Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##12
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca berbingkai kayu di dapur utama Cotswolds Estate. Dapur bergaya pedesaan Inggris yang luas itu dipenuhi cahaya keemasan. Keheningan pagi yang biasanya diisi oleh kesibukan para pelayan berseragam rapi kali ini terasa berbeda.
Di depan kompor gas besar berbahan besi tempa, Baxeena berdiri anggun. Jubah sutranya telah digulung hingga ke siku, dilapisi apron kain linen abu-abu yang terikat di pinggangnya. Tangan cantiknya bergerak sangat lincah; satu tangan mengocok telur segar dalam mangkuk porselen, sementara tangan lainnya mengendalikan sutil kayu untuk membalik pancake di atas wajan anti lengket yang sudah diolesi mentega.
Para pelayan dan juru masak mansion sebenarnya sempat panik saat mendapati sang Duchess sudah berada di dapur sejak pukul enam pagi. Namun, dengan wibawa dingin dan tatapan tegasnya, Baxeena memerintahkan mereka untuk keluar dan membiarkannya memasak sendirian.
Sebagai wanita independen dari Los Angeles yang terbiasa hidup mandiri di apartemen mewahnya sebelum kembali terjebak dalam intrik dinasti ini, Baxeena merindukan rutinitas memasak—sebuah terapi sederhana untuk mengalihkan pikirannya dari ciuman hangat Alistair semalam yang masih membuat dadanya berdesir heboh.
Langkah kaki yang ragu-ragu terdengar dari arah pintu masuk dapur.
Violet berdiri di sana. Gadis tiga belas tahun itu mengenakan sweater rajut oversized berwarna gading dan celana katun santai. Rambut pirangnya dikuncir kuda asal-asalan. Wajahnya menunjukkan rasa sungkan dan canggung yang begitu nyata. Ia memegang ujung sweaternya, menatap Baxeena yang sedang sibuk menyusun pancake hangat di atas piring saji.
Violet terbiasa melihat ibunya, Katherine, yang bahkan tidak pernah menyentuh gagang pintu dapur atau tahu cara menyalakan kompor. Di mata Violet selama ini, wanita bangsawan atau berstatus tinggi tidak pernah mengotori tangan mereka dengan urusan dapur. Melihat Baxeena—seorang wanita karier papan atas sekaligus Duchess—memasak sendiri tanpa bantuan seorang pun pelayan membuat Violet merasa kikuk.
Alistair melangkah masuk beberapa saat kemudian. Sang Duke tampil kasual dengan kemeja katun abu-abu yang kancing atasnya terbuka dan celana hitam santai. Bau harum mentega panggang dan kayumanis langsung menyapa indra penciumannya.
Alistair menghentikan langkahnya di samping Violet yang masih berdiri mematung di dekat pintu. Pria tinggi besar itu menunduk pelan, merangkul bahu kecil putrinya dengan kehangatan seorang ayah.
"Kenapa kau hanya berdiri di sini, Violet?" tanya Alistair pelan, suaranya bariton khas bangun tidur yang mengalun lembut.
Violet melirik ayahnya dengan sudut mata, lalu berbisik canggung, "Ayah... apakah Mommy Baxeena benar-benar memasak semua itu sendiri? Kenapa tidak menyuruh para juru masak saja? Bukankah itu... aneh?"
Alistair menyunggingkan senyum tipis. Manik mata hazel-nya menatap punggung Baxeena yang sedang menuangkan sirup maple di atas tumpukan pancake. Pemandangan itu membawa rasa hangat yang luar biasa ke dalam dadanya—sebuah pemandangan rumah tangga yang sangat ia impikan selama belasan tahun terakhir.
"Itu tidak aneh, Violet," kata Alistair lembut, meremas pelan bahu putrinya. "Cobalah untuk mengenali Mommy-mu lebih baik. Dia bukan hanya wanita yang kuat dan cerdas, tapi dia bisa menjadi teman yang sangat baik untukmu. Dia juga tempat yang tepat jika kau ingin mencurahkan isi hatimu... Mommy-mu adalah orang yang sangat tepat."
Violet mengernyitkan keningnya rapat-rapat. Ia mendongak menatap wajah ayahnya dengan raut penuh kecurigaan dan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Ayah berkata seperti itu seolah-olah Ayah mengenalnya dengan sangat baik," kata Violet dengan nada bertanya-tanya. "Bukankah dia wanita dari Los Angeles yang baru Ayah nikahi beberapa hari lalu karena aliansi? Apa Ayah pernah ke Los Angeles sebelumnya? Dan... apakah Ayah mengenal semua orang di sana, bahkan mengenal Mommy Baxeena sejak lama?"
Pertanyaan beruntun dari Violet menghentikan udara di antara mereka sejenak.
Alistair terdiam kaku. Garis rahangnya menegang tipis. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban taktis atas segala situasi militer dan politik itu kini kehilangan kata-kata.
Rahasia masa muda mereka—tentang apartemen rahasia di Mayfair, tentang masa-masa high school tempat mereka jatuh cinta sebelum pengkhianatan dan jebakan politik memisahkan mereka—bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah kepada anak remaja tiga belas tahun yang baru saja pulih dari trauma manipulasi ibu kandungnya.
Sementara itu, di depan kompor, Baxeena sebenarnya telah mendengar seluruh percakapan antara ayah dan anak itu sejak awal. Tangan Baxeena yang sedang memegang teko porselen berisi teh hangat sempat berhenti di udara selama satu detik saat mendengar ucapan Alistair, dan makin menegang saat Violet melontarkan pertanyaan tajam itu.
Namun, Baxeena adalah ulung dalam menjaga ekspresi. Ia dengan cepat menguasai dirinya, membiarkan tubuh dengan tenang, berpura-pura seolah-olah ia hanya fokus penuh pada piring-piring masakan yang siap disajikan di atas meja dapur granit. Ia sengaja membiarkan Alistair berjuang mengatasi pertanyaan putrinya sendiri.
Alistair berdehem pelan, mencoba menetralkan kegugupan yang amat jarang melingkupi dirinya. Ia menatap Violet kembali, mencoba memamerkan raut wajah sesantai mungkin.
"Ayah... Ayah bisa menebaknya dari... wajahnya," sahut Alistair akhirnya, suaranya sedikit terdengar canggung meski berusaha ditutupi oleh nada penuh keyakinan. "Bukankah wajahnya adalah wajah orang baik?"
Violet mengerutkan bibirnya, menatap Baxeena yang kini sedang meletakkan piring-piring saji ke atas meja dengan gerakan anggun. Gadis kecil itu memperhatikan wajah Baxeena—tulang pipi yang tegas, mata yang tajam namun memancarkan kejujuran, serta ketenangan yang tidak pernah ia temukan pada ibunya.
"Mungkin Ayah benar," kata Violet akhirnya, mengangguk pelan memutuskan. Rasa curiganya surut, berganti dengan penerimaan yang polos.
Baxeena menyunggingkan senyum sarat arti yang tersembunyi saat membelakangi mereka. Wajah orang baik? batin Baxeena memaki jenaka. Alasan konyol macam apa itu, Alistair Blackwood? Jawaban diplomatis yang sungguh buruk untuk seorang Komandan Tinggi Kerajaan.
"Jika kalian berdua sudah selesai membedah karakter wajahku dari jauh," kata Baxeena dengan nada suara galak namun hangat khas dirinya, memutar tubuhnya menghadap mereka. "Sebaiknya kalian duduk di meja makan sebelum pancake dan sosis ini dingin."
Violet sedikit terkejut karena kedapatan membicarakan Baxeena, namun rasa lapar dan aroma makanan yang lezat mengalahkan rasa sungkannya. Gadis itu melangkah pelan mendekati meja, menarik kursi kayu ek, lalu duduk di sana.
"Terima kasih... Mommy Baxeena," bisik Violet pelan, hampir tak terdengar, saat Baxeena menyodorkan piring berisi tiga tumpuk pancake lengkap dengan potongan buah stroberi segar di atasnya.
Baxeena menepuk bahu Violet pelan. "Makanlah yang banyak. Hari ini kita punya banyak waktu untuk mengelilingi area perkebunan jika kau mau."
Alistair duduk di kepala meja dapur. Saat Baxeena meletakkan cangkir teh Earl Grey panas di depannya, Alistair menengadah, menatap istrinya dengan binar mata hazel yang memancarkan rasa bersalah sekaligus ucapan terima kasih karena tidak membongkar kecanggungannya di depan Violet tadi.
Baxeena menundukkan tubuhnya sedikit saat merapikan serbet di dekat cangkir Alistair, memangkas jarak hingga hanya telinga Alistair yang bisa mendengar bisikannya.
"Wajah orang baik, huh?" bisik Baxeena sarkastik, nada suaranya tajam namun dipenuhi godaan yang amat halus. "Alasan yang sangat payah, Pangeran. Kau berutang penjelasan yang lebih cerdas untuk itu nanti malam."
Alistair terkekeh renyah—suara tawa rendah yang membuat dadanya bergetar. Pria itu menyenggol pelan pinggang Baxeena dengan tangannya secara tersembunyi di bawah meja saat Baxeena hendak berdiri tegak kembali.
"Aku akan menyiapkan argumen yang lebih baik nanti malam, Duchess," balur Alistair pelan dengan nada tengil yang membuat pipi Baxeena mendadak memanas.
Baxeena memberikan tatapan mematikan pada Alistair sebelum duduk di kursinya sendiri di samping Violet. Namun, di balik pura-pura marahnya, ada kehangatan yang tak terbantahkan yang melingkupi meja dapur pagi itu.
Suasana canggung yang menyelimuti keluarga kecil itu perlahan-lahan mencair, digantikan oleh gelak tawa kecil Violet yang mulai menikmati hidangan dan lelucon ringan yang dilontarkan Alistair.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