Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4
Setelah menghabiskan sepiring spageti buatan Nana, Riven menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi. Perutnya terasa hangat, begitu pula hatinya.
Sudah lama ia tidak menikmati suasana setenang ini.
Tanpa banyak bicara, Riven bangkit dari kursinya dan membawa piring kosongnya ke wastafel.
“Aku bantu beres-beres, Nana.”
Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, ponselnya kembali bergetar di atas meja.
Riven melirik layar dan mendesah pelan.
Jack.
Sahabatnya itu memang selalu punya waktu yang tepat untuk mengganggu ketenangannya.
Kali ini Riven mengangkat panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya ke telinga.
“Hm? Aku sibuk,” ucapnya datar, bahkan tanpa memberi kesempatan kepada Jack untuk berbicara lebih dulu.
Dari seberang sana terdengar tawa pelan.
“Hahaha… Ku dengar kau sudah pulang.”
“Berita buruk memang cepat menyebar.”
“Jangan menyalahkan aku. Salahmu sendiri lahir sebagai Riven Chamron.”
Riven mendengkus pelan.
“Lalu?”
“Cafe-ku sedang grand opening cabang baru di tengah kota. Aku dan yang lain ada di sini. Mau datang?”
Riven terdiam sejenak. Matanya tanpa sadar beralih ke arah Nana yang sedang membereskan peralatan dapur. Jujur saja, saat ada waktu luang, ia lebih ingin menghabiskan malamnya di rumah bersama Nana.
Rumah yang tidak pernah menuntut apa pun darinya. Rumah yang membuatnya bisa menjadi dirinya sendiri.
Seolah memahami isi pikiran sang cucu, Nana menoleh dan tersenyum lembut.
“Pergilah,” bisiknya pelan.
Riven mengerutkan kening.
“Bersenang-senanglah sebentar. Sebelum kau kembali menjadi Tuan Chamron.”
Kalimat itu membuat dada Riven terasa hangat. Hanya Nana yang selalu bisa melihat dirinya lebih dari sekadar nama besar keluarga Chamron. Bagi dunia, ia adalah pewaris keluarga Chamron. Bagi para pebisnis, ia adalah putra sulung Thomas Chamron.
Namun bagi Nana, Riven hanya seorang cucu yang sesekali ingin beristirahat dari semua beban yang dipikulnya. Riven tersenyum tipis.
“Oke.” Sambungan pun di tutup oleh Riven. Kemudian tanpa ragu ia mendekat dan memeluk tubuh renta wanita itu.
“Aku menyayangimu, Nana.”
Nana mengusap punggungnya lembut.
“Aku juga menyayangimu, Riv.”
Riven melepaskan pelukannya lalu mengecup pipi sang nenek dengan penuh kasih sayang.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku janji akan lebih sering berkunjung.”
“Kau selalu mengatakan itu.”
“Kali ini aku serius.”
Nana terkekeh pelan.
“Hati-hati di jalan.”
Riven mengangguk.
Setelah mengambil jas yang tadi ia letakkan di sandaran kursi, pria itu berjalan keluar rumah dengan langkah panjang dan santai.
Sesampainya di halaman, ia langsung memasuki BMW hitam miliknya. Mesin mobil menyala dengan suara yang halus namun bertenaga.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Jack berisi lokasi cafe baru yang dimaksud. Riven hanya melirik sekilas, lalu menyeringai tipis.
“Semoga saja tempatmu bisa membuatku menemukan sesuatu yang menyenangkan, Jack.”
Detik berikutnya, BMW itu meluncur keluar dari halaman rumah Nana dan melesat membelah matahari senjta menuju pusat kota.
Setelah menempuh hampir separuh wilayah kota. BMW hitam milik Riven akhirnya memasuki kawasan pusat kota yang jauh lebih hidup dibanding lingkungan tempat tinggal Nana.
Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan warna-warni cahaya di atas jalanan yang dipenuhi kendaraan. Tak butuh waktu lama hingga sebuah bangunan tiga lantai dengan desain modern industrial muncul di hadapannya.
Di bagian depan terpampang papan nama besar cafe milik Jack. “JACKIE’S”
Cabang kelima.
Dan tampaknya pembukaannya berjalan jauh lebih sukses daripada yang Riven bayangkan.
Area parkir hampir penuh. Deretan mobil mewah, motor sport, hingga kendaraan anak-anak muda memenuhi halaman. Dari luar saja sudah terlihat keramaian di dalam cafe.
Riven memarkirkan BMW-nya di salah satu sudut yang masih kosong, lalu mematikan mesin.
