Orang Jahat adalah orang baik yang merasa sakit hati dan kecewa akan suatu hal yang membuatnya merasa tidak adil.
Perjuangan Axel dalam membalas dendam kepada Eric yang telah membunuh seluruh keluarganya.
Apa saja yang akan dilalui Axel ketika menjalankan misinya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Laiseu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan
Ceritanya makin ga jelas ga sih? 😭
Yaudalah lanjut aja yah.
Ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran, Axel masih sangat kaku untuk hal ini. Mungkin karena selama ini dia tidak dekat dengan wanita selain ibunya dan adiknya dan itu sudah sangat lama sekali. Sangat lucu sebenarnya untuk ukuran pria yang bahkan sudah tergolong tidak remaja lagi. Ya kini Axel sudah berusia 23 tahun.
Awalnya Jean ingin memperkenalkan Axel dengan teman-temannya, Jean ingin agar Axel bisa bergaul sewajarnya manusia pada umumnya, Axel pun tidak keberatan untuk hal itu. Saat tiba di perjalanan tiba-tiba langit menjadi mendung, awan yang tadinya putih berubah menjadi abu, semilir angin yang terasa dingin di kulit merapatkan jarak antara Jean dan Axel.
Tes.
Awan mulai menumpahkan airnya. pakaian mereka menjadi basah, tubuh Jean sudah menggigil kedinginan karena dinginnya air hujan. Jean menipiskan bibirnya, berlindung dari balik punggung Axel yang lebar tetapi itu tak cukup membuatnya hangat.
Dari balik kaca spion Axel barinisatif untuk meraih tangan Jean lalu melingkarkan ke perutnya. Pipi Jean bersemu, dipeluknya erat tubuh Axel.
"Trobos aja ya, hujan kaya gini pasti lama terangnya" ucap Axel kepada Jean.
Jean hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.
Setibanya di rumah Jean, Axel ingin langsung berpamitan tapi Jean menahan tangannya.
"Masuk dulu, ganti pake baju Papa mungkin ada yang muat" ucap Jean khawatir melihat keadaan Axel yang sudah basah kuyup.
"Papamu kan tidak suka kepadaku, lebih baik aku pulang saja" seru Axel menggingil kedinginan.
"T-tapi kalo kamu sakit gimana" Jean kekeh mengajak Axel masuk kerumahnya.
"Ga apa sayang" ujar Axel meyakinkan kekasihnya.
Blushhh.
Pipi Jean langsung memerah hanya karna ucapan sayang dari Axel. Melihat itu Axel justru salah paham dan mengira Jean sedang demam sehabis kehujanan dalam perjalanan pulang tadi.
"Cepat masuk, pipimu merah. Mandi air hangat" seru Axel dengan lembut.
Jean menyentuh pipinya "Ah, ini" menambah rona merah dipipinya semakin bertambah. Dia malu jika mengakui kalau itu bukanlah rona karena sakit melainkan panggilan sayang yang Axel tujukan kepadanya.
*Dasar cowo ga peka.
"Yaudah, kamu hati-hati di jalan" pasrahnya membiarkan Axel untuk pulang.
Bremmm.
Axel menyalakan mesin motornya, bergerak mulai menjauh dari rumah Jean. Sedangkan Jean masih terus memandangi motor Axel yang masih terlihat dari pandangannya.
"Syalalalala" Jean bersenandung kecil memasuki rumah begitu Axel sudah tidak terlihat lagi dalam pandangan, dia bergegas untuk mandi air hangat seperti yang diperintahkan Axel sebelum pulang tadi.
Semerbak bunga memenuhi kamar mandi Jean, berendam dengan ditemani lilin aroma terapi adalah kegemarannya. Mengosok badannya dengan lembut, tiba-tiba terlintas moment ketika Axel memagang tangannya dan menyuruhnya untuk memeluknya sepanjang perjalanan dan juga panggilan sayang tadi.
"Kyaaaaa" Jean menepuk-nepuk air di dalam bak berendamnya.
"Axel aku cinta kamu" serunya lagi sambil terus menyabuni tubuhnya.
Untungnya tadi saat pulang ke rumah, Ayah dan Ibunya sudah tertidur mengingat jam pulang Jean yang cukup malam. Pukul 23:00 tadi Jean baru sampai di rumah, Jean tidak bisa membayangkan bagaimana jika Orang tuanya mengetahui bahwa anaknya pulang dalam keadaan basah kuyup, mereka pasti semakin tidak menyukai Axel dan bodohnya dia mengajak Axel untuk menginap bahkan meminjam baju Ayahnya.
