Marves Lucifer Arsenik Raja iblis dikenal kejam dan tanpa pandang bulu menyiksa nyawa pendosa. Namun Marves bukanlah pria biasa, tapi pria sepertinya mampu muak dengan neraka dan beralih menetap di bumi sekedar menenangkan pikirannya.
Nyatanya seorang wanita cupu dan dekil menyatakan cinta kepadanya di depan umum, tentunya Marves menolak sekaligus mengatakan kalimat menyakitkan yang membuat wanita yang ia ketahui bernama Vella lantas pergi dengan air mata yang bercucuran.
Terlanjur sakit hati membuat Vella gelap mata dan dengan nekat memasukan obat perangsang ke minuman Marves, membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.
Menyadari kebodohannya dan tak ada gunanya menyesali perbuatannya yang telah terlanjur Vella lakukan, ia lantas pergi menjauh meninggalkan tempatnya berada, berharap tak bertemu Marves kembali.
Tanpa menyadari seorang iblis tengah mengamuk mencari dirinya dengan tatapan obsesi dan kemarahan memuncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anastasia d lutvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bertemu Keluarga
...----------------...
Menarik nafas panjang sebelum melangkah masuk. Dihadapan Vella terdapat gerbang putih menjulang tinggi membatasi mansion. Seorang pria paruh baya memakai seragam satpam tengah berjaga di depan gerbang.
Vella menghampiri satpam.
"Permisi Pak." Senyum Vella sopan.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria satpam dengan ramah.
"Begini Pak, kedatangan disini, saya ingin menemui keluarga ini. Hanya sebentar Pak, tidak lama kok." Mohon Vella, mengatup tangannya memohon.
"Gimana yah Non, yah. Saya takut Non dimarahi majikan saya," jawab pak satpam tak enak.
"Tolong Pak, saya gak lama kok. Cuman sebentar. Nggak sampai 10 menit." Mohon Vella kekeh menyatukan tangannya meminta mohon.
"Gimana yah "Garuk satpam tak enak.
"Tolong Pak."
"Yasudah Non, tapi bener yah Non. Sebentar saja. Saya takut dipecat Non," Jawab gelisah satpam."Iya Pak, saya janji," ucap Vella menyakinkan.
Satpam mengangguk, membuka setengah gerbang, cukup untuk Vella masuk. Vella tersenyum kearah satpam dengan sopan.
"Terimakasih Pak."
"Iya Non, tapi jangan lupa yah Non, cuman 10 menit saja. Tidak lebih, tidak kurang." Peringat satpam sekali lagi.
"Iya Pak."
"Yasudah ayo Nona, saya antar ke majikan saya." Tunjuk arah satpam memimpin jalan. Vella mengangguk mengekori pria paruh baya dari belakang.
Mansion yang sama, dimana ia diusir secara paksa dari sini, bahkan ini adalah kedua kalinya ia menginjak mansion mewah ini. Warna bercorak putih, dengan pintu coklat hitam menambah kesal elegan.
Setetes air mata tiba saja jatuh, mengingat kepedihan yang dirasakannya saat kecil. Yang tak pernah ia rasakan yang dinamakan kebahagiaan dari keluarga. Bahkan ia tak punya namanya keluarga.
"Non," panggil satpam berbalik, "Eh." melihat Vella menitikkan air mata, segerah Vella mengusap air matanya, lantas tersenyum menatap pria paruh baya.
"Nona nangis," tanya satpam khawatir.
Menggelengkan kepala, "Enggak kok Pak, tadi kena debu aja." Senyum Vella kepada satpam.
Satpam mengangguk percaya saja dengan ucapan Vella. "Nona bisa masuk, saya tunggu diluar aja. Permisi Non."
"Iya Pak, terimakasih," ucap Vella.
Satpam hanya mengangguk lantas pergi meninggalkan Vella sendirian.
Menarik nafas, Vella melangkah menginjak melewati pintu bercorak coklat hitam putih. Segala pikiran negatif muncul dari benaknya, akan kemungkinan dimana ia akan dihina lagi seperti biasa.
Tapi demi ia pergi dari negara ini dan pergi menjauh dari orang yang telah menyakitinya dan membuka lembaran baru bersama anaknya tanpa gangguan mereka. la rela melakukan ini, apapun terjadi. Walaupun keluarganya selalu menyakiti Vella, setidaknya ia harus pamit.
Vela berjalan pelan hingga langkah kakinya terhenti. Di ruang tamu tampak seorang pria paruh baya membelakangi Vella tengah menatap fokus layar laptop dan seorang wanita berada di samping pria itu tengah membaca majalah dengan tenang.
Seorang pria yang ia perkirakan berumur 27 tahun memakai setelan hitam, turun dari tangga sambil menatap jam ditangannya.
"Ma, Pa selamat pagi," sapa pria itu dengan tenang.
"Selamat pagi Rey," jawabnya biasa.
Reynal Stevano Dirma, kakak tiri Vella, saat kecil Vella selalu disiksa oleh kakak tirinya karena menganggap Vella penyebab hampir rusaknya keluarganya, kejadian dimana papa Vella mabuk dan secara tak sengaja berhubungan intim kepada Ibu Vella. Hingga membuat Ibu Vella melahirkan Vella, tapi pertemuannya dengan Ibunya hanya beberapa saat, Ibu Vella dinyatakan meninggal saat melahirkan Vella.
