NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.Tuan Besar Menjadi Wali Murif

Kabar kesembuhan Justin dari demam tinggi berkat "kerokan koin seribu" buatan Kimberly tidak hanya membuat satu organisasi menarik napas lega, tetapi juga melahirkan tingkat rasa hormat baru dari para anak buahnya.

Gavin bahkan diam-diam mengirimkan satu keranjang ayam kampung hidup dari distrik selatan sebagai stok sup untuk sang Nyonya Besar yang langsung membuat Marco pusing tujuh keliling memikirkan cara memasukkan ayam-ayam itu lewat gerbang mansion tanpa memicu alarm keamanan.

Namun, kedamaian hari Selasa itu terusik oleh panggilan telepon tak terduga yang diterima Kimberly dari kampung halamannya.

Pagi itu, Kimberly duduk di gazebo halaman belakang sambil memegangi ponselnya dengan wajah cemas.

Justin yang sedang memotong buah apel untuk istrinya langsung menyadari perubahan ekspresi tersebut.

"Ada masalah di desa, Kim?" tanya Justin, menyodorkan sepotong apel dengan ujung garpu kecil, Kimberly menerima apel itu tapi tidak langsung memakannya.

"Ini, Mas... keponakanku yang ikut bibi di kota sebelah, si Danu. Dia kan baru masuk SMA di sekolah asrama dekat perbatasan kota kita. Tadi bibi telepon sambil menangis. Katanya Danu terlibat masalah di sekolah dan pihak asrama minta perwakilan keluarga datang hari ini juga sebagai wali murid. Tapi bibi sedang sakit sakaran di desa, tidak bisa naik bus ke kota." Kimberly menatap Justin dengan pandangan memohon.

"Mas... boleh tidak kalau aku pergi ke sekolahnya untuk jadi wali murid sementara? Aku kasihan sama Danu, dia anak yatim."

Justin meletakkan pisau buahnya perlahan, sepasang mata elangnya menatap Kimberly lekat-lekat.

"Kau mau pergi sendiri ke sekolah umum? Tidak. Biar kusuruh Marco yang datang dan menyelesaikan masalah anak itu."

"Aduh, Mas Justin!" Kimberly langsung memotong dengan panik.

"Kalau Marco yang datang pakai jas hitam formal dan wajah kaku begitu, pihak sekolah bukan mengira dia wali murid, tapi debt collector! Yang ada Danu malah langsung dikeluarkan karena dikira punya hubungan sama sindikat penjahat. Biar aku saja yang datang, tapi... Mas Justin mau kan menemaniku?"

Justin terdiam. Menjadi wali murid di sebuah SMA umum adalah hal terakhir yang pernah dia bayangkan dalam hidupnya.

Namun, melihat binar penuh harapan dan remasan lembut tangan Kimberly di lengannya, sang singa kota kembali kehilangan taringnya.

"Baik. Kita pergi bersama. Tapi aku tidak akan ikut masuk ke ruang kepala sekolah kalau tidak diperlukan," jawab Justin mengalah.

Satu jam kemudian, sedan hitam biasa milik keluarga Ardiansyah membelah jalanan menuju SMA Garuda Nusantara.

Justin kali ini mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang lengannya digulung rapi dan celana kain hitam, sementara Kimberly memakai gamis batik yang anggun namun tetap bersahaja.

Begitu mobil berhenti di parkiran sekolah, kehadiran mereka langsung mencuri perhatian.

Meskipun Justin berpakaian kasual, postur tubuhnya yang jangkung tegap, cara jalannya yang penuh wibawa, dan tatapan matanya yang tajam tetap memancarkan aura dominan yang tidak bisa disembunyikan.

Beberapa guru piket yang berpapasan di koridor refleks membungkuk sopan, mengira Justin adalah pejabat dinas pendidikan yang sedang melakukan inspeksi mendadak.

Mereka tiba di depan ruang bimbingan konseling (BK). Di dalam ruangan, terlihat seorang remaja laki-laki berusia enam belas tahun dengan seragam yang agak kusut dan sudut bibir yang sedikit lebam. Itu Danu.

