Bermula dari murid pindahan dari kota yang bernama Rara Amelia Putri, dan Dewa hayunda seorang siswa yang tampan yang cuek dan lugu, yang tak pernah menyadari ketampanannya
Dewa terjerat tipu daya cinta Rara, dan membuat nya terbelenggu, hingga membuat Dewa terjebak dengan cinta terlarang
Kejadian berulang saat Dewa di bangku kuliah, bertemu Rara, seolah takdir menjodohkan mereka, Dewa menata kembali cintanya untuk menjadi lebih baik, tapi ternyata keinginan itu hanya sepihak, tidak dengan Rara, dalam kisah cintanya yang sedang mekar, Rara meninggalkan Dewa dan menikah dengan pria lain, membuat Dewa terpuruk dan jatuh dalam dunia hitam, kehadiran dosen cantik sebagai tuan mami, dan mas Rio yang menjadikannya kucing Anggora
Dalam perjalanan hidupnya bersama Rara Dewa memilik 2 orang anak, Arjuna dan Gading
Berakhir tuhan mengirimkan seorang malaikat bernama Dina, yang membantunya keluar dari kehidupan yang kelam
Wanita yang lembut dan bersahaja, yang memiliki cinta pertama bernama Dewa hayunda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH KEPUTUSAN
Setelah menikmati makan pagi, kami melangkah masuk lebih dalam ke ruang Cafe, ada alasan lain kenapa Rara memilih cafe ini, selain menyediakan tepat makan, dalam Cafe ini menyediakan wahana kolam renang yang cukup luas, di sisi kolam ada bangunan beberapa pendopo, kami melanjutkan pembicaraan di sana.
Menikmati hari bersama Rara, membuat kami tidak sadar waktu berlalu begitu cepat, bercerita tentang banyak hal, keindahan yang palsu tapi menyenangkan, aku merasakan hidup kembali setelah sekian lama.
"Dew" Rara memecah obrolan ringan kami,
"Heeemmm" jawabku santai
"Ada apa"
"Kamu benar nggak mau ke kosan aku, kamu nggak kangen tidur sama aku ?" Rara berbisik,
"No Rara" Dewa menolak ajakan Rara lembut,di sentilnya hidung Rara dengan jari telunjuknya
Rara tampak merengut manja, nada bicara Rara yang kalem, manja, suaranya mengalun lembut, menggodaku, membangunkan hasrat lelakiku. Bagaimana pun aku seorang lelaki normal, menghadapi godaan dari Rara yang sangat cantik dan seksi adalah kerja keras yang aku perjuangkan mati-matian.
"No" lanjut Dewa kembali
"Kita akan menikah Ra, dan kamu akan melihat anakmu, dia tampan, mata dan bibirmu ada padanya" ku raih tangan Rara, ku cium lembut dengan kasih sayangku yang tulus.
"Dew aku ingin melakukannya denganmu, itu sudah lama sekali, aku kangen" Rara bergelayut manja memeluk lenganku,
"No Rara, bersabarlah, aku akan berjuang untuk kita" jawabku mantap
Kuraih tubuh Rara menghadap padaku, ku peluk tubuhya yang berisi, ku c**m keningnya dengan penuh kasih sayang
"Harum kenanga, aku suka itu , heummmm, parfum kesukaanku" batin kecilku berkata
Saat ini kami duduk bersampingan, menikmati pemandangan kolam, yang terdapat satu dua orang berenang, kami tidak ingin berenang di sini atau melakukan sesuatu, kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama.
Ku raih rambutnya, ku elus dengan sayang, ku nikmati harum tubuhya, ku genggam tangannya, dan kami melewati hari ini hingga menjelang malam.
Entah berapa kali orang silih berganti menikmati olah raga renang, sedangkan aku yang sedang di mabuk cinta, rasanya hanya mendekap erat tubuh Rara mampu mengurai rasa yang ku pendam selama tujuh tahun, menghambur ratakan kebencian, kemarahan, dan traumaku.
"Rara, ayo kita mulai hari baru, lupakan yg sudah lewat, jadilah milikku seutuhnya, akan ku perjuangkan dirimu" bisik lembutku di telinganya
Rara menoleh di ci**nya bibirku lembut sembari tersenyum ia mengangguk setuju
Hari ini menjadi sejarah dalam hidup Dewa. Dewa memutuskan Rara menjadi pendamping hidupnya. Setelah sekian lama dalam kesendirian, jujur Rara adalah cinta pertama, kisah hidup bersamanya saat SMA, itu bukan cinta tapi tragedi, kali ini aku ingin merubah semua dan memulai dari awal.
*******
Terlihat Rara duduk di kursi depan kelasku, dia sudah menunggu sejak tadi, wajahnya yang cantik membuat dia menjadi pusat perhatian. Teman-temanku berbisik bertanya-tanya.
