Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.
Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.
Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
figuran tunangan antagonis
Suasana di ruang tamu rumah keluarga Vareza terasa begitu kaku dan berat. Udara seolah berhenti bergerak sejak Elena melontarkan kalimat itu—“Karena aku tidak mau mati muda hanya karena menjadi penghalang dalam rencana orang lain.”
Damian Aditya tidak bergerak sedikit pun. Matanya yang hitam pekat menatap lurus ke dalam mata Elena, seolah berusaha menyelami setiap sudut pikiran gadis itu. Selama ini ia mengenal Elena sebagai sosok yang pendiam, patuh, dan jarang berani menatap matanya lebih dari tiga detik. Hari ini berbeda. Ada ketegasan yang tidak dimiliki Elena versi aslinya.
“Mati muda?” ulang Damian pelan, suaranya rendah dan berat. “Kau bicara seolah sudah tahu kapan dan bagaimana nasibmu sendiri.”
Elena menelan ludah, tapi tetap mempertahankan tatapannya. Ia tidak bisa bilang kalau ia tahu isi novel itu, jadi ia harus memilih kata yang aman tapi cukup masuk akal.
“Aku hanya membaca situasi, Tuan Damian,” jawabnya tenang. “Kita berasal dari dua keluarga besar yang bersaing diam-diam. Dunia tempat kita hidup ini penuh intrik dan bahaya. Menjadi pasangan seseorang sepertimu… rasanya seperti berdiri di ujung tebing. Satu langkah salah, aku bisa jatuh dan hancur. Lebih baik berpisah sekarang sebelum salah satu dari kita terluka parah.”
Damian diam cukup lama. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja marmer dengan irama lambat, menimbulkan bunyi yang makin menambah ketegangan. Di luar jendela, pengawal-pengawal berpakaian gelap berdiri tegak mengawasi setiap sudut—ciri khas kehidupan mereka yang tidak pernah benar-benar aman.
“Baik,” kata Damian tiba-tiba, membuat Elena hampir terkejut. “Aku setuju untuk membatalkan pertunangan ini… dengan satu syarat.”
“Hah?” Elena mengerjap. “Syarat apa?”
“Selama proses pembatalan belum selesai secara resmi di depan kedua keluarga dan rekan bisnis, kau tetap harus berperilaku sebagai tunanganku. Tidak boleh ada tingkah yang mempermalukan nama keluarga Aditya maupun Vareza. Kalau kau melanggarnya, pertunangan ini tetap berjalan, dan kau tidak akan punya kesempatan kedua untuk mengajukan permintaan ini lagi.”
Elena berpikir cepat. Ini risiko, tapi juga satu-satunya jalan yang terbuka. Kalau ia menolak, bisa saja Damian berubah pikiran dan mempertahankan pertunangan ini demi gengsi.
“Baiklah. Aku terima syaratnya,” jawabnya mantap.
Damian mengangguk pelan, lalu berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar.
“Dan Elena… hati-hati. Di dunia ini, mereka yang ingin hidup tenang justru sering menjadi sasaran pertama. Jangan sampai keputusanmu ini membuatmu terjebak dalam masalah yang lebih besar dari sebelumnya.”
Setelah sosok tinggi itu menghilang, Elena baru merasakan lututnya lemas. Ia duduk di sofa sambil menghela napas panjang. Langkah pertama berhasil, tapi perjuangan baru saja dimulai, pikirnya.
Keesokan Harinya di SMA Adiwangsa
Berita bahwa Elena ingin membatalkan pertunangannya dengan Damian sudah menyebar bagai angin kencang di lingkungan sekolah. Semua siswa membicarakannya—ada yang terkejut, ada yang menganggap Elena gila, ada juga yang iri diam-diam.
Di koridor utama, Elena baru saja turun dari mobil mewah keluarga Vareza ketika sebuah suara lembut tapi menusuk telinga terdengar dari samping.
“Elena, apa benar yang kudengar? Kau ingin membatalkan pertunangan dengan Damian?”
Elena menoleh. Itu Clarissa, berdiri di samping Arga dengan senyum manis yang terlihat tulus, tapi matanya menyimpan rasa ingin tahu yang mencurigakan.
“Memang benar,” jawab Elena singkat, tidak ingin berbasa-basi terlalu lama.
Clarissa meletakkan tangan di dadanya seolah terkejut. “Wah, kenapa tiba-tiba begitu? Damian itu orang yang sangat baik, lho. Mungkin dia hanya terlihat dingin, tapi hatinya sebenarnya lembut. Jangan sampai kau menyesal nanti.”
Di sampingnya, Arga hanya diam, menatap Elena dengan tatapan datar. Baginya, masalah pertunangan orang lain tidak terlalu penting, selama tidak mengganggu dirinya dan Clarissa.
