NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Sesampainya dirumah keluarga Bai cabang kedua, ikan dibagi. Delapan hidup dan empat mati, jatah untuk Bai Lushi.

Dengan bersenandung kecil, sesekali melompat menari, Bai Lushi pulang kerumah bersama ember yang bergoyang pelan.

"Nenek, ibu..!" seru Lushi, mengangkat tangan kirinya, memamerkan ikan yang sudah dibersihkan.

Nenek Bai dan nyonya Mei, yang sedang menjahit pakaian baru diberanda, mendongak kearah asal suara.

"Besar-besar sekali ikannya..!" kata nenek Bai.

"Shu-ya dan A-zi, sangat hebat. Mereka bisa menombak ikan tepat sasaran." puji bangga Lushi, mengenang aksi kedua saudara sepupunya tadi.

Bai Lushi menaruh ember ditanah, lalu membuka tutupnya "nenek, ibu, lihat..! masih ada lagi."

Mata nenek Bai dan nyonya Mei mendelik, bibir keduanya membola. Ember itu penuh ikan besar yang sedang melompat meronta.

"Sebanyak ini..?"

Bai Lushi mengangguk bersemangat, mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Tadi kami memberikan satu pada nenek Pan, lalu menyisihkan tiga ekor untuk nanti diberikan ke keluarga bibi Muwan."

"Bagaimana caranya kalian bisa menangkap ikan sebanyak ini..?" tanya nyonya Mei masih setengah percaya.

Ayah mertua dan suaminya saja yang seorang pria dewasa, belum pernah mendapatkan tangkapan ikan besar semelimpah itu.

Lah ini anak-anak----

Sangat ajaib sekali.

"Memakai umpan cacing yang dimasukan kedalam bubu, lalu Shu-ya dan A-zi menggunakan tombak kayu."

"Semudah itu..?" tanya nenek Bai.

Lushi mengangguk "aku juga merasa aneh nenek, ikan-ikan disungai tadi mendatangi rakit bambu kami. Mereka muncul dipermukan air seperti ada sesuatu yang memanggil."

"Setelah Shu'er tersambar petir, ada saja hal ajaib yang terjadi jika berhubungan dengannya." gumam nyonya Mei.

"Ya, kau benar...!" ringis nenek Bai, mendadak merinding disekujur tubuhnya.

Untuk sejenak, ketiga wanita berbeda generasi itu menatap ikan yang sedang gelut didalam ember, dengan perasaan campur aduk.

"Sudah, cepat mandi, biar ibu yang memindahkan ikan ini kekolam."

"Baik ibu...!"

Lushi menaruh bubu ketempatnya, berlari kecil menuju kamar guna mengambil kain linen kasar yang dipakai menjadi handuk, serta baju ganti.

Nenek Bai kedapur seraya membawa ikan yang telah dibersihkan, kemudian mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak hidangan makan siang.

Sedangkan bibi Mei pergi kearea sumur dimana kolam batu berada.

Sementara itu dikediaman keluarga Bai cabang kedua, euforia suka cita sudah mereda. Kesemua penghuni rumah kini sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Tiga ekor ikan yang telah dibersihkan dijemur oleh Bai Anshu, sebab ia ingin membuat ikan asap pedas esok.

Sementara yang satu ekor akan diolah menjadi sup pada bagian kepalanya, sementara badan akan digoreng gurih.

"Paman, bibi...!" seru lantang dari halaman rumah.

Bai Dashan meletakkan keranjang setengah jadi yang ia pegang, lalu bangkit guna melihat siapa tamunya.

"Kalian, ayo, cepat masuk..!" sambut ramah Dashan pada ketiga keponakan lelaki dari pihak sang istri.

"Kami membawa ini paman..!" tunjuk Junyi pada enam keranjang dan satu ember berisi kerang.

"Bantu paman membawanya kehalaman belakang." sahut Dashan.

"Kakak sepupu...!" sapa Hanzi, turun tangan membantu.

"A-zi, bagaimana kabarmu..?"

"Sangat baik...!"

Chen Muwan menyuguhkan teh daun mint, serta wowotou isi telur daun bawang.

Anshu dan Jinyu menyambut ramah ketiga sepupunya. Mereka mengobrol akrab dengan diselingi canda tawa.

"Lain kali sewa saja gerobak untuk mengangkut semua itu, jangan menyiksa diri kalian begini." tegur gemas sekaligus nelangsa Chen Muwan, kala mengetahui jika ketiga keponakannya berjalan kaki.