Rara adalah anak Akbid, dia kuliah di Poltekes Bandar Lampung, kampusnya lumayan jauh dari kampusku, sedangkan aku di universitas Teknokrat, kalo naik angkutan umum kira-kira ganti mobil 2 kali, tapi karena dia memiliki mobil sendiri jarak itu bukan halangan buatnya, jadi wajar saja kalau teman-temanku tidak ada yang mengenalnya.
Aku masih menyelesaikan jam mata kuliah yang terakhir hari ini, ku lirik dia sedang asik memainkan handphone ku,
"Ya handphoneku, kemarin dia menukarnya begitu saja"
Rara cuek saja dengan orang-orang yang menggodanya,
"Huaaaaaahhhhhh" aku merentangkan tanganku mengulat, tanda mata kuliah kali ini yang menguras tenaga dan pikiranku selesai. aku segera mengemas buku-buku, dan segera menghampiri bidadariku yang cantik
Setelah jam pelajaran usai, sempat buk Marsya yang berada di sebrang melihat, agak aneh dan serem, aku tersenyum menyambut tatapan buk Marsya, sembari melangkah menghampiri Rara dan kami berjalan pulang beriringan, ini adalah momen pertamaku berjalan bersama seorang wanita, tentu itu menjadikan kampusku gempar seketika.
******
Kami banyak menghabiskan waktu bersama, setiap ada kesempatan Rara selalu menemani ku, di kampus, saat kerja, dan kemanapun, kadang dia datang ke kosan ku.
Sore itu Rara datang ke kosan ku. Dia memasak sesuatu untukku
"Emang kamu bisa masak" tanyaku
"Bisalah," jawabnya manis.
"Ra, kamu pake baju terlalu terbuka, banyak orang memandangmu, mesum"
"Mau gimana lagi, itu aku, kamu nggak suka" jawab Rara, sembari mengecup keningku,
"Cobain masakanku" sendok berisi sedikit masakannya di sodorkan Rara di depan mulutku.
"Dengan senang hati aku mencobanya, hemmm Enak"
"Beneran "
"Heeeh" merenggut
"Beneran sayang" Dewa mencubit hidung Rara
Ku rebahkan badanku di kursi, sambil membaca buku, kubiarkan Rara sibuk sendiri, mencoba menjadi calon istri yang baik, mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci beberapa baju kotorku, merapikan baju-bajuku, dan entah apa yang di kerjakan nya dari tadi enggak selesai-selesai
"Ra sudahlah, sini duduklah denganku"
"Entar nangung, aku mandi sekalian" jawabnya dari belakang
Tempat yang ku tempati sebenarnya bukan kos-kosan melainkan satu rumah minimalis yang cukup nyaman, memiliki fasilitas dua kamar, dapur, kamar mandi lengkap, dan aku tinggal sendiri, aku tidak punya teman yang benar-benar dekat, teman-temanku biasa saja, terkadang ada yang tidur di sini.
Deni adik kak agung yang sering menemaniku, kadang teman SMA ku datang mengunjungiku, maklum setelah kami lulus dari SMA, hanya aku, Boy, galih yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, yang lain memilih bekerja.
Ku lirik Rara melewatiku, menuju kamar, rambutnya basah, harum bau sabun menyeruak masuk ke hidungku. Handuk putih membalut tubuhya, membuat jantungku berhenti berdetak sebentar
Tak lama dia sudah keluar kamar, dengan memakai kaos, oblong milikku, aku hanya meliriknya, baju yang kepanjangan sudah bisa menutupi badannya sampai ke lutut
Wanitaku satu ini memang sangat pandai memancing birahi lelaki, tubuh indah nya mampu membuat semua lelaki menelan ludah
"Sayang ayok makan dulu" sambut Rara, ia memegang piring berisi nasi dan sayur buatannya, di suapinya aku yang masih saja cuek, sibuk dengan bukuku.
Ku kunyah pelan-pelan, menikmati suapan demi suapan dari wanita tercantik yang sudah merebut hatiku ini.
Dewa santai tak menanggapi semua mata yang melihat kedekatannya dengan Rara. Rara yang selalu setia menemaninya setiap hari, mengantar jemput, hingga menemaninya belajar. Meski jam mata kuliah kami berbeda, membuat kami saling tunggu, tapi itu bukan masalah, kami tak merasa keberatan melakukannya.
Aku dan Rara seperti dua insan yang sedang di mabuk asmara, tiada hari yang terlewatkan begitu saja.
"Aaaaaak" Rara memaksaku membuka mulut,
aku hanya mendelik manis, membuka mulut memakan habis setiap suapannya,
"Mo pulang nggak ?" tanyaku pada Rara,
Rara merenggut, merasa aku mengusirnya
"Nggak gitu sayang, nggak enak di lihat tetangga, kamu di sini, kalo kita di tangkap, terus di arak, nggak lucu Kan" jawabku menenangkan tatapan marahnya
"Aku nggak mau pulang" jawab Rara,
Aku hanya diam saja mendengar jawaban Rara yang merajuk, sebenarnya aku berharap begitu, tapi aku ragu, siapa yang tidak ingin berdampingan lama-lama dengan kekasih hatinya