NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Kepungan Para Serakah

Senja di atas Gunung Han tenggelam dengan cara yang sangat mencekam. Langit barat tidak memancarkan warna jingga yang hangat, melainkan rona merah keunguan yang pekat, seolah-olah hamparan awan di atas sana sedang bersimbah darah. Burung-burung hutan terbang berhamburan meninggalkan pucuk pohon bambu, mengungsi sejauh mungkin dari atmosfer pegunungan yang mendadak ditekan oleh hawa kematian yang teramat pekat.

Di dalam ruang tengah pondok kayu, suasana terasa sangat sunyi.

Shen Liya berdiri terpaku di dekat tungku perapian. Jemari lentiknya meremas pinggiran rajutan kain katun abu-abu milik Gu Yu yang baru setengah selesai. Wajah cantiknya pucat pasi, dan sepasang mata indahnya menatap cemas ke arah pintu depan kayu yang tertutup rapat.

Sebagai mantan dewi langit, indra spiritualnya yang kian pekat setelah dirawat Gu Jue kini bisa mencium aroma bau busuk dari keserakahan manusia yang meluap-luap di kaki gunung. Di luar batas Hutan Bambu Ungu, ada ratusan—bahkan ribuan—riak energi meridian yang penuh dengan niat membunuh sedang merayap kian dekat.

Mereka... mereka sudah mengepung tempat ini, batin Shen Liya, dadanya mendadak terasa sesak akibat kecemasan yang membumbung tinggi.

Pintu gubuk berderit pelan saat Gu Jue melangkah masuk dari arah halaman belakang. Pria itu baru saja selesai membantu Gu Yu kecil membersihkan sisa potongan kayu bakar. Pakaian rami abu-abu kasarnya tampak rapi, dan wajah tampannya beralur dingin tanpa menampilkan secercah ketakutan sedikit pun. Di tangannya, ia membawa sekeranjang buah persik liar yang baru dipetik.

Melihat kepanikan di wajah istrinya, Gu Jue meletakkan keranjang buah tersebut di atas meja kayu bundar dengan ketukan yang sangat pelan.

"Teh penenangmu belum kau minum, Liya. Asap tungku ini bisa membuat paru-parumu yang lemah kembali sakit," ujar Gu Jue, suaranya terdengar sangat rendah, datar, dan stabil—sebuah ketenangan kokoh yang seketika meredam sebagian besar badai kepanikan di dada Shen Liya.

Shen Liya melangkah maju dua tindakan, mencengkeram lengan jubah rami Gu Jue dengan tangan yang gemetar kaku. "Ah Jue... apakah kau tidak merasakannya? Udara di luar... udara di luar sangat kotor. Ada banyak sekali kultivator manusia yang sedang mengepung hutan kita. Ini bukan badai biasa, Ah Jue! Mereka datang membawa kebencian yang teramat besar!"

Gu Jue menurunkan pandangannya, menatap lekat-lekat jemari kurus Shen Liya yang bersandar di lengannya. Rasa hangat dari kulit istrinya mengalir perlahan, menjalin frekuensi emosional yang membuat hati sang Raja Iblis diam-diam dirayapi oleh murka yang teramat pekat kepada para pemburu luar.

Melalui ikatan spiritual rahasianya dengan Pelindung Kanan Feng Wu, Gu Jue sudah menerima visualisasi penuh tentang apa yang sedang terjadi di perbatasan luar Hutan Bambu Ungu saat ini.

Tiga Sekte Besar manusia fana benar-benar telah menyatukan kekuatan mereka demi ambisi gila kenaikan tingkat instan menjadi dewa dari hasutan Ling Cang.

Ratusan murid elit Sekte Sembilan Pedang dengan zirah perak mereka telah membentuk barisan melingkar, pedang baja mereka terhunus berkilau mencerminkan cahaya obor.

Di sisi lain, para tetua Sekte Lembah Racun telah menanam ratusan pasak patok kayu yang mengalirkan asap pembusuk hijau pekat, mencoba menembus kabut murni hutan bambu. Sementara itu, pasukan Sekte Awan Darah bersiap dengan rantai-rantai besi pusaka mereka yang berdenting nyaring, siap mencabik siapa pun buruan yang melangkah keluar.

Kaki Gunung Han telah berubah menjadi lautan ular api dari ribuan obor yang menyala terang, mengurung kedamaian pondok kayu mereka dari segala penjuru dimensi fana.

Namun, di mata Mo Jue sang Raja Iblis, ribuan kultivator serakah itu tidak lebih dari barisan semut lumpuh yang sedang berjalan menuju lubang kematian mereka sendiri.

Gu Jue mengulurkan tangan kanannya yang panjang dan kokoh, dengan sangat lembut menangkup sepasang tangan Shen Liya, mengunci jemari istrinya ke dalam genggaman hangatnya.

"Aku tahu mereka ada di sana, Liya," bisik Gu Jue tepat di depan wajah istrinya, sepasang mata sehitam tintanya memancarkan ketulusan batin yang teramat dalam.

