Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uluran Tangan
Kantin SMAN Cahaya.
"Feb! Ayo turun ih! Geregetan banget nonton dari jauh gini!"
Ani mengguncang-guncang lengan Febby dengan gemas. Wajahnya cemberut sejak tadi, dan matanya, menatap nanar ke arah lapangan basket di bawah sana yang terlihat seperti lautan manusia.
"Nggak mau, An," tolak Febby sambil menyeruput es jeruknya. "Di bawah panas, desak-desakan, bau keringat. Di sini ada AC, sepi, pemandangannya juga lebih jelas."
Mereka kini duduk di meja panjang yang menempel pada jendela kaca besar di kantin lantai dua. Kantin ini biasanya menjadi wilayah kekuasaan kakak kelas mereka, tapi hari ini sunyi senyap bak kuburan. Hampir seluruh penghuni sekolah, mulai dari adik kelas sampai preman sekolah, tumpah ruah ke lapangan basket di lantai dasar demi menonton pertandingan itu.
"Tapi kan vibe-nya beda, Feb!" rengek Ani lagi. "Kalau di bawah kita bisa teriak-teriak bareng Fitri. Di sini berasa nonton TV."
"Justru itu poinnya, An. Aku nggak mau denger teriakan Fitri. Kupingku masih sayang sama gendangnya."
Febby menatap ke bawah lewat kaca jendela. Dari ketinggian ini, dia bisa melihat dengan jelas duel satu lawan satu itu. Dia melihat Satria yang mainnya ngoyo dan penuh emosi, serta Annas yang bergerak dengan tenang.
"Liat tuh," tunjuk Febby dengan dagunya. "Annas udah mau shoot."
Ani langsung menempelkan wajahnya ke kaca.
"Satu poin lagi," ucap Annas dingin. "Satu poin lagi, kita selesai."
Permainan dimulai kembali. Kali ini Annas yang menyerang. Dia tidak melakukan trik pamer seperti Satria. Dia hanya mendribble santai, memunggungi Satria, lalu tiba-tiba berputar cepat.
Satria terkecoh. Kakinya terserimpet sendiri saat mencoba mengejar karena terlalu bernafsu ingin merebut bola.
Annas melompat dengan tenang, melepaskan tembakan melengkung yang indah.
Semua mata mengikuti pergerakan bola itu di udara. Hening sedetik...
WUSH.
Bola masuk mulus ke dalam jaring tanpa menyentuh besi ring.
"DAN PEMENANGNYA ADALAAAH... KAKAK GUE SENDIRI, ANNAS KAFRIEL TARAVINDRA!" teriak Fadhil heboh, disambut gemuruh tepuk tangan satu sekolah.
Di tengah lapangan, Satria bertumpu pada lututnya karena kehabisan napas.
Annas berjalan mendekatinya. Dia tidak merayakan kemenangan, tidak melambaikan tangan ke fansnya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.
Lalu..
Sebuah uluran tangan yang tiba-tiba itu membuat Satria mendongak.
"Mau ngeledek lo?"
"Bangun," perintah Annas singkat. "Lo mainnya bagus, cuma kurang tenang aja."
Dengan enggan, Satria menerima uluran tangan itu dan berdiri. Dia siap mendengar ultimatum soal tantangan mereka.
Tapi Annas justru melangkah lebih dekat, membungkuk sedikit agar suaranya hanya didengar oleh Satria.
"Janji adalah janji. Mulai sekarang, berhenti halangin jalan gue."
"Iya, gue tau! Lo mau pamer ke Febby, kan?" desis Satria kesal.
Mata Annas menajam.
"Gue lakuin ini bukan buat pamer, atau karena gue naksir dia kayak asumsi dangkal lo," bisik Annas dingin, penuh penekanan. "Gue lakuin ini, karena dia target selanjutnya."
"Hah? Maksud lo?" Kening Satria berkerut.
Annas menatap Satria lekat-lekat. "Kalau lo terus-terusan ganggu pengawasan gue dengan drama cemburu lo itu... lo bakal nyesel kalau sampai Febby kenapa-napa."
Satria terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, mencerna informasi itu.
Belum sempat Satria bertanya lebih lanjut, kerumunan siswa tiba-tiba terbelah.
Fadhil, yang tadi masih heboh jadi komentator, kini berlari kencang ke tengah lapangan. Wajah cerianya hilang total, digantikan wajah pucat dan panik. Botol air mineralnya sudah dibuang entah ke mana.
"NAS! ANNAS!" teriak Fadhil, mengabaikan tatapan bingung para siswa.
Annas langsung menoleh. "Kenapa?"
Fadhil menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. "Bang Azka."
Jantung Annas seolah berhenti berdetak. Dia langsung menyambar ponsel itu dan menempelkannya ke telinga, membelakangi keramaian.
"Halo, Bang? Gimana?"
-BERSAMBUNG