"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Seorang pria muda berjas hitam rapi dengan penampilan yang sangat elegan tampak melangkah cepat ke arah Repan. Wajahnya tegas, rambutnya disisir klimis ke belakang, dan sorot matanya tajam namun tetap memperlihatkan keramahan yang sopan.
Dia adalah Jajang—Manajer operasional dari showroom mobil mewah tersebut—yang langsung turun tangan setelah menerima laporan mencengangkan dari Nara.
"Selamat malam, Tuan. Saya Jajang, Manajer di showroom ini," ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan dengan penuh rasa hormat.
Repan menyambut jabat tangan itu dengan singkat. Sorot matanya tetap tenang namun terasa begitu dingin, memberikan sebuah tekanan psikologis tak kasat mata yang entah kenapa sukses membuat Jajang mendadak agak gelisah.
'Dia masih kelihatan muda banget... Bahkan sepertinya masih anak SMA. Apa bocah ini beneran mau memborong dua unit mobil seharga belasan miliar sendirian?' batin Jajang, masih menyimpan keraguan besar atas kapasitas finansial remaja di hadapannya.
"Saya ke sini berniat untuk membeli dua unit mobil sport ini," ucap Repan.
Nada suaranya terdengar datar dan santai, namun terselip wibawa kuat yang tidak bisa dibantah.
Jajang memaksakan senyum profesionalnya tetap terjaga. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan prosedur, Repan sudah kembali bersuara dengan intonasi yang jauh lebih menukik tajam.
"Tapi sepertinya, barisan sales senior di showroom Anda ini punya etika yang kurang ramah. Mereka dengan sengaja mengolok-olok dan menertawakan calon pelanggan di depan umum."
"Apa memang seperti ini standar SOP pelayanan yang diterapkan di showroom BMW kalian?"
Seketika itu juga, ekspresi wajah Jajang berubah menjadi sangat serius. Ia langsung menolehkan kepalanya ke arah Nara dengan pandangan menyelidik.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini, Tuan... Gadis ini kebetulan masih berstatus sebagai pegawai baru di sini. Dia mungkin masih dalam proses mempelajari SOP yang berlaku," jawab Jajang cepat, berasumsi kalau Nara yang telah membuat kesalahan.
"Bukan gadis ini yang bermasalah," potong Repan sambil melemparkan lirikan tajam ke arah sekelompok sales senior yang sedari tadi mencibir, yang kini wajahnya mendadak pucat pasi.
"Mereka itulah yang sedari tadi sibuk menghina dan menertawakan saya."
Detik itu juga, Jajang memutar pandangannya, menatap tajam ke arah para staf seniornya yang kini langsung menundukkan kepala dengan raut panik setengah mati.
Kobaran amarah Jajang mulai tersulut, namun ia sekuat tenaga menahannya demi menjaga nama baik perusahaan di hadapan calon pembeli yang ternyata... posisinya jauh lebih dari sekadar "calon".
"Baiklah, jika memang demikian... Silakan kita proses untuk pembayarannya, Tuan," ujar Jajang sembari membungkukkan tubuhnya takzim.
"Untuk dua unit BMW MX ini, total nominalnya berada di angka 12 miliar rupiah."
Tanpa ingin membuang waktu untuk berbasa-basi, Repan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka aplikasi perbankan digital untuk melakukan transfer instan saat itu juga.
Hanya berselang beberapa detik kemudian, suara notifikasi perangkat berbunyi nyaring.
Bip! Transaksi Berhasil.
Jajang yang langsung memeriksa angka nominal yang masuk ke rekening perusahaan seketika menahan napasnya dalam-dalam. 12,5 miliar rupiah. Jumlah dana yang ditransfer bahkan berlebih sebesar 500 juta!
"Tu-Tuan... Anda mengirimkan dana kelebihan sebesar 500 juta rupiah..." ucap Jajang dengan nada suara yang bergetar hebat antara syok dan nggak percaya.