"Ya, kakak sepupu lebih baik sewa gerobak saja, jadi bisa mengangkut lebih banyak barang. Untuk uang sewanya, biar menjadi urusan kami." Anshu menimpali.

"Baik...!"

Bai Dashan menghitung kerang, lalu menimbang bunga pinus, daun cemara kipas, mugwort, kacang pedang, serta lerak.

Dua ratus dua puluh tiga koin, upah bagi Chen Junyi, Chen Yongzi dan Chen Genji.

"Kakak sepupu, mulai besok kerangnya sekalian dibersihkan saja ya..? aku bisa membedakan mutiara dan cangkang yang diambil dari kerang segar atau tidak." kata Bai Anshu.

"Baik...!"

"Dua kerang, lima wen."

Senyum tiga bersaudara Chen merekah lebar. Penghasilan mereka akan bertambah nantinya.

Ini pekerjaan mudah, tapi hasilnya lumayan. Tiga kali lipat dari upah bekerja menjadi kuli angkut didermaga seharian.

Chen Muwan meletakkan ember berisi tiga ekor ikan emas rumput, didekat kaki Chen Junyi dan Genji.

"Bibi, kenapa harus repot-repot begini..?" kata Junyi tak enak.

"Tenang saja, bibi tidak membelinya." balas Muwan seolah tahu apa yang dipikirkan sang keponakan.

Satu alis Jinyu naik tinggi.

Sementara Yongzi dan Genji, asik menatap ikan yang berenang liar.

"Adik sepupumu tadi pergi kesungai bersama Shi'er, mereka mendapatkan banyak."

"Woah, dengan apa kalian menangkapnya..?" kepo Genji bersemangat.

"Menggunakan tombak dan bubu, tapi ada umpannya juga." jawab Bai Jinyu pongah.

"Kalau kakak sepupu mau berburu ikan, aku bisa membuat umpannya untuk kalian." sambar Anshu.

"Benarkah...?" sahut serempak tiga bersaudara Chen.

Bai Anshu mengangguk "umpan ini sangat bagus, resep rahasiaku. Jadi nanti jangan beritahu siapa pun, mengerti..?"

Junyi, Yongzi dan Genji, kompak mengangguk.

Ketiga bersaudara lelaki Chen, memilih menerima ajakan Bai Anshu untuk ikut perburuan kehutan bersama penduduk desa Huanshan.

Meski nenek, ibu dan adik perempuan mereka sudah diajari oleh bibi Muwan, namun masih belum sepenuhnya paham. Alangkah lebih baik jika bisa belajar langsung dengan suhunya.

Ketika para anak pergi mendaki gunung, Bai Dashan, Chen Muwan dan Jinyu, mengolah bahan sabun yang dibawa oleh tiga bersaudara Chen.

"Anak-anak ini begitu rajin, pasti pergi kehutan sejak pagi buta." cicit Muwan, menggiling daun pinus kipas segar.

"Mereka sangat berbakti, pekerja keras. Beruntung kakak ipar memiliki putra seperti mereka." balas Bai Dashan, kebagian menghaluskan bunga pinus.

"Tahun depan A-Junyi berusia tujuh belas tahun, waktunya untuk mencari istri. Entah sudah berapa simpanan anak itu..?" Chen Muwan menghela nafas berat.

"Kalau nanti kakiku sudah sembuh, aku akan pergi mencari herbal. Hasilnya bisa kita gunakan untuk membantu A-Junyi, kau tak perlu cemas." balas Bai Dashan penuh kelembutan.

Chen Muwan tersenyum ranum, menatap sang suami dengan penuh rasa syukur.

Meski dulu ia hanya diberi seserahan dua tael perak, namun memiliki Bai Dashan adalah sebuah keberkahan.

Jarang sekali wanita yang diratukan oleh keluarga suaminya. Kebanyakan jika sudah memasuki pintu rumah keluarga lelaki, beragam tekanan serta penindasan akan langsung diterima.

Tapi tidak dengan Chen Muwan.

Dihari pertama menikah, ia diperlakukan dengan sangat baik. Urusan rumah dikerjakan bersama ibu mertua dan kakak ipar.

Seminggu kemudian, ia dan suami dibuatkan rumah sendiri. Sehingga Chen Muwan bebas mengatur rumah tangganya sendiri.

Tuan dan nyonya tua Bai, tidak sekali pun merecoki kehidupan anak-anak mereka, apa lagi sampai merongrong soal uang.

Malahan kedua orangtua itu kerap berbagi jika memiliki makanan atau mendapat sedikit rezeki.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!