NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8.Rasa penasaran yang terhenti.

Rasa penasaran yang meluap-luap seketika mengalahkan segala rasa takut dan larangan yang baru saja didengarnya. Hatinya berdebar kencang, seolah ada sesuatu yang memanggil-manggil namanya dari balik lorong gelap di atas sana. Tanpa sadar, langkah kakinya perlahan namun pasti menaiki anak tangga satu per satu, setiap pijakan kakinya terasa pelan dan tak bersuara, seolah ia tak ingin ada satu pun makhluk yang menyadari kehadirannya di sana. Napasnya ia tahan sebisa mungkin agar tak terdengar, matanya menatap tajam ke arah ujung tangga yang masih tertutup bayangan remang-remang.

“Memangnya ada apa sebenarnya di lantai dua ini?” batin Raisa, pikirannya penuh tanda tanya yang tak kunjung terjawab. “Apa yang begitu rahasia hingga kakek, Pak Munir, dan semua orang melarangku mendekat? Apakah benar-benar ada sesuatu yang disembunyikan dari semua orang?”

Ia terus melangkah maju, semakin dekat menuju ujung tangga yang menjadi batas antara dunia yang ia kenal dan misteri yang selama ini tertutup rapat. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia sempat merasa seolah suaranya akan terdengar memecah keheningan lorong itu. Ketika kakinya hampir menginjak anak tangga terakhir, suara panggilan yang melengking dan penuh kekhawatiran tiba-tiba memecah keheningan.

“Nona...! Nona Raisa... di mana Nona?!”

Suara Sekar terdengar begitu keras dan panik, seolah gadis itu mencarinya ke seluruh penjuru rumah dengan perasaan takut yang luar biasa. Raisa tersentak kaget seketika, seolah tersadar dari hipnotis rasa ingin tahu yang menyelimutinya. Tubuhnya menegang sejenak, lalu tanpa berpikir panjang, ia segera memutar tubuhnya dan melangkah turun dengan langkah yang tergesa-gesa namun tetap berusaha menapak pelan agar tak menimbulkan suara.

Sesampainya di lantai bawah, ia melihat Sekar berdiri tegak tepat di depan anak tangga dengan wajah yang tampak pucat pasi, tangan gadis itu meremas ujung bajunya dengan gelisah. Raisa tersenyum malu, lalu mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Sekar pelan dari belakang.

“Aku di sini,” serunya pelan berusaha menenangkan.

Sekar menoleh dengan cepat, napasnya masih terengah sedikit seolah habis berlari jauh. “Ya ampun Nona... Nona membuat saya kaget setengah mati! Saya sudah mencari Nona ke ruang tamu, ke dapur, bahkan ke halaman belakang! Dari mana saja Nona?”

Raisa menunduk sejenak, lalu menjawab dengan nada yang sedikit bersalah namun berusaha terlihat biasa saja, “Tadi aku... aku sempat naik sebentar ke arah lantai atas. Tadi aku mendengar suara gaduh yang keras sekali, seolah ada benda besar yang jatuh atau berbenturan. Jadi aku hanya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana, takutnya ada yang rusak.”

Belum sempat Raisa melanjutkan kalimatnya, Sekar langsung memotong dengan nada yang tiba-tiba berubah tegas dan penuh peringatan. Wajah ramahnya yang biasanya lembut kini digantikan oleh raut wajah yang sangat serius dan penuh kecemasan yang mendalam.

“Nona sebaiknya tidak pernah melangkahkan kaki ke sana! Bukankah Pak Munir sudah melarang Nona pergi ke lantai dua dengan alasan yang sangat jelas? Beliau berkata jika Nona tidak mau mengalami hal buruk yang tak diinginkan, maka jangan pernah sekalipun mencoba mendekat!” tegur Sekar dengan suara bergetar, matanya menatap lekat-lekat ke arah Raisa seolah ingin memastikan gadis itu mengerti betapa seriusnya larangan itu.

