NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Orion

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah Reynard selesai membaca surat itu.

Suara mesin kopi dari belakang kafe.

Suara kendaraan yang melintas di jalan.

Suara sendok yang beradu dengan cangkir dari meja lain.

Semuanya terasa jauh.

Kabur.

Seolah dunia sedang bergerak di tempat lain sementara mereka bertiga terjebak dalam satu kalimat.

"Orion sudah berada di antara kalian sejak awal."

Almira menatap surat di tangan Reynard.

Kemudian menatap Dimas.

Lalu kembali menatap Reynard.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memulai penyelidikan ini, sebuah pikiran yang tidak menyenangkan muncul.

Bagaimana jika mereka memang tidak bisa mempercayai siapa pun?

Termasuk orang-orang yang selama ini membantu mereka.

Dimas adalah orang pertama yang memecahkan keheningan.

"Baik."

katanya pelan.

"Aku benci surat ini."

"Itu reaksi yang wajar."

jawab Reynard.

"Karena sekarang aku mulai curiga pada semua orang."

"Termasuk kami?"

tanya Almira.

Dimas tersenyum tipis.

"Itu bagian yang menyenangkan."

"Tidak ada yang menyenangkan dari ini."

"Benar."

Senyum itu langsung menghilang.

Karena tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bercanda.

Almira mengambil surat itu.

Membacanya sekali lagi.

Perlahan.

Lebih teliti.

Ia mencoba mencari sesuatu.

Petunjuk.

Kode.

Atau makna tersembunyi.

Namun yang paling mengganggunya justru bukan kata "Orion".

Melainkan kalimat sebelumnya.

Jangan percaya siapa pun yang terlalu dekat dengan kalian.

Terlalu dekat.

Bukan siapa pun.

Terlalu dekat.

Seolah Raka secara sengaja ingin mengarahkan perhatian mereka pada lingkaran terdekat.

Keluarga.

Teman.

Sekutu.

Atau...

Dimas.

Atau Reynard.

Pikiran itu langsung membuat Almira merasa bersalah.

Karena beberapa bulan lalu ia mungkin tidak akan ragu mencurigai Reynard.

Sekarang?

Sekarang itu terasa jauh lebih sulit.

Dan kesadaran tersebut membuatnya tidak nyaman.

"Kita harus mencari tahu siapa Orion."

kata Reynard.

"Kalau nama itu memang penting."

"Kalau?"

ulang Almira.

"Surat ini hampir membuatku terkena serangan jantung dan kamu masih bilang kalau?"

"Itu cara bicara."

"Itu cara bicara yang buruk."

Dimas mengangkat tangan.

"Aku senang kalian masih sempat berdebat."

"Kenapa?"

"Karena itu berarti kalian belum panik."

"Aku panik."

jawab Almira.

"Aku hanya melakukannya dengan elegan."

Untuk pertama kalinya sejak surat itu dibaca, Reynard tertawa.

Pendek.

Namun cukup untuk membuat ketegangan sedikit berkurang.

Mereka memutuskan kembali ke apartemen.

Tidak ada gunanya mendiskusikan hal sebesar ini di tempat umum.

Terutama setelah mengetahui bahwa mereka mungkin sedang diawasi.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan.

Justru sebaliknya.

Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan.

Nama Orion.

Raka yang ternyata mungkin masih hidup.

Aldebaran.

Dan kemungkinan bahwa seseorang di lingkaran mereka tidak dapat dipercaya.

Almira duduk di kursi belakang sambil menatap jendela.

Sesekali matanya tertuju pada refleksi Reynard di kaca depan.

Dan setiap kali itu terjadi, ia langsung mengalihkan pandangan.

Karena pikirannya mulai mengarah ke tempat yang tidak ia sukai.

Tempat yang sama sekali tidak logis.

Karena sekarang bukan waktu yang tepat memikirkan perasaan.

Mereka sedang membongkar organisasi rahasia.

Mereka mungkin diburu.

Dan seseorang bernama Orion mungkin sedang bermain dengan hidup mereka.

Namun entah kenapa, semua itu tidak menghentikannya untuk memperhatikan hal-hal kecil.

Seperti cara Reynard menggenggam setir.

Cara pria itu tetap tenang ketika situasi memburuk.

Atau cara ia selalu memastikan semua orang aman sebelum memikirkan dirinya sendiri.

Sial.

Almira mulai membenci dirinya sendiri.

Sementara itu, Reynard juga sedang berjuang dengan pikirannya sendiri.

Dan itu tidak jauh lebih baik.

Karena setiap kali ia mencoba fokus pada Aurora, pikirannya justru kembali pada satu kejadian di balkon apartemen beberapa hari lalu.