"Nominal lebih itu sengaja saya berikan untuk gadis yang sudah melayani saya dengan sangat baik tadi," jawab Repan santai, sembari menunjuk pelan ke arah Nara yang berdiri kaku di belakang tubuh Jajang.
"Anggap saja itu sebagai bonus atas profesionalisme kerja dan keberaniannya."
Pernyataan santai dari mulut Repan seketika mengguncang seisi ruangan pameran.
"Hah?! Serius bonusnya 500 juta?!"
"Dia... dengan mudahnya melempar bonus segila itu cuma buat sales anak baru?!"
"Sialan! Tahu begitu kalau anak sekolah itu ternyata miliarder kelas kakap, aku pasti yang bakal maju paling depan buat menyambutnya tadi!"
"Mampus kita... Kita sudah terlanjur meremehkan dia, dan sekarang posisinya kita diadukan langsung di depan manajer!"
Wajah para sales senior itu mendadak pias tanpa darah laksana melihat hantu di siang bolong. Rasa penyesalan yang teramat pekat langsung menghantui benak mereka.
Di sisi lain, Nara sempat berdiri mematung selama beberapa detik karena terlalu syok, sebelum akhirnya ia membungkukkan tubuhnya sedalam mungkin ke arah Repan.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, Tuan! Saya benar-benar berterima kasih!" ucapnya dengan nada suara yang bergetar menahan emosi haru.
Jajang kini menatap Repan dengan tingkat penghormatan yang sepenuhnya berbeda.
"Tuan, saya pribadi yang akan mengurus seluruh proses pengiriman unitnya. Mohon bantuannya untuk menuliskan alamat kediaman Anda agar besok bisa langsung kami antarkan ke lokasi."
Repan meraih secarik kertas, lalu menuliskan alamatnya dengan pulpen. "Ini alamat rumah baru saya. Pastikan mobilnya sampai besok pagi. Jangan ada keterlambatan."
"Siap, Tuan! Kami garansi semuanya akan terkirim dengan sempurna!" jawab Jajang dengan nada mantap.
Repan hanya memberikan respons berupa anggukan pendek, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan area showroom tanpa banyak retorika. Ia berjalan pergi dengan tenang, meninggalkan keheningan, rasa takjub yang luar biasa, serta penyesalan mendalam dari orang-orang di belakangnya.
Ting!
[Anda Berhasil Mendapatkan +125 Poin Atribut]
Sebuah panel transparan dari sistem mendadak melayang di hadapan pandangannya.
'Bagus... Donasi dan belanja mobil tadi benar-benar membuahkan poin dalam jumlah melimpah. Sekarang saatnya berburu barang berharga mahal yang lainnya,' batin Repan sambil tersenyum tipis. Ia pun melanjutkan langkah kakinya menyusuri koridor Mall Botani Square yang masih tampak ramai pengunjung.
Ia berjalan santai membelah kerumunan orang. Alunan musik lembut yang mengalun dari tenant-tenant toko berpadu dengan derap langkah kaki pengunjung, menciptakan latar suasana mall yang begitu hidup dan meriah. Namun, di tengah keriuhan itu, Repan justru sempat menghentikan langkahnya dan mengangkat bahu pelan dengan ekspresi bingung.
'Selanjutnya aku harus beli apa lagi ya?' pikirnya sambil sedikit mengernyitkan alis.
Jujur saja, ia sama sekali belum terbiasa membelanjakan uang dalam jumlah yang sangat fantastis tanpa ada target atau tujuan kebutuhan yang jelas.
Pandangan matanya kemudian tidak sengaja tertuju pada sebuah gerai perhiasan mewah dengan lampu etalase yang memantulkan kilau memukau.
Berbagai deretan batu berlian dan permata berharga mahal tampak dipajang anggun di balik kaca transparan, menyebarkan pendar cahaya ke segala penjuru arah.
'Apa di dalam sana ada koleksi perhiasan yang harganya selangit? Menarik juga, mungkin aku bisa memborong beberapa perhiasan mewah untuk kuhadiahkan kepada Sasa...' gumamnya dalam hati, mulai merasa tertarik.
