NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Minta jatah

Suara gelak tawa para tamu sosialita perlahan memudar seiring berlalunya waktu sore. Bu Sandra dan rekan-rekannya pamit pulang dengan wajah yang penuh kepuasan, dan tak henti-hentinya melontarkan pujian atas keahlian Aisyah serta keramahan keluarga Wiraguna.

Begitu pintu jati berukir di depan tertutup rapat, suasana di ruang tamu mewah itu seketika berubah hening.

Bu Rosma berdiri kaku di tengah ruangan. Wajahnya yang berseri-seri saat mengantar tamu kini kembali mendingin, meski ada sedikit kecanggungan yang tak bisa ia sembunyikan.

Tangannya mengusap gaun sutranya yang licin, sementara matanya melirik Aisyah yang sedang dibantu Mbok Nah merapikan cangkir-cangkir porselen di atas meja kaca.

"Ehem..." Dehem Rosma.

Aisyah segera menegakkan tubuhnya, lalu menatap sang mertua dengan pandangan teduh dan senyum tulus tanpa sedikit pun rasa angkuh atas kemenangannya. "Iya, Mami? Ada yang perlu Aisyah rapikan lagi?"

Rosma melipat tangannya di dada. Ia ingin sekali mencari celah untuk mengkritik Aisyah, namun lidahnya seolah terkunci.

Kue tradisional buatan Aisyah memang tidak bisa dicela, bahkan Bu Sandra yang paling pemilih pun sampai meminta dibawakan bungkus tambahan untuk dibawa pulang.

"Kamu... lumayan juga," ujar Rosma akhirnya, yang berusaha terdengar sedingin mungkin meski gengsinya terkoyak. "Tapi jangan senang dulu! Ibu Sandra dan teman-temannya itu cuma formalitas memuji karena menjaga perasaan saya. Jangan kira hanya dengan klepon dan kue lumpur kamu sudah sah jadi menantu idaman di rumah ini!"

Aisyah menundukkan kepala dengan sangat santun. "Iya, Mami. Aisyah paham. Terima kasih atas kesempatannya hari ini. Tanpa bahan-bahan lengkap dari rumah Mami, Aisyah juga tidak bisa menyajikannya dengan baik."

Jawaban Aisyah yang begitu merendah makin membuat Rosma serbasalah. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, wanita paruh baya itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju kamar utamanya dengan ketukan tumit sepatu yang nyaring di atas marmer.

Sementara itu, Mbok Nah yang mengawasi dari balik pintu lorong dapur segera menghembuskan napas lega.

Ia mengacungkan dua jempolnya pada Aisyah dengan wajah yang sumringah. "Luar biasa, Neng Aisyah! Mbok baru pertama kali lihat Bu Rosma kehabisan kata-kata begitu. Neng Aisyah benar-benar pinter!"

Aisyah pun tersenyum tipis seraya menggeleng halus. "Ini semua berkat bantuan Mbok Nah juga. Alhamdulillah, ujian hari ini lancar."

Selanjutnya,

Aisyah membawa nampan berisi cangkir kotor menuju dapur. Namun, baru saja ia melewati lorong menuju tangga lantai dua, sebuah tangan kekar tiba-tiba menariknya pelan hingga tubuhnya berbelok ke balik dinding pilar besar.

"Eh—"

Aisyah hampir terpekik kaget, namun dekapan hangat yang sangat ia kenali segera mengurung tubuhnya.

Dimas berdiri di sana dengan senyuman lebar yang memancarkan rasa bangga luar biasa. Pria muda itu menatap istrinya dengan binar mata yang berbinar-binar.

"Mas Dimas... kaget Aisyah," bisik Aisyah terengah halus, sambil memegang dadanya. "Nanti kalau Mbok Nah atau Mami lihat..."

"Biarin aja," potong Dimas santai. Tanpa ragu, ia memajukan wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat di pipi halus Aisyah yang mendadak memerah. "Istriku hebat banget sih hari ini! Kamu tau gak, aku ngintip dari atas tangga tadi. Mami sampai bingung mau jawab apa pas Bu Sandra puji-puji kamu!"

Aisyah menunduk malu, lalu mengusap bekas kecupan Dimas di pipinya. "Mas Dimas jangan berlebihan... Aisyah cuma buat kue tradisional biasa kok."

"Biasa gimana? Itu kue tradisional kelas atas namanya!" puji Dimas antusias, lalu merangkul pinggang Aisyah dengan sikap manjanya yang mulai kumat.

Dimas kemudian menyandarkan dagunya di bahu Aisyah, dan menghirup aroma harum melati yang menempel di tubuh istrinya. "Aku bangga banget sama kamu, Syah. Makasih ya... kamu udah sabar hadapi Mami."

Aisyah menyentuh jemari Dimas yang melingkar di perutnya. Rasa lelah di tubuhnya seusai bergelut di dapur selama dua jam seketika menguap berganti kehangatan yang menjalar hingga ke lubuk hati.

"Ini sudah jadi kewajiban Aisyah, Mas. Aisyah kan sudah janji mau belajar jadi istri yang baik dan melunakkan hati Bu Rosma perlahan-lahan," tutur Aisyah lembut.

"Iya, tapi tetep aja kamu hebat," gumam Dimas serak, seraya makin mengetatkan pelukannya. Tidak hanya itu, tangannya juga mulai bergerilya pelan di pinggang Aisyah. "Gara-gara kamu hebat banget hari ini... rasanya aku mau kasih hadiah buat istriku tersayang."

Aisyah membelalak pelan saat merasakan perubahan nada suara suaminya. "Hadiah apa, Mas?"

"Hadiah di kamar..." bisik Dimas tepat di samping telinga Aisyah dengan nada menggoda yang nakal. "Gimana kalau kita naik ke atas sekarang? Mami kan lagi istirahat di kamarnya..."

Wajah Aisyah seketika memerah bagaikan udang rebus. Ia lalu menepuk lengan Dimas yang melingkar di tubuhnya.

"Mas Dimas! Ini masih sore..." bisik Aisyah panik sambil melirik ke arah koridor yang sepi. "Lagipula Aisyah belum mandi, masih bau asap dapur."

"Bau asap dapur aja wangi begini kok di hidung aku," goda Dimas yang tak mau kalah, sambil memanyunkan bibirnya dengan raut wajah anak mami yang manja. "Ayo dong, Syah... Sebentar aja..."

"Tidak boleh, Mas," balas Aisyah, lalu memutar tubuhnya menghadap Dimas dan merapikan kerah kemeja suaminya. "Nanti malam kan bisa... Sekarang Aisyah mau bantu Mbok Nah bersihin dapur dulu, terus kita persiapan salat Magrib."

Mendengar kata "nanti malam", mata Dimas seketika berbinar cerah. Rasa kecewanya pun menguap dalam sekejap.

"Beneran ya? Nanti malam gak boleh ada alasan capek lagi lho?" tuntut Dimas penuh kepastian.

Aisyah pun menundukkan kepalanya, lalu mengukir senyuman anggun yang begitu menawan di mata Dimas. "Insya Allah, Mas... Aisyah kan istri Mas Dimas."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!