Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melati
"Dia sudah bersama Tuhan," jawabku.
Reza terduduk sambil menitikkan air mata, namun semua itu percuma tidak akan mengembalikan Dania.
"Andaikan kamu nggak berulah mungkin dia kini masih berada di dalam perutku, andaikan kamu cukup dengan satu cinta semua nggak akan seperti ini," Lelah hatiku melayani perasaan hingga aku harus kehilangan Dania, anak keduaku. Sudah cukup kesakitan ini.
Aku mengajak Ega pergi ke kamarnya, enggan sekali melihat Reza.
Hari berlalu dengan cepat, aku yang sudah sembuh berencana pergi ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai pada Reza, aku nggak peduli dia setuju atau tidak namun yang pasti aku tetap ingin berpisah dengannya.
Setelah menggugat Reza, aku pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter David, saat itu aku memiliki hutang padanya karena aku tidak cukup memiliki uang untuk biaya sesar dan penanganan Dania.
"Dokter David." Aku masuk kedalam ruangannya, untung aku datang di saat jadwal prakteknya sudah habis.
Dokter David nampak tersenyum menatapku, kemudian dia memintaku untuk duduk di hadapannya.
"Sudah sembuh?" tanyanya.
"Kenapa anda mengajukan pertanyaan padahal anda sendiri mengetahui jawabannya Dok." Senyumanku mengembang melihat ekspresi wajahnya.
Pesona Dokter David sungguh luar biasa, entah blesteran dari mana sehingga menghasilkan orang sepertinya.
"Resek kamu Melati." Dia berbicara non formal padaku.
Aku mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar sisa tagihan biaya operasi beberapa waktu yang lalu.
"Dok, maafkan saya karena telah merepotkan Dokter, entah saya tidak tau bagaimana nasib saya jika tidak bertemu dengan Dokter." Dia menyilangkan kedua tangannya di dada sembari tersenyum.
"Aku habis ini aku tidak ada praktek ataupun jadwal, ayo kita pergi makan." Dia mengajak aku makan, apa hal ini diperbolehkan? mengingat aku masih berstatuskan suami orang.
Tapi masa bodoh dengan Reza, yang terpenting aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar keyakinanku.
Kami berputar-putar mencari kafe yang cocok untuk makan hingga pilihan kami jatuh di sebuah kafe yang memiliki desain unik.
Sebelum turun dari mobil David memberikan aku masker, karena memang peraturan dari kafe kalau setiap pengunjung wajib memakai masker.
Saat hendak masuk, tiba-tiba ada wanita yang menabrak aku, dia adalah Viona.
"Hati-hati dong mbak kalau jalan." Dia menatapku, mungkin dia merasa tidak asing dengan suaraku.
"Kamu Melati?" tanyanya.
Aku membuka masker yang aku pakai, setelah melihat Dokter David dia nampak marah.
"Oh enak-enakan pacaran anak dititipkan mas Reza sampai dia tidak bisa mengajak aku jalan-jalan." Di depan kafe dia memaki aku, tentu aku sangat malu apalagi banyak mata yang memandang kami.
Melihat aku dimarahi David nampak kesal, dia menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam kafe meninggalkan Viona di tempatnya.
"Bukankah itu wanita yang berada di rumah kamu waktu itu." Samar-samar David dapat mengingat Viona.
"Iya Dok." Tak kusangka Dokter David ingat wajah Viona.
Tak ingin membahas Viona aku memanggil pelayan, aku meminta daftar menu pada pelayan.
Seusai memesan makanan aku mengeluarkan sejumlah uang lagi.
"Dok, ini sisa pembayaran kemarin, terima kasih." aku mendekatkan sejumlah uang di depan David.
"Lebih baik kita lupakan hutang itu Melati." Dia menolak uangnya.
Aku bertanya-tanya kenapa dia menolak uang pemberianku, padahal sisa biaya sesar dan rumah sakit kemarin lumayan banyak.