"Sejak pagi tadi, beberapa pengintai mereka sudah mencoba menyusup ke lereng bukit. Namun kau tidak perlu cemas. Di gubuk ini, selama aku masih berdiri di depan perapian ini, tidak akan ada satu pun hama dari luar yang bisa membuka pintu kamarmu."

Shen Liya menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gu Jue. Rasa aman absolut yang aneh kembali membungkus jiwanya, membuat detak jantungnya yang semula berpacu liar perlahan-lahan kembali teratur. Pria rami abu-abu di depannya ini hanyalah seorang tabib fana biasa, namun entah mengapa, setiap kalimat yang diucapkan dari bibir tegapnya selalu terdengar seperti titah suci yang tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan mana pun di jagat raya.

"Tapi Ah Jue... mereka sangat banyak," bisik Shen Liya, air mata kecemasan mulai menggenang di sudut mata indahnya. "Aku tidak ingin melihatmu dan Yu'er terluka karena menyembunyikanku."

Gu Jue mengangkat tangan kirinya, dengan sangat lembut menghapus sebutir air mata di pipi mulus Shen Liya, lalu mengecup kening istrinya dengan kecupan yang sangat lama dan sarat akan janji pelindung yang sakral.

"Percayalah padaku. Masuklah ke dalam kamar dan temani Yu'er tidur," ujar Gu Jue lembut namun penuh otoritas. "Malam ini, badai gunung akan turun dengan sangat lebat. Tidurlah dengan nyenyak, dan besok fajar saat kau membuka mata... hutan ini akan kembali bersih seperti sedia kala."

Shen Liya menatap wajah tegas suaminya untuk terakhir kali sebelum akhirnya menurut. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, melangkah masuk ke dalam kamar tidur untuk mendekap tubuh kecil Gu Yu yang saat ini sedang tertidur lelap sembari memeluk pedang kayu kecilnya, sedang Xiao Bai, dia terbangun lalu turun dari ranjang berjalan mendekati pintu.

Begitu pintu kamar tidur ditutup rapat dari dalam, kehangatan manusia di tubuh Gu Jue runtuh tak bersisa dalam sekejap mata.

Seluruh ruangan tengah pondok kayu mendadak dilingkupi oleh hawa dingin mematikan yang teramat pekat. Sepasang mata hitam milik Gu Jue seketika berubah menjadi warna ungu menyala yang mengerikan di tengah kegelapan malam, memancarkan seluruh kebuasan mutlak Mo Jue, sang Raja Iblis penguasa tertinggi Alam Kegelapan.

Ia melangkah lambat menuju pintu depan pondok, mendorongnya terbuka pelan, lalu berdiri tegak di pelataran halaman bawah pohon persik yang belum berbunga. Angin malam yang bertiup kencang membuat jubah rami abu-abunya berkibar liar, namun tetesan air gerimis pertama yang turun dari langit langsung menguap menjadi asap tipis sebelum sempat menyentuh permukaan kain jubahnya.

Bayangan hitam transparan meleleh dari balik pepohonan bambu halaman. Pelindung Kanan Feng Wu mendadak muncul dan langsung berlutut khidmat dengan satu kaki di atas tanah yang basah.

"Yang Mulia... Tiga Sekte Besar manusia fana telah merapat hingga ke batas tengah perisai luar," lapor Feng Wu senyap melalu transmisi jiwa. "Apakah hamba harus memanggil Jenderal Chi Yan dan pasukan Istana Kegelapan untuk meratakan kaki gunung sekarang?"

"Tidak perlu, kau dan Xiao Bai berjaga disini" jawab Mo Jue, suaranya bergaung rendah penuh dengan kekejaman yang teramat dingin di dalam dimensi pikiran Feng Wu. "Memanggil pasukan Alam Iblis hanya akan memicu radar cermin Ling Cang di langit atas, dan itu akan mengganggu tidur wanitaku. Aku sendiri yang akan melakukan pembersihan senyap malam ini."

Sang Raja Iblis mengulurkan tangan kanannya ke udara. Dari balik pembuluh darah di telapak tangannya, ratusan bilah jarum perak akupunktur tipis melayang keluar secara magis, berpendar memancarkan pendaran cahaya ungu kehitaman akibat balutan ekstrak kutukan Jiwa Mati yang telah dimodifikasi oleh energi kegelapannya.

Malam ini, di bawah perlindungan kegelapan badai hujan yang kian lebat, Mo Jue akan melangkah turun dari gunung sendirian. Ia akan bergerak seperti bayangan sunyi mematikan, menyusup ke tengah-tengah perkemahan obor ribuan kultivator serakah tersebut, mencabut nyawa para tetua dan murid elit tiga sekte besar manusia fana satu per satu murni menggunakan kecepatan fisik mutlak dan teknik akupunktur kematian.

Ia bersumpah akan mengubah kaki Gunung Han menjadi kuburan massal tak kasat mata bagi siapa pun anjing buruan Ling Cang yang berani mengusik ketenangan keluarga kecilnya, mengunci jalannya sandiwara ayah tabib dengan aksi pertumpahan darah paling sunyi di dalam sejarah bumi fana.

 

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!