Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ditegur Keluarga
Keesokan paginya, suasana di ruang makan keluarga Ardiansyah terasa begitu kaku dan berat. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela kaca besar tak sanggup menghangatkan hawa dingin yang menyelimuti ruangan itu. Di ujung meja panjang yang berkilau, Pak Ardiansyah duduk tegak, wajahnya keras dan serius, tangan kanannya menggerakkan sendok teh pelan-pelan dengan gerakan terukur, tanda bahwa ia sedang menahan emosi yang meluap. Di hadapannya, Naya duduk dengan kepala tertunduk, jari-jarinya saling bertautan di pangkuan, hatinya berdebar kencang karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi.
Semalam, pengakuan jujur Bagas dan kehangatan perasaan di antara mereka sempat membuat Naya merasa seolah bisa menaklukkan dunia. Ia pikir, dengan kebenaran di pihaknya, segala rintangan akan runtuh dengan sendirinya. Tapi ia lupa satu hal, bagi ayahnya, dan bagi dunia tempat mereka hidup, kebenaran hati sering kali kalah oleh aturan, status, dan pandangan masyarakat.
"Semalam supir melihatmu di taman dalam gedung, berdua saja dengan Bagas sampai larut malam," suara Pak Ardiansyah terdengar rendah, berat, dan penuh penekanan, memecah keheningan. Ia tidak menatap anaknya, tapi tatapannya yang tajam menembus ke arah Naya seolah sedang melihat kesalahan besar. "Dan bukan cuma semalam. Belakangan ini, mataku tidak buta, Naya. Ayah melihat perubahan tatapanmu, caramu bicara, dan caramu menunggu keberadaan pemuda itu. Ayah diam saja karena masih memberi kesempatan padamu untuk sadar sendiri. Tapi ternyata kamu semakin jauh, bukan semakin sadar."
Naya mengangkat wajah perlahan, matanya sudah berkaca-kaca namun tekadnya mulai tumbuh. "Ayah... kami cuma bicara. Kami membicarakan hal-hal yang dituduhkan orang. Aku cuma ingin memastikan kebenaran, Ayah. Bagas orang yang baik. Dia orang yang paling tulus yang pernah aku kenal. Semua omongan buruk tentang dia itu salah besar, Ayah. Dia tidak pernah berniat jahat sedikit pun."
Pak Ardiansyah menghentakkan tangannya pelan ke meja, membuat cangkir bergetar. Ia menatap tajam ke arah anak gadisnya, matanya menyala marah bercampur kekecewaan.
"Baik? Tulus? Apa gunanya kata-kata manis itu kalau kenyataannya dia tidak setara, Naya?!" bentak Pak Ardiansyah, suaranya meninggi namun tetap terjaga wibawanya. "Kamu anakku satu-satunya. Kamu pewaris seluruh kekayaan dan nama baik keluarga Ardiansyah. Kamu lahir di istana, dibesarkan dalam kemewahan, dididik dengan standar tertinggi. Lalu apa? Kamu mau berhubungan dengan dia? Anak orang miskin yang dulu menyapu lantai di bawah kakimu? Kamu gila? Kamu mau mempermalukan kami sekeluarga di hadapan seluruh masyarakat?"
"Ayah, itu tidak adil!" seru Naya tak tahan lagi, air mata mulai menetes di pipinya. "Kekayaan dan kemiskinan itu cuma nasib, Ayah! Itu cuma soal rezeki Tuhan! Nilai seorang manusia bukan dilihat dari apa yang dia punya, tapi dari otaknya, dari hatinya, dan dari kelakuannya! Bagas punya segalanya itu, Ayah! Dia jauh lebih mulia, jauh lebih cerdas, dan jauh lebih berharga daripada banyak orang kaya yang kita kenal tapi hatinya busuk!"
"Cukup!" Pak Ardiansyah berdiri tegak, napasnya memburu karena marah. Ia menunjuk ke arah Naya dengan telunjuknya yang gemetar. "Dengarkan baik-baik kata-kata Ayah ini, Naya. Ini untuk terakhir kalinya. Bagas boleh pintar, Bagas boleh berguna, dan Bagas boleh kubayar mahal jasanya. Tapi sampai kapan pun, dia tetaplah anak miskin yang harus tahu diri. Dia ada di sini karena aku beri dia makan, karena aku beri dia pekerjaan. Dia tidak punya hak lebih dari itu, apalagi berani-berani mendekati anakku. Itu sudah melampaui batas."
Pak Ardiansyah mendekat sedikit, nadanya menjadi tegas dan mutlak, tak bisa dibantah lagi.