Ketika ia menangkap tangan Almira.

Ketika jarak mereka begitu dekat.

Ketika selama beberapa detik ia lupa pada semua masalah yang ada.

Itu seharusnya tidak terjadi.

Sangat tidak seharusnya.

Namun semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas kenangan itu muncul.

Hebat.

Mereka sedang mengejar konspirasi dua puluh tahun.

Dan otaknya memilih memikirkan Almira.

Dimas yang duduk di sampingnya memperhatikan ekspresi itu.

Kemudian menghela napas panjang.

"Ini menyakitkan."

katanya.

"Apa?"

tanya Reynard.

"Aku berada di mobil yang sama dengan dua orang yang jelas-jelas menyukai satu sama lain."

Mobil hampir oleng.

"APA?!"

seru Almira dan Reynard bersamaan.

"Itu dia."

jawab Dimas santai.

"Itu yang kumaksud."

"Tidak ada yang menyukai siapa-siapa."

kata Almira cepat.

"Benar."

sahut Reynard.

Dimas mengangguk.

"Tentu."

"Jangan gunakan nada itu."

"Nada apa?"

"Nada yang mengatakan kamu tidak percaya."

"Aku memang tidak percaya."

Almira menutup wajah dengan kedua tangan.

Sementara Reynard mengancam akan menurunkan Dimas di tengah jalan.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, mereka benar-benar tertawa.

Namun suasana ringan itu tidak bertahan lama.

Karena ketika mereka tiba di apartemen, sesuatu sudah menunggu mereka.

Sesuatu yang membuat semua candaan langsung menghilang.

Pintu apartemen terbuka.

Padahal mereka yakin telah menguncinya.

Ketiganya langsung membeku.

"Jangan masuk."

bisik Reynard.

Namun semuanya sudah terlambat.

Karena seseorang jelas telah berada di dalam.

Mereka masuk perlahan.

Tidak ada suara.

Tidak ada tanda-tanda perusakan.

Tidak ada barang yang hilang.

Namun ruang tamu terlihat berbeda.

Sangat berbeda.

Karena di atas meja terdapat sebuah benda yang tidak mereka tinggalkan sebelumnya.

Sebuah kotak kayu kecil.

Kotak tua berwarna hitam.

Diletakkan tepat di tengah meja.

Seolah sengaja menunggu mereka pulang.

"Aku benci ini."

gumam Almira.

"Kali ini aku setuju."

jawab Reynard.

Dimas mendekat perlahan.

Kotak itu tidak terkunci.

Tidak ada jebakan yang terlihat.

Namun semua orang tetap waspada.

Dengan hati-hati ia membuka tutupnya.

Dan seluruh ruangan langsung hening.

Karena isi kotak itu hanya satu benda.

Sebuah jam saku tua.

Berwarna perak.

Dengan simbol yang sama seperti yang pernah mereka lihat di dokumen Aurora.

"Apa ini?"

bisik Almira.

Dimas mengangkat jam tersebut.

Lalu membaliknya.

Dan menemukan ukiran kecil di bagian belakang.

Tulisan tangan.

Sangat kecil.

Namun masih terbaca.

Untuk Orion.

Jantung ketiganya langsung berdegup keras.

Karena nama itu muncul lagi.

Dan kali ini bukan dalam surat.

Melainkan pada benda yang baru saja dikirim seseorang ke apartemen mereka.

"Ini bukan kebetulan."

kata Reynard.

"Tentu saja bukan."

jawab Almira.

"Lalu kenapa benda ini ada di sini?"

Tidak ada yang bisa menjawab.

Namun Dimas tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Ada yang lain."

katanya.

Ia membuka tutup kotak lebih lebar.

Dan menemukan secarik kertas kecil tersembunyi di bagian dasar.

Kertas itu hanya berisi satu baris tulisan.

Tulisan yang tampaknya baru dibuat beberapa jam lalu.

BERHENTILAH MENCARI ORION.

KARENA ORION SUDAH MENEMUKAN KALIAN.

Keheningan langsung memenuhi apartemen.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang berbicara.

Karena untuk pertama kalinya...

mereka tidak lagi memburu petunjuk.

Petunjuk itu yang datang memburu mereka.

Dan di suatu tempat yang tidak mereka ketahui...

seseorang sedang memperhatikan setiap langkah mereka.

Seseorang yang mengetahui lokasi mereka.

Mengetahui apa yang mereka temukan.

Mengetahui apa yang mereka pikirkan.

Dan orang itu baru saja mengirim pesan yang sangat jelas.

Permainan telah memasuki babak baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!