Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Membutuhkan Seorang Teman
Kepala desa menghela napas panjang menatap putrinya yang telah melakukan kesalahan. Singkat cerita Avily mengambil tugas untuk memantau salah satu gerbang yang muncul, beserta mengamati kemampuan manusia yang datang dari dunia lain dan kekuatan mereka dalam militer bagaimana.
Guru Satriaji menganga tak berkata apapun. Mengingat kalau manusia dari dunia ini sengaja melakukannya, akibat dari energi sihir di alam berkurang secara drastis akibat ulah mereka dan sama halnya seperti perusakan alam di bumi. Energi sihir berasal dari hewan sihir, saat mereka mati bangkainya akan mengeluarkan energi sihir dan bisa digunakan oleh manusia untuk menggunakan sihir.
Tapi, karena manusia membantai hampir seluruh binatang sihir pada akhirnya mereka pergi ke wilayah iblis sehingga energi sihir mengalami penurunan yang amat drastis. Bagi mereka yang sudah terbiasa dihidup mengandalkan sihir tidak bisa tinggal diam, meskipun begitu dunia ini di bagi dua wilayah.
Setengah dunia di atur oleh manusia. Sedangkan sisanya untuk para elf beserta mahkluk lainnya, dari setengah manusia hingga para iblis yang tinggal bertetangga dan jarang berselisih selalu hidup rukun tak pernah bertikai. Berbeda dengan manusia di dunia ini yang selalu memperebutkan wilayah.
"Lalu apa hubungannya mereka membuat gerbang ke dunia kami ?"
"Binatang sihir masuk ke dunia kalian, kalian membunuhnya tentu bangkainya akan mengeluarkan energi sihir dan energi itu akan terkirim ke tempat mereka dan itulah mengapa kalian bisa menggunakan sihir."
"Sejujurnya, pemerintah di setiap negara di dunia kami berniat untuk menjatuhkan senjata penghancur yang bisa meluluhlantakkan setengah dari dunia kami sanggup melakukannya Tapi, kami tak ingin ada korban nyawa dari kedua belah pihak maka bisakah Anda beritahu kami negara manusia berada ?"
"Dia berbohong bisa menghancurkan setengah dunia.. kenyataannya, mereka bisa membantai habis seluruh mahkluk di dunia ini.. Huhh.. mengapa kalian sampai mengusik ketenangan mereka ?" Ucapnya dalam hati seraya tersenyum kecut. Mereka takut akan peperangan, namun dibalik ketakutan terdapat banyak hal yang bisa membuat kemenangan berada di tangan dengan mudah.
"Mungkin sebaiknya kita lihat saja seberapa hebat kemampuan mereka," ujarnya dalam hati sembari berjalan keluar dari ruangan.
***
Sebagai bayaran atas informasi tentang negara manusia ketua desa elf meminta mereka untuk memburu beberapa monster kuat yang sulit ditangani oleh mereka. Team Satriaji dikirim untuk menaklukannya bersama beberapa elf, hanya bertiga saja cukup percaya diri sesudah mendengar karakteristik monster.
Sampai di depan gua Vlad menghela napas panjang. Dia menghunuskan pedangnya, sementara itu Artha yang menggantikan kedua anggota kelompok menatap gua dengan sinis. Dan Satriaji menembak ke dalam gua, dalam beberapa detik saja gua dipenuhi dengan api membuat monster buruan mereka keluar dari rumahnya.
"Vlad.." panggilnya.
"Aku tau itu kak!" Vlad melemparkan senjatanya. Senjata itu menusuk beruang besar yang dibakar hidup-hidup, bilah pedangnya menusuk ke perutnya dan ujung pedang mengeluarkan api merah menambah rasa sakit.
"M-Memang benar manusia itu semuanya kejam," ucap para elf dalam hati. Semua beruang yang ada dalam gua musnah. Mereka menghabisinya sekaligus tanpa menyisakan satupun, tugas Artha masuk ke dalam dan mengambil bangkai yang belum terlalu gosong. Meskipun tanah masih panas ia bisa menginjakkan kaki memakai sihir es.
"Panas dingin itu pastinya yang dirasakan Artha," ujar Satriaji menatap kak Tedy masuk ke dalam gua. Mereka yang ada di belakang menepuk pundaknya, Satriaji menoleh ke belakang menatap mereka dengan tatapan malas.
