Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sesampainya di rumah sakit, taksi berhenti tepat di depan lobby instalasi gawat darurat.
Jihan langsung membuka pintu mobil dan berlari panik ke dalam gedung.
"Suster! Dokter! Tolong! Ada pasien pingsan di luar!" teriak Jihan dengan suara bergetar.
Mendengar teriakan itu, beberapa perawat dengan sigap langsung bergerak cepat membawa brankar—ranjang dorong rumah sakit—menuju ke taksi.
Dengan cekatan, mereka memindahkan tubuh Darren yang masih tak sadarkan diri ke atas brankar, lalu mendorongnya masuk ke dalam ruang penanganan darurat.
Jihan hendak menyusul langkah para perawat, namun langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh seorang petugas administrasi wanita yang membawa sebuah papan klip.
"Maaf, Nona. Apakah Anda keluarga dari pasien?" tanya petugas itu dengan sopan namun formal.
Jihan menggeleng cepat dengan wajah cemas. "Bukan, Sus. Saya hanya orang asing yang menemukannya pingsan di taman kota tadi."
"Baik, kalau begitu, kami meminta Anda untuk melakukan pembayaran administrasi awal terlebih dahulu, agar tindakan medis dan obat-obatan darurat untuk lelaki itu bisa segera diproses," jelas perawat tersebut.
"Pembayaran?" Jihan tertegun. Langkahnya mendadak terasa berat.
"Iya, Nona. Ini sudah menjadi prosedur wajib rumah sakit kami untuk pasien umum tanpa identitas keluarga."
Jihan terdiam di tempatnya. Perlahan, ia membuka tasnya dan mengambil dompet yang ada di dalam sana.
Saat membuka dompet tersebut, dadanya terasa kian sesak.
Jihan menatap nanar lembaran uang yang tersisa di dalamnya—itu adalah sisa uang tabungan terakhir miliknya, uang yang seharusnya ia gunakan untuk bertahan hidup setelah hatinya dihancurkan oleh Albert malam ini.
Jihan menatap ke arah pintu ruang UGD yang tertutup rapat, tempat pria paruh baya tadi berjuang bertaruh nyawa.
Pria itu benar-benar tidak ia kenal. Jihan bisa saja egois, berbalik badan, lalu pergi meninggalkan rumah sakit ini untuk menyelamatkan dompetnya sendiri.
Namun, hati kecil Jihan tidak sekejam itu. Ia tidak bisa membiarkan satu nyawa melayang hanya karena masalah biaya.
Sambil mengembuskan napas panjang, Jihan menarik seluruh sisa uang beberapa lembar itu dari dompetnya.
Tanpa sisa sedikit pun. Ia mengulurkan uang itu kepada petugas di hadapannya dengan tangan yang mantap.
"Ini uangnya, Sus. Tolong lakukan yang terbaik demi menyelamatkan lelaki itu," ucap Jihan sambil menyerah uang tersebut kepada kasir
Baginya, uang bisa dicari lagi, tetapi nyawa manusia tidak akan pernah bisa digantikan dengan apa pun.
Setelah menyelesaikan seluruh proses pembayaran administrasi dengan sisa uang terakhirnya, Jihan berjalan lemas dan duduk di kursi tunggu depan ruang UGD.
Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, merasa lelah secara fisik dan mental setelah rentetan kejadian gila malam ini.
Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter paruh baya berjas putih melangkah keluar, membuat Jihan langsung berdiri spontan menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Jihan dengan raut wajah cemas.
Dokter itu tersenyum ramah, mencoba menenangkan.
"Kondisinya sudah stabil. Pasien hanya mengalami kelelahan yang sangat hebat dan tekanan stres yang tinggi. Setelah cairan infusnya habis, dia sudah diperbolehkan pulang. Silakan masuk, pasien juga sudah sadar di dalam," ucap dokter.
Jihan mengembuskan napas lega dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih banyak, Dok." ucap Jihan.
Jihan mendorong pintu ruangan dan melangkah masuk.
Ia berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang terletak tepat di samping ranjang tempat Darren terbaring.
Begitu Jihan duduk, sepasang mata tegas milik Darren langsung terbuka dan menatapnya lekat. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah pria paruh baya yang meskipun tampak pucat, tetap memancarkan aura ketampanan dan karisma yang kuat.
"Apakah kamu yang menyelamatkan aku, cantik?" tanya Darren dengan suara yang masih agak serak.
Jihan tertegun sesaat mendengar pujian di ujung kalimat pria itu, lalu menganggukkan kepalanya dengan canggung.
"Iya, Tuan. Saya tadi kebetulan sedang ada di taman menikmati hotdog, lalu saya melihat Anda tiba-tiba memegang dada dan langsung pingsan di bawah pohon." jawab Jihan.
Darren mengubah posisi duduknya sedikit, matanya tidak lepas dari wajah tulus di hadapannya.
"Terima kasih banyak, dan, kamu benar-benar sangat cantik sekali," puji Darren dengan tatapan mata yang sungguh-sungguh.
Jihan spontan tertawa getir, merasa asing dengan kata-kata itu.
"Cantik? Tuan pasti salah lihat. Beberapa jam yang lalu, mantan kekasih saya sendiri baru saja mengatakan kalau saya ini seperti babi karena ukuran tubuh saya yang seperti ini," ucap Jihan sambil tersenyum tipis.
"Ssshhh..." Darren menyela cepat, meletakkan jari telunjuknya di udara untuk menghentikan ucapan Jihan.
"Jangan dengarkan lelaki bodoh itu. Di mataku, kamu sangat cantik sekali. Siapa namamu?"
"Aku Jihan," jawabnya pelan.
"Aku Darren," sahut pria itu, lalu menarik napas panjang seolah memantapkan sebuah keputusan besar yang sudah ia pikirkan sejak membuka mata.
"Jihan, maukah kamu menikah denganku?"
Jihan seketika membelalakkan matanya dengan sempurna.
Ia refleks memundurkan sedikit posisi duduknya karena terkejut setengah mati.
"Tuan Darren, apakah ini efek samping dari obat yang dokter berikan tadi? Sepertinya Anda, masih mengantuk atau berhalusinasi."
Darren tertawa kecil, suara kekehannya terdengar berat dan hangat di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Aku tidak sedang berhalusinasi, aku sungguh-sungguh, Jihan. Anak-anak kandungku sendiri hanya menginginkan harta dan warisanku, mereka menganggapku tidak ada. Sementara kamu, orang asing yang bahkan tidak mengenalku, rela membawaku kesini demi menyelamatkan nyawaku. Aku butuh ketulusanmu," ujar Darren hangat.
"Jadi, apakah kamu mau hidup dengan lelaki tua ini?"
Jihan menelan salivanya saat mendengar perkataan dari Darren.
Ia bingung harus merespons apa atas lamaran kilat dari pria asing yang luar biasa tampan dan berwibawa ini.
"Tuan, kita.m bahas lagi masalah ini setelah cairan infus Anda habis, ya?" ucap Jihan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Namun, Darren menggelengkan kepala. Tatapannya menuntut kepastian, tipe pria yang tidak terbiasa menerima penundaan.
"Jihan, aku butuh jawabanmu sekarang. Iya atau tidak?"
Suasana kamar rawat itu mendadak hening. Jihan menatap lekat ke dalam mata Darren, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah rasa lelah yang sama dengan yang ia rasakan—rasa lelah karena dikhianati oleh orang yang disayang.
Jihan tahu ini gila, tapi hatinya berbisik bahwa pria di hadapannya ini tidak berniat jahat.
Jihan menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya, aku mau," jawab Jihan, membuat binar lega langsung terpancar dari mata Darren. Namun sebelum Darren sempat berbicara lagi, Jihan cepat-cepat menambahkan dengan polos, "Tapi... Tuan Darren jangan kecewa ya kalau nanti aku makannya banyak?"
Mendengar kepolosan itu, tawa Darren pecah seketika, mengusir seluruh sisa rasa dingin yang sempat menggelayuti hatinya malam ini.