NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas akhir kesabaran

​"Kembalikan file-ku, Tyas! Aku tahu kamu yang hapus semuanya!" bentak Satya, akal sehatnya telah sepenuhnya lenyap terbakar emosi.

​Melihat Tyas yang hanya menatapnya dengan pandangan dingin dan meremehkan, ego Satya benar-benar runtuh. Tanpa memikirkan konsekuensinya lagi, Satya maju selangkah dengan cepat. Tangannya bergerak kasar, langsung mencengkeram kuat leher Tyas dan mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya membentur keras bodi mobil SUV milik Mbak Rani.

​"Uhuk! Sat... ya... lep—" Tyas terbelalak, pasokan udaranya terputus seketika. Kedua tangannya berusaha sekuat tenaga memukul dan mencakar lengan Satya yang mengunci lehernya dengan erat. Wajah Tyas mulai memerah, rasa takut yang luar biasa kembali menyerang kesadarannya.

​"Kamu pikir kamu bisa lepas gitu aja dari aku, hah?!" desis Satya dengan tatapan mata yang liar dan penuh dendam.

​Beruntung, di tengah kondisi yang mencekam itu, suara derap langkah sepatu bot yang tegas menggema di koridor basemen. Seorang satpam mall yang sedang berpatroli keliling mendengar keributan dan langsung berlari menuju arah mobil mereka.

​"Woi! Lepaskan! Jangan macam-macam kamu di sini!" teriak satpam tersebut dengan lantang sembari mencabut pentungan di pinggangnya.

​Melihat ada petugas yang datang, cengkeraman Satya mendadak melonggar karena terkejut. Tyas memanfaatkan momentum itu untuk menghentakkan tubuhnya, terlepas dari jeratan Satya, dan langsung berlari ke balik punggung sang satpam sembari terbatuk-batuk memegangi lehernya yang terasa panas.

​"Pak! Tolong saya, Pak!" seru Tyas dengan suara parau dan bergetar hebat, air matanya menetes karena syok. "Dia... dia orang gila, Pak! Saya sudah putus dari dia, tapi dia terus menguntit saya sampai ke parkiran ini dan mau mencelakai saya!"

​Satpam itu langsung memasang badan yang tegap, menghalangi jalan Satya yang hendak mendekat lagi. "Dek, mending kamu mundur sekarang! Jangan coba-coba berbuat kriminal di area saya, atau saya panggil tim densus sekuriti buat seret kamu ke kantor polisi!"

​Satya berdiri mematung, napasnya naik turun dengan cepat. Ia menatap Tyas yang bersembunyi di belakang satpam dengan pandangan penuh kebencian, namun di sisi lain, ia sadar posisinya sekarang sangat terpojok. Tanpa bukti foto di ponselnya, dan dengan tuduhan penguntitan serta kekerasan fisik yang disaksikan langsung oleh petugas, Satya tahu dia bisa mendekam di penjara jika nekat melanjutkan aksinya.

​Dengan tangan yang mengepal tinju hingga bergetar, Satya akhirnya mundur perlahan. "Urusan kita belum selesai, Tyas," desisnya lirih sebelum akhirnya berbalik dan berlari meninggalkan area basemen melalui tangga darurat.

​Setelah memastikan Satya benar-benar pergi, sang satpam menoleh ke arah Tyas yang masih gemetaran memegangi lehernya yang memerah. "Mbak tidak apa-apa? Perlu saya antar ke pos keamanan dulu atau langsung pulang?"

​Tyas menggeleng cepat sembari menyeka air matanya. Pikiran pertamanya saat ini adalah pulang dan mencari perlindungan dari satu-satunya pria yang ia tahu bisa menghancurkan Satya sepenuhnya. "T-tidak usah, Pak. Terima kasih banyak. Saya... saya mau langsung pulang saja."

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Tyas buru-buru membuka pintu mobil SUV milik Mbak Rani dan langsung melesat masuk ke dalam kabin. Ia segera menekan tombol central lock, mengunci seluruh pintu dari dalam. Suara klik pengunci pintu itu memberikan sedikit rasa aman, meski dadanya masih naik turun dengan cepat akibat pasokan oksigen yang sempat terputus.

​Tyas menyandarkan kepalanya ke setir mobil, memejamkan mata erat-erat sembari memegangi lehernya yang kini terasa perih dan mulai memerah membentuk bekas cengkeraman. Air matanya menetes satu per satu membasahi setir. Di dalam keheningan mobil, rasa syok dan amarah bercampur aduk menjadi satu. Satya sudah benar-benar nekat dan berbahaya.

​Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, Tyas menyalakan mesin mobil. Ia menginjak pedal gas dan perlahan melajukan kendaraannya keluar dari basemen mall yang mencekam itu, membelah jalanan kota menuju rumah.

​Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Tyas benar-benar kacau. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tadi tidak ada satpam yang lewat. Fokusnya sekarang hanya satu: sampai ke rumah dan menemui Angga. Rasa bersalahnya pada Mbak Rani mendadak terkikis habis oleh rasa butuh yang teramat sangat akan perlindungan.

​Tyas menyadari, di dunia yang penuh ancaman seperti ini, hanya kakak iparunyalah yang memiliki kekuatan dan kuasa untuk melindunginya dari bajingan seperti Satya. Kini, ia tidak peduli lagi dengan status terlarang mereka. Yang ada di kepalanya hanyalah mengadu pada Angga dan membiarkan pria itu menghabisi Satya sepenuhnya.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!