Begitu keluar dari mobil, suara musik akustik yang mengalun dari dalam langsung menyambutnya. Ia memasukkan satu tangan ke dalam saku celana dan berjalan santai menuju pintu masuk.
Saat pintu kaca terbuka, aroma kopi, roti panggang, dan berbagai hidangan penutup langsung memenuhi indera penciumannya. Riven menyapu ruangan dengan pandangan tenang. Cafe itu memang besar. Nuansanya didominasi lampu gantung berwarna oranye hangat yang membuat suasana terasa nyaman dan mewah sekaligus.
Di sisi kiri terdapat area indoor dengan meja-meja kayu panjang, sofa empuk, serta dekorasi tanaman hijau yang tertata rapi.
Sedangkan di bagian belakang terdapat area semi terbuka yang dipenuhi lampu-lampu kecil menggantung seperti bintang. Tempat yang sangat cocok untuk berfoto. Tak heran jika hampir setiap sudut dipenuhi pelanggan.
Sebagian besar adalah anak-anak muda yang sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Beberapa pasangan tampak duduk berdua sambil berbagi minuman dan makanan penutup.
Di sudut lain, beberapa influencer Instagram terlihat sibuk mengambil foto dan merekam video pendek untuk konten mereka. Suasana ramai namun tetap nyaman. Riven harus mengakui bahwa Jack memiliki selera bisnis yang cukup baik.
Pandangannya kemudian menemukan sosok yang sedang menjadi pusat perhatian.
Jack.
Pria itu berdiri di dekat area khusus yang dihias untuk acara grand opening. Di depannya berdiri beberapa influencer terkenal yang sedang mewawancarainya sambil menyalakan kamera ponsel. Jack menjawab berbagai pertanyaan dengan ekspresi percaya diri khas dirinya.
Namun di tengah wawancara, matanya menangkap sosok tinggi yang baru masuk dari pintu utama.
Seketika wajahnya berbinar. Jack langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi.
“Oi! Riv!”
Beberapa orang di sekitar ikut menoleh penasaran.
Riven hanya mengangkat satu tangan sebagai balasan. Melihat respons datar itu, Jack malah tertawa. Tak lama kemudian ia meminta izin kepada para influencer.
“Maaf sebentar, ada tamu spesial.” Setelah itu Jack berjalan cepat menghampiri sahabatnya.
“Kau benar-benar datang.”
“Aku sudah menempuh setengah kota untuk melihat apakah cafe ini layak dikunjungi.”
“Dan?”
Riven melirik sekeliling sekali lagi.
“Cukup mengejutkan. Aku kira kau akan bangkrut di bulan pertama.”
Jack langsung memegangi dadanya seolah tertusuk.
“Teman macam apa yang mendoakan seperti itu?”
“Teman yang realistis.”
Jack menggeleng-geleng sambil tertawa.
“Aku harus kembali sebentar. Banyak tamu dan beberapa investor juga datang. Tapi teman-teman yang lain sudah ada di ruang VIP lantai dua.”
Riven mengangkat alis.
“Mereka semua datang?”
“Tentu saja. Sudah lama kita tidak berkumpul.”
Jack menunjuk ke arah tangga yang berada di ujung ruangan.
“Naik saja. Aku menyusul setelah urusan di bawah selesai.”
Riven mengangguk pelan.
“Terlalu sibuk untuk menemaniku?”
“Bos besar sepertimu seharusnya mengerti penderitaan seorang pemilik usaha kecil sepertiku.”
“Hm.”
Jack terkekeh. “Anggap saja aku sedang bekerja keras supaya suatu hari nanti bisa menyamai rekeningmu.”
“Kalau begitu kau harus membuka 1000 cabang lagi.”
“Kurang ajar.” Mereka berdua tertawa singkat.
Kemudian Jack kembali menuju kerumunan influencer dan para tamu undangan.
Sementara itu, Riven memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan santai menuju tangga menuju lantai dua.
Namun baru beberapa langkah, ia merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya. Beberapa pengunjung wanita bahkan mulai berbisik satu sama lain. Sebagian tampak mengenali wajahnya. Sebagian lagi hanya terpaku karena penampilannya yang terlalu mencolok untuk diabaikan.
Riven sama sekali tidak memedulikannya. Fokusnya hanya satu. Menemui teman-temannya dan menikmati malam yang jarang ia miliki seperti ini.
Tanpa menyadari bahwa di lantai dua yang akan ia datangi, ada seorang gadis yang sudah lebih dulu memperhatikannya sejak ia memasuki cafe itu.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor