NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja

Di tengah kesibukan yang menumpuk, Arya perlahan mulai terjebak dalam ritme yang terlalu cepat. Ia bangun sebelum fajar menyingsing, pulang saat malam sudah larut, dan bahkan saat berada di rumah, pikirannya tetap tertinggal di berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Niatnya baik—ia ingin membuktikan pada semua orang, terutama pada dirinya sendiri, bahwa perubahan itu nyata dan bisa diwujudkan. Namun tanpa disadarinya, ada hal berharga yang perlahan ia abaikan.

Pagi itu, Nayara menyiapkan sarapan lengkap di meja makan, berharap bisa berbincang sebentar sebelum Arya berangkat seperti yang biasa mereka lakukan. Namun pria itu hanya lewat sekilas, mengambil sepotong roti tanpa menoleh, lalu berhenti di ambang pintu.

"Maaf, aku terlambat. Bima sudah menunggu di depan," ucapnya cepat, seolah berbicara pada udara. "Makanlah dulu tanpa aku."

"Arya..." panggil Nayara pelan. "Hari ini ulang tahun peringatan pertama kali kita berjanji di atap rumah. Kau ingat?"

Arya berhenti sejenak, mengerutkan dahi mencoba mengingat, lalu menggeleng samar. "Ah... iya. Maaf, aku benar-benar harus pergi. Nanti kita bicarakan, ya? Nanti aku pulang lebih awal."

Ia pergi begitu saja, meninggalkan Nayara yang berdiri sendirian di ruang makan yang sepi. Bukan karena roti di piringnya terasa hambar, tapi karena kebersamaan yang dulu menjadi kekuatan utama mereka kini perlahan tersisih oleh kesibukan yang tak ada habisnya.

Sore harinya, Nayara menunggu hingga lampu ruang tamu menyala terang. Namun Arya pulang jauh melampaui waktu yang dijanjikannya, dengan wajah lelah dan mata yang sembab. Ia langsung duduk di sofa, meletakkan kepalanya di tangan, tanpa menyadari bahwa Nayara menunggunya berjam-jam lamanya.

"Kau pulang," sapa Nayara akhirnya, suaranya pelan namun terdengar berat.

Arya mendongak, sedikit terkejut. "Kau belum tidur? Sudah larut sekali, Nayara. Kau harus istirahat."

"Saya sudah istirahat cukup sambil menunggu Anda," jawab Nayara, menahan rasa kecewa yang mulai merambat di dadanya. "Anda berjanji pulang lebih awal. Saya menunggu dari jam delapan."

Arya mengusap wajahnya kasar, merasa bersalah namun juga lelah. "Maaf, ada urusan mendesak. Banyak hal yang harus diselesaikan, banyak orang yang butuh bantuan. Kau harus mengerti, Nayara. Semua ini demi masa depan kita."

"Kita siapa?" tanya Nayara, matanya berkaca-kaca namun suaranya tenang. "Masa depan yang Anda bangun itu... apakah masih ada tempat untuk saya di dalamnya? Karena belakangan ini, saya merasa Anda berjuang sendirian di dunia Anda sendiri, dan saya hanya penonton yang menunggu Anda pulang tanpa tahu kapan."

Kalimat itu menampar Arya sadar. Ia melihat ke meja makan—dua piring yang sudah dingin, satu piring hampir tak tersentuh. Ia melihat wajah gadis itu yang tampak lelah bukan karena pekerjaan, tapi karena kesepian. Dan tiba-tiba ia sadar: ia berjuang membangun rumah untuk banyak orang, tapi hampir lupa menjaga hati orang yang paling berharga di dalamnya.

"Aku..." Arya terdiam, mencari kata yang tepat namun tak ada yang cukup untuk menutupi kesalahannya. "Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan pernah kekurangan apa pun, tidak akan pernah lagi takut pada apa pun."

"Yang saya butuhkan bukanlah jaminan masa depan yang sempurna, Arya," potong Nayara lembut namun tegas. "Yang saya butuhkan adalah Anda saat ini. Sedikit waktu, sedikit perhatian... agar saya tahu bahwa saya masih bagian dari perjuangan Anda, bukan sekadar tujuan yang ingin Anda capai lalu ditinggal di belakang."

Kata-kata itu menembus jantungnya. Arya berdiri, berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Nayara seolah memohon ampun atas ketidaksadarannya yang bodoh. "Maafkan aku... maafkan aku. Aku kira aku sedang melindungimu, padahal aku justru meninggalkanmu sendirian. Aku begitu sibuk menjadi pelindung bagi dunia, hingga lupa menjadi pendamping bagi orang yang paling penting di hidupku."

Ia memegang kedua tangan Nayara erat di genggamannya. "Mulai besok, aku akan atur semuanya. Tidak ada lagi pekerjaan yang membawa pulang ke rumah di waktu makan. Tidak ada lagi janji yang diingkari. Karena jika aku berhasil mengubah seluruh dunia tapi kehilanganmu di tengah jalan, maka semua ini tidak akan ada artinya sama sekali."

Malam itu, mereka menghabiskan sisa waktu yang tersisa hanya dengan duduk berdampingan, bercerita dan mendengarkan tanpa gangguan apa pun. Kesalahan yang tak disengaja itu menjadi pelajaran berharga: bahwa kesibukan yang paling mulia pun bisa menjadi racun jika mengorbankan kasih sayang yang menjadi alasannya. Dan Arya berjanji pada dirinya sendiri—tak akan pernah lagi ia biarkan orang yang ia cintai merasa sendirian di sampingnya.

 

Lanjut ke Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!