seperti biasa. Hunian elit yang hanya mempunyai 10 unit ini adalah tempat para pengusaha papan atas tinggal bersama keluarga mereka.

Aspal jalanan begitu mulus dan hitam, dikelilingi pohon-pohon palem raja yang berdiri simetris. Rumah-rumah di sini dibangun dengan konsep modern tropis tanpa pagar depan—sebuah pernyataan visual bahwa keamanan di tempat ini sudah begitu paripurna hingga dinding pembatas tidak lagi diperlukan.

Di rumah terbesar yang terletak paling ujung dari gerbang masuk klaster, kepala keluarganya tengah bersiap memulai aktivitas hari itu, janji ketemu klien.

Hendra Baskoro, Direktur Perusahaan Mebel terbesar di kota Jayakerta, sedang bersantap dengan istrinya Diana Sugondo. Mereka duduk di ruang makan keluarga yang tidak terlalu besar.

Meskipun ukurannya tidak se-masif ruang perjamuan utama di area depan, keanggunan perabot di ruangan ini sudah lebih dari cukup untuk memamerkan kelas dan kemewahan sang pemilik.

"Apakah Vera belum bangun?" tanya Hendra disela-sela kegiatannya meminum kopi americano kegemarannya.

"Sepertinya belum. Kita pulang sudah larut sekali tadi malam, Mas. Jadi kemungkinan anak itu masih bergelung di bawah selimut," jawab Diana sambil menyuapkan potongan buah pir ke dalam mulutnya.

"O iya, Mas. Tadi malam, waktu aku ke toilet, katanya ada insiden. Insiden apa ya, Mas?"

"Uhuk ... uhuk ..." Hendra tersedak saat minum kopi, kaget dengan pertanyaan Diana, istrinya.

"Hati-hati, Mas." Diana bertindak cepat, berdiri dari kursinya menepuk-nepuk punggung suaminya pelan.

"Sudah, terimakasih." Ucap Hendra sambil meraih tangan istrinya dan menyuruhnya duduk kembali.

"Tidak ada insiden apa-apa. Hanya pertengkaran tamu undangan, yang tersenggol tamu lainnya. Minumannya mengotori gaunnya. Itu saja."

"Oooo, aku kira ada apa."

Suasana kembali hening. Hendra berdiri dari kursinya, bersiap berangkat menemui klien.

"Aku mau ketemu Vera dulu, ada yang aku janjikan sama dia tadi malam. Kamu lanjutkan sarapan saja," menepuk pelan bahu istrinya, Hendra naik ke lantai dua, menemui putri keduanya, Vera.

Tok, tok, tok.

Suara pintu kamar diketuk. Tidak ada sahutan dari dalam kamar.

"Vera, ini papa! Ayo cepat bangun, buka pintunya sayang."

Vera terjaga dari mimpinya, setengah sadar dia bangun dari tidurnya dan terduduk malas di atas ranjangnya.

"Masuk aja, Pa. Nggak dikunci," suara serak khas bangun tidur terdengar dari mulut Vera.

Pintu terbuka, Hendra bergegas masuk. Dan pintu kamar dibiarkan tetap terbuka.

"Sudah siang ini. Kamu mau bangun jam berapa? Ayo cepat bangun dan bersihkan dirimu." Tangan Hendra menarik pelan tubuh putri kesayangannya itu.

Namun Vera malah berbaring kembali. "Ya ampun, Pa. Aku masih ngantuk. Bentar lagi ya ..." mata gadis itu hampir terpejam lagi, kalau tidak mendengar iming-iming dari Hendra.

"Serius? Papa mau ajak aku sama mama jalan-jalan ke London?"

Hendra mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Makasih, Papa," Vera melompat memeluk leher papanya.

"Ugh, bau asem. Mandi sana!" Hendra mendorong tubuh Vera sambil tertawa.

"Siap!" Vera segera turun dari tempat tidur. Namun tiba-tiba tangannya dicekal Hendra.

Dengan penuh tanda tanya, Vera menoleh ke arah papanya. Hendra menatap lembut dan mengusap kepala Vera, "Dengarkan papa. Mama tidak tahu kalau tadi malam ada insiden di pesta kakakmu."

Vera mengernyit.

"Tidak tahu detailnya, maksud papa. Dan papa, tidak ingin mama tahu itu. Papa rasa kamu paham maksud papa kan, Vera?" lanjut Hendra sambil menatap Vera tajam.

"Oooo, oke!" Vera memberi isyarat kalau dia paham dengan kemauan papanya.

"Bagus! Anak pintar. Cepat mandi, lalu temani mamamu sarapan. Besok kita berangkat ke London." Hendra mengusak rambut Vera, lalu berjalan meninggalkan kamar putrinya.

Terdengar sorak kegirangan dari mulut Vera. Hendra tersenyum penuh arti.

