Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Mataku kembali meneteskan air mata setiap kali aku mendengar dan mengingat kembali apa yang telah dilakukannya. Aku tahu hal itu bukan tindakan yang mudah. Butuh pengorbanan yang besar. Dan aku merasa tak menyangka ia mampu melakukan itu.
Sempat aku bertanya mengapa Krisan bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukku? Biaya yang begitu besar ia keluarkan demi diriku. Apakah sebegitu berharganya diriku baginya? Aku merasa begitu bersalah karena aku pernah bahkan sering mengucapkan kata cerai itu. Aku tak pernah menyangka cintanya bagiku begitu besar.
“Kenapa nangis dek?” tanyanya duduk di sampingku.
“Mas maafin aku ya.”
Hanya kata itulah yang sanggup kukatakan. Aku selalu bergantung padanya bahkan sejak pertama aku menikah dengannya. Dan sekarang aku masih belum bisa membahagiakan dirinya. Aku belum bisa meringankan beban yang ditanggungnya.
“Buat apa minta maaf. Semua aku lakukan karena cintaku padamu.” katanya. “Lagipula kamu sudah membahagiakan aku dengan kehadiran Natan dan juga sederet piala penghargaan yang kau raih ketika kelulusan.”
Ya aku bersyukur karena di tengah kelemahanku Yang Kuasa masih memberiku kelebihan. Termasuk prestasi yang telah aku raih. Prestasi yang bukan hasil karyaku sendiri. Melainkan kebaikan Tuhan dan juga buah doa dari suamiku.
Sudah tiga bulan sejak graduasi. Semua temanku sudah pergi ke kota perantauan untuk menimba ilmu. Dan aku? Ya aku sama sekali tidak mendaftarkan diri ke satu universitas pun. Aku memilih diam di rumah menjadi ibu rumah tangga yang baik dan juga ibu dan isteri yang baik bagi Natan dan Krisan.
“Dek, bulan November nanti Mas mau pergi ke China buat studi S3. Mas dapat beasiswa. Kalau kamu nggak mengijinkan ya Mas nggak akan pergi.” katanya.
China? Mengapa di saat seperti ini?
Kalau ditanya soal mengijinkan atau tidak seharusnya setiap orang tahu jika seorang isteri tidak akan bisa berpisah dari suaminya. Apalagi untuk waktu yang sangat lama. Bukan satu dua hari. Dan juga bukan satu dua bulan. Tapi bertahun-tahun.
“Mas akan membatalkannya kalau kamu tidak mengijinkanku pergi. Bagaimanapun keluargaku adalah yang terpenting.”
Bagaimana ini? Hatiku sebenarnya sangatlah tidak rela membiarkannya pergi dariku. Jika melanjutkan studi di dalam kota aku masih menyetujuinya. Namun permintaannya ini adalah di negeri orang. Aku tahu bersahabat dengan pendidikan adalah kesukaannya dan… meraih gelar Ph.D juga adalah keinginan terbesarnya. Sekarang satu pertanyaan bagi hati kecilku: sanggupkah aku mengijinkannya pergi?
“Tapi mas akan sering pulang kan?” tanyaku memecah keheningan.
“Nggak janji, sayang. Mas di sana juga harus nyambi kerja. Kalau kerjaan mas udah luang mungkin mas baru bisa pulang.” katanya. Aku menunduk. Air mataku telah hampir saja jatuh. “Paling setahun sekali mas akan pulang dek. Waktu natal.”
“Sebenarnya aku nggak rela mas pergi. Tapi –” aku menatap foto-foto wisuda Krisan yang terpampang di dinding kamarku. “– ini adalah impian Mas Kris. Mas udah sering berkorban untukku. Dan kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas semua itu. Meski sebenarnya hati kecilku tidak rela.” ucapku pelan.
“Jangan dipaksakan dek kalau kamu nggak rela. Nanti kamu bakal kewalahan sendiri. Mas akan segera batalin pendaftarannya kok.”
“Jangan, mas. Aku tahu mas pengen kuliah di China. Aku ijinin kok.”
Segera Krisan memelukku erat. Air mataku segera mengalir deras. Mungkin waktuku bersamanya tidaklah lama lagi. Tiga bulan lagi Krisan akan segera terbang ke China dan akan kembali empat tahun lagi. Mungkin aku harus terbiasa hidup tanpanya dan menjadi mandiri. Aku juga harus membiasakan hidupku ditemani kesunyian dan rasa sepi di rumah sebesar ini.
***
Aku duduk di balkon kamarku. Menikmati malam berbintang sembari mengalunkan melodi dari gitar kesayanganku. Sepi rumah ini. Sepi pula hatiku. Tak terasa tiga tahun telah berlalu. Dan hari ini aku sangat merindukannya. Merindukan kekonyolannya dan sifat manjanya itu.
Malam ini aku sangat ingin menemuinya. Jika saja ada tokoh kartun robot kucing berwarna biru yang sangat kugemari itu nyata di dunia ini, aku akan memintanya mengeluarkan pintu kemana saja dari kantong ajaibnya dan segera menemui pria itu. Pria yang telah sukses membuat hidupku begitu sepi selama tiga tahun ini.
“Ciee ternyata ada yang masih galau aja!” suara seorang pria mengejutkanku.
