NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lord Ascroft Ayah Tiri Ella

Emma berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap taman mawar.

Di tangannya hanya ada segelas air putih.

Ia tidak tertarik dengan anggur, sampanye, ataupun berbagai minuman yang ditawarkan pelayan.

Suara tawa para bangsawan memenuhi aula.

Mereka berbicara tentang investasi, kuda pacu, seni, hingga pesta musim panas.

Bagi Emma...

Tidak ada satu pun yang menarik.

"Lady Alexander."

Seorang pria paruh baya menghampirinya dengan senyum ramah.

"Sudah lama kita tidak bertemu."

Emma menoleh.

"Hm."

Pria itu tertawa kecil.

"Masih sesingkat biasanya."

Emma hanya menatapnya.

Pria itu kembali mencoba mengobrol.

"Kudengar kau baru pulang berlibur."

"Benar."

"Ke mana?"

"Hanya berkeliling negara Eropa."

"Menyenangkan?"

"Cukup."

Pria itu kembali kehabisan topik.

Emma tidak berniat membantu percakapan itu.

Beberapa detik kemudian pria tersebut memilih pamit.

Emma kembali menikmati ketenangan.

Dari sisi lain ruangan...

Ralph memperhatikan semuanya.

"Apa kau memperhatikannya?"

Suara Duke Roosevelt terdengar pelan.

Ralph tetap memandang Emma.

"Ya."

"Dia tampak berubah."

"Semua orang mengatakan hal yang sama."

"Karena memang benar."

Ralph tidak menyangkal.

Ia juga melihat perubahan itu.

Namun...

Anehnya ia tidak merasa terganggu.

Justru...

Ia semakin penasaran.

Tak lama kemudian...

Lusiana kembali menghampiri Emma.

Kali ini membawa secangkir teh.

"Ini teh favoritmu."

Emma melirik cangkir itu.

"Aku tidak minum teh."

Lusiana terdiam.

"Kau..."

Emma baru menyadari jawabannya.

Ia lupa.

Ella memang menyukai teh.

Emma segera mengambil cangkir itu.

"Lagi tidak ingin."

Lusiana tersenyum tipis.

"Begitu rupanya."

Emma mengangguk singkat.

Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Lusiana pun memilih pergi.

Namun langkahnya melambat.

Ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

Lady Alexander memang berubah.

Bukan hanya sikap.

Tetapi...

Kebiasaan-kebiasaan kecilnya juga.

Beberapa menit kemudian...

Suara pintu aula kembali terbuka.

Semua percakapan berhenti.

Para tamu serempak menoleh.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun memasuki ruangan.

Setelan jas hitam dengan lambang keluarga bangsawan terpasang rapi di dadanya.

Rambutnya mulai memutih.

Namun sorot matanya tetap tajam.

Semua orang langsung memberi salam hormat.

"Lord Ashcroft."

Emma mengernyit pelan.

Ia melihat Ralph melangkah maju.

"Selamat sore, Ayah."

Pria itu mengangguk singkat.

"Ralph."

Lalu...

Tatapannya beralih kepada Emma.

Untuk pertama kalinya...

Jantung Emma berdegup lebih cepat.

Inilah pria yang membesarkan Ella.

Pria yang mengenal setiap kebiasaan putrinya.

Pria yang selama dua puluh tahun menjadi ayah bagi saudari kembarnya.

Emma menarik napas pelan.

Ia tidak boleh melakukan kesalahan.

Sedikit saja.

Bisa jadi semuanya berakhir malam ini.

Lord Ashcroft melangkah mendekat.

Tidak ada senyum.

Tidak ada pelukan.

Hanya tatapan khas seorang bangsawan.

"Ella."

Emma membalas tatapannya.

"Selamat sore... Ayah."

Keheningan menyelimuti mereka beberapa detik.

Lalu...

Di luar dugaan Emma...

Lord Ashcroft mengangguk pelan.

"Kau tampak lebih baik."

Hanya satu kalimat itu.

Lalu beliau berjalan melewatinya menuju Duke Roosevelt.

Emma mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

Di sisi lain ruangan...

Ralph sempat melirik istrinya.

Entah mengapa...

Ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Bukan pada jawaban Emma.

Melainkan pada sorot matanya sesaat sebelum menyapa ayahnya sendiri.

Seolah...

Wanita itu sedang bertemu seseorang yang sama sekali baru dikenalnya.

Lord Ashcroft berdiri berbincang dengan Duke Roosevelt dan beberapa bangsawan senior.

Pembicaraan mereka terdengar tenang.

Sesekali diselingi tawa pelan.

Emma memilih tetap berdiri di dekat jendela.

Ia tidak berniat bergabung.

