NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH

​Langkah kaki Alena terasa begitu terburu-buru saat menelusuri koridor berbatu Paviliun Barat. Udara pagi yang biasanya menyegarkan kini terasa seperti menekan dadanya. Di belakangnya, suara langkah sepatu boot berkulit tebal bergema ritmis di atas ubin marmer, melintasi pilar-pilar batu yang dinaungi tanaman merambat.

​Alena tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang sedang mengikutinya. Aroma kayu cendana yang khas, dipadukan dengan aura kepemimpinan yang mengintimidasi, sudah cukup menjadi penanda bahwa Pangeran Adrian Valerian sedang menyusuri jejaknya.

​"Alena, berhenti," panggil Adrian. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki perintah tersirat yang membuat dua prajurit pengawal di ujung lorong menundukkan kepala dalam-dalam.

​Alena pura-pura tidak mendengar. Ia mempercepat langkahnya, jemarinya meremas erat kain gaun hijau zaitunnya. Namun, jarak di antara mereka terlalu mudah dipangkas oleh langkah lebar sang Putra Mahkota.

​Saat Alena hendak memutar gagang pintu kayu menuju ruang tengah paviliunnya, sebuah tangan berurat tegas mendahuluinya, menahan daun pintu itu hingga tertutup rapat kembali. Alena terlonjak pelan, punggungnya menegang kaku.

​"Kau tidak bisa terus melarikan diri dariku setiap kali kita berada di tempat yang sama," bisik Adrian. Pria itu berdiri amat dekat di belakangnya, hingga hembusan napas hangat sang pangeran menyapu helai rambut halus di tengkuk Alena.

​Alena memutar tubuhnya perlahan. Ia menyandarkan punggung pada daun pintu tebal, mencoba menciptakan jarak bertahap di antara mereka. Tatapan mata hijau hazel milik Alena bertabrakan dengan mata abu-abu pekat Adrian yang tampak menuntut jawaban mutlak.

​"Saya tidak melarikan diri, Yang Mulia," sahut Alena, suaranya kaku dan formal, perisai diri yang selalu digunakannya sejak kembali ke istana ini. "Saya hanya harus kembali ke kamar saya. Elian baru saja bangun dan saya harus memastikan dia—"

​"Elian aman bersama sahabatmu di dalam," sela Adrian cepat. Matanya menyipit, membaca raut wajah Alena yang tampak pucat di bawah pantulan cahaya pagi dari jendela koridor. "Aku ingin berbicara padamu. Tentang percakapanku dengannya di taman beberapa saat lalu."

​Jantung Alena berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Ketakutan yang sejak kemarin berusaha ditekan kini kembali membakar seluruh sarafnya.

​"Tidak ada yang perlu dibicarakan mengenai putra saya, Pangeran Adrian," jawab Alena, berusaha sekuat tenaga agar bibirnya tidak gemetar. "Dia hanya anak kecil yang kebetulan lewat. Dia tidak memahami tata krama istana dan saya meminta maaf jika ketidaksopanannya mengganggu Anda."

​"Dia tidak menggangguku, Alena. Sama sekali tidak," ujar Adrian. Suaranya melunak, sebuah kontras yang tajam dibanding nada dingin yang biasa dipakainya di hadapan para menteri dewan. Adrian maju setengah langkah, menunduk sedikit agar pandangan mereka berada di tingkat yang sejajar. "Sebaliknya... anak itu membuatku berpikir."

​"Memikirkan apa?" bisik Alena pelan, matanya mulai berkaca-kaca akibat kecemasan yang berlebihan.

​"Memikirkan bagaimana cara dia memiringkan kepalanya saat berpikir," Adrian memulai, suaranya pelan dan teratur, seolah sedang menyusun bukti di hadapan seorang terdakwa. "Memikirkan bagaimana cara dia mengernyitkan bagian atas hidungnya saat merasa bingung. Cara dia berdiri. Cara dia menatapku tanpa rasa takut. Dan yang paling penting... warna matanya."

​Alena merasa seolah-olah seluruh oksigen di koridor itu mendadak lenyap. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di belakang tubuhnya, kuku-kukunya menekan telapak tangannya hingga perih.

​"Anak itu..." Adrian menggantungkan kalimatnya, matanya terkunci rapat pada pupil mata Alena yang melebar. "Elian memiliki kemiripan yang sangat mengganggu denganku, Alena. Bahkan untuk seorang anak yang diklaim lahir dari seorang pedagang tanpa nama di desa terpencil."

​Dunia di sekitar Alena serasa berputar. Namun, naluri keibuannya yang terlatih selama tujuh tahun untuk bertahan hidup segera mengambil alih. Ia tidak boleh goyah. Begitu ia memperlihatkan sedikit saja keraguan, kebenaran itu akan membakar seluruh kehidupan yang telah ia bangun untuk melindungi Elian.

​Alena menarik napas panjang, memaksa dadanya yang sesak untuk kembali tenang. Ia mengadahkan wajahnya, menatap langsung ke dalam iris abu-abu milik Adrian dengan ekspresi yang sangat terkontrol—sebuah topeng ketenangan yang mempesona sekaligus menyakitkan.