“Kak Krisna?” aku tersenyum melihat pria itu datang.
“Aku berharap kamu yang bukain pintu. Eh ternyata Tante.”
Pria yang kini adalah dokter spesialis onkologi itu duduk di sampingku. Setelah membisikkan sesuatu pada Winda, putri bungsuku yang berusia dua tahun. Kuharap adik iparku ini tidak meminta hal yang aneh pada putriku.
“Cantik ya putrimu!” katanya membuka pembicaraan.
“Ya begitulah keturunan dari Krisan Yosia.” kataku dengan masih melanjutkan alunan gitarku. “Kan juga keponakan Kak Ino.”
“Kamu nggak mau nyusulin suamimu?” tanyanya.
“Hah ya pengen sih. Tapi aku nggak ada biaya besar. Anak-anak juga nggak mungkin aku tinggal sama Mama.” kataku menyandarkan gitarku di dinding.
“Pipin juga mau lanjut S2 di sana.” Krisna menatapku lekat. Mengapa jantungku berdebar lagi? Seharusnya ini tak lagi terjadi. Kami sama-sama sudah berkeluarga. “Kamu bisa ikut sekalian, dek.”
“Eh?”
“Anak-anak juga bisa kamu bawa.”
“Aku tidak bisa meninggalkan Mama di sini, Kak. Dia orangtuaku satu-satunya.”
Krisna mendengus. “Kalau Tante mau kan bisa ikut sekalian.”
“Biayanya?”
“Aduh kakak iparku tersayang. Soal biaya jangan dipikirkan. Apa kamu nggak rindu pada suamimu? Dan apa kamu juga tidak ingin melanjutkan kuliah sama seperti temanmu yang lain?”
Aku masuk kembali ke kamarku. Tak kujawab satupun pertanyaannya. Aku meraih benda pipih di meja belajarku. Terlihat notifikasi pesan di sana. Pesan dari Krisan. Hah Krisan?
Krisan Yosi: Maaf dek mas baru bisa kabari. Besok mas wisuda. Doakan lancar ya! Mas nggak maksa kamu datang kok. Doamu saja mas sudah senang.
“Gimana?” suaranya mengembalikan kesadaranku.
“Kapan Kak Ino berangkat?”
“Mungkin minggu depan.” katanya.
“Yakin boleh bawa Winda dan Natan? Mama juga boleh ikut?”
Krisna tertawa. “Harus berapa kali aku bilang tentang hal itu, dek.”
Tapi ada benarnya ide Krisna. Memang hatiku sudah sangat rindu padanya, suamiku. Dia pasti juga sangat terkejut saat melihat Winda, putri bungsuku. Mengapa? Karena waktu ia pergi bertepatan dengan waktu aku mengandung Winda.
“Kakak ini lucu ya. Aku kakak iparmu tapi memanggilku dek. Dan kamu itu adik iparku malah aku panggil kak.” kataku seraya tertawa setelah menjawab pesan Krisan.
Carlina D: Selamat ya sayangku! Kalau doa itu wajib.
Carlina D: Oya kapan mas pulang? Aku kangen!
Krisna tertawa ketika membaca pesan yang baru saja ku kirimkan pada Krisan. Oh astaga! Mukaku harus aku taruh dimana ini?
“Sweet banget ya?”
“Ih Kak Ino apaan sih!” tak lama pesan kembali masuk di ponselku.
Krisan Yosi: Secepatnya dek. Akhir tahun nanti pasti pulang kok. Sabar ya!
“Nggak call?”
“Ih ya enggak lah, Kak. Udah malam. Di sana juga pasti udah dini hari tau!”
“Ya sudah kamu tidur gih. Ntar kecapekan lagi malah repot. Ingat udah punya haizi.” katanya pamit pulang dan segera berlalu dari kamarku.
“Iya, iya.”
Carlina D: Mas harus tau di rumah ini ada warga baru!
Krisan Yosi: Hah siapa emangnya?
Krisan Yosi: Kamu nggak selingkuh kan?
Krisan Yosi: Jangan-jangan kamu poligami sama Ino?
Carlina D: Ya Tuhan
Carlina D: Enggak laahh
Carlina D: Namanya Winda, adiknya Natan.
Krisan Yosi: Lagi mimpi ya kamu? Orang anakku cuma satu si Natan. Hayo anak siapa itu?
“Kan nggak percaya nih bapak!” gumamku.
Carlina D: nggak percaya nih?
Krisan Yosi: ya gak lah. Orang aku di sini udah tiga tahun. Masa tau-tau isteriku melahirkan lagi.
Carlina D: Winda udh dua tahun, mas iyan ku sayankk…
Carlina D: Kamu pergi waktu aku hamil
Ya kurasa suamiku benar-benar tidak tahu kalau saat itu aku sedang hamil dua bulan. Ini kejutan besar baginya. Aku tersenyum lalu menyalakan ponselku lagi kemudian menekan tombol video call.
“Mama itu siapa?” tanya Winda diujung pintu ketika wajah Krisan mulai muncul di layar ponselku.
“Eh, imut banget! Itu… anakku?”
“Iya, mas.” kataku. “Sini, nak!” aku menariknya ke pangkuanku. “Say hi ke papa!”
“Papa?” gadis kecilku mengamat-amati layar ponselku.
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..