Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Dunia lain
Tidak ada yang tau apa yang akan kita hadapi di masa depan. Baik kesedihan maupun kebahagiaan, bahaya mengancam. Mengarungi Samudera waktu alam tanpa batas. Para Indigo membaca waktu, kejadian masa lalu dan kini. Dia tidak tau secara keutuhan semua cerita tau misteri di dalamnya. Tidak tau juga pandangan yang di lihat benar adanya atau hanya tipuan iblis , jin atau setan belaka.
Benda aneh yang dia temukan dari dalam gudang neneknya semasa kecil hingga kini menghantuinya. Tepat di dalam penglihatan selanjutnya, kesakitan sebuah keluarga yang terlihat bergelimang harta kenyataannya sangat sengsara. Kaki setan menapak kuat di wilayahnya, atap rumah di kelilingi penampakan makhluk-mahkluk hitam.
Pahing menjatuhkan tampah besar berisi bahan tempe yang akan di olah. Dia terkejut ketakutan melihat makhluk hitam berlendir masuk ke dalam tubuhnya. Dia tidak sadarkan diri, Tarjok menemukannya di bawah pohon pisang halaman belakang rumah. Wajahnya membiru, mulutnya terbuka lebar. Orang-orang yang melihatnya berlari ketakutan.
Pahing di katakan terkena gangguan makhluk ghaib. Di dalam kamar kos-kosannya tidak ada yang berani masuk mendekati, anak perantauan yang beradu nasib di wilayah lain karena mendapatkan pekerjaan dengan upah yang sangat besar itu ternyata nyawanya sedang di pertaruhkan.
“Gimana kita sebagai teman membantu sebisa kita. Dukun yang kau bawa saja katanya dia udah nggak bisa di sembuhkan lagi” kata Tarjok sambil mengangkat keranjang.
“Ya mau bagaimana lagi? Sekarang Kita hanya bisa mendoakannya” jawa Wawan.
Malam penantian, Pahing berhenti bernafas. Terakhir kali dia melihat sosok makhluk yang dia temui di dekat pohon menarik tanganya berjalan ke sebuah tempat yang di penuhi dengan api. Uap yang sangat panas, dia menjerit kesakitan di dorong masuk ke dalam lautan api.
Kabar kematian Pahing geger akan perkataan dukun yang terakhir kali mengobatinya. Dia terkena gangguan makhluk halus yang berasal dari tempat kerjanya.
“Aku yakin sekali dukun itu bilang kalau tempat kerja kita berhantu” ucap Tarjok.
“Yang benar kamu Jok. Haduh! Jangan sampai aku ketiban siap seperti si Pahing” Wawan menepuk jidatnya.
Hari ini orderan sedikit sepi, para karyawan berkerja sampai setengah hari. Nek Esti memerintahkan mereka pulang lebih cepat, dia terlihat kurang sehat dan gerakan jalannya yang tertatih. Hari ini Esti pergi berobat di antar pak Yoyok. Supir pribadi sekaligus orang kepercayaan. Esti menyadari kalau sakit yang dia rasakan tidak sepenuhnya sakit alami. Meski demikian, dia harus menuruti saran Banu untuk memeriksa kesehatannya di rumah sakit.
Perjalanan rute selanjutnya pergi ke rumah mbah Kasino. Kursi bambu dan sajian yang terhidang di atas meja bukan secangkir minuman atau makanan. Mbah Kasino menyuruh dia membawa semua tambahan bahan yang arus dia sediakan di dalam ruangan khusus.
“Bulan besok adalah genap satu tahun untuk memberikan tumbal selanjutnya. Kalau kamu tidak segera melaksanakan ritual nama calon tumbal."
“Ya aku tau mbah.”
Esti membawa bungkusan masuk ke dalam mobil. Sosok si juru kuncen sekaligus dukun itu melihat tubuhnya yang mulai di serap makhluk jin pesugihan. Di dalam ruangan khusus, Esti menyusun semua benda yang dia bawa. Kali ini menulis nama Banu menggunakan darah pada jari yang dia gores.
Suara ketukan pintu yang terdengar keras mengagetkan mengagetkan Rasmi. Dia baru saja mengambil piring makan, mendengar kabar suaminya mengalami kecelakaan membuat piringnya terjatuh sampai mengenai kakinya.
“Bu, pak Banu meninggal dalam kecelakaan lintas kota..”
