.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Baru hampir tertidur, tiba tiba seseorang menarik selimut Milo. Milo membuka matanya lalu menyalakan lampu, menatap Ranz yang menyebalkan itu dengan kemeja yang tidak dikancing.
"Gw udah hampir ketiduran, sialan!!" amuk Milo.
Ranz menarik Milo kedalam dekapannya. Milo memukul dada laki laki itu dengan kencang. "Lepasin, najis!!"
Ranz tidak melepaskan Milo. Dia memeluknya dengan erat, matanya terpejam. Memang salah Milo yang telah menyuruh Ranz menyicipi absinthenya.
Tubuh Ranz perlahan jatuh keatas kasur bersama dengan Milo. "Omaygat. Berat banget..." lirih Milo, dia berusaha menyingkirkan tubuh Ranz yang menimpa dirinya.
"Tell me its just my nightmare"
Ranz memeluk Milo lagi, Milo terbatuk karena tidak bisa bernapas. "Woy, minggir dong! Lo ga seringan hamster peliharaan gw!!" Milo mencoba mendorong Ranz, tapi laki laki itu terlalu berat.
"Masa gw begini terus sampe pagi? Sial banget hidup gw...Plis, tante Riya, bawa anak lo yang gila ini kerumahnya." gumam Milo sambil memukul mukul dada Ranz.
Ingin sekali dia berteriak, namun lidahnya terasa kelu untuk berteriak.
"Jangan pergi..." lirih Ranz, dia mempererat pelukannya.
"Plis bilang ke gw kalau kata kata lo bukan buat gw..." Milo menghembuskan nafas berat. "Gelagaseh?(Gila ga sih)" Milo, alay.
"Dingin, bangsat bangun!!" Milo tak hentinya mengumpat kata kata kasar.
Ranz membuka matanya, dia menatap kaget kearah Milo lalu dia bangkit. "Apa apaan nih?!" tanyanya panik, dia mengancingi kemejanya dengan matanya yang masih agak sipit, dia masih setengah mabuk dan setengah sadar.
Milo ikut bangkit. "Udah sadar lo? Lo tidur disofa, kasur ini milik gw!" Milo menyelimuti dirinya lalu berbaring diatas kasurnya.
Ranz mengancingi kemejanya lalu mencari cari jasnya. "Jas gw, lo liat?"
"Tadi lo lempar sambil bilang 'Panas...Panas....'" sahut Milo dengan nada mengejek, dia menatap Ranz dengan tatapan mengejek juga.
"Panas? Kapan gw bilang begitu?"
"Tau dah, inget inget aja sono!"
"Salah lo, lo nyuruh gw minum!"
"Salah lo, kan elo yang minum."
"Mana jas gw?"
"Ga tau. Cari aja sendiri. Lagian ngapain lo nyariin jas lo? Padahal tadi lo dengan santainya buka semua kancing baju lo. Mamerin kalo lo sixpack?!"
Wajah Ranz memerah, dia benar benar melakukan hal yang memalukan. "K-kan itu gw ga sadar!"
Milo berdecih. "Gw ngantuk, lo cari aja jas lo sampe pagi." Milo memutar posisinya dan tidur membelakangi Ranz yang kini sibuk mencari jasnya yang tadi dia lempar.
SEMUA KARENA ABSINTHE ITU!
•
•
•
"Argh! Ga bisa tidur!!" Milo mengubah posisinya menjadi tidur lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Ranz mengerjap kaget lalu menatap Milo. Laki laki itu masih sibuk mencari jas sialannya yang entah melayang kemana.
"Lo berisik, jancok!" Milo membuka jendela kamarnya, dia duduk diatas atap rumahnya sambil menatap langit malam, dia berbaring.
Saat kesepian atau sedih, Milo akan selalu berbaring dan menyendiri diatap, melihat bintang yang menghiasi langit membuatnya merasa seolah bintang itu menemaninya.
Milo mengambil hpnya yang ada disaku celananya. Dia memainkan hpnya, membuka galeri dan menatap lekat lekat foto seseorang yang kini dia lihat.
Foto seorang laki laki, yang pernah ada dikehidupannya lalu pergi begitu saja. Milo tidak ingin menangis, tapi dia seolah harus menangis setiap kali melihat foto itu.
Ah, lagipula laki laki mana yang akan menangis dengan mudah? Perlu diingatkan lagi kalau nama asli Milo adalah Viona dan dia adalah perempuan yang berdandan dan bergaya layaknya laki laki.
"Visco...." lirih Milo, dia merindukan laki laki yang bernama Visco itu.
Milo memejamkan matanya, membiarkan setitik air mata jatuh membasahi pipinya. 'Visco' nama orang yang dia rindukan akhir akhir ini.
Besok, hari spesial...Milo tidak boleh menangis, dia harus bahagia. Karena itu, sekarang dia menumpahkan segala kesedihannya malam ini.
Jam masih menunjukkan pukul 11, Milo masih bisa menangis sebelum jam 12 malam. Konyol....
"Visco, kamu...kakak kangen kamu...." dia menangis lagi. "Maafin kakak yang dulu lemah dan ga bisa jagain kamu" Milo menangis semakin deras, dia membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar. "Kakak udah berubah, demi kamu. Kakak harap dengan begini, kakak bisa jagain kamu...Visco, kamu janji ga akan tinggalin kakak, kan?"
Milo menangis deras malam ini, dia melihat pantulan dirinya lewat layar hpnya, matanya lebam walau dia sudah berhenti menangis.
Dia menyalakan layar hpnya, 13 menit lagi sudah tengah malam. Dia bangkit, mengantongi hpnya kesaku lalu kembali masuk kekamar lewat jendela.
"Lo abis dari mana?" tanya Ranz begitu melihat Milo kembali lewat jendela.
"Bukan urusan lo!"
"Lo abis nangis?" Ranz melangkah mendekati Milo.
"Dibilang bukan urusan lo! Tidur sana!"
"Mata lo bengkak"
"Lo mau tidur disofa atau dikasur."
"...." Ranz diam.
"Oke, lo tidur dikasur. Gw keluar!" Milo keluar dari kamar itu. Mina dan Lino sudah tidur. Riya dan Diko juga sudah pulang.
Milo melangkah kedapur, mengambil segelas air putih lalu meminumnya sampai habis. Dia berbaring disofa depan televisi. Menatap layar televisi yang datar dan berwarna hitam
Milo dapat melihat pantulan dirinya dilayar televisi karena lampu disana masih menyala terang. Dia menatap keranjang buah yang dipenuhi buah buahan diatas meja kaca didepan sofa tempatnya berbaring.
Dia menutup matanya, mencoba tidur dengan tenang.
•
•
•
Ranz menemukan jasnya yang ternyata terlempar kebawah kasur. Dia menggantung jasnya lalu berbaring diatas kasur. Dia menatap 2 selimut yang saling menyatu dibawah kakinya. Selimut yang seharusnya dipakai Milo a.k.a Viona.
Ranz bangkit, mengambil selimut itu dan turun kelantai 1 mencari cari Milo. Dia menemukan Milo tertidur diatas sofa didepan televisi. Ranz menyelimuti gadis tomboy itu lalu mematikan lampu disana.
Dia melangkah kembali kekamar, dia harap dia tidak merasa bersalah telah membuat gadis itu tidur disofa.
dh gw cari tapi gk dpt 😭😭