Menceritakan seorang pemuda hebat yang hidup di Dunia Sihir. Tapi dia harus mati setelah dihianati oleh suatu kelompok yang telah ia bantu. Meskipun telah mati, rupanya ia bereinkarnasi ke Dimensi Lain setelah jiwanya dan pikirannya masuk ke dalam tubuh seseorang yang masih remaja.
Ternyata, kehidupan di Dunia barunya, bukanlah Dunia Sihir, tepatnya Dunia yang biasa-biasa saja. Tapi ada 1 hal yang membuat dirinya istimewa, yaitu dia bisa menggunakan Sihir.
***
Note : Cerita ini berlatar Multiverse dan Sequel dari cerita 'OVERSOLDIER'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Keesokan Harinya. Peter membuka kedua matanya. Ia melihat jam dinding. Rupanya sudah jam 9 pagi. Beruntung hari minggu, libur sekolah dan libur kerja. Peter bangun dari tidurnya. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa lama kemudian, ia telah selesai mandi. Ia segera memakai baju dan celana santai miliknya. Baru saja selesai menyisir rambutnya, ia mendengar ketokan pintu kamar kosnya. Ia segera mendekat, dan membuka kunci pintu kamarnya.
"Kamu semalam kemana saja ? Aku menunggumu tau !! Apa kamu baik-baik saja !!" Dan benar saja, baru saja membuka pintu, Kevin sudah melonggarkan pertanyaan kepada Peter.
"Aku baik-baik saja. Kamu terlihat khawatir." jawab Peter.
"Apa kamu tau, seberapa khawatir kamu belum pulang ke kos-kosanmu ? Ditambah barusan aku melihat berita di internet tentang menemukan 9 mayat dengan mati mengenaskan di jalan yang biasanya kita lewati !!" balas Kevin marah.
"Ahh.., benar." sahut Peter teringat.
Kevin mengerut dahinya. Peter segera membawa Kevin ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya, ia bersuara. "Tadi kamu bilang, 9 mayat di tempat jalan kecil yang biasa kita lewati, masuk berita ?"
Kevin mengangguk kepalanya. Kevin menatap Peter. "Jangan bilang, kamu yang membunuh mereka."
Peter memasang wajah datarnya. "Ya, aku yang membunuh mereka."
Kevin terbelalak. "Aku tak menyangka kalau kamu telah melakukan pembunuhan."
"Aku membunuh mereka karena mereka yang memulai." jawab Peter dengan santai.
"Aku tau kamu yang sudah bukan yang dulu. Tapi bisa 'kah kamu menahannya ? Cukup buat musuhmu tumbang." kata Kevin memberi masukan.
Peter menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku melakukan itu, karena aku tak percaya dengan orang-orang yang sudah menyerangkku. Aku mengambil pelajaran dsri ingatan diriku yang lain."
Kevin menghela nafasnya. "Baiklah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu khawatir padamu, secara kamu bisa membunuh mereka tanpa beban apapun."
Peter tersenyum. Ia pun bercerita sebelum ia membunuh mereka. Ia menceritakan saat ia mengintrogasi satu-persatu. Tak ada yang mengaku, maka ia membunuhnya dengan cara menebasnya. Lalu ada satu yang mengaku.
Kevin sampai dibuat terkejut setelah mendengar cerita sahabatnya ini. Ia tak menyangka kalau seorang Niko bisa menyuruh orang-orang itu untuk menghabisi Peter. Tapi Peter belum pasti, karena laki-laki yang bernama Niko itu tidak sedikit.
Bagi Peter tak masalah, ia akan mengikuti alur mainnya orang ini hingga seperti apa nantinya. Tapi yang membuatnya terkejut lagi, Peter membunuh orang yang sudah mengaku itu.
Kevin pun berkomentar. "Sungguh kejam sekali kamu. Apa kamu tidak takut kalau pihak kepolisian atau detektif menemukan jejakmu."
Peter mengangkat kedua bahunya. "Yahh.., mau bagaimana lagi ? Aku tidak akan percaya dengan orang yang sudah menyerangku. Lagi pula tak perlu yang dikhawatirkan."
Namun dalam pikirannya, Peter bertanya-tanya. Entah kenapa ia dengan mudahnya membunuh orang-orang yang sudah mencoba menyerangnya. Meski memiliki rasa kasihan, tetapi hasrat membunuhnya seakan menguasai dirinya.
"Apa tuannya akan marah atas kematian anak buahnya ?" tanya Kevin menebak.
