NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 14

 ​Dunia di depan mata Rina perlahan-lahan meredup menuju kegelapan.

​Bisikan parau perempuan itu masih bergaung amat dekat di sekeliling telinganya, dingin membekukan.

​"...ja...ngan... am...bil... gaun...ku..."

​Aroma melati yang amat pekat dan busuk seakan memenuhi seluruh udara di dalam dadanya, membuatnya sesak tak terkira. Kedua kaki Rina yang gemetar tak lagi sanggup menopang bobot tubuhnya sendiri.

​Pandangannya makin guram dan kabur. Manekin kayu di depannya seolah-olah tampak bergoyang meliuk lambat. Ruangan yang mulanya terang benderang perlahan gelap.

​Rina berupaya menyeret kakinya mundur. Namun, keseimbangan tubuhnya telah hilang sepenuhnya.

​BRUKK...!

​Tubuhnya ambruk menghantam lantai, kepalanya terbentur karpet tipis yang menghampar di area ruang koleksi. Ponsel dari genggamannya terlepas dan terlempar beberapa senti.

​Kesadaran Rina hilang seketika.

​Ruang koleksi kembali tenggelam dalam keheningan yang amat hening. Tak ada lagi langkah ketakutan. Tak ada lagi helaan napas panik dari Rina.

​Yang tersisa di dalam sanggar hanyalah aroma melati pekat yang menggantung kental di udara.

​Dan manekin dengan gaun pengantin putih gading itu tetap berdiri kokoh di tempatnya. Diam. Anggun. Seolah tak pernah terjadi peristiwa mengerikan apa pun di sekitarnya.

​Entah berapa lama waktu telah berlalu.

​Di lantai dua sanggar, Anindiya baru saja selesai mengeringkan rambut usai mandi pagi. Ia memang bangun lebih awal, namun memutuskan untuk menyelonjorkan badan sejenak di kamar karena semalaman sulit memejamkan mata akibat dipikirkan musibah kemarin.

​Ia mengira Rina sudah sibuk merapikan area ruang bawah seperti biasanya.

​Setelah berganti pakaian kerja yang rapi, Anindiya melangkah turun menuruni anak tangga seraya menggenggam ponselnya. Ia memeriksa beberapa pesan dari klien yang harus segera ia respons.

​"Rin... Rina?" panggilnya santai.

​Tidak ada sahutan.

​Anindiya terus mengayunkan langkah ke lantai dasar. Biasanya di jam seperti ini, deru sapu atau suara denting cangkir kopi Rina sudah memecah hening pagi. Namun pagi ini, interior sanggar justru serasa tak berpenghuni.

​"Rin?" panggilnya sekali lagi.

​Masih nihil.

​Anindiya mulai merasa janggal. Langkahnya membawa tubuhnya menuju ruang depan. Begitu melewati lorong kecil, matanya mendadak menangkap ceceran pecahan vas bunga porselen yang hancur di atas lantai. Airnya tumpah membasahi ubin keramik.

​"Lho... vas bunga kok pecah begini?" gumamnya heran.

​Perasaan ganjil menuntunnya mempercepat langkah menuju ruang koleksi gaun. Dan begitu matanya menembus ambang pintu... tubuh Anindiya seketika membeku total.

​"Ya Allah...! Rina!"

​Rina tergeletak tak berdaya di atas karpet. Wajahnya pucat pasi seputih kertas, matanya terpejam rapat. Ponselnya tergeletak tak jauh dari jemarinya yang terkulai.

​Anindiya menjatuhkan ponselnya sendiri dan langsung berhamburan lari mendekat. Ia berlutut di samping tubuh asistennya dengan napas berburu.

​"Rina! Rina, bangun, Rin!"

​Tak ada gerakan.

​Kepanikan hebat melilit Anindiya. Tangannya yang bergetar menepuk-nepuk pelan pipi Rina yang terasa amat dingin. "Rin! Dengar Mbak, Rin!"

​Rina masih tak sadarkan diri. Dengan cekatan, Anindiya meraih botol air mineral dari atas meja rias terdekat, lalu memercikkan beberapa tetes air ke paras pucat Rina.

​"Rin... ayo bangun, ini Mbak..."

​Beberapa detik terasa seperti keabadian. Kelopak mata Rina akhirnya bergerak pelan. Napasnya terengah-engah berat dari tenggorokan.

​Perlahan-lahan, Rina membuka matanya. Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokuskan wajah Anindiya yang diliputi cemas luar biasa.

​"Rin... Alhamdulillah..." Anindiya membuang napas lega yang tertahan. "Kamu kenapa? Bikin Mbak jantungan aja!"

​Rina mencoba memosisikan duduk, namun kepalanya mendadak berputar hebat disertai rasa pusing yang menyengat. Anindiya dengan sigap menopang punggungnya.

​"Pelan-pelan, Rin, jangan dipaksa."

​Rina memegangi pelipisnya. "Aku... kenapa..."

​Kalimat Rina terputus di udara.

​Seketika itu juga, kilatan memori mengerikan kembali menghantam benaknya: sosok perempuan bergaun kusam di dekat manekin, leher yang berputar kaku, paras pucat yang mengintip dari cermin, dan bisikan dingin yang berhembus tepat di telinganya.

​Tubuh Rina mendadak gemetar hebat luar biasa. Matanya membelalak lebar disergap horor. Tanpa peringatan, ia langsung menghambur memeluk Anindiya dengan eratan yang sangat kencang.

