NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Sang Kaisar Immortal

Kelahiran Kembali Sang Kaisar Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Membasuh Sumsum, Melangkah ke Jalan Keabadian

​Apartemen kecil berukuran tiga kali empat meter itu terasa pengap. Dindingnya mengelupas, dan satu-satunya jendela menghadap ke gang sempit yang minim cahaya matahari. Inilah tempat tinggal Arya dan Maya setelah aset keluarga mereka dirampas paksa oleh konspirasi Keluarga Wijaya.

​Arya membaringkan Maya yang masih syok di atas kasur tipis. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap dengan napas teratur, Arya menutup pintu kamar perlahan.

​Ia duduk bersila di tengah ruangan sempit itu, memejamkan mata, dan memutar kesadarannya ke dalam. Sebagai mantan Penguasa Alam Atas, Lin Tian, kekuatan rohnya masih tersisa setitik, cukup untuk memeriksa kondisi fisik tubuh fananya saat ini.

​"Mengenaskan..." Arya menghela napas panjang.

​Bukan sekadar lemah, tubuh ini dipenuhi oleh kotoran duniawi. Delapan Meridian Istimewa tersumbat rapat oleh racun dari makanan dunia fana. Lautan Dantian-nya sekering gurun pasir, dan Akar Spiritualnya tertutup lapisan debu tebal. Dalam standar dunia kultivasi timur, tubuh ini bahkan tidak layak menjadi pelayan sekte luar.

​"Energi spiritual, atau Qi Langit dan Bumi di planet ini sangat tipis, seolah disegel oleh formasi kuno raksasa," gumam Arya sambil meraba denyut nadinya. "Dengan Teknik Pernapasan Menelan Surga, aku memang bisa menyerap Qi secara paksa. Tapi tanpa tubuh yang kuat, meridianku akan hancur sebelum aku bisa mencapai Ranah Kondensasi Qi lapis pertama."

​Dalam dunia kultivasi, fondasi adalah segalanya. Jalan menuju keabadian dimulai dari Ranah Kondensasi Qi, dilanjutkan dengan Pembangunan Fondasi, Inti Emas, Jiwa Baru Lahir, hingga mencapai puncak Transformasi Dewa untuk membelah kehampaan.

​Untuk bisa menahan aliran Qi yang ganas, Arya harus melakukan Pembersihan Sumsum.

​"Aku membutuhkan obat spiritual. Ginseng berusia di atas lima puluh tahun, Teratai Salju, atau Jamur Lingzhi dengan aura bumi yang kental. Jika aku bisa meracik Cairan Pembersih Sumsum tingkat rendah, aku bisa menembus batas tubuh fana ini dalam semalam."

​Arya membuka matanya. Masalah terbesar dunia fana kini menghantamnya: Uang.

​Di kehidupan sebelumnya, kepingan emas atau batu spiritual tingkat tinggi tidak ada harganya. Jutaan sekte akan bersujud menawarkan harta karun langit dan bumi hanya demi mendengar satu kalimat ceramah Dao darinya. Tapi sekarang, di dalam saku celananya yang lusuh, hanya tersisa beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang kusut.

​Untuk membeli ginseng liar berusia puluhan tahun di apotek tradisional atau pasar barang antik, ia membutuhkan setidaknya ratusan juta rupiah.

​Arya bangkit berdiri, matanya memancarkan cahaya keemasan sekilas sebelum kembali normal.

​"Dalam tiga hari, aku berjanji akan meratakan Keluarga Wijaya. Bima Wijaya memiliki petarung bayaran dan koneksi dunia bawah. Aku tidak boleh gegabah melawan peluru tanpa perlindungan Qi Sejati.

​Arya mengambil jaket usangnya. Ia memutuskan untuk pergi ke Jalan Raya Tianhe—pusat perdagangan obat herbal tradisional dan barang antik terbesar di kota ini. Jika ada sedikit saja keberuntungan, ia mungkin bisa menemukan harta karun tersembunyi yang gagal dikenali oleh mata manusia biasa.

​​Jalan Raya Tianhe dipenuhi lautan manusia. Aroma tajam obat-obatan herbal bercampur dengan bau apak debu dari barang-barang antik memenuhi udara sore. Di sisi kiri dan kanan jalan, puluhan toko megah berlomba memamerkan plang emas mereka, sementara di trotoar, ratusan pedagang kaki lima menggelar tikar berisi barang-barang usang, koin kuno, hingga tembikar yang diklaim berasal dari dinasti masa lalu.

​Arya berjalan membelah keramaian dengan tangan di saku jaketnya yang lusuh. Tatapannya tenang layaknya air di sumur kuno, sangat kontras dengan hiruk-pikuk dunia fana di sekelilingnya.

​Sepanjang jalan, beberapa pedagang hanya meliriknya sebelah mata. Pakaian usang dan sepatu kets tipis yang dikenakannya sudah cukup menjadi indikator bahwa pemuda ini tidak memiliki kepingan kekayaan di sakunya. Di dunia ini, mata manusia hanya menilai dari kulit luar.

​Arya tidak mempedulikan tatapan meremehkan itu. Di mata seorang Kaisar Immortal, kaisar manusia dan pengemis di pinggir jalan tidak ada bedanya—keduanya hanya tumpukan tulang kering di hadapan aliran waktu yang abadi.

​Ia berhenti sejenak, memusatkan sisa-sisa kesadaran rohnya ke kedua matanya.

​Zhum!

