NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang Mengubah Segalanya

​"Anggap saja namamu sebagai Eve itu sudah mati" potong Lucien dingin.

"Di kediaman ini, kata-kataku adalah mutlak. Kau adalah Aveline Valois. Tidak ada protes."

​Eve membeku.

​Mata merah tua Lucien menatapnya lurus, menyalurkan tekanan hening khas seorang penguasa. Mulut kecil Eve yang baru saja terbuka untuk menyemprotkan serangkaian protes angsung terkatup rapat. ​

​'Tunggu dulu. Aveline?' Eve menunduk.

​Mata merah kecilnya berkedip pelan. Ingatannya tentang novel The Rose and Crown yang dulu dibacanya sampai tamat mendadak terputar kembali seperti gulungan film. Nama itu bukan sekadar nama acak yang dibuat Lucien.

Eve masih menatap Lucien dengan wajah kesal ketika nama itu terasa familiar. Dia mengerutkan kening. Nama itu pernah dia dengar. Bukan dari bagian cerita yang penting, melainkan dari percakapan Cedric Valois dengan Seraphina sang pemeran utama di dalam novel itu. Eve masih ingat karena waktu itu Cedric sempat membicarakan keluarganya, termasuk seorang adik angkat yang sudah meninggal ketika masih kecil.

Aveline, adik angkat Cedric.

Eve perlahan menurunkan garpunya, seketika ingatan cerita mulai muncul, Aveline memang tidak punya banyak peran dalam novel. Namanya hanya disebut beberapa kali dan setelah itu tidak pernah benar-benar dibahas lagi. Bahkan penampilan Aveline saja tidak pernah dijelaskan di dalam novel seperti apa. Eve bahkan tidak ingat apakah ada satu adegan yang benar-benar memperlihatkan Aveline secara langsung.

Yang dia ingat hanya satu hal, Aveline meninggal karena diracun, bahkan tidak ada detail jelas mengenai hal itu.

Eve berkedip, 'Jadi gue Aveline?' Dia menatap Lucien, lalu melihat sekeliling ruang makan yang luas itu.

Ternyata bukan kebetulan, bukan juga karena ceritanya berubah, karena sejak awal dia adalah Aveline Valois di dalam cerita, Eve menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia mencoba mengingat lebih banyak tentang bagian cerita tersebut, tetapi ingatannya tidak terlalu membantu. Aveline memang cuma karakter kecil, dan kalau memang benar-benar dia Aveline, cerita asli pasti akan tetap saja berlanjut sebagaimana mestinya.

'Berarti gue bakal mati karena diracun.' Eve menatap kosong ke piringnya selama beberapa detik.

Lalu dia mengambil kentang lagi.

'...Nanti aja mikirinnya.'

Lagipula dia baru empat tahun. Kematian Aveline dalam cerita terjadi ketika dia masih kecil, tetapi Eve tidak benar-benar ingat umur tepatnya. Yang jelas, masih ada waktu. Dan selama belum terjadi, dia tidak perlu panik.

Eve memasukkan kentang ke mulut sambil melirik Lucien. Eve mengunyah perlahan.

'Kalau memang ceritanya masih sama, berarti semuanya juga bakal berjalan seperti yang gue baca.'

Itu justru membuatnya sedikit lebih tenang. Setidaknya dia tahu apa yang akan terjadi secara garis besar. Dia tahu siapa saja tokoh pentingnya, tahu bagaimana cerita berkembang, dan tahu bahwa Aveline memang seharusnya menjadi bagian dari keluarga Valois.

'Untuk sekarang, hidup dulu.' Dia mengambil potongan ayam berikutnya.

'Makan juga, kapan lagi bisa makan enak gini.' Baru saja Eve hendak memasukkannya ke mulut, dia kembali teringat satu hal.

'Oh iya.' Tatapannya perlahan beralih kepada Lucien.

'Gue harus cari tahu siapa yang ngeracunin Aveline.' Namun setelah dipikir-pikir, Eve menghela napas kecil.

'Besok aja deh.' Dia kembali makan. Baginya hari ini sudah terlalu banyak kejadian untuk dipikirkan sekaligus.

Eve kembali makan dengan tenang. Untuk sementara, urusan siapa yang akan meracuninya beberapa tahun lagi bisa ditaruh di belakang kepala. Kalau dipikir-pikir, memikirkan pembunuh ketika perut masih lapar juga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Apalagi makanan di depannya terlalu sayang untuk dibiarkan dingin.

Dia mulai mencoba berbagai hidangan yang belum disentuhnya. Ada ikan yang dimasak dengan saus ringan, sayuran panggang, roti dengan mentega, sampai sup yang rasanya jauh lebih enak daripada makanan apa pun yang pernah dia dapatkan di panti. Eve bahkan sempat lupa menjaga sikap beberapa kali. Setiap kali menemukan makanan yang menurutnya enak, tangannya otomatis bergerak lebih cepat mengambilnya.

Salah seorang pelayan yang berdiri di belakangnya beberapa kali memperhatikan gerakannya, tetapi Eve tidak peduli. Dia sedang sibuk.

'Ini enak banget.' Dia mengambil sedikit lagi.

'Kalau tiap hari makan begini, mati muda juga rugi.' Pikiran itu membuat tangannya berhenti sebentar.

Eve menatap potongan daging di garpunya, ia memasukkannya ke mulut dan kembali makan. Di seberang meja, Lucien tampaknya sudah selesai dengan hidangannya. Pria itu meletakkan alat makannya dengan gerakan tenang, lalu mengambil serbet dan membersihkan sudut bibirnya. Eve yang sedang mengunyah sempat melirik.

