Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Pembohong besar
Ducati hitam itu berhenti tepat di depan kontrakan bercat biru yang mengelupas. Hujan rintik-rintik membuat jalanan tanah di depan rumah becek dan licin.
Aquilla segera melepaskan helmnya, tapi Altair lebih cepat. Jari-jari kasar pria itu mencengkeram dagunya pelan, lalu membuka pengait helm dengan satu tangan. Gerakannya efisien dan hati-hati.
“Udah,” kata Altair datar.
Rambut panjang Aquilla yang lembap langsung tergerai menempel di pipi.
Tanpa mengucap terima kasih, Aquilla berbalik menuju pintu. Tangannya kosong. Plastik belanjaan dan kipas angin selutut masih menggantung di stang motor. Altair mendengus kasar menahan emosi. Istri macam apa yang pulang belanja tapi suaminya yang disuruh angkut semua? Rasanya ia ingin menoyor kepala istrinya itu.
Namun, langkah Aquilla terhenti di batas pagar bambu yang memisahkan kontrakan mereka dengan rumah sebelah.
Di teras remang rumah tetangga, duduk seorang bocah laki-laki berusia enam atau tujuh tahun. Kepalanya botak, tubuhnya kurus, dan tangannya memeluk erat boneka Nailong lusuh. Tatapannya kosong menatap jalanan. Persis seperti kemarin saat Aquilla baru pindah.
Dada Aquilla mencelos. Ia selalu sensitif pada anak kecil. Mengabaikan tatapan tajam Altair, Aquilla berbalik ke motor dan membongkar plastik belanjaan. Ia mengambil beberapa bungkus Chiki, wafer, dan permen.
“Mau ke mana?” tanya Altair dengan suara naik satu oktaf, tangannya penuh menenteng belanjaan.
“Mau ke adek itu,” jawab Aquilla singkat tanpa menoleh.
Altair menghela napas pasrah lalu membawa masuk semua barang. “Nggak ada takutnya tuh cewek,” gumamnya kesal. “Padahal udah gue karang cerita kalau bocah sebelah itu anak indigo pembawa sial.”
Di balik pagar bambu setinggi pinggang, Aquilla berjongkok menyamakan tinggi. Dari dekat, ia melihat mata bocah itu besar namun sayu, serta ada lebam samar di pelipisnya. Amarah Aquilla mendidih. Siapa yang tega memukul anak sekecil ini?
“Halo, Dek,” sapa Aquilla selembut mungkin dengan senyum terbaiknya.
Bocah itu tak merespons. Angin sore membuat bahu kurusnya bergetar, tapi ia tetap diam seperti patung. Aquilla memutar otak, lalu mengubah strategi dari menawarkan menjadi bercerita.
“Kamu tahu nggak, boneka kamu itu namanya Nailong,” kata Aquilla pelan. “Kakak dulu punya yang warna pink, namain dia Cimbul. Cimbul cerewet banget, kalau nggak didongengin suka ngambek.”
Kelopak mata bocah itu berkedip pelan. Ada harapan menyala di dada Aquilla.
“Nailong kamu cerewet juga, atau pendiam kayak kamu?” lanjut Aquilla.
Jari-jari kecil bocah itu bergerak merapatkan pelukan pada bonekanya. Aquilla merobek bungkus Chiki rasa keju, memakannya satu dengan gaya dramatis, lalu menyodorkan bungkusnya melewati celah pagar. Ia menunggu sabar.
Perlahan, tangan kurus bocah itu terangkat ragu. Jemari kotornya mengambil satu keping Chiki lalu menarik tangannya cepat, seolah takut dipukul.
Aquilla tetap tersenyum lembut. Bocah itu mengunyah pelan, mulai melirik ke arahnya.
“Kamu tinggal sama siapa, Dek?” tanyanya berbisik.
Setelah hening lama, suara kecil dan serak keluar dari bibir bocah yang pecah-pecah. “...Nenek.”
“Kalau gitu, kita jadi teman ya? Kakak janji besok bawain yang rasa stroberi. Mau?”
Bocah itu mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya, mata sayu itu menatap Aquilla langsung. Perlahan, sudut bibirnya tertarik ke atas, sebuah senyuman tipis yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Aquilla.