​"Banyak anak di dunia ini yang memiliki kemiripan dengan orang lain, Yang Mulia," sahut Alena dengan nada bicara yang teramat datar. "Warna mata abu-abu bukan hanya milik keluarga Valerian. Kebiasaan kecil seorang anak adalah hal yang umum. Anda melihat kemiripan itu hanya karena Anda menginginkannya, atau mungkin... karena Anda merasa bersalah atas masa lalu."

​Adrian membeku seketika. Kalimat Alena menghantamnya bagai sentilan fisik. Pria itu menatap Alena dengan ketidakpercayaan yang mendalam.

​"Merasa bersalah?" ulang Adrian, suaranya merendah menjadi geraman halus. "Kau pikir aku sedang berimajinasi? Alena, anak itu berusia tepat tujuh tahun! hitungan waktunya pas dengan malam terakhir saat kau memegang liontin itu di Taman Mawar!"

​"Dunia tidak berputar di sekitarmu, Adrian!" teriak Alena pelan, lupa akan sebutan formalnya dalam kepanikan yang memuncak. "Apakah kau pikir setiap kejadian di hidupku setelah aku pergi selalu berhubungan denganmu? Aku memiliki kehidupan sendiri setelah meninggalkan Aveloria! Aku bertemu dengan pria lain, aku mencintainya, dan Elian adalah bukti dari kehidupan yang kubangun tanpa dirimu!"

​Kebohongan itu meluncur dari bibir Alena begitu lancar, namun di dalam dadanya, hatinya seperti diiris-iris oleh sembilu. Menyebut Adrian sebagai orang luar dalam kehidupan Elian adalah siksaan terberat yang harus ditanggungnya.

​Adrian menatap Alena dalam diam yang panjang dan mencekam. Namun, bukannya emosi kemarahan yang muncul di wajah sang pangeran, Adrian justru menangkap sesuatu yang lain.

​Ia melihat sudut bibir Alena yang bergetar tipis. Ia melihat ketakutan yang teramat sangat melintas di balik mata hijau hazel itu—bukan ketakutan seorang wanita yang tertangkap basah berbohong karena benci, melainkan ketakutan luar biasa dari seorang ibu yang sedang mencoba melindungi harta terindahnya dari bahaya yang mematikan.

​Ketakutan itu begitu nyata, begitu pekat, hingga terasa menular.

​Dan justru ketakutan di mata Alena itulah yang membuat seluruh keraguan di kepala Adrian mendadak sirna, menggantikannya dengan kecurigaan mutlak yang tak tergoyahkan.

​Jika Elian benar-benar anak dari pria biasa di desa... mengapa Alena harus se-takut ini saat Adrian mendekati anak itu? Mengapa Alena harus membangun benteng pertahanan yang begitu histeris jika tidak ada rahasia besar yang sedang dipertaruhkannya?

​"Kau takut," bisik Adrian perlahan. Matanya yang tajam menembus seluruh topeng ketenangan Alena. "Kau sangat ketakutan, Alena."

​"Aku tidak takut padamu," bantah Alena cepat, suaranya sedikit terlalu tinggi untuk meyakinkan.

​"Kau tidak takut padaku," aku Adrian pelan, selangkah mundur memberi ruang, namun tatapannya justru makin mengunci Alena. "Tapi kau takut pada apa yang akan terjadi jika kebenaran tentang Elian terungkap di istana ini."

​Alena mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia sadar telah melakukan kesalahan. Reaksinya yang terlalu defensif justru menjadi petunjuk terbesar bagi pria sejelas Adrian.

​"Tinggalkan kami, Pangeran Adrian," kata Alena, suaranya kembali memelan, memohon dalam keputusasaan yang tersembunyi. "Jangan hancurkan kedamaian yang tersisa untuk anak saya."

​Adrian menatap wanita di hadapannya cukup lama. Ada gelombang emosi yang bertabrakan di dalam dadanya—rasa sakit atas kebohongan tujuh tahun ini, kemarahan pada takdir yang memisahkan mereka, dan kerinduan mendalam yang perlahan merayap naik kembali.

​"Aku tidak akan menghancurkan anak itu, Alena," kata Adrian tegas, suaranya terdengar bagai ikrar yang tak terbatalkan. "Tapi jangan pernah berpikir kau bisa terus membodohiku dengan cerita pedagang anonim itu. Aku akan mencari tahu sendiri siapa ayah Elian sebenarnya."

​Pria itu berbalik, jubah hitamnya melambai anggun saat ia melangkah pergi menyusuri koridor, meninggalkan Alena yang berdiri lemas menyandarkan tubuhnya pada daun pintu kayu.

​Alena memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata hangat meluncur melintasi pipinya. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu kini telah berubah menjadi ancaman nyata. Adrian tidak lagi sekadar curiga; pria itu sedang berjalan menuju kebenaran, dan Alena tidak tahu berapa lama lagi ia sanggup menahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!