Jean terus mengerutu betapa bodohnya dia barusan, rasa kekhawatirannya kepada Axel begitu besar sampai lupa bahwa Ayahnya tidak menyukai bahwa dia dekat dekat Axel. Menurut Ayahmya, Axel bukannya pria baik, Jean ingin menyakinkan Ayahnya bahwa Axel tidaklah seperti Eric bahkan sekarang Axel sedang berusaha melepas kehidupannya sebagai seorang Mafia. Axel mengatakan bahwa dia tidak ingin Jean ikut terlibat dalam masalahnya padahal jika Jean bisa memilih, dia bahkan rela jika harus terjun kedalam dunia Mafia yang gelap itu sendiri, tetapi Axel tetaplah Axel, dia sangat menyayangi siapapun orang yang berada didekatnya, dia tidak akan perna mengijinkan Jean untuk ikut terlibat.
Jean ingin menghubungi Axel, menanyakan apakah prianya sudah sampai dirumah atau belum.
Blushh.
Apa tadi, prianya.
Pfttt Jean menahan senyumannya, kata yang tidak perna terpikir untuk dia ucapnya sebelumnya.
[To: Axel] Udah nyampe rumah belum.
Sudah lima belas menit berlalu tapi tidak ada balasan dari Axel, Jean tidak ingin berfikir negatif. Mungkin Axel sudah tidur karena kecapean.
Keesokan paginya Jean langsung bergegas mengecek ponsel, apakah sudah ada balasan dari Axel atau belum.
Jreng.
Ternyata tidak ada.
Jean merengut, mulai timbul rasa khawatir dalam hatinya. Jean kembali mencoba mengirim pesan.
[To: Axel] Pagi
Lima belas menit berlalu masih tidak ada jawaban dari Axel, tidak mungkin jika hanya kehabisan baterai menurutnya. Pasti sedang ada sesuatu yang sedang menimpah Axel.
Jean pun bergegas mengambil tas selempangnya lalu pergi berkunjung ke Mansion Axel.
Kediaman Axel sangat sunyi, meskipun rumahnya sangat besar bahkan bisa dibilang itu adalah Mainson tetapi hanya ada Axel sendiri yang tinggal disana. Pembantu yang datang pun hanya untuk bersih-bersih, Axel tidak suka jika barang-barangnya disentuh oleh orang lain, terlebih dulu kondisinya yang selalu siaga membuatnya sulit percaya kepada orang.
Tanpa menekan bel, Jean langsung memasukan pasword rumah Axel dan bergegas mencari keberadaan Axel dimana sekarang. Melihat dibawah tidak menampakan tanda Axel berada, Jean mulai menaiki tangga menuju kamar Axel.
Ceklek.
Dibukannya pintu kamar Axel, menampakan sosok Axel yang terbaring lemah berbalut selimut berwarna abu-abu warna yang senada dengan kamarnya yang memiliki nuansa maskulin, rambutnya acak-acakan tapi anehnya Axel tampak sangat imut dimata Jean.
Berjalan mendekat kearah ranjang, Jean mengulurkan tanganya menyentuh kening Axel yang terasa panas ditangannya.
"Eughh" Axel meleguh merasa tidurnya terusik.
"Axel, kau bisa dengar aku" tanya Jean.
"Jean" ucapnya terkejut melihat Jean yang kini tengah berada di sampingnya.
Saat Jean ingin pergi menuju dapur mengambil kompresan untuk Axel, tangannya ditahan "Mau kemana" cicitnya lemah menanyakan kemana Jean akan pergi.
Jean menjawab dengan lembut "Mau ke dapur ambil kompresan, sekalian buat bubur buat kamu"
Axel menganggukan kepalanya, memperbolehkan Jean untuk pergi.
Membuka pintu kulkas dan menyiapkan barang-barang untuk membuat bubur, untungnya Axel mempunyai seorang pembantu jadi semua yang dia butuhkan saat ini ada di dalam kulkas. Mulai dari mencuci beras, serta memasak bahan-bahan yang sudah dia siapkan menjadi bubur sangat mudah dilakukan oleh Jean yang memang gemar memasak.
┎┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┒
Kk saya sudah membawa
like👍“30”
jgan lupa back📖 ya💪
like nya👍
Komentar💬
Dan jgan lupa tingalkan jejak👣
Di-Novel “Wanita Raja Hantu😍👌
Saya tunggu✨ kehadiran nya🖤
Skian trimakasih👋
̲┖┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┚.