Namun, sedetik kemudian Repan langsung menepuk jidatnya sendiri. 'Sial... aku sampai lupa kalau aku dan perempuan itu sudah resmi putus secara sepihak tadi pagi.'
'Ya sudah, perhiasan-perhiasan mewah itu bakal kubelikan khusus buat Arinda saja.' Ia pun memantapkan hati untuk memborong perhiasan mahal demi membahagiakan adik perempuannya.
Namun, tepat sebelum kakinya sempat melangkah lebih dekat menuju gerai tersebut, sebuah vokal lembut yang terdengar manis mendadak memanggilnya dari arah samping.
"Sayang... ternyata kamu di sini? Aku sudah capek mencari kamu ke mana-mana dari tadi tahu," ucap seorang gadis berparas sangat cantik yang tiba-tiba menghampirinya, lalu tanpa canggung langsung menggelayut dan memeluk erat lengan kanan Repan.
Repan seketika dibuat terkejut bukan main. 'Siapa sih perempuan ini? Kenapa tiba-tiba datang dan langsung memeluk lenganku seperti ini?' batinnya kebingungan.
Ia sempat menolehkan wajahnya untuk memeriksa, dan sepasang kelopak matanya langsung melebar sempurna begitu ia berhasil mengenali identitas dari wajah si gadis.
'Vina?!' batin Repan semakin nggak paham dengan situasi gila ini.
Ia tahu persis siapa identitas perempuan di sampingnya ini—Vina adalah siswi paling populer sekaligus dinobatkan sebagai primadona tercantik di SMA 09 Cimanggu. Mojang sekolah.
Bukan cuma modal paras cantik dan berkelas, Vina juga dikenal luas sebagai sosok perempuan yang memiliki watak sangat dingin dan teramat sulit untuk disentuh oleh lelaki mana pun.
Banyak anak-anak dari latar belakang keluarga konglomerat kelas atas yang sudah mengerahkan segala cara untuk bisa mendekatinya, namun semuanya berujung ditolak mentah-mentah.
"Hei... Kamu Repan, kan? Kita satu sekolah. Untuk kali ini saja... tolong bantu aku, ya," bisik Vina dengan volume suara yang sangat lirih, sementara sepasang matanya menyiratkan percikan rasa takut.
Repan menyipitkan pandangannya.
"Apa-apaan ini? Cepat lepaskan tanganmu dan menjauh dari ku," balas Repan berbisik dengan nada yang sangat dingin.
"Aku mohon banget, Pan... tolong selamatkan aku sekali ini saja. Ada orang mencurigakan yang sedari tadi terus-menerus membuntutiku," bisik Vina dengan nada suara yang teramat cemas, sementara matanya sesekali melirik waswas ke arah belakang.
Repan dengan cepat melempar pandangannya ke arah yang ditunjuk. Dan benar saja, dari arah berlawanan, tampak seorang pria bertubuh tambun dengan setelan jas berharga mahal sedang berjalan tergesa-gesa ke arah posisi mereka berdua. Wajah pria tua itu menyeringai licik penuh dengan kepuasan.
"Ah... rupanya kamu bersembunyi di sini, Cantik," ucap pria tambun itu dengan intonasi vokal yang berat dan serak, sementara sepasang matanya menatap liar tanpa lepas ke arah tubuh Vina.
"Nggak usah takut begitu dong, Manis. Saya kan cuma berniat untuk berkenalan dan mengobrol lebih dekat denganmu."
Vina spontan menggigit bibir bawahnya erat-eratan, dan refleks semakin mempererat dekapannya pada lengan Repan.
"Nggak mau! Aku nggak sudi berkenalan dengan Anda! Lagipula... aku ke sini sedang jalan-jalan bersama pacarku," tegas Vina dengan berani. Ia kemudian menolehkan kepalanya, menatap lurus ke arah Repan.
"Dialah pacarku!"
