NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Master Seijun melangkah mendekati mereka setelah duel berakhir. Tatapannya tertuju pada lapisan es yang masih menempel di sebagian arena.

"Hahaha... sudah lama sekali aku tidak melihat sihir es seindah ini."

Kazura langsung menundukkan kepala.

"Guru terlalu memujiku."

Master Seijun menyilangkan tangan. "Elemen es adalah salah satu elemen yang sulit dikuasai. Banyak penyihir hanya mampu membekukan air biasa, namun mampu memanipulasikannya dalam pertarungan seperti tadi adalah hal yang berbeda."

Tatapan sang guru sedikit melembut.

"Di perguruan ini akhirnya muncul lagi pengguna sihir es yang berbakat."

Kazura tersenyum kecil.

"Aku bisa sampai sejauh ini, itu juga berkat bantuan Haru juga."

Haru yang berdiri di sampingnya berkedip bingung.

"Dulu aku sering kesulitan mengendalikan sihirku. Haru yang selalu membantuku berlatih."

Meski begitu, sudut bibirnya perlahan terangkat. Ada rasa hangat yang sulit dia sembunyikan. Master Seijun tertawa pelan.

"Kerja keras kalian berdua memang terlihat."

Kazura lalu berbalik menghadap Yua. Dia menggaruk pipinya sedikit.

"Maaf soal bajumu tadi."

Yua memiringkan kepala.

"Hm?"

"Seranganku membuat kain lenganmu sobek sedikit."

Kazura terlihat agak tidak enak hati. Padahal kerusakannya sangat kecil, namun tetap saja dia merasa bersalah. Yua justru tertawa ringan.

"Aku kira apa."

Dia melambaikan tangan.

"Ini cuma sobekan kecil. Tidak masalah kok."

Saat itulah pandangan Yua tanpa sengaja jatuh pada tangan kanan Kazura. Senyumnya perlahan menghilang. Tatapannya menempel beberapa detik. Kazura yang menyadarinya langsung merasa tidak nyaman.

Yua tiba-tiba menunjuk jarinya.

"Kazura. Cincinmu mana?"

Kazura membeku sesaat. Matanya refleks melirik ke arah lain. Lalu Kazura tertawa canggung.

"Beberapa hari lalu aku melepasnya untuk dibersihkan. Lalu aku tinggal sebentar."

Kazura menghela napas.

"Pas kembali... cincinya sudah hilang."

Yua berkedip. Wajahnya menunjukkan rasa sayang yang tulus terhadap benda itu.

"Itu cincin dari nenekmu kan? yang kau bilang sangat berharga itu kan?"

"Iya."

Kazura hanya mengangguk pelan. Haru yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut menoleh. Haru baru menyadari sesuatu. Mata Haru membesar.

"Sekarang aku baru sadar kau memang tidak pakai cincin itu."

Kazura hanya tersenyum tipis. Yua tiba-tiba menepukkan kedua tangannya.

"Kalau begitu aku bantu cari! kita cari bersama-sama... dimana tempat terakhir kau melepaskan cincinnya?"

"Kalau itu peninggalan nenekmu, kita tidak boleh menyerah begitu saja." ucap Haru.

Mata Kazura langsung membelalak sedikit. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kazura segera menggeleng.

"Jangan.. tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu."

"Kenapa? santai saja tidak usah sungkan." jawab Yua senyum manisnya.

Kazura tetap tersenyum. Senyum yang terlihat tenang dari luar, meski pikirannya sedang kacau.

"Aku akan mencarinya sendiri."

Yua masih terlihat ragu.

"Tapi semakin banyak orang yang mencari akan lebih cepat ketemu kan?"

Nada suara Kazura terdengar lembut.

"Tapi sungguh, tidak perlu."

Yua menatapnya beberapa saat. Lalu akhirnya menghela napas kecil. Meski begitu, senyum hangat tetap menghiasi wajahnya.

