Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Debat di Balai Utama
"Aku menolak keputusan ini!"
Suara bentakan keras milik Luka menggema memenuhi Balai Utama Suku Serigala, memecah keheningan pagi yang dingin.
Pemuda berambut cokelat itu berdiri dengan dada yang naik-turun, menatap tajam ke arah Aron yang duduk di kursi kehormatan kepala suku.
Beberapa tetua dan pemimpin kelompok berburu yang duduk di sekeliling meja batu langsung berbisik-bisik.
Yana berdiri di sudut ruangan, bersandar pada pilar kayu dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia sama sekali tidak terkejut melihat reaksi Luka. Di kehidupan sebelumnya, ego pemuda itu memang selalu melambung tinggi jika merasa posisinya diabaikan.
Aron menatap Luka dengan mata menyipit tajam. Nada suaranya terdengar dingin dan berat. "Luka, jaga nada bicaramu saat berada di hadapan para tetua dan kepala suku."
"Bagaimana aku bisa tenang, Paman?!" protes Luka tanpa rasa takut, melangkah maju mendekati meja utama. "Kemarin malam tiba-tiba pos penjagaan utara ditambah dua kali lipat. Hari ini, para pemuda dilarang berburu jauh dan dipaksa berlatih menggunakan perisai berat sepanjang hari! Alasan apa di balik semua ini? Hanya karena firasat Yana?"
Paman Bimo yang duduk di sebelah Aron mendengus kesal. Ia ikut berdiri, menunjuk wajah Luka dengan jari telunjuknya.
"Jaga mulutmu, Luka! Firasat Yana sudah dua kali menyelamatkan suku kita dari bencana besar! Kalau bukan karena dia, kamu dan kelompok berburu mungkin sudah mati tercabik babi hutan di celah tebing waktu itu!" bentak Paman Bimo sengit.
"Itu hanya kebetulan!" sangkal Luka dengan suara tinggi, lalu melirik sekilas ke arah Yana yang berdiri di sudut. "Yana mendadak berubah sejak minggu lalu! Dia bersikap aneh, dingin, dan sekarang menghasut Paman Aron untuk mengubah seluruh aturan suku hanya berdasarkan mimpi buruknya!"
Yana akhirnya mengangkat wajahnya. Ia melepaskan lipatan tangannya, lalu melangkah perlahan mendekati tengah ruangan. Tatapan matanya yang abu-abu kehijauan menghujam lurus ke arah Luka, membuat pemuda itu sedikit tersentak di tempatnya.
"Mimpi buruk?" suara Yana terdengar pelan, tetapi sangat tajam menusuk udara balai. "Luka, apakah menurutmu kematian tiga prajurit Suku Beruang kemarin juga hanya sekadar mimpi buruk?"
Luka terdiam sejenak, wajahnya sedikit memerah. "Itu... itu urusan Suku Beruang! Bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan dan mengurung diri seperti pengecut di dalam benteng sendiri!"
"Ketakutan?" Yana tersenyum sinis. Ia berjalan mendekati Luka hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. "Pengecut adalah orang yang tidak mau melihat kenyataan bahwa musuh dari luar sedang mengincar persediaan makanan kita. Kalau kamu menganggap persiapan ini sebagai bentuk kepengecutan, itu karena matamu tertutup oleh kesombonganmu sendiri, Luka!"
"Yana!" seru Luka geram, wajahnya memerah padam karena dipermalukan di depan para tetua. "Kamu—kamu benar-benar sudah bukan Yana yang kukenal lagi! Kenapa kamu sekarang menjadi begitu egois dan suka memerintah?!"
"Cukup!"
Bentakan Aron menggema menghentikan pertikaian di antara mereka berdua. Kepala Suku Suku Serigala itu berdiri dari kursi batunya, memancarkan wibawa yang membuat seluruh ruangan langsung terdiam sunyi.
Aron menatap tajam ke arah Luka. "Keputusan untuk memperketat pertahanan bukan keputusan Yana seorang. Itu adalah keputusan mutlakku sebagai Kepala Suku!"
Luka mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya. Ia menundukkan kepala, menahan amarah dan rasa tidak terima yang membakar dadanya. "Jika Paman Aron lebih mendengarkan omongan anak perempuan yang hanya mengandalkan firasat daripada prajurit yang bertarung di garis depan... terserah kalian!"
Tanpa menunggu izin, Luka berbalik badan dan melangkah keluar dari Balai Utama dengan menghentakkan kakinya keras-keras, membanting tirai kulit rusa di pintu keluar.
Suasana di dalam balai menjadi hening dan tegang setelah kepergian Luka.
Paman Bimo mengelus janggutnya sambil menggelengkan kepala. "Anak muda itu kepalanya memang keras. Sifatnya yang terlalu percaya diri akan mencelakakannya suatu hari nanti."
"Biarkan dia pergi menenangkan diri," ujar Tetua Gordon yang sejak tadi duduk tenang di sudut ruangan, membuka suara dengan nada serak khas orang tua. Sang tetua lalu mengalihkan pandangan kelabunya menatap Yana. "Namun, perkataan Luka tadi ada benarnya dalam satu hal... Perubahan sikapmu memang sangat drastis, Yana."
Yana menoleh ke arah Tetua Gordon, tetapi ekspresinya tetap tenang dan tidak menunjukkan kepanikan. "Apakah Tetua juga meragukan tujuanku?"