“Kakak... Aquilla,” katanya bergetar sambil mengacungkan jari kelingking. “Kamu siapa?”
Bocah itu ragu, lalu mengaitkan kelingking kecilnya. “...Bian,” bisiknya.
Langkah kaki dari ujung gang memutus momen itu. Seorang wanita tua berkebaya lusuh berjalan tertatih menenteng tas belanja.
“Nenek!” Bian langsung berlari kecil dan memeluk pinggang neneknya erat. Wanita tua itu terkekeh mengelus kepala botak cucunya, lalu tersenyum ramah pada Aquilla.
“Eh, Neng. Tetangga baru, ya? Mari masuk ke teras, udaranya dingin,” ajak sang nenek tulus.
Aquilla melangkah masuk dan duduk di teras kayu. Bian duduk di antara mereka sambil memeluk Nailong.
“Neng istrinya Den Altair, ya?” tanya sang nenek sambil menuang teh tawar. “Den Altair itu baik banget. Sering bantu kami, nitip uang atau beras. Kalau nggak ada dia, saya sama Bian bingung mau makan apa.”
Krak. Gelas seng di tangan Aquilla hampir remuk.
Sering bantu? Padahal Altair bilang Bian anak indigo yang berbahaya! Cowok itu jelas-jelas menipunya.
Aquilla menahan amarahnya, lalu menunjuk pelan ke pelipis Bian. “Nek... kalau boleh tahu, luka Bian ini kenapa?”
Senyum sang nenek luntur. “Dari ibunya, Neng. Ibu kandung Bian,” jawabnya lirih dengan mata berkaca-kaca. “Orang tuanya cerai. Ibunya stres dan suka melampiaskan marah ke Bian. Dia nitip Bian ke saya sejak umur tiga tahun.”
Dunia Aquilla serasa bergetar. Lebam itu dari ibu kandungnya sendiri.
“Terus... kepalanya kenapa dibotakin, Nek?” tanya Aquilla dengan suara tercekat.
Nenek mengusap air mata yang lolos. “Bian lagi sakit, Neng. Kanker darah... stadium akhir kata dokter.”
Dug.
Jantung Aquilla serasa berhenti. Kanker darah stadium akhir. Pantas tubuhnya kurus dan matanya sayu. Anak sekecil ini bertarung dengan kematian sekaligus kekejaman ibunya sendiri.
Seketika, semua keluhan hidup Aquilla terasa sangat dangkal. Rasa marahnya karena dijodohkan paksa atau diangkat anak terasa tak ada artinya dibanding penderitaan Bian. Air mata Aquilla menetes tanpa bisa ditahan.
Melihat itu, tangan kecil Bian terangkat mengusap pipi Aquilla. “Kakak... jangan nangis,” bisiknya jernih. “Bian nggak apa-apa.”
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan Aquilla sepenuhnya. Tanpa peduli lagi, ia menarik Bian ke dalam pelukan hangat yang erat, membiarkan tangisnya pecah di bahu budak kecil itu.
Beberapa menit kemudian, Aquilla pamit. Sebelum pergi, ia berjongkok di depan Bian dan menghapus sisa air matanya.
“Dek, besok main ke rumah Kakak, ya? Kita makan snack bareng sambil nonton kartun. Mau?”
Mata sayu Bian seketika berbinar cerah. “Mau, Kak Quilla! Bian mau!” jawabnya penuh semangat sambil mengaitkan kelingkingnya lagi.
Aquilla tersenyum, melambaikan tangan pada sang nenek, lalu melangkah kembali ke kontrakannya.
Di dalam rumah, Altair sedang memasang kipas angin di sudut kamar. Ia menoleh saat pintu terbuka dan mendapati istrinya masuk dengan mata sembap bekas menangis.
Belum sempat Altair bertanya, Aquilla menyambar tajam, “Altair Aldebaran... lo pembohong besar.”
Altair mengerutkan kening bingung. Aquilla tak menjawab lagi; ia membanting tasnya ke kasur dan langsung masuk ke kamar mandi, meninggalkan Altair dalam keheningan.