NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang, tapi Nayla tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga, kehilangan alasan untuk sekadar berdiri. Ia hanya duduk di sana di kursi halte yang keras dan dingin dengan bahu yang sesekali bergetar karena tangis yang tak kunjung reda.

Air matanya sudah tidak terhitung lagi berapa banyak yang jatuh. Pipinya basah, matanya sembab, dan napasnya tidak beraturan. Sesekali terdengar sesenggukan kecil yang pecah begitu saja, memecah sunyi malam yang terasa semakin pekat.

Sendirian.

Kata itu terasa begitu nyata malam ini. Nayla ingin pergi, ingin lari sejauh mungkin dari semuanya.

Dari rumah itu.

Dari keluarganya.

Dari kenyataan yang baru saja menghancurkan dunianya.

Tapi dia tidak tahu harus ke mana. Tidak ada tempat yang bisa dia tuju. Tidak ada orang yang bisa dia datangi tanpa membawa masalah baru. Dan pada akhirnya dia hanya bisa berhenti di halte ini.

Sudah lebih dari satu jam Nayla duduk di sana.

Waktu terasa berjalan lambat, seolah sengaja memperpanjang penderitaannya. Jalanan di depannya sepi. Hanya sesekali kendaraan melintas dengan suara yang cepat hilang ditelan malam.

Lampu halte yang redup menambah kesan suram.

Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang seharusnya membuat orang menggigil.

Namun Nayla tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanya satu— Sesak. Dadanya terasa penuh, penuh dengan pertanyaan.

Penuh dengan rasa sakit.

Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Tangannya menggenggam ujung blazer yang masih ia kenakan. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya sejak tadi sore. Ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian.

Ia pergi begitu saja.

Tanpa pikir panjang.

Tanpa arah.

Tanpa tujuan.

Dan sekarang ia terjebak dalam pikirannya sendiri.

“Anak bajingan…”

Kalimat itu kembali terngiang, membuat tangisnya semakin pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan berusaha menahan suara tangisnya. Namun percuma, semua terasa terlalu sakit.

Terlalu nyata.

Terlalu menghancurkan.

Apa arti semua itu?

Apakah selama ini ia hidup dalam kebohongan?

Apakah selama ini ia bukan anak dari laki-laki yang selama ini ia panggil papa?

Lalu siapa dia?

Siapa Nayla sebenarnya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Tanpa jawaban.

Tanpa jeda.

Dan semakin ia mencoba memikirkannya semakin ia merasa kehilangan dirinya sendiri.

Tangisnya kembali pecah.

Lebih keras.

Lebih dalam.

Seolah semua emosi yang selama ini ia pendam akhirnya keluar tanpa sisa. Ia tidak peduli jika ada orang yang melihat. Tidak peduli jika terdengar lemah. Karena saat ini ia benar-benar hancur.

Namun di tengah tangisnya, ia tidak sadar bahwa seseorang telah datang. Seseorang yang kini duduk tepat di sampingnya.

Begitu dekat.

Terlalu dekat.

Namun Nayla tidak menyadarinya. Ia masih sibuk dengan dunianya sendiri.

Dengan tangisnya.

Dengan luka yang tidak terlihat.

Dengan pikirannya yang kacau.

“Masalah lo seberat apa sih?”

Suara itu tiba-tiba terdengar.

Santai.

Datar.

Namun cukup jelas untuk membuat Nayla terdiam. Tangisnya terhenti sejenak, ia perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Lalu menoleh dan seketika matanya membesar.

“Lo…?”

Marvin.

Laki-laki itu duduk santai di sampingnya, dengan posisi tubuh yang sedikit condong ke belakang. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada hal penting yang terjadi.

Namun matanya menatap Nayla dalam. Seolah mencoba membaca apa yang sedang ia rasakan.

Refleks, Nayla langsung menggeser tubuhnya menjauh.

Cepat.

