Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Dari Bos
Dengan hati berdebar Alina berada di dalam kantor sang CEO, Alina seperti mimpi kalau sang CEO tempat ia bekerja ternyata suami kilatnya, Devan meraih sebuah map cokelat tebal yang tergeletak di meja kopi dan menggesernya ke arah Alina. "Ini adalah dokumen pelengkap mengenai status pengobatan ibumu di Rumah Sakit Medika Utama. Tim dokter spesialis jantung terbaik sudah dijadwalkan untuk menangani operasinya minggu depan. Seluruh biaya, termasuk perawatan pasca-operasi dan ruang VIP, sudah diselesaikan oleh pengacaraku."
Alina membelalakkan matanya. Ia membuka map tersebut dan membaca dokumen di dalamnya dengan perasaan campur aduk. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya, membuat matanya terasa panas oleh genangan air mata.
"Terima kasih ... Terima kasih banyak, Pak Devan," kata Alina dengan suara bergetar tulus. "Saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Anda seperti apa."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun," potong Devan dingin, memotong luapan emosi Alina sebelum berkembang lebih jauh. "Ini adalah bagian dari kesepakatan kita. Kamu memenuhi peranmu, dan aku memenuhi kewajibanku."
Devan kemudian bersandar pada sofa, menyatukan jemarinya. "Aku memanggilmu ke sini untuk menegaskan beberapa hal penting terkait kehadiranmu di perusahaan ini."
Alina menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama.
"Pertama, fakta bahwa kamu diterima bekerja di divisi Pemasaran adalah sebuah kebetulan murni. Perekrutanmu dilakukan oleh tim HRD sebelum kita menandatangani perjanjian pernikahan.
Aku tidak pernah mencampuri proses seleksi tersebut," jelas Devan dengan nada tanpa kompromi. "Kedua, kamu tidak boleh mengundurkan diri secara mendadak karena hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan di antara staf HRD dan manajemen."
"Saya paham, Pak. Saya juga tidak berniat mengundurkan diri. Saya butuh pekerjaan ini," jawab Alina jujur.
"Bagus," Devan menatap lurus ke dalam mata Alina. "Dan yang paling utama: sikap di kantor pagi tadi adalah standar yang harus kita jaga seterusnya. Di depan siapa pun, baik staf biasa, jajaran direksi, maupun keluarga saya jika mereka berkunjung, kamu dan saya adalah dua orang asing yang tidak memiliki keterikatan apa pun. Kamu adalah staf administrasi junior, dan aku adalah atasanmu."
Kalimat itu diucapkan dengan sangat lugas dan tanpa cela. Alina merasakan denyut kecil di dadanya, sebuah rasa perih yang teramat halus namun nyata. Ia tahu posisi dirinya, namun mendengar ketegasan itu disampaikan secara langsung tetap saja meninggalkan goresan di hatinya.
"Saya mengerti, Pak Devan. Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu diri dan tidak akan pernah merusak nama baik Anda atau perusahaan ini," sahut Alina dengan suara yang ditahan agar tetap stabil.
Devan memperhatikan perubahan raut wajah Alina. Ada sedikit jeda di antara mereka, keheningan yang cukup panjang hingga suara denting jam dinding terdengar jelas. Untuk sepersekian detik, kilatan ekspresi samar yang sulit diartikan melintas di mata Devan, sebuah perpaduan antara dorongan untuk mengatakan sesuatu dan penahanan diri yang ketat. Namun, ekspresi itu hilang serapi saat datang, kembali digantikan oleh topeng dingin yang sempurna.
"Bagaimana dengan tempat tinggalmu?" tanya Devan, mengalihkan topik. "Apakah kontrakanmu dekat dari sini?"
"Agak jauh, Pak. Harus naik angkutan umum dua kali," jawab Alina pendek.
Devan meraih ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat. "Pengacaraku sudah menyiapkannya. Sebuah apartemen yang aman dekat kawasan ini atas namamu. Kamu bisa pindah akhir pekan ini agar lebih fokus merawat ibumu dan bekerja."
