Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan..
Setelah beberapa hari sibuk mempersiapkan segalanya, akhirnya tiba juga hari ketika Alya benar-benar harus meninggalkan kenyamanan hidup yang selama ini selalu ada di sekelilingnya.
Beberapa mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah sejak pagi. Para asisten rumah tangga tampak sibuk membantu memindahkan koper-koper besar milik Alya ke bagasi mobil.
Jumlah barang bawaan gadis itu masih sama absurdnya seperti saat pertama kali ia pulang dari mall beberapa hari lalu.
Suasana rumah pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Namun di balik kesibukan itu, ada perasaan aneh yang perlahan memenuhi rumah besar tersebut.
Hari ini, untuk pertama kalinya, putri bungsu keluarga mereka benar-benar akan pergi cukup jauh dan tinggal tanpa segala kenyamanan yang selama ini selalu mengelilinginya.
Alya berdiri diam di depan teras rumah besar itu. Tatapannya lurus ke halaman depan, tetapi pikirannya terasa penuh.
Entah kenapa, rasa antusias yang sejak awal memenuhi dirinya kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Ada rasa gugup yang perlahan muncul.
Sedikit takut.
Dan entah kenapa… dadanya terasa begitu berat.
Keano yang berdiri tak jauh darinya menjadi orang pertama yang menyadari perubahan ekspresi sang adik.
Keano yang menyadari perubahan wajah sang adik akhirNya berjalan ke arahnya, lalu memberi tepukan kecil di pundaknya.
“Udah siap, princess?” tanyanya, kali ini tanpa nada menggoda seperti biasanya.
Alya hanya memberi anggukan kecil. Namun matanya mulai perlahan berkaca-kaca.
Melihat itu, Elang yang sejak tadi berdiri di dekat mobil langsung menghela napas pelan.
“Baru mau berangkat aja udah mau nangis.” komentarnya datar, meski terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Aku nggak nangis.” bantah Alya cepat, walaupun suaranya terdengar pelan.
Keano justru tersenyum geli.
“Oh ya?” katanya santai.
“Terus itu mata merah kenapa? Kurang tidur mikirin koper rose gold kamu?”
“Kak Keano…” Alya langsung mendelik kesal.
“Jangan mulai lagi.”
Elang akhirnya berjalan mendekat. Untuk sesaat, ia hanya menatap adiknya diam-diam sebelum mengangkat tangan dan mengacak lembut puncak kepala Alya.
“Denger…” katanya pendek.
“Di sana jaga diri. Jangan terlalu keras kepala.”
Meski nada suaranya tetap datar, Alya tahu itu adalah bentuk perhatian dari kakak tertuanya yang selalu sulit menunjukkan perasaan.
“Dan jangan bikin orang-orang di sana syok lihat barang bawaan kamu.” katanya sambil menunjuk koper jumbo milik Alya.
“Serius, gue masih heran gimana kamu bisa masukin setengah isi kamar ke dalam koper itu.”
Mendengar itu, Alya langsung mengerucutkan bibirnya dengan wajah sebal.
“Ini namanya persiapan.” balasnya membela diri.
Di tengah percakapan mereka, sang papi akhirnya keluar dari dalam rumah. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi ada sorot berbeda di wajah pria itu, sesuatu yang sejak tadi berusaha ia tahan.
Tatapannya langsung jatuh pada putri bungsu kesayangannya yang kini benar-benar akan pergi dari rumah untuk pertama kalinya dalam waktu cukup lama.
“Alya…” panggilnya lembut.
Mendengar suara itu, Alya langsung menoleh. Seketika pertahanannya runtuh.
Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat lalu langsung memeluk papinya erat. Jauh lebih erat dibanding biasanya.
“Papi…” suaranya terdengar kecil, nyaris bergetar.
Pria itu tersenyum tipis, lalu membalas pelukan putrinya dengan hangat. Tangannya perlahan mengusap rambut panjang Alya penuh kasih sayang, seperti yang selalu ia lakukan sejak Alya kecil.
“Papi tahu kamu pasti bisa jaga diri.” katanya lembut.
“Tapi kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Cerita sama Papi.”