Elena hanya tersenyum tipis. “Itu urusan pribadi kami, Clarissa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ia berniat melanjutkan langkah, tapi tiba-tiba tubuh seseorang menabraknya dengan cukup keras. Buku-buku yang dibawa Elena terjatuh berserakan di lantai.
“Aduh, maafkan aku! Aku tidak sengaja…”
Suara lembut itu membuat Elena menoleh. Itu Luna, yang wajahnya terlihat panik dan takut. Ia segera berjongkok ingin mengambil buku-buku itu.
Namun sebelum Luna sempat menyentuhnya, Clarissa lebih dulu bersuara dengan nada yang berubah sedih dan sedikit kesal.
“Luna, hati-hati dong! Ini barang milik Elena, tunangan Damian. Kalau sampai rusak, bisa jadi masalah besar lho. Kenapa kau selalu ceroboh begini?”
Arga langsung mengerutkan dahi. Matanya menatap tajam ke arah Luna. “Benar kata Clarissa. Kenapa kau tidak melihat ke depan? Kalau kau menyakiti Elena, kau tahu akibatnya kan?”
Wajah Luna langsung memucat. Ia menunduk dalam, suaranya bergetar. “Aku benar-benar tidak sengaja… maafkan aku.”
Elena yang melihat kejadian ini mengerti persis apa yang sedang terjadi. Ini lagi-lagi trik Clarissa. Ia sengaja membuat situasi agar Arga marah pada Luna, seolah gadis itu memang selalu berbuat salah. Padahal tadi ia melihat sendiri—Clarissa yang diam-diam mendorong bahu Luna sedikit ke arahnya.
Elena segera berjongkok mengambil buku-bukunya sendiri, lalu berdiri sambil menatap semua orang dengan tenang.
“Tidak apa-apa,” katanya lantang. “Ini hanya kecelakaan biasa. Tidak ada yang rusak, dan tidak ada yang terluka. Tidak perlu dibesar-besarkan.”
Semua orang tertegun. Bahkan Luna mengangkat wajahnya dengan tatapan terkejut—ia tidak menyangka Elena akan membela dirinya. Biasanya tokoh-tokoh kaya lain hanya akan memarahinya atau menganggapnya rendah.
Clarissa terlihat sedikit kaget, lalu kembali memasang senyum manis. “Kalau begitu syukurlah. Aku hanya khawatir saja.”
“Terima kasih sudah khawatir,” jawab Elena datar, lalu menoleh ke Luna dan berbisik pelan hanya untuk didengarnya, “Jangan takut, tidak ada yang salah denganmu.”
Setelah itu, Elena berjalan pergi menuju kelasnya, meninggalkan kebingungan di wajah Arga, rasa curiga yang makin dalam di hati Clarissa, dan rasa bingung sekaligus lega di hati Luna.
Namun Elena tidak sadar, dari ujung koridor yang agak gelap, sepasang mata dingin sedang mengamati semuanya. Damian datang ke sekolah hari itu untuk urusan tertentu, dan ia melihat jelas bagaimana Elena bersikap berbeda dari biasanya—tidak sombong, tidak memihak, dan justru bersikap adil.
“Dia benar-benar berubah,” gumam Damian pelan. “Dan perubahan ini… bisa jadi membahayakan, atau justru menyelamatkan dirinya sendiri.”
Saat pelajaran usai, Elena baru keluar dari gerbang sekolah ketika sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di depannya. Jendela kaca turun, memperlihatkan wajah Damian yang tampak lebih serius dari biasanya.
“Masuk,” perintahnya singkat.
Elena mengerutkan dahi. “Kita sudah sepakat, bukan? Sampai belum resmi, aku tetap bersikap sebagai tunanganmu, tapi tidak perlu pergi ke mana-mana bersamamu setiap saat.”
Damian menatapnya tajam. “Ada kabar dari kedua keluarga. Besok malam akan diadakan makan malam resmi untuk membahas keputusan pembatalan pertunangan itu. Kalau kau tidak bisa meyakinkan mereka malam itu, maka syarat kita batal. Kau akan tetap menjadi tunanganku sampai kapan pun.”
Hati Elena berdebar kencang. Ujian sesungguhnya sudah di depan mata.
“Baiklah,” jawabnya dengan tenang yang dipaksakan. “Aku akan siap.”
Damian mengangguk, lalu mobilnya melaju pergi meninggalkan Elena yang mulai menyusun rencana di dalam kepalanya. Ia tahu, malam itu bukan hanya soal membatalkan pertunangan, tapi juga pertarungan untuk mempertahankan nyawanya sendiri.