Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Dimulai
Pagi itu, suasana toko buku yang biasanya tenang berubah sedikit mencekam.
Aluna masih memegang kartu putih yang ditemukan di depan pintu toko.
"Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk berakhir bahagia."
Tulisan itu singkat.
Namun cukup membuat dadanya dipenuhi rasa tidak nyaman.
"Aluna."
Siska menghampiri dan mengambil kartu itu.
"Ini siapa yang naruh?"
"Aku nggak tahu."
Siska membalik kartu tersebut.
Kosong.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanda apa pun.
"Waktu kamu datang, memang sudah ada?"
Aluna mengangguk.
"Iya."
Siska langsung menghela napas.
"Buang aja."
"Hah?"
"Orang iseng pasti."
"Masa pagi-pagi begini?"
"Mungkin."
Meski berkata demikian, Siska sendiri mulai merasa ada yang tidak beres.
Sementara itu...
Di kantor pusat, Niel sedang memandangi layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari sekitar toko buku.
"Itu tadi pagi?"
tanyanya.
"Benar, Tuan."
jawab Darren.
"Pelakunya?"
"Orang yang mengenakan hoodie hitam."
"Sayangnya wajahnya tertutup masker."
Video memperlihatkan seseorang turun dari motor, meletakkan sebuah kotak kecil di depan toko, lalu pergi kurang dari tiga puluh detik.
Sangat rapi.
Sangat terencana.
Niel mengepalkan tangannya.
"Mereka semakin berani."
"Tuan."
Darren menatap atasannya.
"Saya rasa target mereka bukan lagi perusahaan."
Niel mengangguk pelan.
"Aku juga berpikir begitu."
"Mereka sedang bermain denganku."
"Melalui Aluna."
Ruangan kembali sunyi.
Siang harinya.
Niel akhirnya mengambil keputusan.
"Aku akan ke toko."
Darren langsung menoleh.
"Tuan?"
"Aku hanya memastikan dia baik-baik saja."
"Tapi kalau orang-orang itu memang mengawasi..."
"Aku tahu."
Niel berdiri.
"Justru aku ingin melihat."
"Apakah mereka benar-benar mengincarnya."
Di toko buku.
Aluna sedang membantu pelanggan ketika bel pintu berbunyi.
"Ting..."
Ia menoleh.
"Niel?"
Senyum yang sejak pagi menghilang akhirnya kembali terlihat.
"Kamu datang."
"Iya."
Niel memperhatikan wajah Aluna beberapa saat.
"Kamu kelihatan lelah."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu bohong."
Aluna tersenyum kecil.
"Kelihatan, ya?"
Niel mengangguk.
"Terjadi sesuatu?"
Aluna sempat ragu.
Namun akhirnya ia mengambil kartu putih tadi dari laci meja kasir.
"Ini."
Niel membacanya.
Dalam sekejap...
Tatapannya berubah dingin.
"Siapa yang memberimu ini?"
"Aku nggak tahu."
"Tadi pagi sudah ada di depan toko."
Niel menggenggam kartu itu.
Ia berusaha tetap tenang agar Aluna tidak semakin takut.
"Mungkin hanya orang iseng."
Aluna menatap Niel.
"Aku juga berharap begitu."
Namun entah mengapa...
Cara Niel membaca kartu itu membuat Aluna merasa pria tersebut mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Ayo."
ucap Niel tiba-tiba.
"Hah?"
"Makan siang."
"Aku masih kerja."
"Aku sudah izin pada Siska."
Aluna langsung menoleh.
"Siska?"
Siska yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung mengangguk.
"Aku yang jaga toko."
"Pergilah."
"Tapi..."
"Sudah."
Siska tersenyum jahil.
"Lagipula ada yang kelihatan ingin ngobrol serius."
Aluna akhirnya mengalah.
"Baik."
Mereka memilih makan di sebuah kafe yang tidak jauh dari toko.
Tempatnya tenang.
Tidak terlalu ramai.
Setelah makanan datang, Aluna memperhatikan Niel yang sejak tadi tampak lebih pendiam dari biasanya.
"Kamu kenapa?"
Niel mengangkat pandangan.
"Tidak apa-apa."
"Kamu bohong."
Kini giliran Aluna yang mengucapkan kalimat itu.
Niel tersenyum tipis.
"Ternyata kamu ingat."
"Tentu."
"Kan katanya aku harus belajar memahami orang."
Niel terkekeh pelan.
Suasana yang sempat tegang perlahan mencair.
Namun beberapa meja di belakang mereka...
Seorang pria sedang membaca koran.
Wajahnya tertutup sebagian.
Di balik koran itu, sebuah kamera kecil diam-diam mengarah ke meja Niel dan Aluna.
Klik.
Klik.
Setiap percakapan.
Setiap senyuman.
Semua terekam.
Usai makan siang, mereka berjalan keluar dari kafe.
Saat hendak menyeberang jalan, tiba-tiba terdengar suara klakson panjang.
"Tiiiin!"
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Aluna.
"Aluna!"