Mendengar perhatian sederhana itu, Alya tak lagi mampu Menahan perasaan yang sejak tadi mengendap di dadanya, matanya mulai berkaca-kaca semakin jelas.
“Papi jangan ngomong gitu…” gumamnya pelan.
“Nanti Alya beneran nangis.”
Keano yang melihat itu langsung menghela napas panjang sambil menggeleng kecil.
“Wah… selesai. Princess kita udah mau mewek.”
“Elang, lima menit lagi paling batal berangkat.” tambahnya santai.
“Diam, Kak.” Alya langsung menoleh tajam, meski sudut matanya sudah mulai basah.
Elang justru tersenyum tipis, senyum langka yang jarang sekali muncul di wajahnya.
Sementara sang papi kembali mengusap kepala Alya pelan.
“Pergi belajar banyak hal, hm?” katanya lembut.
“Nggak selamanya kamu akan hidup di zona nyaman seperti di rumah.”
Nasihat sederhana itu membuat Alya terdiam cukup lama. Entah kenapa, baru detik itu semuanYa terasa jauh lebih nyata dari sebelumnya.
Ini bukan lagi soal koper mahal, skincare, atau segala persiapan berlebihan yang selama ini membuatnya percaya diri.
Hari ini… ia benar-benar akan keluar dari dunia nyaman yang selama ini selalu melindunginya.
Dan entah kenapa… untuk pertama kalinya Alya merasa takut menghadapi apa yang menunggunya di depan sana.
Keheningan sempat menggantung beberapa detik setelah ucapan papinya barusan, Tidak ada lagi candaan dari Keano.
Bahkan Elang pun memilih diam, membiarkan Alya menikmati beberapa menit terakhirnya bersama keluarga sebelum benar-benar pergi.
Di hadapan mereka, para asisten rumah tangga masih sibuk memastikan seluruh barang bawaan Alya sudah masuk ke bagasi mobil.
Pemandangan yang bahkan membuat sopir keluarga itu beberapa kali melirik koper jumbo milik Alya dengan ekspresi bingung.
Jujur saja, barang bawaan nona kecil keluarga itu terlihat lebih cocok untuk perjalanan satu bulan ke luar negeri dibanding kegiatan KKN di desa terpencil.
Alya perlahan melepaskan pelukannya dari sang papi. Matanya masih sedikit memerah, meskipun ia sudah berusaha mati-matian terlihat baik-baik saja.
Sang papi tersenyum lembut, lalu mengusap sudut mata putrinya menggunakan ibu jari.
“Anak Papi nggak boleh sedih.” ucapnya pelan.
“Kamu cuma pergi beberapa minggu, bukan pindah selamanya.”
Alya menarik napas panjang lalu mengangguk.
“Iya, Pi…” jawabnya pelan.
Keano yang sejak tadi berdiri bersandar di dekat mobil akhirnya kembali membuka suara.
“By the way…” katanya sambil melirik jam tangan.
“Kalau kita nggak berangkat sekarang, bisa-bisa teman-teman Alya mikir dia diculik keluarga sendiri.”
Alya langsung melotot.
“Kak Keano, serius deh…”
Keano hanya tertawa kecil.
Sementara Elang melangkah mendekat, lalu mengambil koper rose gold milik Alya tanpa banyak bicara.
Gerakan sederhana itu membuat Alya sedikit menatap kakak tertuanya. Biasanya Elang bukan tipe orang yang suka menunjukkan perhatian secara terang-terangan.
Pria itu membuka bagasi belakang mobil, memasukkan koper besar tersebut dengan mudah, lalu menoleh sekilas.
“Pastikan barang penting nggak ada yang ketinggalan.” katanya singkat.
Alya tersenyum kecil.
“Iya, Kak.”
Tak lama kemudian, suara notifikasi dari ponselnya terdengar.
Alya menunduk, membuka layar, lalu melihat pesan dari grup KKN mereka.
Semua kumpul di kampus 15 menit lagi. Jangan ada yang telat.
Tanpa ia sadari… perjalanan KKN itu bukan hanya akan mengubah cara hidupnya.
Tetapi juga… mempertemukannya dengan seseorang yang perlahan akan mengubah seluruh dunianya.
Dan semua itu… dimulai hari ini.