Seakan keberadaan Marvin di dekatnya adalah sesuatu yang harus ia hindari. Jarak di antara mereka langsung tercipta. Dan itu membuat Marvin sedikit mengangkat alis.

“Segitu takutnya sama gue?” tanyanya ringan.

Nayla tidak menjawab.

Ia hanya mengusap air matanya dengan kasar. Tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki itu. Terlebih Marvin, orang terakhir yang ingin ia temui dalam kondisi seperti ini.

“Perlu gue hapus air mata lo itu?” tawar Marvin, setengah bercanda.

“Nggak!” Jawaban Nayla cepat.

Keras.

Tanpa pikir panjang.

Ia berdiri dari tempat duduknya.

Ingin pergi.

Ingin menjauh.

Karena satu hal yang ia tahu jika Endra tahu ia bersama Marvin masalahnya akan semakin besar. Namun belum sempat ia melangkah jauh tangannya dicekal kuat.

“Mau ke mana?” suara Marvin berubah sedikit serius.

“Lepas!” Nayla mencoba menarik tangannya. Namun cengkeraman Marvin cukup kuat.

Tatapan Nayla langsung tajam penuh peringatan. Dan entah kenapa Marvin langsung melepaskannya dengan cepat. Seolah sadar bahwa ia sudah melewati batas.

Nayla menatapnya tajam beberapa detik lalu hendak pergi lagi. Namun—

“Jangan pergi kalau pikiran lo lagi kalut.”

Langkah Nayla terhenti.

Suara Marvin terdengar berbeda.

Tidak santai seperti biasanya.

Lebih dalam.

“Duduk.”

Itu bukan permintaan.

Itu perintah.

Dan entah kenapa Nayla menurut.

Ia tidak langsung duduk di dekat Marvin.

Ia berjalan ke ujung kursi halte.

Memberi jarak sejauh mungkin.

Namun tetap ia duduk kembali.

Keduanya diam.

Tidak ada yang bicara.

Hanya suara angin dan sesekali kendaraan yang melintas jauh di sana.

Waktu kembali berjalan.

Beberapa menit berlalu.

Tanpa kata.

Tanpa suara.

Hingga akhirnya Marvin kembali bicara.

“Seberat apapun masa lalu…”

Nayla tidak menoleh.

Namun ia mendengarkan.

“…jangan pernah kabur.”

Ia berhenti sebentar seolah mencari kata yang tepat.

“Mungkin kedengeran klise. Dan lo pasti udah sering denger.”

Nayla menunduk, tangannya kembali meremas ujung bajunya.

“Tapi gue serius.”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Dan akhirnya Nayla bersuara pelan.

“Sejak kapan lo jadi bijak?” Nada suaranya datar namun jelas ada sindiran di sana.

Marvin tertawa kecil, ia menggaruk belakang lehernya. “Iya juga ya,” gumamnya. “Sejak kapan ya gue jadi kayak gini…”

Nayla tidak menanggapi, ia hanya menatap ke depan.

Kosong.

Marvin menoleh ke arahnya. “Nayla.”

Nayla menoleh, tatapan mereka bertemu. Dan untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

“Sampai sekarang…” lanjut Marvin pelan, “…gue nggak bakal maksa lo.”

Nayla mengernyit. “Jadi…”

Ia tersenyum tipis. “…gimana tawaran gue?”

Nayla mendengus pelan.

Lelah.

“Ini udah keberapa kalinya gue nolak lo, Marvin?”

Marvin tersenyum.

Tidak tersinggung.

Tidak marah.

“Tiga puluh satu kali,” jawabnya santai. “Kalau yang ini dihitung.”

Nayla memutar matanya. “Lo nggak capek?”

“Enggak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu yakin.

“Mau sampai kapan?” tanya Nayla lagi.

Marvin menatap ke depan lalu tersenyum samar. “Sampai hari itu tiba.”

Nayla mengernyit.

Lagi.

Kalimat itu lagi.

Selalu seperti itu.

Selalu menggantung.