Di seberangnya, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kacamata yang bertengger di hidungnya Sang Kepala Sekolah.

"Mas Justin tunggu di sini sebentar ya," bisik Kimberly, menepuk lengan suaminya sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.

Justin mengangguk, memilih berdiri bersandar di dinding koridor luar dekat jendela kaca besar, melipat kedua tangannya di dada.

Di ujung koridor, Marco berdiri waspada membelakangi mereka, mengawasi area tangga sekolah, di dalam ruangan, Kimberly langsung menyapa.

"Selamat siang, Pak. Saya Kimberly, tantenya Danu. Perwakilan keluarga yang diminta datang." kepala Sekolah itu mendongak, memperbaiki posisi kacamatanya.

"Oh, selamat siang, Bu Kimberly. Silakan duduk. Jadi begini, Jeng... Danu ini terlibat perkelahian fisik di kantin asrama tadi pagi. Dia memukul temannya sampai hidungnya berdarah. Di sekolah ini, kekerasan adalah pelanggaran berat yang sanksinya bisa berupa skorsing satu bulan atau dikeluarkan." Danu langsung mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi Bude... saya tidak salah! Dia yang duluan mengejek Ibu yang sedang sakit di desa! Dia bilang Ibu pura-pura sakit supaya tidak perlu bayar uang asrama! Saya tidak terima!"

Kimberly mengelus pundak keponakannya untuk menenangkannya, dia lalu menatap Kepala Sekolah dengan pandangan memohon.

"Pak, saya tahu memukul itu salah. Tapi Danu melakukan itu karena membela kehormatan ibunya yang sedang sakit keras di desa. Mohon kebijaksanaannya, Pak. Tolong jangan keluarkan Danu." Kepala Sekolah itu menggebrak meja pelan dengan pulpennya, wajahnya tampak angkuh.

"Alasan tetaplah alasan, Bu! Aturan sekolah tidak bisa dinegosiasikan hanya karena cerita sedih. Ayah dari anak yang dipukul Danu ini adalah salah satu donatur terbesar di yayasan sekolah kami. Beliau menuntut tindakan tegas. Jadi, jika tidak ada kompensasi atau... penyelesaian yang jelas, saya terpaksa menandatangani surat drop-out untuk Danu hari ini."

Mendengar kata 'donatur terbesar' dan nada memeras dari sang Kepala Sekolah, Justin yang sejak tadi mendengarkan dari balik jendela kaca luar langsung merasakan urat di pelipisnya menegang.

Pria itu tidak suka jika miliknya atau keluarga dari istrinya diintimidasi oleh orang yang menyalahgunakan kekuasaan kecil.

Tok, tok, tok.

Pintu ruang BK diketuk dengan ritme yang lambat namun berat, sebelum ada yang mempersilakan masuk, pintu tersebut sudah terbuka lebar.

Justin melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya seketika mengubah tekanan udara di dalam ruangan menjadi sangat pekat dan dingin.

Langkah kakinya yang tegas berketuk di atas lantai ubin, memancarkan aura predator yang membuat Kepala Sekolah itu refleks menegakkan punggungnya dengan gugup.

"M-Maaf, Anda siapa? Ini ruangan privasi—" ucapan Kepala Sekolah terputus saat Justin berdiri tepat di samping kursi Kimberly, meletakkan satu tangan kekarnya di bahu sang istri.

"Saya Justin Devano Ardiansyah. Suami dari wanita ini, dan wali hukum dari anak itu sekarang," ucap Justin, suaranya berat, dalam, dan mengandung intonasi rendah yang sangat menakutkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Mendengar nama 'Ardiansyah' disebut, wajah Kepala Sekolah itu langsung berubah pucat pasi dalam sekejap.

Sebagai orang yang bergerak di dunia pendidikan elit kota, dia tentu tahu siapa pemilik asli tanah tempat sekolah ini berdiri, dan siapa sosok yang memegang kendali atas sebagian besar aset finansial di ibu kota.

Pria di depannya ini bukan sekadar orang kaya; ini adalah sang penguasa tertinggi.

"T-Tuan Ardiansyah..." cicit Kepala Sekolah, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dia langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk panik.

"M-Mohon maaf, saya tidak tahu kalau Danu adalah kerabat dari keluarga Anda!"

Justin menarik sebuah kursi kosong, duduk di hadapan Kepala Sekolah dengan gaya dominan, menyilangkan satu kakinya santai.

"Kau bilang aturan sekolah tidak bisa dinegosiasikan karena donatur terbesar? Katakan padaku, berapa nilai sumbangan yang diberikan oleh donatur itu hingga kau bersedia membuang masa depan seorang anak yang membela ibunya?"

"I-Itu... sekitar lima ratus juta per tahun, Tuan..." jawab Kepala Sekolah dengan suara gemetar.

Justin mengeluarkan ponsel pintarnya, mengetik sesuatu selama tiga detik, lalu meletakkannya di atas meja dengan layar menghadap ke atas.

"Hari ini, yayasan sekolah ini sudah menerima transferan dana hibah sebesar lima miliar rupiah atas nama keluarga Ardiansyah. Mulai detik ini, aku adalah pemilik saham mayoritas di yayasan ini."

Justin memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Kepala Sekolah yang sudah hampir menangis ketakutan.

"Dan sebagai pemilik baru, aturan pertamaku adalah: bersihkan nama anak ini dari catatan pelanggaran, skorsing anak donatur yang memulai provokasi itu selama dua minggu untuk belajar sopan santun, dan jika aku mendengar ada intimidasi lagi pada Danu... kau yang akan keluar dari sekolah ini tanpa pesangon. Mengerti?"

"M-Mengerti, Tuan Besar! Sangat mengerti! Segera saya laksanakan!" jawab Kepala Sekolah dengan suara melengking karena panik, buru-buru menyobek kertas draf surat drop-out di depannya.

Kimberly hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat aksi suaminya yang kembali menyelesaikan masalah dengan cara "membeli tempatnya".

Namun, dia tidak bisa menahan rasa haru dan bangga melihat bagaimana Justin menggunakan kekuasaannya demi melindungi keluarganya.

Sementara Danu menatap om barunya itu dengan mata berbinar penuh kekaguman luar biasa, di matanya, Justin saat ini terlihat seribu kali lebih keren daripada pahlawan di film aksi.

Sore harinya, setelah urusan sekolah selesai dan Danu diantarkan kembali ke asrama dengan aman, sedan hitam mereka melaju kembali ke arah mansion, suasana di dalam kabin mobil terasa hangat.

Kimberly menggeser duduknya mendekat, memeluk lengan kiri Justin yang sedang memegang kemudi.

"Terima kasih banyak ya, Mas. Mas Justin tadi hebat sekali di ruang Kepala Sekolah. Tapi... apa tidak berlebihan sampai mentransfer lima miliar hanya untuk urusan anak sekolah?"

Justin melirik Kimberly sekilas, sebuah senyuman tipis dan langka terukir di wajah tampannya.

"Lima miliar itu tidak ada artinya dibandingkan melihat senyum legamu, Kim. Lagi pula, sebagai seorang suami, aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang membuat istriku harus memohon-mohon di depannya."

Justin membawa tangan kiri Kimberly ke bibirnya, mengecup cincin safir di jari manis istrinya dengan kelembutan yang dalam.

"Duniaku di luar sana mungkin penuh dengan cara yang kasar, tapi selama itu bisa membuat rumah tangga kita aman dan keluargamu terlindungi, aku akan membelikanmu seluruh sekolah itu jika kau memintanya."

Kimberly tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Justin dengan rasa damai yang utuh.

Di balik statusnya yang ditakuti seluruh kota sebagai sang pemangsa kegelapan, Justin membuktikan bahwa dia adalah sosok pelindung terbaik yang selalu tahu cara menjaga kebahagiaan kecil di dalam rumah tangga mereka dengan cara uniknya yang megah namun penuh kasih sayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!