Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jantung Faisal seakan melompat dari rongga dada nya begitu melihat tubuh gagah anaknya, namun tidak sempurna itu.
Tubuh Gibran begitu kokoh meski usianya masih terbilang muda di angka sembilan tahun.
Balutan perban pada bahu dan pelipisnya, tidak sedikitpun mengurangi mengurangi kadar ketampanan dan kekokohan tubuh nya.
Sayangnya, selalu ada sedikit cela yang dimiliki setiap makhluk dari nilai kesempurnaannya.
Tangan kiri Gibran..... panjangnya hanya sebatas di bawah siku dengan bentuk ujungnya seperti dua jari, mirip seperti capit kepiting.
Dada Faisal terasa sesak akibat di hantam kenyataan dengan beban miliaran ton.
Faisal seperti tidak sanggup melihat keadaan anaknya.
"Gi.... Gibran.....".
Lidah Faisal terasa kelu. Bibirnya yang menawan serta menggairahkan seperti kaku dan mati rasa.
"Ya. Gibran Al-Ghifari. Anak saya yang cacat karna kesalahan yang saya lakukan di masa lalu".
Melati luruh ke lantai saat itu juga. Ia seperti tidak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri.
Tangisnya semakin dalam dan kedua tangannya mencengkeram dadanya yang semakin sesak.
Faisal yang merasa khawatir melihat wajah pucat Melati yang semakin memburu dan nafasnya tercekat, segera meraih tubuh ringkih mantan istrinya.
Hingga Melati tidak tahan lagi dan ia kehilangan kesadarannya akibat emosinya yang semakin tinggi.
Melati pingsan. Pingsan dalam pelukan Faisal. Fian yang ikut panik pun segera menolong Faisal untuk membawa Melati.
~~
~~
Entah berapa lama Melati pingsan. Malam telah larut saat Melati membuka matanya.
Wajahnya kian terkejut saat mendapati sosok Pramono dan Ratri menunggui dirinya.
"Kamu sudah sadar, cah ayu?"
Suara Ratri bergetar. Matanya nampak sembab.
Bagaimana mungkin Melati tidur se-lama ini?
Dari Yogya ke temanggung membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
"Ndo--ndoro...."
Melati lantas bangkit dan memaksakan mengangkat kepalanya sendiri meski terasa pening.
"Jangan bangun dulu. Istirahatlah sampai tenagamu pulih."
Pram mengingatkan. Wajahnya nampak semakin tegas dan berwibawa seiring usianya yang semakin renta.
"Tap...tapi saya harus menemui Gib.... Gibran".
"Jangan khawatir. Gibran sudah di jaga ayahnya."
Ratri tersenyum meski air matanya tumpah.
"Kenapa kamu merahasiakan semua ini dari kami, nduk? Kenapa kamu memisahkan Gibran dari ayahnya? Apa kamu tau? Pernikahannya bersama Rianti tidak menghasilkan anak lelaki sedang mantan suamimu yang bodoh itu, selalu mengidam-idamkan anak lelaki selama ini?"
Tangis Ratri pecah tanpa bisa menunggu keadaan Melati membaik. Ia tidak sabar mendapat jawaban menyakitkan.
Faisal putranya, telah membuang wanita yang sangat tulus mencintainya. Hingga rela menukar kebahagiaan anak mereka dengan kebahagiaan Faisal.
"Sa--saya... saya...."
Pada akhirnya Melati memilih diam dan tidak menjawab. Dalam hal ini, ia memang salah.
"Maaf, ndoro sepuh, maaf, ndoro putri. Saya... saya ingin menemui Gibran".
Ratri dan Pram akhirnya mengangguk mengijinkan, kemudian mereka segera membawa Melati ke kamar rawat inap Gibran. Menjenguk Gibran yang masih setia memejamkan matanya.
Melati mendekat. Pandangan matanya kemudian bersirobok dengan Faisal yang duduk di samping ranjang Gibran.
