NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 — Surya Melamar

Pasien perdarahan subaraknoid tiba di kamar operasi dalam waktu dua puluh tiga menit.

Namanya Pak Darto, pengawas pabrik berusia empat puluh enam tahun. CT angiografi menunjukkan aneurisma arteri komunikans anterior yang sudah pecah. Darah memenuhi ruang subaraknoid. Tekanan intrakranial naik.

"Kita lakukan kraniotomi dan clipping," kata Surya. "Siapkan kemungkinan transfusi, monitor saraf, dan nimodipin sesuai protokol."

Pak Hendra mengangguk. "Formulir donor tidak masuk pembicaraan sebelum semua upaya penyelamatan selesai."

Surya setuju.

Di bawah mikroskop, pembuluh yang rapuh berdenyut di antara darah dan jaringan otak. Surya membuka cisterna, mengurangi tekanan, lalu menemukan leher aneurisma. Klip sementara dipasang. Klip definitif masuk tanpa menjepit cabang penting.

Doppler intraoperatif menunjukkan aliran tetap terbuka.

Operasi berhasil secara teknis.

Namun otak Pak Darto telah menerima cedera berat sebelum ambulans tiba. Dua hari kemudian, edema memburuk. Tim independen melakukan penilaian berulang. Surya tidak ikut menentukan kematian otak karena dia menjadi operator utama.

Pak Darto dinyatakan meninggal secara neurologis sesuai prosedur.

Keluarganya meminta formulir donor dibaca.

"Dia menandatanganinya sendiri," kata istrinya. "Kalau tidak bisa pulang, dia ingin seseorang pulang menggantikannya."

Koordinator donor mengambil alih. Tidak ada organ dialokasikan oleh keluarga atau Surya. Sistem nasional mencocokkan berdasarkan kebutuhan, kompatibilitas, dan aturan yang berlaku.

Hari itu, keberhasilan operasi tidak terasa seperti kemenangan.

Jantung, hati, dan kedua ginjal Pak Darto dinilai terpisah. Tidak semuanya layak. Keluarga menerima penjelasan bahwa donasi tidak menjamin setiap organ dapat digunakan. Mereka tetap memilih mengikuti kehendaknya.

Sebelum pengambilan organ, staf berdiri membentuk koridor kehormatan. Surya berada di baris belakang. Dia tidak mengenakan sistem sebagai alasan untuk merasa lebih tahu daripada kesedihan keluarga.

Tiga penerima mendapat panggilan malam itu. Nama mereka tidak diberikan kepada keluarga donor. Jika kelak kedua pihak ingin berkomunikasi, koordinator transplantasi akan mengikuti aturan anonimitas dan persetujuan.

Hitungan Penyelamatan bertambah karena para penerima, tetapi angka itu sudah tidak membuka Level Sepuluh. Bahkan penyelamatan ke sepuluh ribu satu belum tentu mengubah arah hidup seseorang.

Surya berdiri di atap rumah sakit saat Anindya datang membawa dua gelas kopi tanpa gula.

"Kamu sudah melakukan yang benar," katanya.

"Yang benar tidak selalu cukup."

"Tidak. Tapi kegagalan hasil bukan selalu kegagalan dokter. Kalau kamu tidak bisa membedakan keduanya, suatu hari kamu akan mulai mengoperasi demi menyelamatkan perasaanmu sendiri."

Surya menerima gelas itu.

Panggilan berikutnya datang dari kateterisasi jantung. Seorang perempuan dengan infark anterior tiba dalam jendela emas. Arteri LAD tersumbat total.

Tim kardiologi memberi Surya peran operator berdasarkan kredensial gabungan yang sudah disetujui. Kawat melewati lesi. Balon membuka sumbatan. Stent mengembang.

Dari tusukan pertama sampai aliran TIMI tiga kembali: dua puluh lima menit.

"Jangan masukkan waktu itu ke poster," kata Surya kepada staf humas. "Masukkan gejala infark dan nomor darurat."

Sore belum berakhir ketika seorang pekerja muda tiba dengan ibu jari kanan terputus oleh mesin press. Bagian yang teramputasi dibungkus benar, tetapi arteri sangat kecil dan tepi jaringan remuk.

"Saya baru diterima sebagai teknisi," katanya. "Kalau jempol saya hilang, saya tidak bisa kerja."

"Kita coba menyambung," jawab Surya. "Saya tidak bisa menjanjikan fungsi penuh."