Repan rasanya ingin sekali memutar bola matanya mendengar klaim sepihak itu.
'Gila ya ini perempuan. Sekarang dia malah nekat mengaku-ngaku kalau aku ini pacarnya?!' pikirnya jengkel, merasa situasi di sekitarnya mendadak menjadi semakin kacau dan rumit.
Pria tambun itu—yang belakangan diketahui memiliki identitas bernama Sidat—langsung mengamati penampilan Repan dari ujung sepatu hingga batas rambut dengan pandangan menghina.
"Cantik, apa matamu itu sudah buta, hah? Bagaimana bisa gadis seanggun dan secantik kamu malah mau berpacaran dengan remaja miskin nggak punya modal seperti dia? Kamu itu jauh lebih serasi kalau bersanding dengan saya. Perkenalkan, saya Sidat, pewaris tunggal dari silsilah keluarga konglomerat kelas dua," ujarnya dengan nada penuh keangkuhan, seolah-olah seluruh dunia harus menaruh hormat pada nama besarnya.
Vina membalas tatapan Sidat dengan sorot mata yang tajam menghunus.
"Anda saja yang nggak tahu apa-apa! Pacarku ini posisinya jauh lebih kaya raya dan berkali-kali lipat lebih tampan daripada Anda! Jadi lebih baik Anda sekarang angkat kaki dan pergi dari hadapan kami!"
Sidat langsung meledak dalam tawa yang terbahak-bahak mendengar ucapan tersebut.
"Dia? Kaya? HAHAHA! Jangan melucu deh, Nona. Lihat saja pakaian dan outfit yang menempel di badannya, total harganya paling nggak bakal lebih dari dua ratus ribu rupiah. Ck, ck, ck..."
Repan mengembuskan napas panjang dari dalam dadanya. 'Sialan... kenapa jalanku sore ini malah harus terjebak di dalam drama lingkaran konflik konyol seperti ini sih?' pikirnya jengkel setengah mati.
Di area sekeliling mereka berdua, beberapa pengunjung yang berstatus sebagai siswa SMA tampaknya mulai menyadari eksistensi Vina. Suara bisik-bisik yang riuh mulai meramaikan atmosfer koridor mall.
"Eh, coba lihat! Itu bukankah si Vina?"
"Benar! Primadona tercantik dari SMA 09 Cimanggu!"
"Lho, cowok di sampingnya itu... apa beneran pacarnya Vina?"
"Sialan! Beruntung banget itu cowok bisa menggandeng cewek sekelas dia!"
Beberapa orang di sekitar bahkan mulai merogoh saku pakaian mereka, mengaktifkan kamera ponsel untuk merekam kejadian tersebut. Situasi di lorong mall kini benar-benar berubah menjadi riuh, dengan pusat atensi ratusan pasang mata yang tertuju lurus pada mereka.
Vina tampak mulai diserang kepanikan melihat kerumunan orang, dan jemari tangannya yang memeluk erat lengan Repan mulai terasa bergetar sedikit.
"Repan... aku mohon dengan sangat, tolong selamatkan aku," bisik Vina sekali lagi. Nada suaranya kini terdengar teramat cemas, bahkan terselip secercah rasa putus asa yang mendalam.
Repan memejamkan kedua kelopak matanya selama satu ketukan, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan untuk menenangkan pikiran. Ia tahu persis, di bawah kepungan pandangan ratusan orang seperti saat ini, sudah nggak ada lagi opsi atau jalan untuk mundur.
"Ya sudah," jawab Repan tenang.
Vokal suaranya terdengar lempeng dan datar, namun instan memberikan dampak besar yang sanggup membuat Vina kembali bisa mengembuskan napas lega.
Repan kini sepenuhnya sadar, dirinya nggak cuma sekadar sukses menjadi pusat perhatian di tengah keramaian mall... namun ia juga sudah mulai dipaksa untuk memainkan peran krusial dalam sebuah panggung drama yang sama sekali nggak pernah masuk dalam rencana hidupnya.