Tiga puluh menit, setelah keberangkatan Hendra, Vera turun dan menemui mamanya.

"Mama!" Peluk Vera erat dari belakang punggung Diana.

"Hmmm, anak mama sudah wangi. Sudah mandi pasti. Selalu begitu, mandi saja harus papa yang nyuruh," sahut Diana sambil menarik tangan Vera untuk duduk di sebelahnya.

Mereka berdua bercengkrama menceritakan pesta pernikahan Wita yang baru saja digelar tadi malam.

Di sofa rococo perpaduan warna merah muda pastel, cokelat dan emas itu, Vera bercerita tentang semua keseruan yang dia lewati tadi malam. Kecuali insiden Azra, Vera tidak membuka cerita itu sama sekali. Dia sudah berjanji pada papanya.

"Ma, tahu nggak?"

"Hmmm," jawab Diana sambil membolak balik halaman majalah jewelery di tangannya.

"Papa mau ajak kita ke London!" ujar Vera antusias

"Oh ya, kapan?" tanya Diana sambil menutup majalah.

"Besok!"

"Haahhh?? Mendadak sekali? Kok mama nggak dikasih tahu jauh-jauh hari?" tanya Mama Vera bingung.

"Surprise, Ma! Kado spesial buat Mama. Sekalian mumpung aku lagi libur kuliahnya, terus kan pesta pernikahan Kak Wita juga sudah selesai."

"Jadi ... beneran besok berangkatnya?"

Vera mengangguk cepat sambil tersenyum ceria.

Sementara Mama Vera hanya mengangguk-angguk, antara percaya dan tidak.

"Oke, kalau gitu ayo kita berkemas," ucap Diana tiba-tiba.

"Ayo!" Mereka berdua segera menuju kamar masing-masing untuk berkemas.

_______

Dentum bass dari sistem suara di Illusion Club terasa bergetar hingga ke dalam dada, ditambah cahaya lampu strobe berwarna ungu neon dan biru elektrik yang menyambar memantul di antara kepulan asap vape dan aroma alkohol yang menguap di udara. Di lantai dansa, lautan manusia bergerak seperti ombak, tenggelam dalam euforia yang memekakkan telinga.

Namun, keramaian di bawah sana tidak berlaku bagi Vera Gunawan. Putri kedua Hendra Baskoro itu duduk bak seorang ratu di area VVIP Lounge lantai dua—sebuah sudut eksklusif dengan sofa melengkung yang menghadap langsung ke seluruh klub.

Di atas meja, botol-botol sampanye premium berjejer dalam ember es perak. Seorang pelayan pribadi berseragam hitam berdiri siaga di dekat sofa Vera.

"Cuma segini kemampuan lo?" suara Vera berteriak keras seperti biasa.

Ia menatap sinis ke arah seorang gadis yang berdiri gemetar di tepi meja. Gadis itu adalah salah satu 'teman' satu gengnya di kampus yang malam itu tidak sengaja menyenggol tas Hermes edisi terbatas milik Vera hingga terjatuh ke lantai klub yang lengket.

Dengan gerakan lambat, Vera menyesap minumannya, lalu menyandarkan tubuh ke punggung sofa mewah. Dagunya terangkat angkuh.

"Tas ini harganya bisa buat bayar kuliah lo sampai lulus, tahu nggak? Emang ya, orang miskin kalau diajak ke tempat elit suka norak, nggak tahu diri."

Teman-teman satu geng Vera yang lain tertawa renyah, menikmati tontonan perundungan di depan mereka, seolah itu adalah hiburan terbaik.

Tidak ada satu pun yang membela. Di lingkungan ini, semua orang tahu aturan mainnya: jangan pernah menentang Vera Gunawan jika tidak ingin didepak dari lingkaran sosial papan atas Kota Jayakerta, atau lebih buruk lagi, dihancurkan lewat koneksi bisnis ayahnya.

Vera tersenyum puas melihat korbannya hampir menangis. Baginya, diskotik ini bukan sekadar tempat menghabiskan uang saku ratusan juta dari sang ayah, melainkan sebuah panggung di mana ia memegang kendali mutlak atas semua orang.

Para pelayan klub sudah mengenal sifat Vera. Karena itu, tak ada satu pun yang berani ikut campur.

"Eh, Boss. Beneran lo berangkat ke London besok?" tanya gadis rambut pirang yang sempat berseteru dengan Linda di pesta pernikahan Wita.

"Sejak kapan gue bohong?"

Tawa mereka meledak.

Padahal semua orang di ruangan itu tahu, Vera adalah orang yang paling pandai menyimpan kebohongan.

Faktanya, selama ini, keluarga Vera tidak ada yang tahu kebiasaan buruk putri kesayangan mereka.

Rahasia kita, janji yang selalu mereka pegang sesama anggota geng.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!