Raisa terdiam sejenak, merasakan ketulusan kekhawatiran dari pelayan barunya itu. Ia pun tersenyum kikuk berusaha menenangkan suasana. “Iya... maafkan aku ya Sekar. Aku cuma menduga-duga tadi mungkin itu hanya suara tikus besar atau hewan reptil yang terjatuh. Kau tahu kan aku sangat benci sekali dengan hewan sejenis reptil itu, jadi aku tadi sedikit kaget dan ingin memastikan agar tidak ada yang masuk ke kamarku.”

Melihat keraguan dan ketakutan yang masih tersisa di wajah Sekar, Raisa segera menggenggam tangan gadis itu lembut. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Kalau kita tidak segera berangkat, nanti pasar sudah ramai sekali atau bahkan dagangan segarnya sudah habis dibeli orang lain. Ayo kita berangkat sekarang!”

Sekar menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri kembali. “Kau benar, Nona. Kita harus segera berangkat. Pasar di perbatasan desa itu cukup jauh perjalanannya, dan jalanannya juga cukup berkelok-kelok melewati hutan kecil.”

“Kalau begitu kita naik apa ke sana? Apakah ada angkutan umum yang lewat atau harus berjalan kaki?” tanya Raisa penasaran sambil berjalan beriringan menuju pintu depan.

“Kita menggunakan kendaraan milik Tuan Raden yang tersimpan rapi di garasi belakang,” jawab Sekar mantap.

“Mobil? Benarkah ada mobil di sini?” mata Raisa membelalak tak percaya. Selama ini ia tak pernah melihat sekilas pun kendaraan beroda empat di halaman rumah itu.

Belum sempat Sekar menjawab, suara pintu utama tertutup rapat seketika bersamaan dengan langkah mereka yang melangkah keluar menuju halaman samping yang luas.

Sementara itu, di lantai dua yang kini kembali sunyi senyap, sosok ular putih besar itu perlahan mengeliat turun dari tempatnya bersembunyi di balik tiang ukir, berhenti tepat di tepi lorong sambil menatap lekat-lekat pintu utama yang baru saja tertutup. Sisiknya berkilau halus terkena sisa cahaya pagi yang masuk lewat celah jendela. Tak lama kemudian, kobaran api merah menyala melesat turun perlahan dari arah ruangan terdalam, berputar sejenak di udara menciptakan pusaran angin hangat sebelum akhirnya berubah wujud menjadi sosok Arya yang berdiri gagah di samping Jatmika.

“Sepertinya Nona berencana pergi hingga ke perbatasan desa, Tuan,” ucap Jatmika dengan suara rendah namun penuh perhatian.

“Aku tahu,” jawab Arya singkat, nada bicaranya dingin namun terselip rasa perhatian yang mendalam yang tak terucapkan.

“Kalau begitu izinkan saya mengawal Nona dari jauh, Tuan,” usul Jatmika dengan penuh kesetiaan. “Saya akan berubah wujud dan mengikuti dari balik pepohonan, memastikan tidak ada makhluk atau orang jahat yang berani mengganggu perjalanan Nona Raisa.”

Saat Jatmika mulai menggeliat hendak kembali berubah wujud untuk melaksanakan tugasnya, Arya segera mengulurkan tangan dan menahannya dengan perintah tegas.

“Berhenti, Jatmika!”

Jatmika seketika berhenti bergerak sepenuhnya dan menatap tuannya dengan penuh kebingungan. “Kenapa, Tuan? Apakah ada yang salah dengan rencana saya?”

“Raisa sangat membenci makhluk reptil, dan kau adalah salah satu dari mereka,” ucap Arya tenang namun tegas. “Jika secara tak sengaja ia melihat wujudmu, ia akan ketakutan dan merasa tidak nyaman sepanjang perjalanan. Biarkan aku yang akan menjaganya. Kau tetaplah tinggal di sini, jaga rumah ini dengan sebaik-baiknya dan jangan lupa perkuat lagi penghalang pelindung yang tadi kubuat, agar tidak ada gangguan yang masuk saat kami tidak ada di sini.”

“Baik, Tuan. Segala perintah Tuan akan saya laksanakan dengan sepenuh hati,” jawab Jatmika hormat sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

Arya pun perlahan menghilang, berubah menjadi kilatan api yang bergerak sangat cepat hingga tak terlihat oleh mata biasa, lenyap menyatu dengan udara di dalam rumah menuju arah yang sama dengan tujuan Raisa.

