Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuktikan Kemampuan
Senja ingin sekali menampar wajah Edward yang begitu memandangnya sebelah mata tapi bentakan yang diberikan pria itu kepada Dinda setidaknya setimpal untuk mewakilkan Senja membalaskan rasa kesalnya pada kakaknya itu.
Di telinganya masih menggema ucapan pria itu yang marah karena setelah operasi kedua pun, ayahnya tidak siuman juga.
"Maaf, tuan Stanfield, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi riwayat ayah Anda yang sudah mengidap penyakit komplikasi, membuat beliau susah untuk sadarkan diri," ujar dokter Mochtar takut-takut saat memberi laporan.
"Jangan sampai aku pecat kalian. Masa dokter yang katanya hebat itu justru tidak bisa menyelamatkan ayahku!" salaknya. Lalu menatap ke arah Senja.
"Tentu saja operasi ini gagal karena tim kalian semua hanya sampah, termasuk wanita itu!" ucap Edward menunjuk Senja.
Dengan santai Senja keluar dari ruangan itu, dia berdiri di ujung koridor memandang keluar jendela. Dalam hatinya dia bertanya sampai kapan dia berada di dalam dunia novel ini? dia sudah rindu kembali ke dunianya walaupun mungkin saat nanti dia kembali Senja akan sangat merindukan ayahnya yang ada di sini, karena dalam kenyataan yang ada dia sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi.
Senja mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Perlahan Senja menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria dengan tetapan yang sangat tidak bersahabat terhadapnya dan Senja tidak peduli akan hal itu.
"Ada apa Anda mencariku?" tanya Senja menaikkan sebelah alisnya.
"Kau yang akan merawat ayahku?" tanyanya dengan sentimen yang sangat membuat Senja semakin membenci pria itu.
"Sayangnya, iya tapi kau tenang saja, aku paling ditugaskan hanya sebagai pelengkap yang mungkin bertugas hanya mengeringkan keringat di kening dokter yang mengoperasi ayahmu," jawab Senja kembali menatap keluar jendela.
Dia sengaja membelakangi pria itu sebagai caranya menunjukkan ketidak keinginannya berbicara lagi dengan Edward.
Pria itu kalah malu, dia juga tidak tahu untuk apa menjumpai Senja saat ini.
***
Jadwal operasi ketiga untuk tuan Rudolf Stanfield dilakukan besok, dan setelah ayahnya mengetahui bahwa Senja ikut menjadi salah satu medis yang menangani kesehatan tuan Stanfield, papanya meminta Senja untuk pulang.
"Kamu tahu, Nak Papa begitu bangga saat menerima kabar dari wakil kepala rumah sakit yang mengatakan kamu dimasukkan sebagai tim yang membantu penyembuhan tuan Stanfield. Kamu tidak tahu, papa bahkan ingin melompat saking girangnya," ucap mengusap kepala Senja yang duduk di dekatnya.
Senja ingin membalas dengan mengatakan terima kasih kembali, tetapi ibunya langsung memotong dan mengatakan hal yang sangat menyakitkan hatinya.
"Akhirnya kau bisa melakukan hal yang berguna juga, tidak sia-sia orang tuamu menyekolahkan mu berharap kau bisa berguna untuk keluarga ini," ucap ibunya tanpa memandang sedikitpun ke arah Senja.
Mereka berempat sedang duduk di ruang keluarga sehabis makan malam. Dinda yang mendengar hal itu tersenyum mengejek ke arah Senja, dia begitu gembira dan merasa puas kalau ibunya memberikan umpatan dan juga kalimat yang menyakitkan hati Senja.
Senja menjadi penasaran apa alasan ibunya membencinya. Kalau memang kenyataan yang dialami di dalam dunia nyata berbanding terbalik dengan apa yang ada di dunia novel harusnya, tidak separah ini ibunya membenci dirinya karena ayahnya dulu juga tidak pernah memojokkannya seperti ini.
"Jangan berkata seperti itu, Ma. Kita harus mendukung putri kita, mungkin Dinda sudah semakin dewasa jadi dia bisa mengerti mana yang prioritas utama dalam hidupnya. Lihatlah dia bisa mengembangkan sayapnya. Papa yakin kamu akan menjadi dokter hebat suatu hari nanti," puji Heru dan lagi-lagi membuat Dinda meradang karenanya.