"Aku melarang keras kamu berhubungan, bicara berdua, atau ada urusan pribadi apa pun dengan pemuda itu. Mulai hari ini, aku pindahkan dia ke kantor cabang jauh di luar kota, atau aku berhentikan saja dia kalau perlu. Aku tidak mau nama baik keluarga ternoda, dan aku tidak mau anakku terjebak dalam khayalan bodoh yang akan menyengsarakan hidupmu seumur hidup. Kamu harus mengerti posisi kita, Naya. Kamu harus tahu diri. Dan kamu harus ikuti perintah Ayah, atau..."
Kalimat itu terputus, tapi ancamannya sudah sangat jelas. ''Atau ikuti perintah, atau hilang hakmu sebagai anakku.''
Naya terdiam lemas, air matanya mengalir deras. Ia berada di persimpangan jalan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Di satu sisi ada ayahnya, orang yang melahirkannya, membesarkannya, dan memberinya segalanya, yang ia cintai dan hormati seumur hidup. Di sisi lain ada Bagas, laki-laki yang mengajarkannya arti ketulusan, laki-laki yang berjuang mati-matian demi dirinya, laki-laki yang dicintainya sepenuh hati. Memilih satu berarti kehilangan yang lain. Dan bagi Naya, keduanya sama-sama berharga, sama-sama tak ingin ia lepaskan.
Di saat yang sama, di ruang kerja staf ahli di lantai atas, Bagas berdiri diam di dekat jendela kaca besar yang memandang ke arah kota. Ia tidak mendengar percakapan ayah dan anak itu, tapi ia sudah tahu pasti apa yang akan terjadi. Ia sudah menduga sejak awal. Ia sudah tahu bahwa status sosial dan perbedaan kasta adalah musuh terberatnya, yang takkan bisa dikalahkan hanya dengan kecerdasan atau kerja keras.
Beberapa saat kemudian, telepon di mejanya berdering. Itu panggilan dari Pak Ardiansyah. Suara di seberang sana dingin, kasar, dan penuh penghinaan terselubung. Intinya satu.
Bagas harus menjauh. Bagas harus tahu diri. Bagas hanyalah karyawan yang beruntung, jangan bermimpi terlalu tinggi.
Dan kalau ia masih punya rasa terima kasih dan harga diri, ia harus pergi sendiri, menjauhkan diri dari Naya, supaya gadis itu tidak terlibat masalah dan konflik batin.
Bagas meletakkan gagang telepon perlahan. Wajahnya tenang, tapi hatinya terasa dicabik-cabik. Ia tidak marah pada Pak Ardiansyah. Ia mengerti sekali cara pikir seorang ayah. Ia tidak marah pada dunia yang memandangnya rendah. Ia sudah terbiasa. Yang paling menyakitkan hanyalah satu hal: ia melihat betapa berat beban yang kini dipikul oleh Naya. Ia membayangkan wanita itu menangis, berperang batin, terjepit di antara cinta dan kewajiban. Dan itu semua terjadi karena dirinya.
"Kalau aku terus maju, kalau aku terus bertahan, aku malah bikin dia sakit hati, aku malah bikin dia bertengkar dengan ayahnya, aku malah bikin dia jadi duri dalam daging di keluarganya..." gumam Bagas pelan, matanya berkaca-kaca namun tak ada air mata yang jatuh.
"Aku cinta dia. Aku ingin dia bahagia. Tapi bahagia macam apa kalau dia harus memilih antara aku dan ayahnya? Bahagia macam apa kalau dia harus dikucilkan dari keluarganya, dari dunianya, cuma demi aku?"
Di detik itu, Bagas mengambil keputusan paling berat dan paling mulia dalam hidupnya. Ia tidak akan memaksa. Ia tidak akan bertengkar. Ia tidak akan menuntut hak. Ia akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang benar-benar mencintai wanitanya. Ia akan mundur teratur, demi kebaikan wanita itu sendiri.
Siang itu, saat Naya kabur dari rumah dan berlari ke ruangan Bagas dengan napas terengah, berniat bilang bahwa ia siap menentang ayahnya demi cinta, berniat bilang bahwa ia akan berjuang sampai akhir. Ia justru disambut oleh senyum tenang dan dingin dari Bagas.
Bagas sudah membereskan sebagian barang-barang di mejanya. Di atas meja, sudah ada surat pengunduran diri yang ditulis rapi.
"Bagas..." panggil Naya lirih, kakinya lemas melihat pemandangan itu. "Apa ini? Kamu mau ke mana? Ayah sudah bicara sama kamu ya? Jangan dengar omongannya! Aku sudah putuskan, Bagas. Aku tidak peduli apa kata ayah, apa kata dunia. Aku ikuti hatiku. Aku bersamamu. Kita lawan semuanya berdua, ya? Jangan tinggalkan aku..."
Naya mendekat, ingin memegang tangan Bagas, ingin mencari kekuatan seperti biasanya. Tapi Bagas mundur selangkah, menjauhkan diri. Gerakan kecil itu terasa seperti pukulan telak bagi hati Naya.