"Tidak perlu, Pak!" potong Alina cepat, memberanikan diri menatap Devan. "Bantuan biaya pengobatan ibu saya sudah lebih dari cukup. Saya tidak bisa menerima fasilitas mewah lainnya. Saya merasa tidak pantas."
Devan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Alina dengan alis terangkat samar. "Ini bukan tawaran, Alina. Ini adalah perintah untuk menjaga keamanan dan efisiensi. Jika kamu kelelahan atau terjadi sesuatu padamu di jalan, hal itu bisa memicu masalah yang tidak perlu."
"Tapi, Pak—"
"Keputusan tidak bisa diganggu gugat," potong Devan tegas, berdiri dari duduknya yang menandakan bahwa audiensi telah berakhir. "Kamu bisa pulang sekarang. Gunakan pintu belakang yang sama."
Alina menggigit bibir bawahnya. Ia paham betul bahwa berdebat dengan pria ini adalah hal yang sia-sia. Ia ikut berdiri, merapikan roknya, lalu menganggukkan kepala secara formal.
"Baik, Pak Devan. Terima kasih atas waktunya. Saya permisi."
Alina berbalik dan melangkah menuju pintu. Tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, suara Devan kembali terdengar dari belakang.
"Alina."
Alina menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan tatapan bertanya.
Devan berdiri di dekat meja kerjanya, menatapnya dengan raut wajah yang tak terbaca. "Jaga kesehatanmu. Operasi ibumu butuh stamina yang kuat dari pendampingnya."
Kata-kata itu terdengar sederhana, disandarkan pada nada bicara yang tetap datar. Namun bagi Alina, ada hangat tipis yang menyusup di antara dinginnya dinding kaca ruangan tersebut.
"Baik ... terima kasih, Pak," bisik Alina pelan sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Devan yang tetap berdiri dalam diam menatap pintu yang tertutup rapat.
Alina melangkah keluar dari ruang CEO dengan langkah yang agak goyah. Pintu kaca itu tertutup pelan di belakangnya, memutus kontak visual dengan Devan. Di koridor sepi lantai eksekutif, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang masih kencang.
Map cokelat di tangannya terasa berat. Di dalamnya bukan hanya dokumen pengobatan Ibu, melainkan juga bukti bahwa hidupnya kini terikat kontrak yang rumit. Ia menekan tombol lift menuju lantai bawah, lalu keluar lewat pintu belakang seperti yang diperintahkan.
Sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkutan umum, pikiran Alina bergulir tak menentu. Apartemen mewah yang ditawarkan Devan membuatnya gelisah. Ia bukan orang yang terbiasa menerima pemberian tanpa balasan. Namun, kata-kata Devan sebelumnya masih terngiang: “Ini bukan tawaran. Ini perintah.”
Sesampainya di kontrakan sempit di pinggiran kota, Alina langsung membuka map itu lagi. Detail operasi jantung Ibu tertulis rapi, lengkap dengan jadwal dokter spesialis. Air mata yang sempat tertahan di kantor kini mengalir pelan. “Bu … Ibu akan sembuh,” bisiknya pelan.
Malam itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Pengacara akan menghubungimu besok pagi untuk serah terima kunci apartemen. Jangan terlambat. –D”
Alina menatap layar lama. Ia membalas singkat, “Baik, Pak.”
Keesokan harinya di kantor, Alina berusaha bersikap normal. Di divisi pemasaran, rekan-rekannya menyambutnya seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa CEO yang mereka takuti adalah suami rahasianya. Setiap kali Devan lewat di koridor atau muncul di rapat, Alina menunduk dan fokus pada pekerjaannya. Mereka saling berpapasan beberapa kali, namun tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya tatapan singkat yang penuh jarak.
Di sore hari, Alina menerima kabar bahwa Ibu sudah dipindahkan ke ruang VIP. Rasa lega dan rasa bersalah bercampur aduk. Ia tahu betul bahwa semua ini adalah bagian dari kesepakatan, tapi hati kecilnya tetap bertanya-tanya: sampai kapan topeng dingin itu akan terus mereka kenakan?