Tidak sekalipun ayahnya memuji dirinya, selalu Senja yang dia puji tapi Dinda tidak perduli selama ibunya berada dalam kuasanya, maka itu sudah cukup. Toh di rumah itu yang memegang kuasa tertinggi adalah ibunya.
Dinda tidak menyesal telah melakukan perbuatan keji itu yang membuat dia berhasil mendapatkan perhatian ibunya sekaligus membuat wanita paruh baya itu membenci saudaranya. Kala itu Dinda mengatakan kepada ibunya, mendapati Senja mabuk dan memasukkan pria ke dalam kamarnya saat kedua orang tuanya itu pergi ke luar negeri satu tahun yang lalu.
Dinda juga mengatakan bahwa dia mendengar Senja mempengaruhi ayahnya untuk melawan ibunya saat wanita itu memberi perintah di rumah itu. Sejak saat itu, kebencian ibunya pada Senja semakin mendalam, menganggap gadis itu sebagai anak durhaka.
Tapi sebenarnya, hal yang paling utama, yang menjadi alasan Mama Rima juga membenci Senja, karena demi melahirkannya, dia harus menerima kenyataan rahimnya diikat karena pasca melahirkan Senja, Mama Rima mengalami pendarahan yang begitu hebat, hingga nyawanya hampir melayang. Padahal dia masih ingin memiliki seorang anak lagi, dan berharap anak ketiganya adalah laki-laki.
Malam itu senja harus tidur di rumah karena begitu ngobrol sampai larut dengan ayahnya.
Keesokan paginya, ayahnya dengan penuh semangat mengantarnya kembali ke rumah sakit dia bisa merasakan perasaan pria itu begitu gembira dan begitu bangga kepada dirinya.
Senja tersentuh dan dia tidak ingin mengecewakan ayahnya. Dia akan membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa membanggakan keluarga.
Sebelum memulai operasi yang dijadwalkan pukul 10.00 pagi semua tim medis mengikuti briefing dan arahan dari dokter yang menjadi pemimpin operasi itu. Senja ada di situ, dia duduk di pojok ruangan mendengarkan saran dan juga arahan para dokter.
"Din kamu semangat, ya. Jangan gugup. Kami bangga banget sama kamu bisa melakukan operasi beneran bersama dokter- dokter hebat, " ucap Tina yang diikuti teman-temannya yang lain
Operasi ketiga dimulai, tampak dokter yang mengerjakan operasi itu begitu tegang. Senja dalam diamnya mengamati gerak-gerik pada dokter.
"Heran, padahal lukanya tampak tidak parah dan terlalu banyak pendarahan, lantas mengapa beliau tidak juga sadarkan diri?" tanya dokter Martin menggelengkan kepala tidak paham.
Tidak ada yang berani menjawab dokter berusia lanjut itu, yang seharusnya sudah pensiun karena usianya yang tidak lagi muda.
Senja yang tidak tahan, melihat lelucon tingkah mereka di ruang operasi itu, segera maju, berdiri di dekat dokter Husna yang ikut dalam tim.
Senja melihat keadaan pasien, lalu tersenyum mengejek. Tidak mungkin sekelas mereka tidak bisa menangani kasus ini.
Operasi bedah adalah metode pengobatan yang paling sering dilakukan untuk mengobati suatu kondisi medis atau penyakit.
Pada saat Tuan Stanfield dibawa ke rumah sakit, dokter sudah melakukan CT scan untuk memastikan kondisi kepala setelah mengalami benturan, terlebih pasien juga mengalami pendarahan, malam itu operasi segera dilaksanakan setelah mendapat tanda tangan Susan sebagai persetujuan.
Namun, karena tuan Stanfield tidak juga siuman, yang artinya perlu melakukan rentetan operasi lainnya yang diperlukan. Kenyataan yang didapatkan adalah, pria itu mengamati koma.
"Seharusnya, Anda sudah tahu dokter, saat mengalami kecelakaan lalu lintas maupun terjatuh, jangan hanya memperhatikan luka yang tampak dari luar. Luka bagian dalam yang tidak terlihat justru sangat penting karena berkaitan dengan sistem organ tubuh!"