Bagas menatap Naya lekat-lekat, menatap wajah yang begitu ia cintai, menatap mata yang begitu indah yang menjadi sumber semangatnya selama ini. Ia menyimpan setiap sudut wajah itu dalam ingatannya, karena ia tahu ini mungkin terakhir kalinya ia melihatnya dari dekat.
"Naya..." suaranya lembut namun tegas, bergetar menahan rasa sakit yang luar biasa. "Kamu tidak bisa memilih aku. Dan aku tidak boleh membiarkan kamu memilih aku."
"Kenapa?!" seru Naya histeris, air matanya tumpah ruah. "Kenapa kamu bicara begitu? Bukankah kita sudah janji? Bukankah kamu bilang kamu berjuang supaya pantas? Sekarang saatnya, Bagas! Sekarang kita buktikan pada semua orang bahwa cinta kita lebih besar dari apa pun!"
Bagas menggeleng pelan, senyum getir terbit di bibirnya.
"Kita bisa melawan omongan orang, Naya. Tapi kita tidak bisa melawan kenyataan. Kenyataan bahwa ayahmu itu satu-satunya ayah yang kau punya. Kenyataan bahwa keluargamu, namamu, duniamu... semuanya ada di sana. Kalau kamu memilih aku, kamu kehilangan semuanya.
Kamu kehilangan ayahmu, kamu kehilangan tempat tinggalmu,
kamu kehilangan identitasmu.
Dan aku... aku tidak sanggup melihatmu jatuh, melihatmu menderita, melihatmu dikucilkan, hanya demi aku yang tidak punya apa-apa ini."
Bagas menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar dingin dan tidak terpengaruh perasaannya sendiri.
"Ayahmu benar, Naya. Aku cuma anak miskin. Aku boleh pintar, aku boleh berguna, tapi sampai kapan pun, latar belakangku tetap sama. Aku tidak mau jadi penyebab hancurnya hubungan ayah dan anak. Aku tidak mau jadi alasan kamu bertengkar dengan keluargamu.
Dan aku, aku punya harga diri juga. Aku tidak mau terus berada di sini, makan gaji dari ayahmu, sambil dia selalu menganggapku penggila harta atau orang yang tidak tahu diri."
"Jadi kamu menyerah?" tanya Naya lirih, suaranya patah-patah.
"Kamu menyerah begitu saja setelah semua perjuanganmu? Setelah semua rasa sakit yang kita lewati?"
"Aku tidak menyerah pada cintaku, Naya. Aku justru mencintaimu terlalu besar, sampai aku rela mundur demi kebaikanmu," jawab Bagas pelan, matanya menatap dalam ke manik mata Naya yang hancur. "Biarkan aku pergi. Biarkan aku hilang dari pandanganmu.
Biarkan kamu kembali jadi Naya yang ceria,
Naya anak tunggal keluarga Ardiansyah, Naya yang pantas mendapatkan yang terbaik setara dengan dirimu. Jangan cari aku lagi.
Anggap saja... aku tidak pernah ada."
Itu adalah kalimat terakhir. Kalimat yang paling kejam sekaligus paling tulus yang pernah terucap.
Bagas berbalik, berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Naya yang terkulai lemas menangis di lantai, hancur hatinya berkeping-keping. Ia berjalan tegak, tak menoleh lagi walau hatinya berteriak ingin berbalik, walau kakinya terasa berat sekali melangkah. Ia tahu, di mata orang lain, ia terlihat seperti pengecut yang lari saat ujian datang. Tapi di hatinya, ia tahu ia sedang melakukan pengorbanan terbesar seorang laki-laki: melepaskan yang dicintai demi kebahagiaannya, walau itu berarti menyiksa dirinya sendiri seumur hidup.
Di luar sana, Pak Ardiansyah melihat kepergian Bagas yang tenang dan penuh martabat. Ada rasa lega di hatinya, tapi ada juga rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Dan di sudut kota yang jauh, Rian mungkin akan tertawa puas lagi karena mengira rencananya berhasil.
Tapi mereka semua salah satu hal. Meski raga Bagas menjauh, meski jarak memisahkan, cinta itu tidak mati. Cinta itu hanya disimpan, ditanamkan dalam-dalam, menunggu waktu yang entah kapan akan datang, menunggu saat di mana Bagas akan kembali lagi, bukan lagi sebagai anak miskin yang harus tahu diri, tapi sebagai laki-laki hebat yang mampu menaklukkan dunia, lalu datang kembali mengambil apa yang menjadi haknya dengan kepala tegak, tanpa rasa malu, dan tanpa ada yang berani melarang.
Sementara itu, Naya duduk sendirian di tengah ruangan kosong itu, menyadari bahwa ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus hidup di dunianya yang mewah namun kini terasa hampa dan kosong, menanggung rasa rindu yang tak bertuan, dan menunggu nasib yang belum tertulis.