Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 13
"Kak, seharusnya Kakak jangan buat mama marah apalagi meninggikan suara pada beliau. Walau seburuk apapun orang tua kita tetap harus menghormatinya. Sekesal apapun kita pada mereka" nasehat Mitha pada sang suami.
Suami Mitha itu mengusak rambutnya kasar. Dia betul-betul tidak tahu jalan pikiran istrinya yang terlalu polos itu. Sudah sering disakiti oleh ibu mertuanya masih juga membela wanita paruh baya itu.
"Kamu itu terlalu sabar jadi orang. Didzolimi selama setahun lebih tetap membelanya. Tetap hormat walaupun kamu dan keluargamu direndahkan sedemikian rupa. Aku sampai nggak bisa berkata apa-apa memiliki seorang istri berhati bagai bidadari."
Gadis itu hanya tersenyum mendapatkan pujian dari sang suami. Dia tidak pernah merasa sebaik itu. Mitha sebenarnya hanya menjalankan apa yang diajarkan oleh nabi seperti dalam hadits, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah kekuatan itu menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya ketika ia marah." (HR. Imam Bukhari Muslim)
Tidak hanya dalam hadits saja, di dalam Al Qur'an pun menyebutkan tentang bersabar dan memaafkan.
"Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Qs. As-Syuraa : 43)
Selain itu, dalam Al Qur'an surat Ali Imran ayat seratus tiga puluh empat juga menyebutkan, ".... Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, istri Marcelo Weasley itu sebisa mungkin mengikuti apa yang diajarkan dalam agamanya. Mitha bukan ingin sok suci, karena memang belum semua ajaran agama dia kerjakan. Hanya saja ajaran yang bisa dengan mudah dan ikhlas dijalani akan dijalankannya.
***
Tetangga yang tinggal di sebelah rumah orang tua Mitha langsung mendatangi tempat kerja Bu Sekar untuk memberi tahu adanya keributan di rumah wanita berusia empat puluh tahun itu. Wanita bernama Tuti itu sebenarnya ingin memberi tahu Bu Sekar saja, tetapi karena merasa tidak enak hati pada pemilik butik itu, dia membawa kain bakal. Butik tempat Bu Sekar bekerja juga menerima jasa menjahit baju.
Mendengar kabar tentang kedatangan anak dan menantunya, Bu Sekar bergegas pulang. Rasa rindu yang selama ini ditahan karena lama tidak bertemu, akhirnya bisa bertemu kembali setelah setahun lebih berpisah. Bu Sekar singgah di pasar tempat dia belanja, membeli bahan makanan untuk makan malam mereka nanti.
Kini tampak wanita usia sembilan belas tahun itu sedang membantu sang ibu di dapur. Dua wanita beda generasi sedang memasak sambal kentang campur ati serta merebus bayam.Walaupun hanya masakan sederhana, tetapi cukup bergizi dan membuat perut kenyang.
"Tumben kalian datang ke sini? Apa sudah mendapat izin dari nyonya Rosita?" tanya Sekar pada anak dan menantunya.
Saat Mitha akan membuka suara, sang suami sudah terlebih dahulu menjawabnya. Tangan laki-laki itu menggenggam jemari sang istri kemudian merematnya lembut.
"Maafkan Celo, Bu. Belum bisa membahagiakan putri kesayangan ayah dan ibu. Kami berdua sengaja ingin belajar mandiri, kami juga sudah sepakat tidak lagi tinggal di rumah Papi Damian ataupun tinggal di sini. Mohon do'a restunya, Bu. Agar rumah tangga kami baik-baik saja, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng sampai di akhirat," jawab Marcelo panjang kali lebar.
Sekar yang mendapat jawaban secara gamblang hanya bisa mengangguk tanda mengerti. Wanita paruh baya yang sudah mulai ada keriputan di bawah matanya karena kerasnya hidup itu tidak melarang atau menyuruh untuk tinggal. Membiarkan sang anak belajar hidup mandiri, agar tahu kerasnya hidup di dunia ini.
"Apapun keputusan kalian, Ibu hanya bisa mendo'akan semua yang terbaik untukmu dan rumah tangga kamu. Bukan begitu, Yah?" tutur sang ibu dengan suara lembutnya, berbanding terbalik dengan sang besan.
Pak Cakrawala mengiyakan ucapan sang istri. Laki-laki yang umurnya belum ada setengah abad itu mendukung jika anak dan menantunya ingin belajar mandiri. Bagi dia, seorang anak haruslah belajar mandiri dan tidak bergantung terus pada orang tua karena orang tua tidak selamanya bisa mendampingi dan memberi anak. Ada saatnya dia harus pergi menghadap Tuhan, meninggalkan anak istri serta keluarga lainnya.
Usai menikmati makan siang dan berbincang sebentar, Celo mengajak Mitha pamit. Lelaki itu mengajak sang istri pergi keluar kota untuk menjauh dari keluarganya. Hal ini dikarenakan, suami Mitha itu tidak ingin hidupnya diatur terus oleh sang ibu.
"Lho, kok nggak nginep? Padahal Ibu masih kangen sama kamu, Nduk," tanya Bu Sekar terkejut saat sang menantu pamitan akan membawa anak perempuannya pergi meninggalkan kota mereka.
"Maaf, Bu. Lain kali kami pasti menginap, tapi tidak saat ini. Takutnya mami semakin marah kalau kami bermalam di sini," jelas Celo singkat.
Bu Sekar yang tahu duduk permasalahannya dari tetangga sebelah rumah, Bu Tuti, memaklumi dan mengerti akan ucapan sang menantu. Mungkin sudah saatnya mereka untuk belajar mandiri. Berdiri pada kaki sendiri.
Celo menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah sederhana, di tempat ini Mitha lahir dan besar. Laki-laki itu sangat mencintai istrinya sehingga dia selalu memperlakukan wanita di sampingnya itu dengan lembut. Mereka berjalan bergandengan tangan sampai di halte.
Saat mereka baru duduk di atas bus, Mitha bertanya pada sang suami kemana tujuan mereka saat ini. Jawaban yang didengar dari lelaki itu sungguh mengejutkan. Laki-laki muda itu belum ada gambaran kemana mereka akan tinggal nantinya.
"Kalau belum tahu tujuannya kenapa nekat pergi? Lebih baik kita pulang ke kediaman Weasley atau bapak saja. Kita pikirkan dimana kita akan tinggal," saran Mitha pada sang suami.
"Kalau kita masih di kota itu, mami pasti akan terus mengganggu rumah tangga kita. Hidup kita akan terus beliau atur sesuka hatinya. Apa kamu mau berbagi suami dengan wanita lain? Kalau kita tetap berada di kota itu," jelas Marcelo berakhir memberikan pilihan.
"Bukan begitu, Kak. Kita pikirkan dulu di mana kita akan tinggal nantinya. Setelah itu kita baru pergi."
"Kita nggak ada waktu lagi, Sayang. Mami pasti akan memaksa kita untuk kembali ke rumahnya. Selanjutnya kamu pasti tahu apa yang akan terjadi, bukan?"
"Kalau bisa memilih, Mitha ingin tetap mendampingi Kakak tanpa berbagi dengan siapa pun. Tapi, apakah kita bisa memilih takdir yang harus kita jalani?" jawab istri Marcelo dengan pesimis.
"Hidup kita yang menentukan kita sendiri, Sayang. Bukan orang lain. Jadi, selagi kita masih ada kesempatan untuk memilih jalan kenapa harus menyerah?"
***
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.