*********
POV (David)
Aku menatap Melati dengan lekat, mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku tidak meminta sisa pembayaran kemarin.
Pertama kali aku melihatnya malam itu, aku langsung tertarik, bisa dibilang jatuh hati pada pandangan pertama namun saat aku tau dia sudah berkeluarga aku merasa kecewa namun ya sudahlah, mungkin dia bukan wanita yang Tuhan kirim buat aku.
Aku sudah melupakan Melati, wanita yang membuat aku jatuh hati namun Tuhan keliahatannya mempertemukan kami, siapa sangka kalau dia adalah pasienku.
Jujur saat dia masuk ke dalam ruanganku, aku sangat deg degan, ingin rasanya aku keluar namun tidak mungkin aku meninggalkannya.
Melihat catatannya dari dokter terdahulu membuat aku iba dengannya, apa yang membuatnya banyak pikiran? hingga aku meminta seseorang untuk menyelidikinya.
Dan benar saja dia begitu karena ulah suaminya, kenapa ada suami yang tega menyakiti istrinya di dunia ini, padahal istri adalah wanita yang harus di muliakan bukan untuk disakiti.
Lambat laun aku merasa kesal juga pada Melati yang mau saja disakiti tanpa mau melawan, bukankah hak seorang istri itu dilindungi? kenapa masih saja takut?
Aku pusing dan sakit hati sendiri, melihat dia yang setiap periksa selalu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja hingga puncaknya aku kemarin saat dia melahirkan prematur.
Sungguh Tuhan berpihak padaku, meski aku tidak tidur namun aku bahagia karena bisa menunggui dia dan anaknya tidur.
Malam itu aku menyelinap masuk ke dalam ruangannya, aku sengaja memberinya sedikit obat tidur agar dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa sakit.
Aku memberikan obat terbaik untuknya, obat yang hanya dijual untuk orang kelas kakap di luar negari itulah sebabnya dia lebih cepat pulih.
"Dok." melati memanggilku.
Suaranya membawa aku kembali dari lamunan.
"Iya," kataku.
"Pokonya saya nggak mau tahu dok." Dia terus memaksa aku untuk mengambil uangnya padahal aku tidak menganggapnya sebagai hutang.
"Baiklah Melati tapi makan aku yang traktir ya."
Dia mengangguk dan itu membuat aku tersenyum senang.
Saat dia makan, diam-diam aku mengambil gambarnya, aku beralasan ada pasien yang menghubungi aku padahal aku asik mengambil gambarnya.
Dalam beberapa menit, galery ku full dengan foto-fotonya, sungguh aku ingin berjingkrak karena bisa mengambil gambar yang banyak.
Asik mengambil gambarnya membuat aku lupa memakan makanan aku dan ini membuat melati kesal.
"Dok, bisa nggak kalau makan itu nggak udah main hp, tau gitu aku nggak mau ikut makan." Melati marah padaku.
Aku langsung meletakkan ponselku dan meminta maaf padanya.
Kulihat dia masih cemberut hingga di sela makanku aku membuat sebuah tebakan untuknya.
"Bunga apa yang paling harum?" Aku bertanya padanya.
Dia nampak berpikir, lalu menjawab kalau bunga sedap malah lah bunga yang paling harum.
"Salah." Jawabannya jelas salah karena bunga yang paling harum menurutku adalah Melati.
Dia tersenyum lalu memintaku untuk memberinya pertanyaan lagi.
"Bunga apa yang sangat penting,"
Dia menjawab Mawar namun jawabanku lagi-lagi melati, begitu seterusnya hingga dia kesal karena aku selalu menjawab bunga melati.
"Kenapa jawabannya selalu bunga melati?" Dia protes padaku karena dari sepuluh pertanyaan jawabannya sama yaitu Melati.
Aku tertawa sambil menatapnya yang kesal padaku.
"Karena Melati adalah wanita yang cintai, sehingga semua jawabnya adalah Melati." batinku.
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