"Kamu sudah sadar, Mel?".
"Ii....injeh, ndoro".
"Berhenti memanggil saya seperti itu. Panggil saya seperti saat kamu menjadi istriku".
Faisal menatap melati dengan pandangan sendu. Hatinya tersayat saat melihat wajah pucat dan lelah Melati. Selama ini, tentu Melati bekerja dengan sangat keras demi menghidupi dirinya sendiri dan Gibran. Apa lagi Gibran telah sekolah, tentu butuh biaya yang tidak sedikit.
"Tidak, ndoro. Maaf. Saya merasa tidak pantas".
Melati menunduk hormat lantas mendekat ke ranjang Gibran, mengusap pelan pipi Gibran dengan penuh sayang.
Faisal mendesah pasrah.
"Bagaimana asalnya sampai Gibran mengalami kecelakaan seperti ini, Mel?".
Faisal bertanya lirih. Matanya menatap lekat Melati yang menunduk. Jemari Faisal tidak pernah lepas dari ujung tangan Gibran yang lebih pendek. Sedang tangan Gibran yang kanan tertancap jarum infus.
Melati menghela nafas sejenak. Kemudian menghembuskan nya perlahan.
"Saat saya bekerja pagi menjelang siang tadi, pihak sekolah Gibran menghubungi saya, ndoro Faisal. Dari awal, teman-teman Gibran banyak yang menjauhi dan bahkan memusuhi Gibran karna keterbatasan fisiknya.
Di sekolah, Gibran seringkali menjadi korban bully anak-anak orang kaya, lantaran Gibran anak orang miskin seperti saya."
Air mata Melati kembali menetes. Begitu juga dengan Faisal yang merasakan kepedihan, meski matanya terpejam, namun air mata sialan Faisal tetap runtuh juga.
"Saya yang panik kemudian menuju kemari, Siang tadi, kepala sekolah juga mengatakan kalau anak-anak yang turut serta menjadi pelaku jahil terhadap Gibran, Akan di kenakan sanksi atau bahkan, di keluarkan dari sekolah.
Ndoro Faisal pasti tidak percaya, kalau Gibran ini anak yang paling berprestasi di sekolah"
Dengan bangga dan bergetar, Melati menyampaikan kelebihan yang di miliki putranya di balik kekurangannya.
"Itu lah sebabnya dia selalu menjadi murid kebanggan sekolah dan akan selalu di pertahankan".
Pramono dan Ratri mendekat ke arah Melati, duduk di sofa tunggu yang tak jauh dari tempat duduk Melati.
Mereka benar-benar tertarik dengan topik mengenai kelebihan anak Faisal yang selama ini jauh dari mereka.
"Apa kamu menderita, atau bahkan kekurangan makan saat mengandung anakku, Melati? Apa yang di katakan dokter alasan Gibran memiliki kecacatan pada tangan kirinya?"
Faisal bertanya lirih. Hatinya tersayat setiap kali menatap tangan kiri mungil putranya yang tidak sempurna.
Melati tersenyum getir sebelum menjawab.
"Saya dulu sempat frustasi, ndoro. Dua hari sebelum sidang putusan hakim di gelar, saya baru tau kalau ada Gibran di rahim saya.
Berbagai cara saya lakukan untuk melenyapkan Gibran saat itu. Obat peluruh kandungan, pelancar haid, rokok, minuman beralkohol....
Semua saya konsumsi. Tapi Gibran di takdirkan kuat dan terlahir untuk menemani kesendirian hidup saya. Tuhan tidak mengijinkan saya menggugurkannya......"
"Cukup, Melati.... saya, saya tidak sanggup mendengarnya".
"Tapi panjenengan yang ingin tahu dari awal, maka njenengan harus dengar ini sampai akhir".
Untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah, melati menatap netra mata Faisal dengan berani dan memperlihatkan emosi-emosi kesakitan yang selama ini Melati pendam seorang diri.
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