Pak Yoyok mengangkat Rasmi yang tidak sadarkan diri. Dia baringkan di atas sofa, Esti berpura-pura panik di sela pikirannya yang berpikir kalau nama calon tumbal telah menangkap mangsa. Dia mengusap kepala Rasmi, menenangkannya untuk tetap sabar.
Esti memberikan suang suapan pada para pemandi jenazah agar tidak membeberkan keadaan si mayat. Dia juga memberitahu agar mereka jangan memberitahu pada Rasmi mengenai leher Banu yang membiru.
Leher Banu di tutupi dengan kain. Merek tidak mengijinkan Esti masuk sebelum selesai mengkafani. Penguburan yang di segerakan, Rasmi menangisi makam suaminya. Pendeng yang tidak sanggup melihat kematian ayahnya mengurung diri di dalam ruangan yang gelap gulita.
Dia melihat membasuh wajahnya dengan ujung kaosnya. Tangisan terhenti melihat bayangan kuda dari balik tirai. Semakin dekat, kuda menjelma menjadi sosok mengerikan. Suara teriakannya terdengar pekerja rumahnya.
“Ada apa den?”
“Bi Upik, ada hantu di ruangan itu”
“Mana den nggak ada apa-apa..”
Bi Upik menghidupkan lampu mencari sosok tersebut. Pendeng berlari ke ruangan lain, dia memasuki ruangan yang selalu di larang neneknya untuk dia dekati. Pintu yang selalu terkunci dengan rantai yang di gembok itu tiba-tiba terbuka sendiri. Pedeng masuk ke dalam melihat penampakan makhluk yang sama. Dia menjerit ketakutan, sosok jin pesugihan merenggut jiwanya. Bi Upik minta tolong melihat Pepeng menusuk perutnya dengan keris berukuran besar.
“Ceroboh sekali, kenapa Pendeng bisa masuk ke dalam ruangan ku?”
“Maafkan saya nyonya, saya tidak tau kenapa den Pendeng bisa masuk ke dalam. Hanya nyonya yang mempunyai kunci itu.”
Kematian Pendeng menjadi misteri, Esti menyayangkan cucu keduanya di ambil jin pesugihan. Setelah kepulangan dari makam cucunya. Rasmi membuntutinya melihat gelagat ibunya yang mencurigakan. Laju kendaraan ibunya memasuki area hutan yang jaraknya cukup jauh dari perkotaan. Pak Yoyok memarkirkan mobil di dekat pohon yang tampak hangus terbakar. Ibunya keluar, langkah kaki cepat masuk ke dalam rumah tanpa meminta ijin pada penghuninya.
Rasmi bersembunyi lalu mencari celah jalan lain agar tau apa yang ibunya lakukan. Mendorong pintu belakang, dia membuka sandal lalu masuk ke dalam. Mengintip dari balik ruangan lain, dia melihat benda-benda mistis yang terdapat di atas meja.
“Aku sangat menyayangkan cucu ku di ambil jin pesugihan Mbah. Bukan kah akhir tahun aku sudah menumbalkan menantu ku? Kenapa dia malah mengambil cucu ku juga.
“Cucu mu telah di pilih sebagai darah daging sang manusia pengikut iblis. Setelah kau pulang nanti kekayaan mu akan bertambah berlimpah ruah. Usaha dan semua keinginan mu terlaksanakan.”
Ucapan si pria tua mengagetkannya. Rasmi tidak menyangka ibunya tega menumbalkan anak dan suaminya. Rasmi segera pergi mengangkat sandalnya, dia berlari menuju ke dalam mobil yang dia parkirkan lebih jauh dari rumah tersebut. Sepanjang perjalanan dia menangis, pandangannya kabur sampai hampir menabrak pengemudi sepeda motor yang melintas di dekatnya.
Dia membanting stir menabrak pepohonan. Dahinya terluka, Rasmi memutar kemudi melajukan kembali kendaraannya. Dia tidak akan pernah memaafkan kelakuan ibunya, dia memeriksa ruangan terakhir kali anaknya meninggal. Pintu bercat hitam tergembok, ada dua lapis rantai besi.
Dia mencari kunci di dalam kamar ibunya. Pandangan posisi berjaga mencari di setiap laci. Dia membuka lemari pakaian, menemukan sebuah kunci di balik lipatan baju.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.