"Kalau suatu saat berubah pikiran, bilang saja padaku."

Kazura hanya mengangguk.

"Iya."

Tanpa disadari, jari Kazura perlahan menggenggam tangan kosong tempat cincin itu biasa berada.

---

Di Hutan Terlarang, pepohonan raksasa menjulang hingga menutupi cahaya langit. Angin berembus pelan membawa aroma tanah dan dedaunan basah. Di tengah sebuah lapangan batu yang luas, seorang pemuda berdiri dengan mata terpejam.

Jinsei.

Perlahan dia membuka kedua matanya.

BRRAAKKK!!

Tanah di sekelilingnya retak. Arus air berputar mengelilingi tubuhnya seperti naga yang menari. Tak lama kemudian kobaran api muncul dari telapak tangannya, menyatu dengan pusaran angin yang berdesir tajam. Udara di sekitar mendadak membeku. Kristal-kristal es bermunculan dari permukaan tanah.

Empat elemen, air, api, angin dan es. Semuanya bergerak mengikuti kehendaknya. Jinsei mengepalkan tangan. Dalam sekejap seluruh elemen itu lenyap seolah tak pernah ada. Keheningan kembali menyelimuti hutan.

Master Genjiro yang berdiri beberapa langkah di belakangnya perlahan tersenyum. Sudah bertahun-tahun ida menunggu momen ini.

"Hebat..." ucapnya pelan.

Jinsei menoleh. Tatapannya jauh lebih tajam dibanding beberapa tahun lalu.

"Aku masih belum puas."

Senyum Master Genjiro semakin lebar.

"Bahkan setelah menguasai empat elemen ini, aku masih merasa kurang."

"Itulah alasan kau berbeda dari yang lain."

Angin berembus melewati jubah tua sang master. Master Genjiro melangkah mendekat.

"Kebanyakan orang berhenti ketika mencapai puncak. Tetapi kau selalu mencari gunung yang lebih tinggi untuk didaki."

Jinsei menatap telapak tangannya. Di antara jemarinya, percikan api kecil dan kristal es muncul bersamaan tanpa saling menghancurkan.

"Jika aku ingin mengubah dunia ini... kekuatan seperti ini saja belum cukup."

Mata Genjiro menyipit penuh kepuasan. Kalimat itu persis seperti yang ingin didengarnya.

"Bagus... Jangan pernah merasa cukup."

Jinsei mengangkat kepalanya.

"Bukankah waktunya sudah dekat, Guru?"

Untuk beberapa saat, Genjiro hanya memandang langit yang tertutup rimbunnya pepohonan. Lalu dia tersenyum tipis.

"Sangat dekat. Misi terbesar kita akhirnya mulai menunjukkan jalannya."

Tatapan Jinsei berubah serius. Sementara itu, Master Genjiro memandang murid terbaik yang pernah dimilikinya. Murid yang bahkan telah melampaui ekspektasinya.

"Dunia ini telah terlalu lama berjalan dengan cara yang sama. Dan ketika saatnya tiba..."

Angin di sekitar mereka berputar perlahan.

"...kaulah yang akan mengubahnya."

Jinsei mengepalkan tangannya. Matanya dipenuhi ambisi yang membara. Tidak ada keraguan dan tidak ada rasa takut. Hanya tekad untuk mencapai puncak yang belum pernah disentuh siapa pun.

---

Di kediamannya, Tuan Yamato berlutut di depan altar keluarga. Asap dupa tipis melayang perlahan ke udara, sementara cahaya lilin bergoyang lembut diterpa angin yang masuk dari jendela.

Di hadapannya berdiri dua papan arwah. Mendiang ibunya/ selir agung dan mendiang neneknya/ ibu suri.

Setelah menyelesaikan doanya, Tuan Yamato tidak segera beranjak. Dia hanya duduk diam dengan kedua tangan bertumpu di atas pahanya. Tatapannya tenang, lalu bibirnya bergerak pelan.