​"M-Mbak Anin...!"

​Tangis histeris Rina meledak saat itu juga.

​Anindiya tersentak kaget. "Eh... Rin, kenapa? Ada apa?!"

​Rina justru makin tergugu hebat, terisak-isak sampai kesulitan mengatur jalan napasnya. Anindiya mengusap-usap punggung asistennya seraya menenangkan.

​"Sudah... tenang dulu. Nggak apa-apa, Mbak ada di sini. Tarik napas pelan-pelan, Rin..."

​Butuh waktu beberapa menit sampai raungan tangis Rina perlahan mereda menjadi isakan kecil, walau sekujur tubuhnya masih menggigil hebat bagai dihantam cengkeraman dingin. Anindiya mengambilkan segelas air putih hangat dan menyodorkannya.

​"Minum dulu, tenggorokanmu pasti sakit."

​Dengan jemari yang masih gemetaran parah, Rina meneguk air itu berturut-turut. Wajahnya masih belum mengembalikan rona alaminya.

​Setelah napas Rina mulai stabil, Anindiya duduk tegak di sampingnya, menatapnya lurus. "Sebenarnya tadi ada apa, Rin? Kenapa kamu sampai pingsan dan vas bunga itu pecah?"

​Rina membisu. Matanya perlahan melirik ke sudut ruangan—ke arah manekin yang memajang gaun pengantin putih gading di dekat jendela. Sekadar memandang kain itu saja sudah membuat jantung Rina kembali berdegup kencang bagai mau melompat keluar.

​Anindiya menyadari arah tatapan itu. "Ini... ada hubungannya sama gaun itu?"

​Rina menelan ludah yang terasa menyiksa. Air matanya kembali menetes di pipi. "Aku... aku lihat seseorang, Mbak."

​Anindiya mengernyitkan alis. "Seseorang? Maksudmu ada orang luar yang masuk?"

​Rina menggelengkan kepalanya keras-keras. "Nggak mungkin, Mbak! Pintu depan masih terkunci rapat pas aku sampai. Aku sendiri yang putar kuncinya!"

​Anindiya mengamati wajah Rina cermat. Rina bukanlah tipe gadis yang suka merancang drama atau mengarang cerita tak masuk akal. Selama dua tahun bekerja padanya, Rina dikenal sangat rasional, pemberani, dan selalu jadi orang pertama yang datang ke sanggar.

​"Lalu... kamu lihat apa?" tanya Anindiya lirih.

​Rina menstabilkan napasnya yang patah-patah. "Awalnya aku kira itu Mbak Anin... karena dia berdiri membelakangi aku di samping manekin gaun itu. Tapi pas aku panggil berulang kali, dia diam aja."

​Suara Rina kembali gemetar dipenuhi ketakutan murni. "Terus... dia mulai menoleh. Kepalanya putar kaku banget, Mbak... Dan wajahnya... pucat banget kayak mayat. Pas lampu mati dan nyala lagi, dia sempat hilang. Tapi pas aku lihat cermin besar..."

​Rina memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri sampai memutih. "Dia berdiri tepat di belakangku lewat cermin, Mbak... Dia tersenyum..."

​Anindiya merasakan bulu kuduknya berdiri mendadak, namun logikanya masih berusaha menolak horor tersebut. "Rin... kamu mungkin cuma kecapekan atau stres karena mikirin tragedi Siska kemarin. Otak kita bisa bikin ilusi kalau kita lagi syok berat—"

​"Bukan ilusi, Mbak!" potong Rina cepat dengan tatapan memohon agar dipercaya. "Dia... dia ngomong sama aku!"

​Anindiya tertegun. "Ngomong apa?"

​Rina menatap Anindiya dalam-dalam, pancaran matanya memperlihatkan ketakutan teramat sangat.

​"Dia bisik di telingaku... Dia bilang: 'Jangan ambil gaunku...'."

​Kata-kata itu terlempar ke udara dan seketika membekukan suasana ruang koleksi.

​Anindiya secara refleks memutar kepalanya, menatap manekin di dekat jendela. Gaun pengantin putih gading itu berdiri diam, anggun, tanpa cela. Tak bergerak sedikit pun.

​Namun entah mengapa... untuk pertama kalinya sejak ia memboyong gaun mahal itu dari butik tua di kota lama...

​Sebuah firasat kelam dan dingin merayap perlahan menyusup ke dalam dada Anindiya. Bukan rasa takut biasa, melainkan benih kegelisahan misterius yang amat mengganggu pikiran sehatnya.

​Meski begitu, Anindiya tetap berusaha bersikap sebagai sosok pelindung. Ia meremas lembut jemari Rina yang dingin, mencoba menenangkan. "Sudah ya... Mending hari ini kamu istirahat dulu di kamar atas. Mungkin pikiranmu memang lagi rapuh banget setelah kemarin."

​Rina tak lagi membantah. Ia membiarkan Anindiya membantunya berdiri.

​Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Rina meyakini satu hal pasti.

​Apa yang terjadi tadi pagi bukanlah mimpi, bukan bayangan, dan bukan akibat keletihan fisik.

​Sesosok jiwa kelam memang nyata-nyata bersemayam di sekitar gaun itu—sedang mengawasi, menunggu momentum, dan menegaskan bahwa gaun pengantin putih itu adalah miliknya... yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!