Tanpa berpikir panjang, Niel menarik tangan Aluna sekuat tenaga hingga tubuh gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
Brak!
Mobil itu melintas sangat dekat.
Hanya beberapa sentimeter dari tempat Aluna berdiri beberapa detik sebelumnya.
Aluna membeku.
Napasnya memburu.
Niel masih memeluknya erat.
"Kamu nggak apa-apa?"
Aluna mengangguk pelan.
"I... iya."
Namun tangan Niel justru sedikit gemetar.
Untuk pertama kalinya...
Ia benar-benar merasa hampir kehilangan Aluna.
Beberapa orang berlari menghampiri.
"Astaga, hampir saja!"
"Itu mobil kenapa ngebut begitu?"
Namun ketika Darren, yang mengikuti dari kejauhan, mencoba mengejar mobil tersebut...
Mobil itu sudah menghilang di tikungan.
"Tuan!"
Darren menghampiri dengan wajah tegang.
"Plat nomornya palsu."
Niel menatap jalan yang kini kembali lengang.
Matanya berubah sangat dingin.
"Itu bukan kecelakaan."
gumamnya pelan.
"Seseorang..."
"...baru saja mencoba menyakiti Aluna."
Di sebuah gedung yang menghadap persimpangan itu, pria misterius menurunkan teropongnya sambil tersenyum puas.
"Bukan untuk membunuh."
"Hanya untuk memberi peringatan."
Ia memasukkan teropong ke dalam tas.
"Lihatlah, Niel."
"Mulai sekarang..."
"...setiap keputusanmu akan menentukan apakah perempuan itu tetap hidup atau tidak."
Sementara di bawah sana...
Niel masih menggenggam tangan Aluna dengan erat, tanpa menyadari bahwa musuh mereka baru saja membuka babak pertama dari permainan yang jauh lebih kejam.
__________________________________________
Lanjutan
Suasana di persimpangan masih dipenuhi orang-orang yang berhenti karena kejadian itu.
Aluna masih berdiri mematung.
Jantungnya berdegup begitu cepat hingga napasnya terasa sesak.
Baru beberapa detik yang lalu...
Ia hampir tertabrak.
"Aluna."
Suara Niel terdengar pelan.
"Apa kamu terluka?"
Aluna menggeleng, meski wajahnya masih pucat.
"Nggak..."
"Aku cuma kaget."
Niel menatap gadis itu beberapa saat.
Baru saat itulah ia menyadari bahwa tangannya masih menggenggam erat tangan Aluna.
Perlahan ia melepaskannya.
"Maaf."
Aluna justru menggeleng.
"Kalau kamu nggak narik aku..."
"...mungkin tadi aku benar-benar tertabrak."
Tatapan mereka bertemu.
Tak ada kata-kata.
Namun keduanya sama-sama menyadari satu hal.
Dalam sepersekian detik tadi...
Mereka sama-sama takut kehilangan.
Darren kembali menghampiri setelah memastikan mobil itu benar-benar menghilang.
"Tuan."
"Bagaimana?"
"Tidak ada jejak. Kamera lalu lintas di tikungan depan juga sengaja dirusak."
Niel langsung mengalihkan pandangannya.
"Dirusak?"
"Ya."
"Sepertinya semua ini sudah direncanakan."
Rahang Niel mengeras.
Kalau tadi ia masih menganggap itu hanya ancaman...
Kini ia yakin.
Musuhnya sudah mulai bergerak.
Di perjalanan pulang menuju toko buku, suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan.
Aluna duduk di kursi belakang bersama Niel.
Sesekali ia melirik pria di sampingnya yang sejak tadi menatap lurus ke depan.
"Kamu..."
ucap Aluna pelan.
Niel menoleh.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena sudah menyelamatkanku."
Niel menggeleng pelan.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya."
"Tapi..."
Aluna menundukkan kepala.
"Aku benar-benar takut tadi."
Tanpa sadar, Niel mengangkat tangannya dan mengusap pelan kepala Aluna.
"Tenang."
"Selama aku ada..."
"...aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Aluna membeku.
Kalimat itu terasa begitu tulus.
Begitu hangat.
Dan entah mengapa...
Saat mendengarnya, bayangan-bayangan samar kembali melintas di kepalanya.
Seorang pria.
Suara yang sama.
Kalimat yang hampir serupa.
Namun sebelum sempat ia mengingat lebih jauh, rasa nyeri tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Agh..."
Niel langsung panik.
"Aluna!"
"Aku... nggak apa-apa."
Aluna memegang pelipisnya sambil memejamkan mata.
Rasa sakit itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya menghilang.
Ia membuka mata perlahan.
"Kenapa ya..."
gumamnya lirih.
Sementara Niel menatap Aluna dengan perasaan campur aduk.
Entah mengapa, firasat buruk mulai menghampirinya.
Ia merasa...
Permainan musuh itu bukan hanya akan mengancam keselamatan mereka.
Tetapi juga perlahan membangunkan kenangan yang selama ini terkubur.
— Bersambung —