"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Istikharah Cinta
Sepanjang perjalanan aku tak dapat memfokuskan pikiranku. Raga ini berada di depan kemudi namun jiwaku melayang-layang entah kemana arahnya.
Pinangan mendadak mas Hafizh masih terpatri jelas di ingatanku. Tak dapat lekang meski waktu berputar sangat cepat. Membuat hati ini semakin gusar tidak karuan.
Tidak ada tanda-tanda mas Hafizh menyimpan rasa terhadapku. Semua kami lalui layaknya orang biasa-biasa saja. Tak ada hal-hal special apalagi romantis yang pernah kami alami.
Ia bahkan sangat jarang memandangku. Meski kadang aku memergokinya, namun langsung ia tepis. Ia sangat menjaga jarak dengan perempuan, lantas dari arah mana datangnya rasa itu? Entahlah aku bingung...
Pikiranku terlalu penat memikirkan hal ini. Antara iya atau tidak. Biarkan ini mengalir apa adanya. Untuk sementara, aku akan perbanyak sholat istikharah. Karena kata ibu dulu, tak baik menolak lamaran. Namun aku pun tak berharap untuk di lamar lagi.
Fyyuh...
Segera kulajukan mobil menuju rumahku. Mbak Ani ataupun anak-anak tidak ada dari mereka yang sadar akan kegelisahan hatiku. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah sampai di rumah. Langsung kurebahkan tubuh ini ke sofa ruang keluarga. Sedikit melepaskan lelah yang menggerogoti diri. Anak-anak juga ikut menjatuhkan diri di samping sambil bermanja-manja di pelukanku.
💔💔💔
Malam semakin larut. Anak-anak sudah sedari tadi berlayar dalam mimpi indah mereka.
Sementara aku masih terus menatap langit-langit kamar dimana tempat anak-anak juga terlelap.
Gelisah berkepanjangan yang membuatku tak bisa tidur. Teringat akan sosok laki-laki yang membuat hati ini gundah gulana.
[Ahh mas Hafizh, kenapa kau harus datang di saat hati ini terlampau kecewa pada mahluk yang bernama laki-laki. Kenapa, kenapa dan kenapa] Pikiranku mulai meracau sendiri.
[Mungkin sholat Sunnah Witir bisa membuat hati ini lebih tenang] pikirku.
Segera aku bangun dan turun dari tempat tidur. Melangkah menuju tempat wudhu. Dan menunaikan sholat Sunnah tiga raka'at tersebut.
Kubenamkan diri dalam kekhusyukan menghadap Rabbku. Air mata seketika menetes, menambah kesyahduan pertemuan ini.
Meluapkan segala rasa yang terpendam dalam dada. Sungguh, hanya kepadaNya tempatku mengadu.
Do'a demi do'a kulantunkan, berharap sang pemilik cinta mendengar setiap duka lara yang tak kuasa kutahan sendirian.
Memohon petunjuk akan jalan cintaku kelak, berharap cinta ini berlabuh pada hati yang tepat.
Mohammad Hafizh Prasetya, kusebut nama itu pada Rabbku, sesuai permintaannya.
Bertanya dan memohon jawaban, apakah ia adalah tempat yang tepat untuk hati ini menetap.
Jika iya, maka pintaku, tumbuhkanlah keyakinan yang besar pada hatiku untuk menerimanya sebagai pengobat luka dalam hati ini.
Lima belas menit kemesraan yang kuciptakan bersama Rabbku. Ingin sekali rasanya diri ini terus berlama-lama dalam pertemuan ini. Namun rasa kantuk telah datang menyapa, membuat jiwa ini ingin segera berkelana dalam mimpi indah yang berkepanjangan.
💔💔💔
Waktu cepat berlalu. Tak terasa mentari mulai menampakkan cahaya indahnya di ufuk timur. Dingin yang terasa kini mulai berganti hangat karena terpaan sinarnya.
Hari libur menyapa kami lagi. Tak seperti libur-libur kemarin, pada libur kali ini, aku, anak-anak dan juga Mbak Ani memilih berolahraga bersama di taman yang tak terlalu jauh dari rumah.
Kami berjalan kaki menuju taman. Melewati beberapa rumah termasuk rumah mewah milik Mbak Brenda.
Pak Wahyu, satpam rumah itu melambaikan tangannya kearah kami. Di halaman rumah juga terlihat Mbok Darmi yang tengah sibuk menyiram setiap tanaman yang menghiasi pekarangan rumah.
Sementara sang empunya rumah tak terlihat, karena sudah sebulan lebih mbak Brenda keluar daerah untuk memperlebar ladang bisnisnya.
"Ummi, kok om afis tak ada jenguk kami yah," tanya Syamil.
"Iyah, padahal setiap hari libur, pasti om Hafizh datang ummi, kok ini nggak ada yah," timpal Fatih.
Mendengar celotehan anak-anak, seketika hati ini berdebar mendengar nama itu. Apa ini suatu petunjuk dari Allah, atau hanya debaran kaget biasa.
"Mungkin om Hafizh-nya lagi sibuk nak, husduzon saja yah? Ayuk main lagi," jawabku pada anak-anak sembari mengajak mereka berlari-lari kecil.
💔💔💔
Anak-anak masih berlarian saling mengejar. Mbak Ani terlihat membawa baby Syaqilla berjalan-jalan mengelilingi taman yang ramai dipenuhi para pengunjung. Dan aku memilih duduk di bangku taman yang tidak jauh dari anak-anak, di sampingku baby Zeze terlelap dalam stroller bayinya.
Sambil bersantai aku mengambil gawaiku, membuka aplikasi WA-ku. Ternyata ada banyak pesan yang masuk.
Dua puluh pesan dari grup alumni, satu pesan dari nomor yang tidak tercatat dalam gawaiku, dan tiga pesan dari lelaki yang namanya menghantuiku sejak semalam.
Mas Hafizh, pria itu mengirimiku pesan untuk pertama kalinya melalui WhatsApp. Penasaran segera kubuka pesan itu.
[Hari ini aku ke Bandung, untuk mengurus Rumah sakit dan beberapa restoranku di sana. Kira-kira untuk seminggu lamanya. Titip salam untuk anak-anak] pesan pertama mas Hafizh.
[Jawabanmu masih kutunggu. Tak perlu terburu-buru, karena ku tau keputusan yang diambil dalam keadaan terburu-buru itu sangat tak baik. Jadi, berpikirlah sampai batas yang kau mau Rianti. Aku akan sabar menunggu] pesan kedua darinya.
[Tak perlu kau balas pesanku ini. Jika kelak kau telah dapat jawabannya. Maka balas pesanku dengan kata Iya atau tidak. Aku akan mengerti jawaban itu. Jika jawabanmu Iya, maka aku akan segera menghalalkanmu, jika tidak maka tak ada pilihanku selain mencari penggantimu] pesan ketiganya.
Sedikit bahagia karena mas Hafizh mengabari tentang dirinya. Hal yang tak pernah ia lakukan, terasa janggal namun mampu membuat bibir ini mengulas senyum.
Apakah ini benar-benar jawabannya? Aku masih ragu, biarlah waktu yang kan menjawabnya. Toh mas Hafizh memberikan waktu yang tak terbatas untuk aku berpikir.
Bersambung....
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