Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Mama! Kenapa dikunci terus pintunya? Aku mau masuk!"
Suara cempreng Jayan yang menggedor pintu seketika membuatku terkejut. Aku refleks mendorong dada Jalal agar menjauh.
"Biar saya saja yang buka, Yas," kata Jalal sembari terkekeh pelan. Dia bangkit berdiri, merapikan kausnya, lalu berjalan membuka gerendel pintu kamar.
Begitu pintu terbuka, Jalal langsung menyambut anak laki-lakinya. "Anak Bapak mau masuk, ya?" tanya Jalal lembut, lalu dengan cekatan menggendong tubuh gempal Jayan ke arah kasur.
Beliau membaringkan Jayan tepat di tengah-tengah di antara posisi duduk kami berdua.
"Bapak, kita janji toh mau ajak aku pergi ke pasar malam?" tanya Jayan langsung menagih janji dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Iya, Nak. Nanti habis salat Maghrib kita berangkat, ya. Sekalian kita cari makan malam di luar," jawab Jalal sembari mengacak rambut putranya gemas.
"Horeee...! Aku mau main kuda-kudaan! Iya toh, Mama? Di sana pasti ada kuda-kudaan yang bisa putar-putar," celoteh Jayan riang.
Suara tawa dan celotehan polos anakku seketika memenuhi setiap sudut kamar yang sunyi, terasa semakin lengkap dengan hadirnya sosok dari masa lalu yang kini perlahan-lahan mulai bisa kuterima kembali di dalam hatiku.
••••••••••••••••
"Yas, mana suamimu? Dia mau dimasakankan apa di'?" tanya Mama yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarku.
Aku menoleh ke arah Mama lalu tersenyum tipis. "Tidak usahmi masak, Ma... Bapanya Jayan bilang kita makan di luar saja malam ini," ucapku pelan.
Mama seketika terdiam, menatapku dengan raut wajah kebingungan. "Hah? Makan di luar? Buat apa makan di luar, Nak? Sedangkan sudah disiapkan meja di dapur sama kursi-kursi," sahut Mama makin bingung.
Aku langsung menepuk jidatku sendiri, gemas dengan kepolosan wanita di depanku ini. "Maksudku, janganmi kita memasak di rumah malam ini, Ma. Bapanya Jayan mau ajak kita jalan-jalan ke luar. Nanti sekalian kita singgah beli makanan di warung atau restoran di luar."
"Oh, begitu! Jadi dia mau ajak saya dengan bapamu juga?" tanya Mama memastikan, yang langsung kubalas dengan anggukan mantap. "Kemana pale Jayan sama bapanya sekarang? Kenapa sepi?"
"Mereka pergi ke masjid di depan buat salat Maghrib," jawabku jujur.
"Ede'... memang luar biasa menantuku itu. Hih, sudah ganteng, saleh lagi..." ucap Mamaku kegirangan penuh rasa bangga, lalu bergegas keluar dari kamar.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mama. Tak lama berselang, terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah kami. Sorot lampunya menerangi dedaunan sebelum akhirnya terparkir rapi di depan rumah.
Jalal keluar dari pintu kemudi sembari menggendong putra kami yang tampak sangat bahagia.
"Bapak, ayo kita berangkat!" teriak putra kecilku, suaranya terdengar nyaring sampai ke dalam kamar.
"Ih, sabar toh. Kita ganti baju dulu," jawab Jalal terdengar menyahuti dari luar.
Tak lama kemudian, pintu kamarku terbuka dan mereka berdua masuk. Saat itu, aku sedang berdiri di depan cermin, menyisir rambut lebatku yang baru saja kering sehabis keramas.
"Siap-siap, Sayang..." ucap Jalal lembut saat berpapasan dengan tatapanku di cermin.
Aku mengangguk pelan, menyembunyikan debaran di dada akibat panggilan manisnya. "Abang, tolong kasih tahu Kakek sama Nenek, suruh mereka siap-siap. Bilang kita mau pergi mi," kataku pada Jayan. Bocah kecil itu langsung mengangguk patuh dan berlari keluar kamar.
Aku berjalan menuju lemari kain untuk mengambil pakaian. Pilihan jatuhnya pada sebuah dress motif bunga-bunga berwarna merah muda berpotongan tali satu. Untuk menyiasati hawa malam yang dingin, aku mengambil cardigan rajut yang cukup tebal untuk menutup kulit lenganku agar tidak masuk angin.