Sebelum meninggal, Ibu Vella berpesan menyerahkan Vella kepada Papanya dengan alamat yang tercantum kedalam kertas yang sempat ia tulis sebelum melahirkan Vella, seakan ia tahu kematiannya tak lama lagi. Tapi Ibu Vella tak tahu bahwa Papa kandungan telah memiliki keluarga, Istri dan anak yang harmonis, Ibu Vella pikir, dengan Vella bersama papa kandungnya Vella akan bahagia.
Tanpa mengetahui keluarga harmonis itu hancur seketika, mendengar pria idola mereka berani melakukan hal serendah itu. Hingga membuat Istri pria itu terkejut dan mengancam akan bunuh diri, tapi berhasil dicegah papa Vella dengan syarat membuang Vella di umurnya 7 tahun, dan ia akan menganggap kejadian ini tak perna ada.
Papa Vella menyetujui saja permintaan Istrinya.
Namun naas, kehidupan Vella tak seindah dibayangkan, Vella disiksa dan dijadikan pembantu di umurnya 3 tahu. Vella yang saat itu masih balita belum mengerti apa-apa hanya menuruti saja, menganggap dengan Vella menuruti kemauan kedua orang tua itu mereka akan menyayanginya seperti mereka sangat menyayangi Kak Rey.
Hingga di umur 7 tahun, mama tirinya dikabarkan melahirkan bayi perempuan. Vella yang polos tergirang senang karena akhirnya ia memiliki adik perempuan untuk diajak bermain bersama.
Tapi kedua orang tua Vella membuang Vella di umurnya yang masih dini. Dan belum sempat melihat adik perempuannya. Walaupun begitu mereka tetap membiayai kebutuhan Vella hingga di umurnya 16 tahun.
Setetes air mata jatuh mengingat kepedihan Vella selama tinggal di rumah ini. Vella yang ingin melangkah mendekat kembali terhenti mendengar suara gadis kecil berteriak heboh.
Deg.
Jantungnya berpacu mendengar suara gadis kecil berteriak heboh. Apa ini adiknya? Adik yang selalu ia inginkan untuk bermain bersama. Dan ia harapkan untuk bertemu, tapi tak perna diperbolehkan oleh kedua orangtuanya.
"Papa! Mama, Kakak! Selamat pagi!" teriak heboh seorang gadis dengan girang berlari kearah Mama, Papa dan Kakaknya.
Ketiga orang yang tadinya tampak biasa saja, langsung tersenyum senang melihat seorang gadis meneriaki nama mereka heboh.
"CELLIN! PELAN PELAN!" teriak keras wanita paruh baya bernama Jesika menatap terbelalak Cellin vang malah terkekeh menatapnya.
"Apa sih Ma? Ga Usah teriak apa. Kuping Papa budek nih," gerutu pria paruh baya kesal.
"Papa! Kamu nggak lihat? Anak kesayangan kita, lari-lari di tangga Pah!" Kesal Jesika menatap khawatir Cellin yang masih tertawa keras.
"Biarin aja kenapa sih Ma? Sekalian olahraga." Pria paruh baya bernama Dirma menatap biasa, malah mendukung anak perempuannya.
"Papa yang terbaik! Aku cinta Papa!" teriak Cellin menunjukan jari jempolnya kearah pria paruh baya.
"Papa juga!" Balasnya menunjukan jempol kanannya.
"Papa!" teriak Jesika menatap tajam pria itu.
Seketika pria paruh baya terkisap, menundukkan kepala tak berani menatap Jesika. Menatap koran kembali, membiarkan Jesika mengomel yang penting ia tak terkena getahnya.
Rey hanya menggelengkan kepala dan menduduki sofa berada dekat dengan papanya.
"Sudah Mah, sini Cellin cium biar marahnya hilang." Cellin mendekat lantas memeluk Jesika dan menciumnya.
"lihh, kamu nih bisa aja." Dengan gemas menarik hidung Cellin.
"Aduh! Aduh... Mama... Sakit... Ampun Mah, janji deh nggak lagi." Rengek Cellin.
"Bener yah
"Bener Mah... Tapi nggak tahu kalau Cellin lupa. Hahahaha." Tawa ledak Cellin mengisi ruangan.
"Sudah-sudah, Papa nggak dicium nih?" Goda Dirma.
"Enggak, Papa bau!" Tatap jijik Cellin menutup hidungnya.
"Sembarang kamu!" Menatap lebar Cellin.
"Tapi bo'ong," jahil Cellin lantas berlari kearah Dirma. Dan berpindah mencium Rey.
"Kakakku ganteng banget sih "Gemas Cellin mencium Dirma bertubi-tubi.
"Siapa dulu dong. Papanya gitu loh." Membusungkan Dada dengan bangga.
Vella melihat keharmonisan keluarga ikut bahagia, walaupun di lubuk hati terdalam ia sangat menginginkan kasih sayang seperti ini. Tapi itu hanyalah harapan saja, karena itu tak akan perna terjadi sampai kapanpun.
Menghela nafas panjang berusaha memberanikan diri.
"Selamat pagi."
Seketika mereka melengak lantas terbelalak melihat siapa yang datang.
"Kau?"