Tidak tertarik.

Tidak juga ingin mencari perhatian.

"Lady Alexander."

Seorang pelayan menghampirinya sambil membawa nampan berisi beberapa kudapan.

Emma melirik sekilas.

"Tidak."

Pelayan itu mengangguk dan berlalu.

Tak lama kemudian pelayan lain datang.

"Nyonya, apakah Anda ingin.."

"Tidak."

Jawaban Emma bahkan keluar sebelum pelayan itu selesai berbicara.

Pelayan tersebut langsung membungkukkan badan dan pergi.

Dari kejauhan, Ralph memperhatikan semuanya.

Ia mulai menyadari satu hal.

Istrinya bukan sedang bersikap kasar.

Ia memang benar-benar tidak suka dilayani.

"Lihat itu."

Salah seorang bangsawan berbisik kepada temannya.

"Lady Alexander berubah menjadi sangat dingin."

"Bukankah dulu dia juga memang pendiam?"

"Pendiam, ya. Tapi tetap ramah dan berwibawa bangsawan."

"Yang sekarang..."

Pria itu melirik Emma.

"...sulit didekati."

Lusiana mendengar bisikan itu.

Ia tidak ikut menanggapi.

Tatapannya justru masih tertuju kepada Emma.

Ada begitu banyak kebiasaan kecil yang berubah.

Namun ia tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya berbeda.

Tak lama kemudian Duke Roosevelt mengangkat gelasnya.

"Terima kasih atas kehadiran kalian malam ini."

Semua tamu memberikan tepuk tangan kecil.

"Silakan menikmati jamuan."

Musik kembali mengalun.

Para tamu mulai berpencar.

Sebagian menuju taman.

Sebagian lagi tetap berbincang di aula.

Emma baru hendak melangkah keluar ketika suara berat Lord Ashcroft menghentikannya.

"Ella."

Emma berhenti.

Ia berbalik perlahan.

"Ya, Ayah."

Lord Ashcroft menghampirinya.

Ralph yang melihat itu memilih tidak ikut mendekat.

Ia mengenal ayah mertuanya.

Pria itu tidak suka pembicaraan mereka didengarkan orang lain.

Lord Ashcroft berdiri tepat di hadapan Emma.

Tatapannya tenang.

"Kau memotong rambutmu."

"Ya."

"Dan mewarnainya pirang. Terlihat sangat mencolok bagiku."

Emma mengangguk.

"Ingin suasana baru."

Lord Ashcroft memperhatikan wajah putrinya beberapa detik.

"Tidak buruk namun tidak terlalu baik."

Emma sedikit terkejut.

Ia mengira pria itu akan memprotes.

Ternyata tidak.

Lord Ashcroft melanjutkan dengan nada yang tetap datar.

"Tetapi asalkan kau nyaman."

Emma hanya mengangguk.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Hubungan ayah dan anak itu memang tidak pernah dipenuhi percakapan panjang.

Lord Ashcroft bukan pria yang pandai menunjukkan kasih sayang melalui kata-kata.

Namun perhatian kecilnya selalu terasa.

"Kudengar kau mulai berubah sikap mu terutama kepada Ralph."

Emma mengangkat sebelah alis.

"Siapa yang bilang?"

"Lingkungan bangsawan lebih kecil daripada yang kau bayangkan."

Emma mendengus pelan.

"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan."

"Itu hakmu."

Jawaban itu membuat Emma sedikit heran.

Lord Ashcroft menatap lurus ke arahnya.

"Selama lima tahun terakhir..."

"Kau terlalu sering mengalah."

Emma terdiam.

"Itu bukan sifat yang kusukai."

Untuk sesaat Emma kehilangan kata-kata.

Dalam bayangannya...

Ayah tiri Ella pasti akan menyuruh putrinya menjadi istri penurut.

Nyatanya...

Pria itu justru berkata sebaliknya.

Lord Ashcroft merapikan ujung jasnya.

"Kau adalah putriku."

"Jangan pernah membiarkan siapa pun menginjak harga dirimu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia menepuk pelan bahu Emma.

Hanya sekali.

Lalu berjalan pergi.

Emma tetap berdiri di tempatnya.

Ia menatap punggung pria itu hingga menghilang di antara para tamu.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Inggris...

Ia mulai memahami satu hal.

Lord Ashcroft memang bukan ayah yang hangat.

Namun dengan caranya sendiri...

Pria itu benar-benar menyayangi Ella.

Dan tanpa sadar, hati Emma mulai dipenuhi rasa penasaran.

Jika pria setegas itu begitu menyayangi putrinya...

Mengapa Ella masih memilih bertahan dalam pernikahan yang begitu dingin?

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!