Sesaat, aku melirik ke arah Jalal yang masih berdiri mematung di dalam kamar. "Pak, bisa keluar dulu? Saya mau ganti baju," ucapku kikuk.
Jalal menatapku lekat dari atas sampai bawah, kemudian mengangguk perlahan sembari menyunggingkan senyuman tipis yang penuh arti sebelum melangkah keluar kamar.
Dengan cekatan aku langsung mengganti pakaianku, lalu memoleskan riasan wajah atau makeup yang simpel dan natural. Setelah dirasa pas, aku menjepit rambut lebatku menggunakan jepitan jedai agar penampilanku kelihatan lebih rapi dan kalem. Jangan lupa, kuambil jaket tebal milik Jayan serta tas selempang kecilku yang berisi ponsel dan sedikit uang tunai.
Begitu aku melangkah keluar kamar, aku melihat Jalal sedang asyik mengobrol bersama Bapak di ruang tengah. Begitu menyadari kehadiranku, obrolan mereka terhenti. Netra Jalal seketika terpaku padaku. Dia menatapku tanpa berkedip dalam waktu yang cukup lama, sampai-sampai aku terpaksa mengejutkannya dengan sebuah pertanyaan karena merasa salah tingkah.
"Mana Jayan, Pak?" tanyaku memecah keheningan.
Jalal sedikit tersentak dari lamunannya, lalu berdehem pelan. "Oh, di belakang sama Mama. Tadi katanya mau buang air kecil dulu," jawabnya.
Aku mengangguk paham lalu berjalan mendekat ke arahnya. Alih-alih mengajakku langsung masuk ke mobil, Jalal malah meraih pergelangan tanganku dengan lembut. Tatapannya masih terus tertuju pada wajahku.
"Kenapa, Pak? Apa ada yang aneh dengan penampilan saya?" tanyaku heran.
Jalal menggeleng pelan, lalu menarikku dengan lembut agar mengikutinya berjalan ke luar menuju teras depan rumah. Kami duduk bersama di kursi kayu teras yang sedikit remang.
"Kenapa kamu cantik sekali malam ini, Yas? Saya bisa tambah cinta kalau kamu begini terus," bisiknya dengan suara rendah yang sarat akan kekaguman.
"Apaan sih, Bapak ini... Kok dari tadi bicaranya lebay melulu," sahutku bersungut-sungut menahan malu. Namun, sedetik kemudian, rasa gemas mengalahkanku. Aku condongkan tubuhku ke depan lalu mendaratkan satu kecupan manis tepat di rahang tegasnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Cup.
"Ah, Yas... kalau begini caranya, saya jadi malas jalan keluar," gumam Jalal parau, menatapku dengan pandangan mata yang menggelap penuh damba.
Aku buru-buru menggelengkan kepala. "Bapak kan sudah janji sama anak kecil di dalam, tidak boleh diingkari, loh."
Jalal akhirnya mengalah. Dia mengangguk pasrah kemudian memejamkan matanya sejenak, sementara tautan jemari tangan kami di atas pangkuan masih menyatu dengan erat.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki Jayan mendekat ke arah teras, disusul oleh Bapak dan Mama yang juga sudah tampil rapi dengan pakaian terbaik mereka. Kebetulan dua adik kembarku sudah jalan duluan sejak sore tadi bersama pacar mereka masing-masing.
Setelah memastikan pintu rumah sudah dikunci rapat oleh Mama, kami bersama-sama berjalan menuju mobil SUV mewah milik Jalal yang terparkir di halaman.
"Horeee! Aku mau jalan-jalan pakai oto!" seru Jayan melompat-lompat kegirangan. Dia menyebut kata mobil dengan sebutan khas daerah kami, 'Oto'.
Begitu kami semua sudah berada di dalam kabin mobil yang nyaman, Jalal yang duduk di kursi kemudi menoleh ke arahku dengan dahi berkerut bingung. "Yas, 'Oto' itu apa artinya?" bisiknya penasaran.
Aku langsung tertawa renyah mendengar kebingungan suamiku ini. "Oto itu artinya mobil, Pak," kataku menjelaskan.
Jalal mengangguk-angguk paham, lalu menyunggingkan senyum lebarnya. Dia mulai memutar kunci kontak dan menyalikan mesin mobil yang terdengar sangat halus.
"Ayo, kita berangkat...!" ucap Jalal dengan nada ceria, sengaja menirukan gaya bicara Jayan yang menggemaskan, memecah keheningan malam pedesaan menuju pusat kecamatan.