NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Ketika Indri tiba di kantor Evara Capital, suasana gedung sudah jauh lebih sepi. Sebagian besar karyawan telah pulang.

Ia mengetuk pintu ruang kerja Evan.

"Masuk."

Indri membuka pintu. Evan berdiri di dekat jendela dengan punggung menghadapnya. Pria itu tampak berbeda. Tidak ada tatapan tajam seperti biasanya. Tidak ada ekspresi penuh kemarahan. Hanya wajah lelah yang membuat Indri tidak yakin apakah ia sedang berhadapan dengan Evan yang sama.

"Ada apa?" tanya Indri. Ia datang sesuai permintaan Evan kemarin melalui pesan singkat.

Evan berbalik. "Terima kasih sudah datang."

Indri mengernyit. Baginya kata terima kasih itu terdengar diucapkan oleh Evan. Namun ia tak menghiraukan, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Evan.

"Saya tidak punya banyak waktu."

Evan mengangguk.

Keheningan berlangsung cukup lama. Evan sebenarnya sudah menyiapkan kalimat sejak sebelum Indri datang. Ada satu kata yang ingin ia ucapkan.

Sangat sederhana. Namun entah mengapa, kata itu terasa begitu sulit keluar dari mulutnya.

Maaf.

Ia tahu dirinya telah melewati batas malam itu. Ia tahu apa yang dilakukannya salah. Tetapi egonya menahan kata tersebut.

"Aku memanggilmu karena ada beberapa hal mengenai proyek," katanya akhirnya.

Indri sedikit mengernyit. "Proyek?"

"Iya." Evan mengambil sebuah map dan menyerahkannya. "Kontrak dengan perusahaan mitra harus ditinjau ulang. Ada beberapa perubahan."

Indri menerima map tersebut. Mereka kemudian membahas beberapa persoalan pekerjaan.

Tentang jadwal, tentang anggaran, tentang pembagian tanggung jawab.

Semua terdengar normal. Terlalu normal. Padahal keduanya tahu ada sesuatu yang belum dibicarakan.

Sesekali Evan melirik Indri. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun setiap kali bibirnya terbuka, yang keluar justru pertanyaan lain mengenai pekerjaan.

Hingga akhirnya Indri menutup map. "Kalau itu saja, saya pamit pulang."

Evan terdiam. Untuk sesaat, ia hampir mengatakan semuanya.

Tentang penyesalannya. Tentang dirinya yang kehilangan kendali.

Tentang bagaimana ia terus memikirkan perkataan Indri di lift.

Tetapi lagi-lagi egonya menang.

"Jangan terlalu memaksakan diri dalam proyek ini." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Indri menatapnya beberapa detik. "Baik." Ia berdiri, lalu segera keluar dari ruangan Evan.

Pintu tertutup. Evan tetap berada di tempatnya. Ia menundukkan kepala. Satu kesempatan sudah diberikan kepadanya untuk mengucapkan kata yang seharusnya. Namun ia kembali gagal.

"Maaf..." Kata itu akhirnya keluar. Tetapi terlambat. Indri sudah pergi.

...

Di perjalanan pulang, Indri mengendarai mobilnya dengan perasaan yang berkecamuk.

Wajah Evan terus muncul dalam pikirannya. Pertemuan tadi seharusnya membuatnya lega. Namun yang dirasakan justru sebaliknya.

Tidak ada perubahan. Tidak ada akhir. Tidak ada jaminan bahwa Evan akan berhenti mengejarnya.

Indri mengambil ponselnya. Jarinya berhenti pada sebuah nomor yang sudah lama tidak pernah ia hubungi. Nomor seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang dikenal mampu menyelesaikan urusan-urusan kotor tanpa banyak bertanya.

Indri menatap nomor tersebut cukup lama. Ia tahu, begitu panggilan itu dilakukan, dirinya telah melewati batas yang berbeda. Namun akhirnya ia menekan tombol panggil.

Telepon tersambung.

"Aku pikir setelah bebas dari penjara, kamu akan tobat. Tapi ternyata..." Suara di seberang terdengar santai diiringi tawa kecil.

Indri menelan ludah. "Aku butuh bantuan."

"Urusan apa?"

Indri memandang keluar jendela.

"Evan... Dia kakak dari perempuan yang menjadi pelampiasan Vano dulu."

Ada jeda panjang. Hingga akhirnya pria diseberang telepon bertanya.

"Kau ingin apa?"

Indri memejamkan mata. Untuk beberapa detik, ia tidak mampu mengucapkannya. Kemudian suaranya keluar lirih.

"Dia menuntut dendam atas adiknya. Dan... Aku ingin semuanya berakhir."

Orang di seberang tidak langsung menjawab. "Indri, kau belum lama keluar dari penjara. Dan kau tahu apa yang kau minta?"

"Aku tahu," ujar Indri terdengar tenang. Namun dadanya bergemuruh.

"Ini bukan urusan yang bisa dibatalkan begitu saja."

Indri menggigit bibir. "Aku tahu. Semuanya akan baik-baik saja asal kau melakukannya dengan bersih."

"Kau benar-benar yakin?"

Air mata mengalir di pipinya. Indri tidak menjawab. Karena jauh di dalam dirinya, ia sendiri belum yakin. Namun setelah beberapa detik, ia berkata, "Jadikan kematian itu terlihat seperti sebuah kecelakaan."

Kalimat itu membuat dadanya terasa sesak setelah mengucapkannya. Ia langsung memutus sambungan.

Tidak ada rincian. Tidak ada pembicaraan mengenai cara. Tetapi keputusan itu sudah terucap.

Indri meletakkan ponselnya. Tangannya gemetar hebat. "Ya Tuhan..." Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Apa yang baru saja kulakukan?

Untuk pertama kalinya, Indri menyadari bahwa keinginannya untuk bebas telah membawanya semakin dekat pada sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan dilakukan.

Ia teringat pada masa lalu. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian seseorang. Satu keputusan buruk telah menghancurkan kehidupan Laura.

Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali berdiri di depan pilihan yang sama mengerikannya. Bedanya, kali ini taruhannya adalah nyawa.

Indri memandang tangannya sendiri. "Apakah aku akan mengulangi kesalahan yang sama?"

Tidak ada jawaban.

Malam itu, Indri tiba di rumah.

Ia tidak langsung masuk. Ia duduk sendirian di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman.

Dari jendela, ia dapat melihat cahaya kamar Haris yang masih menyala. Papanya mungkin belum tidur.

Indri membayangkan Haris mengetahui bahwa putrinya telah merencanakan kematian seseorang. Dadanya terasa semakin sesak.

Ia hampir membuka pintu mobil ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang baru beberapa jam lalu ia hubungi.

"Aku akan menghubungimu lagi. Jangan lakukan apa pun sendiri."

Indri membaca pesan itu berkali-kali. Kemudian layar ponselnya ia matikan.

Ia tidak tahu apakah merasa lega atau justru semakin takut. Satu hal yang ia tahu pasti—malam itu, ia telah membuka pintu menuju sebuah rencana yang bisa mengubah seluruh hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak bebas dari penjara, ia mulai bertanya-tanya, apakah keinginannya untuk terbebas dari dendam justru akan membuat dirinya kembali menjadi seorang tahanan—kali ini di dalam penjara rasa bersalahnya sendiri?

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!