Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Hari berikutnya tiba dengan membawa energi baru yang jauh lebih bersemangat di gedung pusat Dirgantara Media Group. Badai kehidupan telah terlewati tanpa menyisakan dendam.
Larasati melangkah masuk ke dalam ruang divisi kreatif dengan kepala tegak. Ia mengenakan kemeja kasual warna hijau sage yang dipadukan dengan celana kulot putih. Kali ini auranya memancarkan kelegaan dari segala beban batin.
"Selamat pagi, Mbak Larasati! Wah, auranya segar banget hari Senin ini. Habis liburan kemana nih Mbak?" sapa Cindy dengan pembawaannya yang selalu hangat, ramah, dan rendah hati sambil meletakkan berkas laporan penyiaran digital di atas meja pimpinan Larasati.
Larasati tersenyum manis, berjalan dengan anggun menuju kursinya.
"Pagi, Cindy. Hari Senin memang harus diawali dengan energi positif, kan? Oh iya, apakah semua urusan teknis penayangan digital untuk proyek holding media kita sudah beres?"
Bagas dan Rian, ikut berdiri dari dalam kubikel kerja mereka dengan senyuman profesional. "Sudah seratus persen aman, Mbak Laras. Tim desainer grafis sudah menyelaraskan visualnya dengan draf revisi pemasaran digital yang dibawa oleh tim Pak Arjuna kemarin." Bagas menjelaskan.
Proyeksinya sudah sangat sempurna, Mbak." timpal Rian dengan semangat.
Tepat saat Larasati hendak membuka berkas dari Cindy, pintu kaca utama divisi kreatif mendadak terbuka lebar. Kehadiran sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas berwarna biru tua, langsung membuat seluruh area kubikel kerja mendadak menjadi hening. Dewa Dirgantara melangkah masuk dengan karisma yang luar biasa, didampingi oleh Evan yang berjalan di belakangnya sambil memegang tablet kerja.
Seluruh staf divisi kreatif, termasuk Cindy, Bagas dan Rian segera bangkit berdiri dan memberikan anggukan hormat yang sopan kepada sang CEO tertinggi.
Dewa mengangguk pelan, memberikan isyarat agar mereka kembali bekerja, namun manik mata elangnya yang tajam langsung mengunci pandangan khusus kepada Larasati yang sedang berdiri di depan mejanya.
"Selamat pagi, Larasati. Ikut ke ruangan saya sekarang. Ada beberapa agenda strategis baru, terkait perluasan jaringan iklan holding media kita yang harus saya diskusikan secara langsung dengat Creative Director saya." ucap Dewa dengan suara yang sangat tenang namun tidak menerima penolakan.
"Baik, Pak Dewa. Saya akan membawa berkas laporan proyeksi digitalnya sekarang," jawab Larasati dengan senyum profesionalnya.
Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja CEO yang luas dan beraroma mewah kayu cendana di lantai teratas gedung, keheningan kembali tercipta. Begitu pintu besarnya tertutup, Dewa tidak langsung berjalan menuju meja marmer hitamnya. Sebaliknya, pria lajang berusia 38 tahun itu melangkah mendekati sofa kulit di sudut ruangan, memberi isyarat agar Larasati duduk di sana, sementara ia duduk di sofa tunggal seberangnya.
Dewa menatap lekat wajah Larasati dengan pandangan mata yang melembut, ekspresi datarnya yang sedingin es itu seolah mencair.
"Saya dengar dari laporan tim investigasi internal saya, kemarin keluarga Arjuna datang langsung menemui orang tuamu untuk meminta maaf secara terbuka ya, Laras?"
Larasati tertegun sejenak, ia terkejut dengan pertanyaan bos besarnya itu yang diluar konteks. Namun, ia segera menguasai diri dan mengulas senyum tulus yang teramat teduh.
"Benar, Pak Dewa. Mereka datang dengan niat yang tulus. Semua masa lalu yang kelam sudah resmi selesai, dan saya sudah seratus persen ikhlas memaafkan mereka tanpa ada rasa tidak nyaman sedikit pun di hati saya."
Dewa menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kedua tangannya di dada dengan seulas senyum tipis yang menjelaskan getaran asmaranya.
"Bagus, karena mulai hari ini, saya tidak akan membiarkan bayang-bayang pria seperti Arjuna mengganggu konsentrasimu lagi di kantor ini. Urusan profesional kerjamu sudah selesai dengan sangat adil, Larasati. Dan sekarang, sudah saatnya saya memulai langkah baru untuk urusan pribadi kita."
Wajah cantik Larasati tersipu malu, mendengar pernyataan yang begitu blak-blakan dan jantan dari Dewa Dirgantara. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Pak Dewa... maksud Anda apa? Kita berada di lingkungan kantor, dan hubungan kita ini murni antara atasan dan bawahan."
Dewa memajukan tubuhnya sedikit, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya kian mengusik indra penciuman Larasati. Sorot matanya memancarkan ketegasan seorang pria matang yang sedang bergerak maju tanpa rem untuk menaklukkan hati wanita impiannya.
"Hubungan profesional kita tetap berjalan di meja kerja, Larasati. Tapi di luar jam pekerjaan, saya adalah seorang pria lajang yang sedang bergerak untuk mendekatimu secara terhormat." balas Dewa dengan kalimat yang terdengar begitu tenang namun sukses membuat perasaan Larasati menguap seketika.
"Saya sudah lama melajang karena sangat pemilih dalam mencari pasangan yang benar-benar klop di hati saya. Dan kemandirian, ketegasan mental, serta kemurnian hatimu telah membuktikan bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping saya sebagai pendamping hidup saya. Malam ini, setelah jam kantor selesai, saya akan menjemputmu di lobi untuk makan malam. Mobilmu biar nanti Evan yang antar dengan aman ke apartemen. Dan satu lagi, saya tidak menerima penolakanmu, Larasati."
Tepat saat Larasati menahan napasnya dengan wajah yang sudah memerah padam itu, pintu ruangan terbuka sedikit. Sesosok kepala dengan cengiran tanpa dosa menyembul dari balik pintu. Siapa lagi kalau bukan Evan, asisten bos yang tingkahnya suka menghibur.
"Ehem... permisi, Bos Besar yang sangat ulet dan romantis! Maaf memotong momen pergerakannya. Jadwal rapat direksi penyiaran sudah tertinggal lima menit loh, Bos. Jangan mentang-mentang urusan masa lalu Mbak Laras sudah bersih, Bos malah sampai lupa waktu demi memasang jerat asmaranya ke Mba Laras! Kan jadi kacau nih, Bos!" celetuk Evan dengan nada menggoda yang sangat santai, mengedipkan sebelah matanya kepada Larasati.
"Evan, keluar dan kosongkan meja kerjamu sekarang juga atau saya potong seluruh bonus-bonusmu tanpa sisa!" ancam Dewa dengan suara baritonnya yang mendadak sedingin es, membuat Evan langsung menarik kepalanya keluar sambil tertawa cekikikan di balik pintu.
Dewa kembali mengalihkan pandangannya pada Larasati, berdehem pelan untuk menutupi rasa canggungnya akibat ulah asistennya yang usil itu.
"Larasati, kembalilah ke divisimu. Dan ingat, persiapkan dirimu untuk makan malam kita nanti sore."
Larasati mengangguk hormat dengan seulas senyum lega yang teramat manis, lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan CEO dengan hati yang dipenuhi oleh getaran cinta yang baru.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok