NovelToon NovelToon
Bos Marco

Bos Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:210.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Belinda Marchely

Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.

Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.

Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.

Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Kedua

Anetta's POV

Aku sedang berada di kamar dan sedang sibuk membongkar isi lemariku. Entah pakaian seperti apa yang harus kukenakan untuk acara makan malam nanti.

Aku pernah menghadiri undangan makan malam sewaktu mendapat undangan dari atasan Papa dulu, tapi itu sudah lama sekali, hampir tiga tahun yang lalu ketika aku masih kuliah.

Tetapi ini, undangan makan malam yang diadakan di kediaman seorang konglomerat seperti Tuan Danias, pastilah merupakan acara mewah yang penuh dengan konglomerat dan pebisnis kalangan menengah ke atas juga.

Aku jadi minder sendiri membayangkan apakah aku bisa berpenampilan yang pantas untuk berada di tengah-tengah acara itu.

Kulirik sekali lagi gaun-gaun formal yang aku punya, satu per satu. Aha! Aku melihat sebuah gaun yang sejak tadi tertutupi tas di ujung kasur.

Kuambil gaun tersebut dan memandang senang karena akan sangat cocok dipakai nanti malam.

Gaun berwarna biru zamrud itu terakhir kugunakan pada saat pesta kelulusan dengan sesama rekan jurusan sebelum wisuda resmi dari kampus dilaksanakan.

Baru hampir setengah tahun yang lalu dan masih sangat muat di tubuhku. Untung saja selama bekerja di Mills berat badanku tidak bertambah pesat, mengingat Lana dan Frans selalu mentraktir camilan-camilan sore.

Kulirik jam dinding di atas pintu kamarku, sudah jam empat sore. Bos Marco bilang akan menjemputku jam enam. Aku masih punya waktu dua jam sebelum dia datang. Tidak mungkin, kan, aku membuat bosku menunggu.

Aku meraih handuk dan pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, kupersiapkan alat perangku. Hihi, maksudku, perlengkapan kecantikan yang aku punya.

Sebelum aku berdandan, terlebih dahulu aku mengerjakan rambut. Aku berpikir sebentar, akan kuapakan rambut lurus dengan panjang melewati bahu milikku ini? Ah, ya, aku mengambil setengah bagian atas rambutku, lalu bagian itu kugulung dan kuberi hiasan rambut yang berkilau. Sederhana saja, karena aku takut akan jadi terlihat tua jika terlalu dimacam-macami.

Setelah selesai dengan rambut, aku mulai merias wajahku. Untuk wajah, aku pun hanya memilih tampilan sederhana saja, tapi cocok untuk acara di malam hari.

Aku memeriksa penampilanku sekali lagi di cermin. Perfect! Tukasku dalam hati.

Saat menuruni tangga, kudengar suara bel pintu. Pasti Bos Marco. Dengan segera aku berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Benar saja, ketika pintu kubuka, Bos Marco sudah berdiri dengan setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu yang semakin membuatnya terlihat tampan. Aku hampir lupa menyapanya karena terlalu asik memandangi ketampanannya.

"Ehm!" Hingga dia berdeham dan mengembalikan kesadaranku.

"Eh, maaf, Pak."

Aku mencoba bersikap netral, tapi dia tidak menjawab dan malah terus menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Apakah ada yang salah dengan penampilanku?

***

Marco's POV

Georgeus! Kata itulah yang pertama kali terlintas di otakku ketika aku melihat Anetta malam ini.

Dia sangat cantik dengan gaun birunya, dan penampilannya yang tidak seperti ketika bekerja sehari-hari. Maksudku, Anetta memang sehari-harinya cantik, penampilannya juga selalu rapi, tapi malam ini dia sangat berbeda.

Aku tidak bisa melepas pandanganku darinya, tapi aku tidak mungkin lebih lama lagi memperlihatkan tampang bodohku yang memandanginya seperti serigala ingin menerkam mangsanya, kan?

Aku berdeham, berusaha meraih kembali kesadaranku.

Sementara itu, Anetta tampak sedikit tersentak mendengar suaraku. Apakah dia juga secara tidak sadar sedang memandangiku? Ah, GR sekali kamu, Marco.

"Kamu sudah siap? Bisa kita jalan sekarang?" tanyaku akhirnya, setelah pikiranku kembali normal.

"Saya sudah siap, Pak. Mari," jawabnya.

Aku lalu membiarkan Anetta untuk jalan duluan. Kubukakan pintu mobil untuknya dan mempersilahkannya masuk. Ketika dia melintas dari arahku, aroma tubuhnya begitu menggoda indera penciumanku.

Aku menyusulnya masuk ke dalam mobil. Kulajukan mobil menuju kediaman Tuan Danias Tjiptaditama.

Saat kami tiba di kediaman konglomerat properti itu, tamu sudah berdatangan. Walaupun kami belum terlambat, tapi suasana sudah ramai dan para tamu yang hadir saling bercakap-cakap dengan kenalan masing-masing.

Aku dan Anetta menghambur dengan para kolega dan rekan bisnis dari Mills yang kami temui.

Waktu makan malam tiba dan berlangsung sangat elegan karena banyaknya tamu kelas atas yang hadir di sana. Lagi-lagi, aku merasa ini bukan style-ku. Walaupun aku sudah dan harus lebih membiasakan diri dengan suasana seperti ini mengingat aku merupakan salah seorang pebisnis yang pastinya tidak akan jauh-jauh dari acara semacam ini.

Setelah makan malam usai, Tuan Danias ternyata sudah menyiapkan acara dansa. Lagu miliknya Engelbert Humperdinck berjudul Quando, Quando, Quando yang dibawakan ulang oleh Michael Buble menggema di seluruh penjuru ballroom.

Beberapa tamu yang hadir berpasangan sudah turun ke lantai dansa. Aku semakin tercenung saja melihat keadaan ini. Satu hal lagi yang perlu diketahui dari diriku, aku paling benci harus berdansa, walaupun aku bisa berdansa. Karena dulu Papa dan Mama sering sekali berdansa di malam Natal dan Papa selalu mengajarkan aku berdansa.

Aku melirik Anetta yang sedang duduk sambil memandangi suasana dansa.

"Anetta, maukah kamu berdansa?" Aku mencoba mengajak Anetta untuk turun ke lantai dansa. Tidak tega juga melihat dia hanya bengong memandang-mandang, sedang tamu yang lainnya sudah menyusul untuk berdansa.

Anetta mengangguk sungkan. Kuulurkan tanganku, lalu dia meletakkan tangan kanannya di atas telapak tanganku. Kusambut tangannya, lalu kuiring dia menuju lantai dansa.

Aku meraih tangan kanan Anetta sehingga tangan kiriku saling bertautan dengannya. Kemudian dia meletakkan tangan kirinya di leherku dan kulingkarkan tangan kananku di pinggangnya. Aku merasakan darahku berdesir. Posisi ini sangatlah ... intim. Tapi bukankah memang begini posisi dansa yang benar?

Anetta terlihat canggung. Mungkin dia sungkan denganku, sesugguhnya aku pun begitu, tapi akan lebih memalukan lagi bagiku kalau membiarkan gadis cantik yang kubawa denganku hanya duduk diam di mejanya.

Lama kami terlarut dalam kediaman masing-masing. Lama-kelamaan aku menikmati suasana romantis ini. Sampai kemudian ....

"Excuse me, Mr. Marco, may I have a dance with Ms. Anetta?" (1)

Tiba-tiba saja, Ferdy sudah berdiri di dekatku dan Anetta dan meminta kesempatan berdansa dengan gadisku ini.

"Ms. Anetta, may I?" (2) Dia menunggu dengan memasang senyuman maut yang aku tahu pasti menyimpan sebuah rahasia.

Anetta melirikku, aku bisa bilang apa? Aku hanya mengedikkan bahu dan memberi isyarat untuknya berpindah pada Ferdy.

Aku memandangi mereka berdua yang saat ini sedang dalam posisi dansa yang menurutku romantis itu dan entah kenapa, aku bisa merasakan ada rasa ketidaksukaan yang sangat besar merasuki hatiku.

Cukup lama kupandangi mereka dari tempatku berdiri. Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi untuk lebih lama membiarkan Anetta berada dalam pelukan Ferdy.

Aku menghampiri mereka, lalu meminta Anetta kembali.

"Excuse me, it's time for my girl to return," (3) kataku sambil mengulurkan tanganku untuk menerima tangan Anetta.

Ferdy hanya tersenyum sambil melepaskan tautan tangannya pada Anetta, lalu menyerahkan tangan gadis itu padaku.

Begitu Anetta kembali padaku, aku merapatkan genggaman tanganku pada pinggangnya. Kutatap dia dalam-dalam, tepat ke manik matanya. Dia balas menatapku. Lama kami berpandangan dalam diam, sampai aku ... memberanikan diri untuk mengecup pipinya.

Anetta terperangah menerima kecupan dariku. Dia tersipu, tampak jelas semburat merah di pipinya. Selanjutnya dia hanya tertunduk.

Aku mengarahkan tangan kanan Anetta ke bahu kiriku, lalu kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Dengan posisi seperti ini, aku bisa merasakan desah napasnya yang berkejaran.

Sekali lagi, entah kenapa, aku merasakan aliran darahku semakin deras mengaliri sekujur tubuhku. Namun, di sisi lain, aku merasa nyaman sekali dengan Anetta di pelukanku.

~

Aku mengantarkan Anetta sampai ke teras rumahnya. Dengan suasana canggung, aku bingung sendiri akan berbuat atau mengatakan apa, padahal seharusnya aku hanya perlu pamit pulang.

"Anetta ..." Aku membuka bicara.

"Ya, Pak."

"Terima kasih sudah menemani saya malam ini," ucapku sambil terus memandanginya.

"Saya yang berterima kasih karena Bapak sudah mengajak saya. Mudah-mudahan saja saya tidak membuat Bapak malu tadi, ya ..." katanya sambil tersenyum, manis sekali.

"Tidak, kamu tidak membuat saya malu. Malah, saya sangat bangga menggandeng kamu pada acara tadi," jelasku sambil tersenyum penuh arti. "Kamu ... cantik sekali malam ini."

"Terima kasih, Pak Marco ..." Dia tersipu lagi.

"Marco," tukasku cepat. "Panggil Marco saja. Kita, kan, tidak sedang di kantor," pintaku.

"Tapi, saya tidak enak, Pak."

"Aku ingin kita berhubungan baik, tapi bukan hanya sebagai atasan dan bawahan." Aku menatapnya, menunggu jawaban. "Mungkin kita bisa mulai berteman baik?" sambungku lagi, sambil terus menatapnya.

Dia balas menatapku. "Teman baik ..." katanya seperti menimbang-nimbang, lalu tersenyum.

"Anetta ...."

"Netta," koreksinya. "Kamu bisa panggil aku Netta. Jangan terlalu kaku berteman dengan anak umur 21 tahun," katanya lagi sambil mencibirku.

"Oke, oke." Aku benar-benar tersindir. "Netta, sekali lagi terima kasih untuk waktunya."

"My pleasure." (4)

Lalu setelah berpamitan, aku kembali mengendarai mobil menuju apartemen. Kali ini aku bisa tersenyum lega karena hubungan baikku dengan Anetta baru saja dimulai.

••••••••••

(1) Permisi, Tuan Marco. Bolehkah saya berdansa dengan Nona Anetta?

(2) Nona Anetta, bolehkah?

(3) Permisi, sudah waktunya gadisku kembali.

(4) Dengan senang hati.

1
ein
lanjut thorrrr
ein
ahh akhirnyaaa
ein
bolehlah mereka.. hrhe
ein
asikk juga bisa temenan sama mantan hehehhhhe
ein
ngak ada percikan lagi yaa
ein
frans kamu gimana..
ein
kebetulan bangett yaa..
ein
kenapa aku ikut deg degan saat aneta pilih pilih jas yg berwarna ya 😁😁😁
ein
wahhh.. akhirnya dapat yg cocok
ein
ahh
ein
mau thorrr.

love u
ein
terima kasih author sayang

selalu ku tunggu ceritamu
ein
ahhh so sweett...
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
ein
wow kerennn thor...
ein
melelehhhhh.. terharuuu akuu
ein
suka karyamu author sayang
selalu semangat yaa
ein
halo sayang.. terharu akuu
ein
duhh penasaran saat duet nnt gimana
ein
wowww kerenn saxophone...
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍
ein
frans pilih mana.. hsyoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!