"Entahlah, kalau memang dia marah, tinggal datang saja. Maka aku akan meladeninya." kata Peter santai.
Kevin memutar bola mata jengah. "Ya.., ya.., ya.., kamu yang sekarang sudah bukan manusia biasa."
"Kamu tenang saja. Kamu takkan kulibatkan jika aku sampai tertangkap." balas Peter.
"Ya sudahlah, aku mau keluar. Mau cari makan. Kamu mau titip ?" tanya Kevin.
Peter menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku nanti akan cari makan sendiri."
Kevin pun keluar dari kamar Peter, dan pergi menjauhi bangunan tempat ia ngekos. Sedangkan Peter, ia duduk di karpetnya setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Ia segera membuka tas ranselnya, karena mengingat ia sudah membeli snack dan miniman yang ia beli tadi malam di minimarket. Ia pun membuka ponsel androidnya.
Ponsel androidnya, ia beli setelah uang gajian ketiganya cair. Dan benar saja, sesuai cerita Kevin, tentang berita ditemukan 9 mayat mengenaskan yang sudah terpisah dari kepalanya.
Setelah ia segera membuka youtube. Peter ingin menonton animasi favoritnya dari ia kecil saat masih SD hingga sekarang. Setelah mengeklik salah satu video muncullah lagu pembuka.
Upin dan ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua
Upin dan ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua
Peter menikmati video animasi favoritnya sambil mengemil snacknya. Ia sangat menyukai animasi series yang berasal dari Negara tetangganya. Masa bodoh jika sahabat bilang kalau dirinya masa kecil kurang bahagia.
Sekilas teringat, Kevin pernah berkomentar tentang animasi favoritnya ini. Sadari kecil dari sekarang, kenapa tokoh anak-anak animasi itu tak besar-besar ? Kadang Peter juga berfikir seperti itu, tapi masa bodohlah.
Yang penting ia merasa terhibur dari pada terus memikirkan pekerjaan dan sekolah. Karena ituz ia ingin merasa terhibur dengan cara menonton animasi favoritnya.
.....
Sementara, disisi lain, terlihat seorang remaja tengah duduk di sofa ruang keluarga dan menatap TV. Selain dirinya di rumah besarnya, ada benyak pembantu, beberapa tukang kebun, dan pengawal penjaga rumah. Kedua orang tuanya dan kakaknya tengah pergi ke sebuah acara yang ia tak tau acara apa itu.
Niko fokus menonton TV-nya yang menampilkan berita tentang menemukan 9 mayat yang sudah terpisah dengan kelapa. Mereka semua diduga dibunuh tadi malam. Para polisi dan pihak lainnya memeriksa ke-9 mayat itu.
Mereka menduga kalau kematian ini bukanlah hal biasanya. Kalau di tebas seharusnya meninggalkan jejak di lukanya. Tetapi, luka tebasan mereka seperti di bakar.
Bukankah itu aneh bagi mereka ? Ditambah, ada bekas luka sengatan listrik. Ada sidik jari, tapi aneh. Anehnya karena jejak sidik jari pelaku seperti sulit dianalisa.
Melihat berita itu, remaja ini entah harus marah atau apa ? Sudah jelas ke-9 mayat itu adalah anak buah bayarannya. Niko masih terdiam melihat dan mendengar berita itu. Lalu ia mematikan TVnya.
Niko memijit pelipisnya. "Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka ? Dan siapa yang menenyarangnya ?"
Satu orang yang terlintas di pikirannya saat ini. "Peter." Niko menggeleng-gelengkan kepalanya. Baginya tidak mungkin. Mana mungkin adik kelas yanh ingin ia habisi, bisa berbuat hal sadis seperti itu.
Lalu ia teringat kata-kata anak buah bayarannya sebelum ia pergi. "Khodam." itulah satu kata yang diucapkan oleh salah satu anak buah bayarannya, ia teringat. Niko berguman. "Mana mungkin ?"
Niko bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju anak tangga. Setelah menaiki anak tangga, dan sampai di lantai dua, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, ia berjalan ke arah balkon di kamarnya. Sejak di lantai satu, hingga di sekarang, berita tentang kamatian 9 orang itu, terus terbayang-bayang di pikirannya.
"Sepertinya aku harus mencari beberpa orang lagi untuk dijadikan anak buah bayaranku." gumannya.
___________
Jangan Lupa Like.
ternyata kalo tdk dijdkan favorit/masuk rak buku, malah like yg sebelumya hilang semua..