Selalu penuh teka-teki dan Nayla tidak pernah mengerti.

Hari apa?

Maksudnya apa?

Kenapa Marvin selalu berbicara seperti itu?

Ia mendengus pelan.

Laki-laki itu benar-benar sulit dimengerti. Dan bukan hanya Marvin, Endra, Jevan. Semuanya sama.

Sulit ditebak.

Sulit dipahami.

Dan entah kenapa selalu membuat hidupnya semakin rumit. Namun berbeda dengan yang lain Nayla tidak pernah benar-benar memikirkan Marvin.

Karena di matanya Marvin adalah masalah. Laki-laki itu berbahaya, ambisius dan tidak bisa dipercaya.

Rival Endra.

Sepupu jauh yang justru menjadi musuh. Hubungan mereka hancur karena satu hal.

Nayla.

Marvin menyukainya.

Entah sejak kapan.

Yang jelas ia mulai mendekati Nayla diam-diam. Tanpa sepengetahuan Endra dan itu adalah awal dari semua kekacauan.

Marvin bahkan pernah menculiknya. Kenangan itu masih jelas di kepala Nayla. Dan itu cukup untuk membuatnya membenci laki-laki itu.

Namun anehnya Marvin tidak pernah berhenti. Ia terus mendekat.

Terus menawarkan.

Terus mencoba.

Seolah tidak peduli dengan semua penolakan.

Seolah tidak peduli dengan Endra.

Seolah tidak peduli dengan konsekuensinya.

Dan itu membuat semuanya semakin rumit.

Nayla menutup matanya sebentar, menghela napas pelan.

Ia lelah.

Sangat lelah.

Dengan semuanya.

Dengan hidupnya.

Dengan orang-orang di sekitarnya.

“Kenapa sih lo masih ngejar gue?” tanyanya tiba-tiba.

Suasana langsung berubah.

Lebih serius.

Marvin tidak langsung menjawab, ia menatap Nayla.

Lama.

Seolah mempertimbangkan sesuatu.

Lalu—

“Karena lo butuh gue.”

Nayla langsung menoleh tajam.

“Jangan sok tau.”

Marvin tersenyum tipis. “Gue nggak sok tau.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

Menatap Nayla lebih dekat.

“Gue cuma… satu-satunya yang berani bilang kenyataan ke lo.”

Nayla menahan napas jantungnya berdetak lebih cepat.

“Endra…” lanjut Marvin pelan, “…nggak sebaik yang lo pikir.”

“Cukup!” Suara Nayla meninggi, matanya memerah. Bukan karena menangis tapi karena marah.

“Jangan bawa-bawa Endra!”

Marvin terdiam namun tatapannya tidak berubah. “Lo selalu bela dia,” gumamnya. “Padahal…”

“Padahal apa?!”

“Padahal dia yang paling sering nyakitin lo.”

Sunyi.

Nayla membeku.

Tangannya mengepal.

Matanya berkaca-kaca lagi.

Namun kali ini sukan karena sedih tapi karena emosi. “Dan lo pikir lo lebih baik?” suaranya bergetar. “Lo pernah nyulik gue, Marvin!”

“Iya.”

Jawaban itu membuat Nayla terdiam.

Tidak ada penyangkalan.

Tidak ada alasan.

Hanya satu kata—

Iya.

Dan itu justru membuatnya semakin bingung.

“Tapi gue nggak pernah bohong soal perasaan gue.”

Nayla menatapnya.

Dalam.

Dan untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Marvin. Keseriusan yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.

“Tapi lo tetap salah,” bisik Nayla.

Marvin mengangguk. “Gue tau.”

Sunyi kembali turun di antara mereka. Namun kali ini tidak setenang sebelumnya.

Ada sesuatu yang menggantung.

Ada sesuatu yang berubah.

Dan Nayla tidak tahu harus merasa apa. Karena untuk pertama kalinya ia tidak tahu harus membenci Marvin sepenuhnya atau mulai meragukan semuanya.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!