Tulang dipendekkan dan difiksasi. Tendon disambung. Di bawah mikroskop, Surya mempertemukan arteri dan vena sehalus benang. Saraf diperbaiki paling akhir.

Ketika klem dilepas, ujung ibu jari berubah merah muda.

Anindya menunggu di luar kamar operasi. Cara dia memandang Surya membuat Rizki mengangkat kedua tangan.

"Kalian berdua bisa nggak sih jangan segitu jelasnya? Pasien di radiologi juga tahu kalian saling suka."

"Kami sudah tinggal serumah," kata Anindya.

"Nah, itu lebih parah."

Tiga bulan kemudian, pekerja muda itu kembali. Sensasi ibu jarinya belum sempurna, tetapi dia mampu mencubit baut kecil. Perusahaan awalnya hendak memindahkannya tanpa peran jelas. Dia justru mengusulkan pelindung mesin dan sensor dua tangan agar press tidak aktif bila satu tangan masih di zona bahaya.

Rancangan itu diterapkan di seluruh pabrik.

Enam kecelakaan serupa berhasil dicegah dalam masa uji.

Surya datang ke pabrik untuk memeriksa pengaman secara langsung. Mesin baru memerlukan dua tombol ditekan bersamaan dari jarak aman. Sensor menghentikan press bila cahaya penghalang terputus.

Pemuda itu menunjukkan buku kuliah malamnya. "Dulu saya pikir dokter menyelamatkan pekerjaan saya. Ternyata kecelakaan itu memaksa saya mencari pekerjaan yang lebih cocok."

"Jangan berterima kasih pada kecelakaannya," kata Surya. "Berterima kasih pada diri sendiri karena tidak berhenti setelahnya."

Pemuda itu ditunjuk menjadi petugas keselamatan sambil melanjutkan pendidikan teknik malam hari.

Lingkaran ketiga menyala.

『Nasib ketiga berubah. Tangan yang diselamatkan tidak hanya mempertahankan pekerjaan pemiliknya. Tangan itu mengubah arah hidupnya dan melindungi orang lain. Tugas Level Sepuluh pertama selesai.』

Surya menutup panel dan mencari Anindya.

Dia menemukannya di taman rumah sakit, sedang membaca hasil laboratorium sendiri. Surya tidak mencoba mengambil kertas itu.

"Keluargamu sudah bicara tentang pernikahan," katanya. "Tapi mereka bukan orang yang akan menikah denganku."

Anindya menurunkan laporan.

Surya berlutut dengan satu kaki. Cincin yang dia keluarkan tidak bernilai satu triliun. Desainnya sederhana, dibeli dari uang gajinya sendiri.

"Aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa rumah sakit, tanpa ketakutan, atau tanpa hari buruk. Aku cuma bisa berjanji keputusan tentang tubuhmu tetap milikmu, dan aku akan tinggal selama kamu masih memilihku. Anindya Kusuma, mau menikah denganku?"

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu memiliki jawaban itu menutup mulut karena tidak bisa bicara.

Air matanya jatuh.

"Mau," katanya. "Tapi berdiri dulu. Celanamu kena tanah."

Surya tertawa dan memasangkan cincin.

Anindya mencium keningnya.

Di kejauhan, Rizki, Bayu, Pak Hendra, dan setengah staf IGD keluar dari balik pohon yang terlalu kecil untuk menyembunyikan mereka.

"Saya bilang tanpa penonton," kata Surya.

Pak Hendra mengangkat ponsel. "Kami bertugas mendokumentasikan tindakan klinis."

Bayu menyerahkan tisu kepada Anindya tanpa berkata apa-apa. Rizki mencoba memulai tepuk tangan kedua sampai Bu Ratna menarik kerahnya.

Surya menyadari proposal itu tidak hanya disaksikan rekan kerja. Beberapa pasien di taman memperhatikan dari jauh. Dia mendekati mereka setelahnya dan meminta maaf karena mengganggu ketenangan ruang publik.

Seorang nenek justru mengangkat ibu jari. "Tidak apa-apa, Dok. Tapi lain kali berlututnya jangan di dekat tanah basah."

Anindya tertawa di antara air mata.

Di tangan kirinya, cincin itu berkilau.

Di tangan kanan, laporan laboratorium masih terlipat.

Angka fungsi ginjal di dalamnya tidak ikut merayakan.

Anindya memasukkan laporan itu ke tas dan menunjukkan jadwal nefrologi yang sudah dibuatnya.

Surya menggenggam tangannya. Mereka meninggalkan taman untuk menghadapi hasil tersebut bersama.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!