Otaknya memaksa untuk bertanya, "Ada apa mengapa kalian menepuk pundak ku seperti sudah akrab saja ?"
"Maaf atas kelancangan kami, tetapi apa kalian selalu menghabisi lawan dengan cara mengerikan seperti itu ?"
"Oh begitu ? Apakah kalian ingin mereka keluar dan salah satu dari kita terluka." Satriaji mengangguk berulangkali, dia menarik pedangnya menunjuk gua menjelaskan ada berapa banyak beruang yang ada dalam sesuai pengalaman semasa menjalankan tugas satu bulan ini. Yang mendengar mengepalkan tangan, mereka tahu perkataannya tidak salah hanya saja seolah tak bisa menerimanya.
Vlad yang merasakan para elf kelihatan gelisah tak mau berkelahi dengan temannya kembali setelah dimaafkan. 10 menit berlalu, Artha keluar tidak membawa apapun selain kepala salah satu beruang yang memiliki tanduk panjang bercabang-cabang seperti milik rusa.
"Sekali ngap langsung hilang kepala! Ahaha! Lolipop tanpa permen hanya batang!" Ucapnya terdengar keras. Yang tidak tahu apa itu lolipop tak bereaksi. Satriaji tersenyum masam, selagi Vlad mual membayangkannya dan perasaan jijik menyerang bersamaan saat melihat kepala beruang di tangan temannya itu.
Mereka ber-enam langsung kembali ke desa. Disambut oleh para tentara, Wiyanti menarik tangan kekasihnya membawanya pergi.
"Enak ya punya pacar, bisa ada yang khawatir."
"Apa kau pernah berpikir kalau gadis itu satu-satunya sumber kekuatan Artha ?" Tanya Satriaji melihat sosok keduanya pergi menjauh. Mulai sadar mengapa sejak awal bertemu, lelaki itu sering bersama perempuan itu tetapi awalnya terlihat seperti bukan kekasih melainkan bermusuhan.
Setelah salah mengambil pisau. Artha mulai memperlihatkan kebutuhan aslinya, alasan yang dibuatnya membutuhkan makanan yang bernutrisi saja tetapi nyatanya bukan. Mengejek orang lain seperti vampir tapi dirinya sendiri.
"Bagaimana, apakah kalian berhasil ?"
"Kepala desa, dengar! Mereka membakar semua beruang sekaligus tanpa belas kasihan!" Lantang suara mereka di belakang dan menjelaskan semua yang dilakukan ketiga manusia yang bersama mereka, hampir semua penduduk desa berbisik-bisik sambil memperlihatkan ekspresi takut serta cemas.
"Lakukan apapun untung menang, kalian memang tidak bisa tertebak dari mana asalnya juga.."
"Apa kita bisa segera pergi dari sini ?" Satriaji bertanya mengabaikan perkataan kepala desa.
"Kau tak perlu sedingin dan sebenci itu pada orang-orang di sini, kita sudah tau kalau itu hanya kesalahanpahaman, bukan ?"
"Sejak awal mengapa kita tidak menutup gerbang itu saja dan menggunakan senjata berat saja..." Lirih Satriaji sembari pergi berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam. Gurunya mengambil sebuah kalung pada saku bajunya, terdapat nama Satriaji di kalung berbentuk kubus ini namun dia masih merasa kalau anak itu belum cukup usia untuk lulus.
Sebelum anak lainnya yang bisa menahan emosinya lulus bersamaan bersamanya. Memang perbedaan kekuatan, serta kemampuannya beda jauh tapi saat amarahnya meledak takkan ada yang bisa menghentikan selain temannya.
"Seorang Satriaji membutuhkan seorang teman, kah ?" Guru tersenyum menatap ketiga elf remaja yang bersama anak didiknya. Menjelaskan apa yang terjadi di bumi karena adanya gerbang. Mereka bertiga sedikit kaget, tetapi cerita tentang kehidupan Satriaji tak mengubah pemikiran mereka tentang kekejamannya pada mahkluk hidup.
Karena seumur hidup, mereka tak pernah melihat seseorang atau siapapun menggunakan cara kejam semacam itu untuk mengakhiri nyawa. Apalagi telinga mereka mendengar kelas teriakan sakit dari beruang sebelumnya, bunyi keras terus berdengung bagai lebah yang memutari kepala mereka sampai sekarang belum berhenti sebentar pun.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?