Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mendengar kabar menantunya jatuh dari kuda dan dilarikan ke rumah sakit, Frans dan Rachel datang menjenguk. Bahkan, Rachel memarahi Leon melalui panggilan telepon karena membiarkan Emily belajar berkuda tanpa ditemani.
"Emily, maafkan Leon. Seharusnya dia tidak menyuruhmu melakukan ini. Mama tak tau, apa yang sedang direncanakannya. Pastinya dia mau melindungi kamu!" kata Rachel yang duduk di sebuah kursi tepat di ranjang Emily terbaring.
Emily tersenyum tipis dan berucap, "Iya, Ma. Aku hanya belum siap saja belajar berkuda. Apalagi aku mempunyai trauma dengan kuda."
"Astaga, kenapa Leon tak bertanya dulu kepadamu!" Rachel tampak terkejut mendengarnya.
"Kami hanya kurang berkomunikasi, Leon tak sepenuhnya salah," ujar Emily.
"Jika Leon menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak kamu senangi, beritahu kami!" kata Rachel lagi.
Emily mengangguk mengiyakan.
Dua jam setelah menjenguk menantunya, kedua orang tuanya Leon kemudian pamit pulang. Emily kembali dijaga dan ditemani Karin. Pintu ruang rawat dijaga ketat oleh 2 orang pengawal secara bergantian.
"Karin, kapan aku diperbolehkan pulang?" tanya Emily.
"Kemungkinan dua atau tiga hari lagi," jawab Karin.
"Aku tak betah di sini," ucap Emily.
"Tuan Leon melarang Nona pulang sebelum benar-benar pulih," kata Karin.
"Ciih, dia masih juga memikirkan aku. Padahal dia sendiri yang membuatku hampir mati di tendang kuda!" kesal Emily.
Karin diam.
"Apa kamu bisa membawa beberapa buku ke sini biar aku tak bosan?" pinta Emily.
"Saya akan minta pelayan mengambil beberapa buku di perpustakaan dan membawanya ke rumah sakit," kata Karin.
"Terima kasih, Karin."
***
Sudah 2 malam Emily dirawat di rumah sakit, Leon akhirnya pulang setelah melakukan perjalanan udara lebih dari 6 jam. Ia tak segera kembali ke istananya melainkan mengunjungi istrinya.
Leon masuk ke ruangan rawat inap Emily pukul 11 malam, Emily telah tertidur. Karin yang melihat kehadiran atasannya itu bergegas beranjak dari sofa dan keluar.
Leon duduk di samping ranjang, meraih jemari istrinya dan memegangnya. Ada rasa bersalah karena memaksa Emily berkuda.
Emily mengerjapkan matanya karena merasa tangannya disentuh. Ia melihat suaminya sedang tertidur menjaganya. Dia perlahan bangkit dan duduk. Emily tipis seraya mengelus pelan rambut suaminya. Ia tak menyangka Leon akan mempercepat kepulangannya demi dirinya. Padahal Leon mengatakan kepada Mama Rachel baru dapat kembali sekitar 1 minggu lagi.
Beberapa detik kemudian, Emily kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya lagi.
Menjelang matahari terbit, Leon membuka matanya. Tubuhnya terasa pegal karena harus tertidur dalam keadaan duduk. Ia menatap istrinya yang masih pulas. Jemari tangannya mengelus pipi Emily, belum segenap sebulan mereka berumah tangga namun perasaan peduli, cinta dan sayang pelan-pelan tumbuh.
Emily terbangun kala mendengar suara pintu diketuk, Leon bangkit dan membukanya. Dua orang perawat wanita berdiri dihadapannya, seorang mengatakan akan memeriksa kesehatan Emily.
Leon lalu mempersilakan keduanya masuk dan mengecek kondisi istrinya.
Setelah kedua perawat melakukan pemeriksaan, Leon berdiri di ujung ranjang sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya.
"Kenapa kau pulang?" tanya Emily dengan posisi bersandar di kepala ranjang.
"Urusan aku sudah selesai" jawab Leon.
"Lihatlah, aku sekarang harus terbaring di sini karena keinginanmu itu!" keluh Emily.
"Aku minta maaf, aku melakukannya agar kau bisa menjaga dirimu!" Leon beralasan.
Emily tak percaya jika Leon meminta maaf.
