Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Inti Dunia
Inti energi-pun Kolaps, pada saat itu energi besar langsung keluar dari tubuh Cakra seakan akan meledak. Rune tersembunyi bersinar menahan efek ledakan energi tersebut dan membentuk kubah yang meredam ledakan.
“Kugh” Cakra terlihat kesulitan.
“Eh!” Marisa panik.
“Tenanglah”
“Aku masih belum kalah”
Cakra mulai fokus kembali, bagian intinya terasa seperti terperosok karena tak ada lagi bagian wadah yang menahan bentuk kedua energi tersebut. Energi berputar kencang terus memaksa untuk menjadi yang ditengah masuk ke inti yang mengalami stagnasi. Cakra hanya menahan rasa sakit. Keringatnya membasahi badannya tubuhnya juga mengeluarkan bau tak sedap.
“Ini….”
“Cukup menyakitkan”
“Aku harus membuat intinya menyatukan kedua energi”
“Daya Tarik sudah mulai membesar”
Kedua energi sudah hampir benar benar menyatu, bagian inti mulai menyusut seakan akan memaksa seluruh energi yang ada untuk menjadi satu. Sebuah jenis energi baru terlihat terbentuk, sinar biru dan emas menciptakan energi yang terasa halus dan mudah bereaksi dengan energi luar dengan membawa warna kuning kemerahan.
“Bagus sudah mulai”
“Marisa, menjauhlah!”
Mekanisme rune selanjutnya aktif mengurung Cakra supaya energinya gak menelan energi diluar. Cakra terus memadatkan, karena masih sebagian kecil Marisa berpikir untuk mempersiapkan makanan sambil menunggu.
“Hmm apa yang harus kumasak”
“Aku gak paham cara menggunakan bahan bahan ini”
“Eh ini….”
Marisa menemukan beras, dirinya memasak beras dengan cara yang dia lihat saat MC memasak. Marisa masih mencari apa yang ingin dia masak, dan menemukan adanya ikan.
“Aku akan memasak ini”
Di luar dunianya seorang pangeran terlihat sangat marah, sambil memegang sebuah pedang yang di lumuri darah.
“Kalian” dengan nada membentak.
“Mana Wanita itu”
“Apakah kalian ini bahkan gak bisa menemukan seorang Wanita kecil?”
“Maaf kan kami pangeran Argou” seorang pemuda dengan zirah besi maju.
“Dia menghilang di pegunungan dimana ada 5 monster buas”
“Kami sudah berusaha… tapi sulit menemukannya”
“Jejaknya bahkan menghilang”
“Kalian dasar bodoh!”
“Bagaimana mungkin dia bisa menghilang?!”
“Jujur saja pengeran, bahkan para praktisi sialan itu tak tau dimana”
“Mereka mengatakan kalau Wanita itu menghilang ketika memasuki wilayah kera raksasa”
“Juga bahkan mereka sampai kehilangan banyak personel karena ini”
Sang pangeran terlihat sangat marah.
“Apakah Wanita itu telah mati….”
“Tidak… tidak mungkin”
“Wanita itu bukan orang bodoh”
“Apakah kau sudah bertanya ke kediamannya?”
Sang prajurit menunduk
“Kami sudah bertanya”
“Tapi kediaman menyalahkan kami”
“Seakan akan tau kalau kami yang mendorong Wanita tersebut untuk kabur”
Sang pangeran menarik nafas Panjang.
“Haaaaaa”
“Seberapa sulitnya untuk menculik Wanita itu”
“Dia bahkan takut pada serangga”
Marisa terlihat memasak, hanya saja ikan tersebut hancur karena caranya memasak.
“Ah”
“Sangat sulit rupanya memasak ini saja”
Bau gosong mulai menyebar, dengan kondisi bau yang menyengat untungnya Cakra telah membuat ventilasi kecil.
“Aku menyerah”
“Ini…”
“Roti tadi pagi, sepertinya Cakra tau diriku akan lapar”
“Aku akan makan”
Marisa meletakkan roti ke atas meja sambil membaca buku.
“Hmm rasanya agak berbeda jikalau gak hangat”
Di the Void.
“Sialan kau pemimpi”
“Kau pikir bisa menguasai dunia ini?”
Sebuah mata hanya menatap ke arah Kerajaan Zeus. Terlihat tubuh sebuah mahluk yang hanya terdiri dari gelembung yang berisi dunia dengan mata lainnya masih tertutup.
“Kau… Kau...”
“Berani kau mengabaikanku?”
Luna muncul terlihat dirinya sekarang berada di ketinggian yang sama dengan Zeus
“Tenanglah Zeus”
“Gak akan semudah itu dia untuk masuk”
“Apa maksudmu?” Zeus terlihat khawatir.