Tetua Gordon tersenyum tipis, garis-garis keriput di wajah tuanya tampak semakin jelas. "Keraguan? Tidak, anakku. Aku tidak meragukanmu. Seseorang yang dianugerahi kemampuan melihat masa depan oleh Dewa Binatang pasti memiliki beban yang teramat berat di pundaknya."
Mendengar ucapan Tetua Gordon, jantung Yana berdegup kencang. Ia tidak menyangka sang tetua tertua begitu blak-blakan menyebut kemampuannya di hadapan Aron.
Aron menoleh kaget ke arah Tetua Gordon. "Gordon, apa maksudmu? Kemampuan melihat masa depan?"
Tetua Gordon mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu. "Aron, putrimu bukan sekadar mendapatkan firasat biasa. Energi suci yang mulai bangkit di dalam tubuhnya adalah bukti bahwa Dewa Binatang telah memilihnya untuk menyelamatkan Suku Serigala dari kehancuran total."
Aron tertegun. Ia memandang Yana dengan tatapan tidak percaya bercampur rasa takjub. "Yana... apakah benar apa yang dikatakan Tetua Gordon?"
Yana menundukkan kepalanya sejenak, lalu menarik napas perlahan. Ia tahu, ia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan kebenaran ini dari ayahnya, terutama setelah kejadian di festival semalam.
"Ayah... maafkan aku karena menyembunyikannya," ucap Yana jujur. "Aku tidak hanya mendapat firasat. Dalam penglihatanku semalam... aku melihat suku kita dibakar rata dengan tanah. Aku melihat orang-orang yang kita sayangi mati terbunuh oleh senjata besi asing."
Aron melangkah cepat mendekati putrinya, lalu merangkul bahu Yana dengan erat. "Kenapa kamu memikul beban seberat itu sendirian, Nak?"
"Karena aku takut, Ayah," jawab Yana lirih, suara tenangnya mulai menyisipkan sedikit getaran emosi. "Di kehidupan sebelumnya... aku adalah gadis yang bodoh dan lemah. Aku tidak bisa melindungi siapa pun. Ketika bencana itu datang, aku hanya bisa melihat Ayah dan semua orang mati di hadapanku."
Paman Bimo dan Tetua Gordon terdiam mendengar kalimat Yana yang terdengar sangat putus asa namun penuh tekad baja. Mereka tidak mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud dengan "kehidupan sebelumnya", tetapi mereka bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari suara gadis itu.
Aron mengeratkan rangkulannya kepada sang putri. "Dengar, Yana. Apapun yang kamu lihat dalam penglihatanmu itu, masa depan belum terjadi. Kita masih di sini. Kita masih hidup, dan kita bersiap."
Yana mendongak, menatap mata tegas ayahnya. Ada kehangatan luar biasa yang menyapu bersih rasa dingin di dadanya.
"Ya, Ayah," kata Yana dengan suara yang kembali mantap. "Kita tidak akan membiarkan masa depan itu terulang."
Tetua Gordon mengangguk-angguk setuju. "Kalau begitu, persiapan kita harus dipercepat. Jika musuh dari luar yang membawa senjata besi itu benar-benar ada, kita butuh lebih dari sekadar perisai kayu."
"Apa maksud Tetua?" tanya Aron.
"Kita harus meminta bantuan dari Suku Elang di pegunungan utara," jawab Tetua Gordon serius. "Mereka adalah pembuat senjata besi terbaik di wilayah ini. Jika kita bisa menjalin kerja sama atau membeli senjata dari mereka sebelum musim dingin tiba, prajurit kita tidak akan kalah."
Paman Bimo mengerutkan dahi. "Suku Elang? Hubungan kita dengan mereka tidak terlalu baik sejak perselisihan batas wilayah tahun lalu, Gordon."
"Hubungan bisa diperbaiki jika kita membawa penawar racun dan tanaman obat dari Lembah Bintang sebagai hadiah perdamaian," sanggah Tetua Gordon bijak. "Yana adalah orang yang tahu persis letak tanaman itu. Dia harus ikut dalam rombongan diplomasi."
Yana terdiam sejenak. Mendengar nama Suku Elang, ingatannya kembali berputar ke masa lalu. Di kehidupan pertamanya, Suku Elang adalah salah satu suku pertama yang berkhianat dan bergabung dengan gadis transmigrator itu untuk menghancurkan Suku Serigala.
Namun sekarang, jika ia bisa mendahului mereka dan mengamankan aliansi lebih awal...
"Baiklah," jawab Yana mantap tanpa ragu. "Aku akan ikut memimpin rombongan diplomasi ke Suku Elang bersama Ayah."
Aron menatap putrinya dengan rasa bangga bercampur khawatir. "Perjalanan ke pegunungan utara sangat berbahaya, Yana. Salju tebal mulai turun di sana."
"Aku tidak takut, Ayah," balas Yana dengan mata abu-abu kehijauannya yang memancarkan ketegasan mutlak. "Untuk melindungi suku ini, aku siap pergi ke ujung dunia sekalipun."
Di luar balai utama, angin musim dingin berembus semakin kencang membawa serpihan salju pertama tahun ini.
Pertarungan takdir baru saja dimulai, dan Yana, tidak akan membiarkan langkahnya mundur barang sedikit pun.
***
Bersambung ....