​Sebuah cahaya keemasan yang sangat samar, nyaris tak kasatmata, melintas di pupil matanya. Ini adalah teknik rahasia tingkat rendah, Mata Wawasan Dao. Meskipun ia tidak memiliki Qi Sejati yang cukup untuk mengaktifkannya secara penuh, ini sudah cukup untuk melihat fluktuasi Energi Spiritual pada benda-benda di sekitarnya.

​Seketika, pandangan Arya berubah. Dunia yang penuh warna perlahan memudar menjadi abu-abu pudar.

​Matanya menyapu deretan toko megah yang menjual "Ginseng Gunung Berusia Ratusan Tahun" seharga ratusan juta rupiah. Arya hanya menggelengkan kepala.

​"Palsu. Itu hanya ginseng berusia sepuluh tahun yang disuntik dengan bahan kimia agar terlihat tua. Tidak ada sedikit pun esensi alam di dalamnya," gumam Arya dingin.

​Ia terus berjalan, melewati puluhan kios. Sampah. Semuanya hanyalah benda fana yang tidak berguna untuk kultivasi. Jangankan untuk meracik Cairan Pembersih Sumsum, menggunakan barang-barang ini hanya akan menambah kotoran di meridiannya.

​Tepat ketika ia hampir mencapai ujung jalan, langkah Arya tiba-tiba terhenti.

​Matanya yang sedingin es tiba-tiba menyipit. Di sudut paling sepi, seorang lelaki tua berpakaian compang-camping sedang duduk mengantuk di belakang tikar kecilnya. Di atas tikar itu, tergeletak beberapa pecahan mangkuk tua, koin berkarat, dan sepotong kayu hitam seukuran kepalan tangan yang tampak seperti arang sisa pembakaran.

​Namun, di bawah penglihatan Mata Wawasan Dao Arya, kayu hitam pekat itu tidaklah mati. Benda itu memancarkan aura hijau zamrud yang sangat murni, berdenyut pelan layaknya jantung makhluk hidup!

​Akar Pohon Roh Kayu Purba!

​Jantung Arya berdetak satu ketukan lebih cepat. Di Alam Atas, benda semacam ini bahkan tidak akan dilirik oleh pelayan sekte luarnya. Namun di Bumi yang miskin energi spiritual, ini adalah harta karun tak ternilai! Energi esensi kehidupan yang terkandung di dalam akar kayu itu telah terakumulasi selama ratusan tahun di bawah tanah. Jika ia bisa memurnikannya, bukan hanya Cairan Pembersih Sumsum yang bisa ia racik, ia bahkan bisa langsung menembus ke tahap awal Kondensasi Qi!

​Arya menekan kegembiraan di hatinya, melangkah maju, dan berjongkok di depan tikar lelaki tua itu. Ia berpura-pura melihat-lihat koin kuno sebelum jarinya dengan santai menyentuh kayu hitam tersebut.

​Sensasi dingin dan murni langsung menyengat ujung jarinya. Benar saja!

​"Paman, berapa harga kayu arang ini? Bentuknya cukup unik untuk kujadikan hiasan akuarium di rumah," tanya Arya dengan nada datar, tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan yang berlebihan.

​Lelaki tua itu membuka matanya perlahan, melirik pakaian Arya, dan mendengus pelan. "Itu bukan kayu sembarangan, Nak. Itu fosil kayu petir yang kudapat dari lereng gunung. Kalau kau mau, beri aku lima ratus ribu."

​Lima ratus ribu rupiah. Harga yang sangat murah untuk harta karun spiritual, tetapi bagi Arya saat ini, itu adalah masalah besar. Seluruh uang di sakunya tidak lebih dari seratus ribu.

​Arya baru saja akan membuka mulut untuk bernegosiasi ketika tiba-tiba, aroma parfum bunga teratai yang sangat wangi menyapu indra penciumannya.

​"Tunggu. Fosil kayu itu, saya berani membayar lima juta rupiah."

​Suara wanita yang merdu namun mengandung keangkuhan yang tak terbantahkan terdengar dari belakang Arya.

​Arya menoleh sedikit. Seorang gadis muda berusia awal dua puluhan, mengenakan gaun putih yang anggun dan kacamata hitam desainer, berdiri tidak jauh darinya. Kulitnya seputih pualam, dan auranya memancarkan keanggunan bangsawan yang terbiasa memerintah. Di belakang gadis itu, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan wajah kaku.

​Mata Arya menyipit saat menatap pria paruh baya itu. Dari tubuh pria itu, Arya bisa merasakan aliran energi tipis yang bergerak kasar di dalam nadinya.

​Oh? Praktisi bela diri fana? Sepertinya Bumi tidak semembosankan yang kukira, batin Arya tersenyum dingin.

​Gadis anggun itu melangkah maju, sama sekali tidak memandang Arya yang berjongkok, seolah pemuda itu hanyalah udara kosong. "Paman, bungkus kayu itu untukku sekarang."

1
yos helmi
💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍
yos helmi
🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄
yos helmi
sampai tamat ng nih.. coba saya baca.. kalo ng sampai tamat.. berarti aothor goblok.. mending mampus aj ni aothor kalo ng tamat.. 🤣🤣
Val's
membingungkan,, kan maya gak jdi ditabrak,, lagian jga dia udah sekolah,, kapan lumpuh nya ???
Val's
mantap
Val's
mannttaapp thorr 💪💪💪
Anna
aku suka cerita nya mudahan ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!