'Cepet juga.'

Dia kembali makan tanpa terlalu memedulikannya. Namun beberapa saat kemudian, Eve menyadari bahwa ruang makan mulai terasa lebih sepi. Beberapa hidangan sudah diangkat oleh pelayan, sementara lilin di atas meja terus menyala dengan tenang.

Eve menatap piringnya, masih ada sedikit makanan.Dia ingin menghabiskannya. Bukan karena lapar sekali, tetapi karena di kehidupan dulu dia cuma makan sedikit, kalau meninggalkan makanan seenak ini rasanya agak sayang tangannya baru saja hendak mengambil potongan terakhir ketika suara Lucien terdengar dari seberang.

Tatapannya tetap tertuju pada Eve yang sejak tadi lebih banyak memperhatikan makanan daripada keberadaan orang di depannya.

"Besok, kau akan mulai belajar," ujar Lucien dengan nada datar.

Gerakan tangan Eve langsung berhenti. Garpu yang sudah hampir menyentuh piring tertahan di udara.

'Apalagi sekarang?' Dia mengangkat wajah perlahan.

"Belajaa?" tanyanya, pelafalannya masih terdengar cadel karena lidah kecilnya belum terbiasa mengucapkan beberapa kata dengan jelas.

Lucien mengangguk singkat. "Membaca, menulis, berhitung, etiket dasar, sejarah Elarion, dan beberapa pelajaran lain yang diperlukan."

Eve menatapnya selama beberapa detik. Kemudian dia menunjuk dirinya sendiri dengan garpu kecil yang masih berada di tangannya.

"Tapi... caya macih empat tahun," protesnya dengan wajah tidak percaya.

Lucien tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar kepada tubuh Eve yang kecil, kemudian kembali ke wajahnya. Ekspresinya sama sekali tidak berubah, seolah keberatan Eve tadi tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk dipertimbangkan.

"Aku juga mulai belajar sejak kecil," jawabnya tenang.

Eve terdiam. Dia menatap Lucien seperti baru saja mendengar argumen paling tidak masuk akal sepanjang hidupnya.

'Gila, orang gila.'

"...Itu kan Anda," balas Eve akhirnya, bibir kecilnya sedikit mengerucut. "caya bukan Anda."

Lucien hanya mengangkat alis tipis.

"Lalu?"

Eve membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban. Dia ingin mengatakan bahwa anak empat tahun seharusnya bermain, tidur siang, makan, lalu bermain lagi. Namun mengingat dirinya sekarang ada di kediaman Duke Valois, argumen itu kemungkinan besar bisa di sanggah dengan cepat.

Apalagi dia sebenarnya bukan anak empat tahun. Dia sudah pernah melewati masa sekolah, kuliah, bahkan bertahun-tahun bekerja sebagai dokter. Kalau dipikir-pikir, pelajaran seperti membaca, menulis, berhitung, dan sejarah justru bukan masalah baginya. Masalahnya adalah dia malas, hidup nya dulu sudah buat stress, full belajar, sekarang harus belajar lagi? sangat malas. Eve menghela napas kecil lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

'Baru juga bisa nikmatin hidup, udah dikasih jadwal sekolah.' Dia mengambil sepotong kentang lagi dan memasukkannya ke mulut.

'Gue kira bakal lebih santai.'

Lucien memperhatikan Eve yang kembali makan seolah pembicaraan mereka sudah selesai. Beberapa detik kemudian, dia kembali berbicara.

"Kau juga harus belajar etiket."

Tangan Eve berhenti lagi. Kali ini dia mengangkat wajah dengan ekspresi yang jelas-jelas tidak terima.

"Tenapa?"

"Karena kau sekarang bagian dari keluarga Valois."

Eve mengunyah perlahan sambil menatapnya. Dia melihat meja makan yang panjang, para pelayan yang berdiri dengan sikap tegak, serta peralatan makan yang bahkan tadi membuatnya harus mengintip cara Lucien menggunakannya. Eve menatap garpu di tangannya. Dia kemudian menghela napas kecil dan mengangkat wajah lagi.

"Kalau caya dak mawu?"

Lucien menatapnya datar.

"Kau akan tetap belajar. Akan kubuat prajurit menyeretmu ke ruang belajar."

Jawaban itu begitu cepat sampai Eve bahkan tidak sempat menyusun protes.Dia menatap Lucien beberapa detik, lalu perlahan menyandarkan dagunya di atas meja.

'Nyebelin.'

Namun setelah beberapa saat, Eve kembali mengambil garpunya. Lagipula belajar bukan sesuatu yang benar-benar sulit baginya. Kalau harus belajar untuk mempertahankan hidup di dunia ini, dia bisa melakukannya. Bahkan mungkin akan jauh lebih mudah daripada mengingat semua aturan makan bangsawan yang tadi hampir membuatnya kelaparan hanya karena tidak tahu harus menggunakan alat makan yang mana.

Eve menusuk sepotong daging dan memasukkannya ke mulut.

'Yang penting makanannya enak.'

Lucien masih mengawasinya.

"Kau tidak keberatan?"

Eve berhenti mengunyah dan menatapnya.

"Kebelatan."

Jawabannya begitu jujur hingga salah satu pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja sempat menundukkan wajah, entah untuk menyembunyikan ekspresi atau sekadar menjaga sikap.

Lucien hanya menatap Eve beberapa saat.

"Tapi kau tidak terlihat keberatan."

Eve mengerutkan hidung.

'Ya karena gue lebih memilih makan daripada debat sama orang gila.'

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!