Di luar, Raisa ternganga tak percaya saat melihat apa yang tersembunyi di bangunan garasi besar yang tampak sederhana namun kokoh di bagian belakang rumah itu. Di sana tersusun rapi mobil-mobil antik yang masih sangat terawat, mengkilap dan bersih, mulai dari mobil sedan tahun 90-an yang klasik hingga mobil impor mewah yang tak pernah ia sangka ada di tempat terpencil seperti ini.

“Wah... kakek ternyata menyimpan banyak sekali kejutan,” batin Raisa takjub, matanya berkeliling melihat setiap sudut ruangan yang penuh kenangan itu.

Sekar mendekat ke arah lemari kaca berisi kunci-kunci kendaraan di sudut ruangan, lalu mengambil sepasang kunci yang tergantung pada gantungan bertanda huruf R. “Nona kira-kira ingin menggunakan kendaraan yang mana? Semuanya siap untuk dikendarai.”

Raisa berjalan masuk perlahan ke dalam deretan mobil itu, menatap satu per satu dengan kekaguman yang tak tersembunyikan. “Semua ini masih mulus dan mengkilap sekali ya, Sekar? Seolah baru saja dibeli kemarin.”

“Benar sekali, Nona. Tuan Raden memang jarang menggunakannya untuk bepergian jauh, namun setiap pagi Pak Budi selalu rutin datang ke sini untuk memanaskan mesin, membersihkan debu, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang agar tetap siap digunakan kapan saja,” jawab Sekar menjelaskan dengan rinci.

Raisa mengangguk paham, sepotong senyum haru terukir di bibirnya. “Pantas saja setiap pagi aku mendengar suara kenalpot kendaraan yang terdengar samar dari kejauhan. Aku kira itu kendaraan milik warga desa yang lewat berangkat ke ladang, ternyata itu adalah milik kakek yang selalu dirawat dengan begitu teliti dan penuh kesetiaan oleh Pak Budi.”

Sekar kembali bertanya lembut, “Lalu mobil mana yang akan kita gunakan, Nona?”

“Gunakan saja kendaraan yang paling sering dipakai oleh Kakek dulu,” jawab Raisa mantap tanpa ragu sedikitpun.

Mata Sekar langsung tertuju pada sebuah mobil sedan berwarna putih bersih, buatan Belanda yang tampak elegan, klasik namun tetap gagah dengan lekukan bodi yang tak lekang oleh waktu. Keduanya pun saling berpandangan sejenak, lalu Raisa menyadari sesuatu yang sangat penting.

“Tunggu dulu... siapa yang akan menyetir?” tanyanya pelan sambil menatap ke kiri dan ke kanan. “Aku belum bisa menyetir mobil, dan aku juga belum punya SIM. Itu melanggar peraturan kan kalau kita bawa mobil tanpa surat izin menyetir?”

Sekar tersenyum tenang, lalu merogoh saku kecil di tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kartu plastik berwarna biru yang masih baru. “Tenang saja Nona, saya punya SIM resmi dan sudah cukup mahir mengemudi. Dulu saya sering mengantar Nenek ke pasar atau ke kota kalau Tuan Raden sedang sibuk.”

Raisa langsung mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum lebar dan mengangguk kagum. “Wah, hebat sekali kau, Sekar! Benar-benar keren!”

Akhirnya mobil putih antik itu melaju perlahan keluar dari garasi, melintasi halaman luas yang dipenuhi pepohonan rindang, dan melewati gerbang utama yang terbuka lebar, meninggalkan rumah besar itu menuju pasar yang terletak di perbatasan desa. Tak ada yang menyadari bahwa di balik mobil itu, sebuah sosok yang tak terlihat mata biasa kini mengikuti setiap pergerakan mereka dengan sangat hati-hati dan sigap. Arya mengubah wujudnya menjadi sekilas cahaya samar yang melayang lincah mengikuti jejak mobil itu dari kejauhan, memastikan tak ada satu pun bahaya yang berani mendekat selama perjalanan cucu sahabat setianya itu.​

1
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!