"Aku belum melupakan apa yang terjadi kepada kalian."

Suaranya begitu lirih hingga hampir tenggelam dalam keheningan. Jemarinya mengepal di atas lutut.

"Orang-orang mungkin mengira semuanya telah berakhir. Tapi bagiku... ini belum selesai."

Tuan Yamato menundukkan pandangannya sesaat. Dia mengangkat kepalanya kembali. Lalu memandang lurus kedua papan arwah itu.

"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarga kita."

---

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian rapi, Ryujin bersiap menuju aula sihir. Namun saat hendak melangkah keluar kamar, tangannya tanpa sadar menyentuh bagian pinggang tempat sebuah ornamen gantungan kecil biasanya tergantung. Gerakannya terhenti.

Dia menoleh dan mendapati ornamen itu tidak ada, alisnya sedikit berkerut. Ryujin kembali memeriksa pakaiannya. Lalu memeriksa meja, rak kecil di samping tempat tidur, bahkan sudut-sudut kamar. Namun tetap tidak ada.

Dia mengingat-ingat kejadian semalam, tetapi yang muncul hanya potongan-potongan ingatan yang tidak jelas. Ryujin berpikir mungkin terjatuh saat pesta atau tertinggal di suatu tempat.

Ryujin menatap sesaat tempat ornamen itu biasanya tergantung. Kemudian dia tersenyum kecil. disayangkan, dia tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, mencari benda yang mungkin hilang di tengah pesta semalam terdengar jauh lebih melelahkan daripada menerimanya dengan lapang dada.

"Kalau memang hilang, berarti memang sudah waktunya berpisah."

Dengan pikiran itu, dengan santai Ryujin merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju aula latihan. Tak lama kemudian dia sampai.

Tiba-tiba, langkahnya sedikit melambat. Tatapannya menyapu aula yang dipenuhi bekas es dan jejak sihir air yang masih tersisa di berbagai sudut. Alisnya terangkat.

"Sepertinya ada hal menarik yang aku lewatkan."

Di ujung aula berdiri Master Seijun, Haru, Yua, dan Kazura. Saat melihat Ryujin datang, Yua menjelaskan bahwa mereka baru saja menguji perkembangan sihir es milik Kazura. Dan hasilnya jauh lebih baik dari yang mereka perkirakan.

Ryujin menoleh ke arah Kazura. Senyumnya melebar.

"Wah, hebat... tak kusangka kau bisa dengan mudah menggunakan sihir es"

Kazura hanya tersenyum malu. Namun saat itulah Ryujin menyadari sesuatu yang aneh. Master Seijun tiba-tiba memalingkan wajahnya sejenak. Seolah sedang menahan sesuatu.

Di sampingnya, Haru yang tanpa sengaja melihat ekspresi sang guru juga tampak buru-buru mengalihkan pandangan. Bibirnya bahkan terlihat sedikit bergetar. Seperti sedang menahan tawa.

Ryujin memiringkan kepala.

"Kenapa mereka terlihat aneh?" batin Ryujin.

Yua yang juga menyadari hal itu tampak kebingungan.

"Ada apa, Master?"

"Tidak ada."

Jawaban Seijun datang terlalu cepat, bahkan sedikit mencurigakan. Namun pria tua itu tetap memasang wajah tenang. Lalu dia mengalihkan topik.

"Baru bangun kau Ryujin?"

Ryujin tertawa kecil.

"Hahaha, iya. Sepertinya aku kesiangan."

Master Seijun mengangguk santai.

"Tidak apa-apa..."

Meski begitu, sudut bibirnya masih tampak berusaha keras untuk tidak terangkat. Dan entah kenapa perasaan Ryujin mengatakan bahwa ada sesuatu tentang dirinya yang sedang mereka sembunyikan.

Tapi karena tidak menemukan jawabannya, Ryujin pun memilih mengabaikannya. Lagi pula hari ini tampaknya akan menjadi hari yang cukup menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!