“Apa kau gak sadar?”
“Serigala, Cahaya, Bangau, bahkan beberapa yang belum keluar”
“Mereka adalah penjaga dunia ini”
“Ditambah aku merasa dirinya melakukan sesuatu untuk membuat dunia ini gak jatuh”
Alis Zeus berkerut.
“Dia gak akan keluar dari dunia itu semudah itu, dan aku juga belum merasakan kalau cabangnya sudah eksis disini”
“Walau begitu mahluk mahluk yang menjaga dunia ini kemungkinan akan terus beradaptasi terhadap ancaman”
“Dunia ini terasa hidup”
Di pulau melayang, seorang orang tua terlihat mengamuk.
“Sialan!!!”
“Dunia ini benar benar ingin cara kasar!”
“Dan kalian bagaimana kalian bisa begitu bodoh malah salah membuka saluran!”
“Maafkan kami tuan Rupas”
“Kami tak tau kenapa kami kehilangan jangkar dengan kenyataan saat itu dan salah menulis koordinat”
Mata Rupas memerah.
“Kalian!!!”
Tak lama dari itu, sebuah retakan ruang terbuka. Darinya muncul Luna.
“Rupas”
“Itu bukan salah mereka”
“Ibu dewi” Rupas matanya berbinar melihat Luna.
“Kenapa ibu datang?”
“Aku hanya memberitahumu keadaan ini dasarnya bukan salah kalian”
“Dunia ini sepertinya telah membangun kesadaran karena akumulasi kematian para ksatria dan penyair ribuan tahun ini”
“Bahkan mahluk kuat seperti pemimpi sekarang kewalahan dengan dunia ini”
“Jadi Ibu dewi apa yang harus kami lakukan” Rupas terlihat bingung dengan wajah yang menunduk.
“Kami akan menyerang dari luar”
“Kami juga akan mulai mencari mahluk mahluk yang perlu kalian segel”
“Baik ibu”
Luna pergi menghilang ke celah ruang. Di atas langit, terlihat seorang pendeta tao tua masuk ke sebuah istana emas.
“Tuan”
“Perubahan dunia ini semakin kuat”
“Walaupun kita menyebarkan bambu ungu dan beberapa barang spiritual lainnya”
“Untuk memasang akar kita, kekuatan dunia ini masih lebih dominan”
“Energi dunia ini bahkan mengisolasi jenis energi berbeda”
Seorang pria yang masih kelihatan cukup muda dengan berpakaian seperti raja zaman dahulu di Tiongkok membuka matanya.
“Aku tau…”
“Tapi kita hanya bisa menunggu”
“Bahkan mahluk spiritual kita dikalahkan oleh mahluk buatan dunia ini sebelum masuk”
“Kita tak bisa apa apa”
“Ditambah segel yang dipasang dirinya masihlah sangat kuat”
“Kita tak bisa menembus kekuatan asli kita”
Terlihat seekor naga emas mengitari atap istana tersebut.
“Tuan…” sang pendeta tao menanyakan.
“Haaah… biarkan saja…”
Didalam Gua Cakra telah memadatkan inti miliknya, inti tersebut sekarang terlihat sangat kecil dengan beberapa retakan yang kurang terlihat rata. Energi putih keluar darinya berusaha menarik tenaga alam walau tak Cakra suruh, penghalang terlihat bengkok karena daya tarik Inti milik Cakra. Cakra mulai membuka matanya.
“Huuuup…. Haaaaa”
“Ini…..”
“Sekarang di sedikit jarak tubuhku terbentuk pelindung ruang”
“Tapi sepertinya aku bisa menyimpannya”
Cakra menutup matanya, kemudian pembelokan ruang terlihat mengecil hingga hanya sangat tipis hingga berukuran satu atom.
“Akhirnya stabil”
“Mari sebut ini Inti dunia”
Marisa terlihat menatap Cakra sambil mulutnya dipenuhi makanan.
“Umm… umm?”
“Ya aku sudah selesai, lebih baik habiskan dulu makananmu….”
“Glek” Marisa menelan makanannya.
“Kenapa dipanggil Inti dunia?”
“Oh, karena cara kerjanya ini selain menyerap energi tenaga alam dan mengubahnya menjadi jenis tenaga dalam”
“Inti ini mengeluarkan timbal balik energi sisa untuk membantu tenaga alam menstabilkan suhu mereka”
“Dimana jikalau terlalu panas akan menjadi dingin atau sebaliknya”
Marisa mengangguk dalam keadaan dirinya masih tetap menyuap makanan. Cakra sedikit tersenyum melihat Marisa menganggapnya lucu.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...