"Kata dokter, nanti siang kau boleh pulang!" ucap Leon. "Aku memberikan waktu seminggu untuk libur belajar. Kau dapat memulihkan tubuhmu!" lanjutnya.
"Selama aku libur belajar, bolehkah aku bertemu dengan Papa Antonio dan Kak Belinda!"
"Untuk itu, aku belum mengizinkan kau bertemu dengan mereka." Leon menolak permintaan istrinya, ia tak mau Antonio dan Belinda mempengaruhi Emily sehingga wanita itu memberontak.
-
Siang harinya selepas makan siang, Leon menjemput istrinya di rumah sakit. Leon menggendong istrinya dan meletakkannya di kursi roda, ia juga mendorongnya sampai ke pintu keluar gedung rumah sakit.
Perhatian kecil dari suaminya membuat Emily bahagia. Dia yakin jika Leon bukan pria yang kejam.
Leon juga membantu Emily masuk ke mobil, keduanya duduk di bangku penumpang belakang. Di depan ada seorang sopir dan Charles. Selain itu, 2 mobil juga mengiringi kembalinya Emily ke rumah.
-
Kediaman Leon Anderson...
Di kamar, Leon mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya di ranjang. Menarik selimut lalu duduk di pinggirnya.
"Kau tidak perlu menggendongku. Aku bisa melakukannya sendiri, aku juga kuat berdiri dan berjalan."
"Kau begini karena aku. Jadi, anggap saja aku sedang menebus kesalahanku!" kata Leon.
"Minta maaf saja aku sudah senang," ucap Emily tersenyum.
Leon pun membalas senyuman istrinya.
"Istirahatlah, aku mau bertemu dengan seseorang!" Leon beranjak berdiri.
"Siapa? Apakah dia wanita muda?" cecar Emily.
Leon tak segera menjawab, ia malah tertawa rendah.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan aku?" tanya Emily.
Leon menatap istrinya, "Apa kau sedang cemburu?"
Emily terpaku.
"Rekan bisnis aku seorang pria, kau tidak perlu cemburu jika aku bertemu dengan wanita lain. Aku sama sekali tak tertarik pada mereka," kata Leon.
Emily masih membisu.
"Aku berangkat, ya!" Leon mendekat lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
Emily membulatkan matanya, ketika Leon memberikan kecupan singkat.
Leon pun meninggalkan kamar.
Emily memegang pipinya dengan kedua tangannya, "Apa aku sedang bermimpi?" lirihnya.
***
Satu minggu pasca kecelakaan di arena kuda, Emily kembali beraktivitas seperti biasanya. Ia akan memulai kegiatan belajarnya lagi.
Pagi ini selepas sarapan, Emily latihan berenang di kolam di pandu seorang pelatih wanita. Ada sekitar 1 jam Emily belajar berenang.
Selesai belajar renang, Emily sejenak beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan belajarnya. Ada 3 mata pelajaran yang harus dilakukannya dalam 1 hari ini.
Dua jam sebelum makan siang, Emily bersiap belajar bahasa dan sore harinya nanti dia akan latihan menembak.
Belum saja memulai pembelajaran, terdengar suara keributan dari pintu gerbang rumah. Caroline datang berteriak memanggil nama Emily.
"Mama!" Emily bergegas keluar dari ruangan belajar dan menemui ibunya.
"Emily, di mana suamimu?" Caroline dari kejauhan bertanya dengan lantang dan penuh emosi.
Emily mempercepat langkahnya menghampiri ibunya.
"Nona, jangan mendekat!" Karin yang terlambat berlari kecil mengikuti Emily.
Kedua tangan Caroline dipegang dengan 2 orang penjaga gerbang agar tak masuk ke dalam.
"Lepaskan Mamaku!" perintah Emily.
Kedua penjaga lalu melepaskan pegangannya.
Emily tersenyum bahagia, ia lalu memeluk Caroline. Bukan balasan sambutan hangat yang didapatkannya, Caroline mendorong Emily dan menamparnya.
Jantung Emily mencelos, ia memegang pipi kirinya.
"Di mana papa dan kakakmu?" tanya Caroline. "Kenapa suamimu tak juga melepaskan mereka?" lanjutnya lagi.
"Aku juga tidak tau, Ma. Aku belum bertemu dengan mereka," jawab Emily jujur.
"Jangan bohong!" sentak Caroline.
"Dia memang tidak berbohong!"